Artikel

TERORIS

Oleh Trio Kurniawan, M. Fil. (Founder Betang Filsafat)

 

Lagi-lagi saya terdiam. Rasionalitas saya rasanya lumpuh menyaksikan peristiwa pembunuhan sadis yang terjadi di Sigi, Sulawesi Selatan. Saya ralat. Ini bukan pembunuhan biasa. Ini aksi terorisme! Sebelum Anda bertanya mengapa saya secara khusus membuat tulisan tentang aksi terorisme di Sigi, apakah saya termotivasi karena korbannya adalah dari pihak Kristen, baik jika saya jelaskan bahwa argumen-argumen saya terkait aksi terorisme (oleh siapapun dan kapanpun) selalu sama baik di kelas saya maupun di media. Saya mengutuk aksi ini dan selalu berjuang untuk mengajak semakin banyak orang muda agar hidup dalam perdamaian dan persahabatan.

Saya tidak akan menyebutkan satu per satu apa saja yang terjadi dalam aksir teror tersebut. Semua sudah jelas di media massa. Pertanyaan saya sederhana: dorongan sekuat apa yang membuat manusia mampu menghilangkan nyawa sesamanya dengan begitu sadis?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, hal yang sangat mengerikan dari peristiwa ini (dan cukup banyak peristiwa serupa di belahan dunia lainnya) adalah fakta bahwa tindakan terorisme dilakukan untuk sesuatu yang bersifat mulia. Budiman Sudjatmiko, dalam cuitannya di Twitter (@budimandjatmiko), mengatakan bahwa ada paradoks besar dalam perjalanan sejarah umat manusia: ada begitu banyak orang dibunuh karena suatu niat mulia (membela agama, negara, suku dan lainnya) dibandingkan karena suatu nafsu jahat (birahi, penguasaan harta dan lainnya). Bagaimana mungkin sesuatu yang baik kemudian dijadikan alasan untuk sebuah petaka? Apakah korban-korban ini lantas dengan mudahnya dijelaskan sebagai “bagian dari proses menuju kemenangan/kemuliaan”? Jika argumennya demikian, tentu cara pikir mereka kemudian menjadi sangat BUKAN MANUSIA.

Kembali ke pertanyaan di atas.

Saya menemukan satu pernyataan menarik dari Allisa Wahid di cuitan Twitter @AllisaWahid. Ia mengatakan bahwa ada 3 sumber yang bisa membuat manusia mampu melakukan hal-hal di luar kapasitasnya sebagai manusia: Freedom, Love dan God. Kebebasan, Cinta dan Tuhan. Dalam perspektif teologis-etis-moral, paling tidak ada 2 hal yang merupakan di luar kapasitas manusia: menciptakan (menghidupkan) dan mematikan. Sungguh bukanlah kapasitas manusia untuk melakukan kedua hal tersebut. Manusia tidak akan pernah bisa menciptakan/menghidupkan. Ia hanya bisa merangkai dari segala yang ada. Ia tidak merangkai dari ketiadaan. Tuhan mencipta dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Manusia juga bukan kapasitasnya untuk mematikan sesamanya.

Bertemali dengan paradoks yang disampaikan oleh Budiman Sudjatmiko, betapa mengerikannya ketika manusia kemudian mengatasnamakan dan merasa dari Tuhan kemudian melakukan tugas-tugas Tuhan: menghidupkan dan mematikan. Inilah sisi irrasional dari para teroris. Mereka menyamakan dirinya dengan Tuhan. Mereka mengaku sebagai Tuhan. Mereka berdalih membela Tuhan, padahal mereka ingin menjadi Tuhan (atau melangkahi Tuhan?).

Teroris tentu tidak serta-merta muncul. Teroris hadir dalam perjalanan sejarah yang sangat panjang. Tulisan M. Zainudin (Dosen UIN Malang) di artikel ilmiah berjudul Pluralisme dan Dialog Antarumat Beragama bisa menjadi rujukan sederhana tentang perjalanan konflik yang mengatasnamakan agama di Indonesia. Ada banyak rujukan lainnya yang menjelaskan asal mula lahirnya teroris atau aksi-aksi terorisme di dunia.

Lantas apa yang mendesak kita lakukan?

Saya percaya pihak TNI dan Polisi saat ini sedang bekerja keras untuk menangkap pelaku terorisme tersebut. Saya yakin bahwa mereka melakukan tanggungjawabnya dengan penuh perhitungan dan keberanian. Sebagai masyarakat di luar lingkaran TNI dan Polisi, tentu ada banyak hal yang bisa kita lakukan.

Bereskan nalar kita dari jargon-jargon atau seruan perpecahan! Ruang publik media di Indonesia sudah tercemari dengan begitu banyak ujaran kebencian. Celakanya, tindakan ini kemudian hanya dibiarkan begitu saja. Sebentar. Saya perbaiki. Ujaran kebencian ini ditindak sejauh tidak berbahaya bagi kepentingan politik. Jika berbahaya, ujaran ini kemudian hanya dibiarkan. Ini persis dengan tindakan makian dan teguran bagi masyarakat biasa yang menyelenggarakan pernikahan di masa pandemi, namun tindakan yang sama tidak terjadi bagi kelompok masyarakat yang secara politis “lebih bernilai” (baca: Opini Kompas “Reaktif” oleh Allisa Wahid, 29 November 2020).

Terorisme di Indonesia sudah mengerikan. Gejala disintegrasi sudah semakin terbaca dengan jelas di hadapan kita semua. Sampai kapan kita akan menjadi seperti ini? Bersahabatlah lagi dengan siapapun. Bangun jembatan dialog. Berbicara dari hati. Kembali dekati sesama yang berbeda. Hentikan hasutan yang memecah belah. Tinggalkan pemimpin yang membawa perpecahan. Bangun persaudaraan nasional. Gajah-gajah yang bertarung, semut yang mati di tengah. Celakanya, semut-semut kemudian terprovokasi oleh perkelahian gajah. Ia tidak sadar, ia yang akan mati selanjutnya.

TRI_2020Nov30_Artikel Trio_038

Sumber gambar: https://www.qureta.com/post/say-no-muslim-or-terrorist

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *