Artikel

Teknologi Sebagai Sarana Pembebasan Manusia dalam Perspektif Herbert Marcuse

Oleh Dismas Kwirinus (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)

 

Pendahuluan

Herbert Marcuse, seorang filosof humanis Jerman-Amerika dari anggota Mazhab Frankfurt, menyatakan bahwa teknologi memiliki dampak positif dan negatif dalam relasinya dengan kebebasan. Dampak positifnya yaitu teknologi membuka ruang bagi kebebasan manusia. Sedangkan dampak negatif adalah teknologi tidak netral, menjadi kendaraan reifikasi dan mengancam eksistensi manusia sebagai subyek. Kebebasan manusia dimanipulasi dengan prinsip kesenangan. Kebebasan manusia ditentukan dan dikondisikan oleh kemakmuran dan kepuasan atas hasil-hasil kemajuan teknologi. Manusia tidak sadar bahwa, ia menyerahkan kebebasannya pada perbudakan dan penindasan dalam bentuk baru.

Marcuse dengan tulisan-tulisannya yang penuh gugatan dan tajam mengupas soal kesalahan dan kegagalan masyarakat industri modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang represif meskipun sebagian besar orang menganggapnya sebagai masyarakat yang sangat liberal. Individu dan masyarakat modern tampak semata-mata sebagai seperangkat alat yang terkandung dalam ilmu, kemajuan teknologi atau hal lain yang lahir dari pencerahan atas nalar pengetahuan dan kemajuan.

Marcuse adalah seorang juru bicara opini-opini yang radikal di Eropa dan Amerika. Ia diklaim sebagai “Bapa Kiri Baru” (father of the New Left).[1] Pemikiran-pemikirannya pada masa itu menjadi topik perdebatan tidak hanya dalam jurnal-jurnal ilmiah melainkan juga dalam majalah-majalah populer.

Herbert Marcuse menjadi idola dan pahlawan gerakan kaum muda. Ini semua terjadi karena ide-ide Marcuse amat cocok dengan lingkungan budaya dan politik tahun 1960-an. Kritiknya mengenai masyarakat industri modern dengan segala kemajuan teknologinya yang menindas tak kenal kompromi. Kritik ini mengartikulasikan bahaya yang dirasakan generasi muda akibat kejamnya perang Vietnam, penindasan kulit hitam dan kaum minoritas dan situasi kesenjangan antara kemiskinan dan kemakmuran masyarakat konsumtif.

Marcuse menginginkan suatu gerakan pembebasan. Pembebasan dari situasi perbudakan dan penindasan gaya baru oleh masyarakat industri modern. Perbudakan dan penindasan ini terjadi dalam sistem produksi, konsumsi dan kontrol sosial.

Teknologi bagi Marcuse tidak netral sejauh digunakan sebagai sarana dominasi. Bagi Marcuse, pada hakikatnya teknologi adalah positif sebagai sarana pembebasan manusia. Tetapi dalam masyarakat industri modern hakikat pembebasan dari teknologi telah sirna.

 

Beberapa Persoalan Teknologi Bagi Kebebasan

Sebelum mengurai jalan pembebasan Marcusian, baik jika terlebih dahulu kita simak apa yang menjadi persoalan teknologi bagi kebebasan manusia. Ada dua hal yang dapat kita simak, yaitu pertama, sistem teknologi yang totaliter dan kedua, teknologi dan kekuasaan kapitalisme.

Sistem Teknologi yang Totaliter

Marcuse melihat bahwa dewasa ini sistem teknologi merangkum seluruh realitas alam mau pun sosial. Semuanya itu ada dalam pelukannya dan tidak ada orang yang mempengaruhi sistem yang anonim itu. Sistem itu bersifat totaliter. berlaku untuk semua orang dan semua lapisan masyarakat. Sistem ini menguasai semua bentuk ekonomi-politik kapitalisme mau pun komunisme.[2]

Teknologi memiliki kaitan dengan kekuasaan. Teknologi dapat menjadi alat penindas. Marcuse menyatakan bahwa: “benar, suatu administrasi (pemerintahan) yang totalitarian bisa mendorong eksploitasi sumber daya dan pembuatan persenjataan nuklir (nuclear-military establishment) yang bisa memberikan berjuta-juta pekerjaan melalui daya beli yang sangat besar”.[3] Marcuse melihat bahwa industrialisasi dengan teknologi dapat berada di bawah kontrol kolektif atau pribadi.[4] Kontrol ini dapat memproyeksikan cara hidup bagi keseluruhan.

Kebutuhan dan kebebasan terlihat sejalan. Marcuse melihat bahwa dalam proses dan konsumsi kebebasan manusia dimanipulasi dan ditindas. Manusia menganggap bahwa ia memiliki kebebasan untuk mengkonsumsi apa saja. Ia memiliki banyak pilihan. Tetapi sebenarnya ia sedang didiktekan oleh “aparat” produksi dan konsumsi, media masa dan publikasi iklan.

Kebutuhan manusia sebenarnya diciptakan oleh aparat produksi dan konsumsi. Marcuse melihat bahwa “manusia mengenali diri mereka di dalam komoditas mereka, mereka menemukan jiwa mereka di dalam mobil, rumah mewah dan peralatan dapur yang mereka miliki”.[5] Identitas, gaya hidup, status sosial dan prestasi hidup ditentukan oleh barang-barang produk yang diiklankan. Fenomena ini disebut toleransi represif (repressive tolerance), yaitu toleransi yang memberi kesan seakan-akan menyajikan kebebasan yang luas, pada hal maksud tidak lain dari pada menindas. Kebetulan diciptakan dan manusia dibiarkan bebas untuk menikmatinya. Ketika konsumerisme meningkat, maka penaklukan semakin meningkat.

Produktivitas semakin besar memungkinkan konsumsi semakin besar pula; dan konsumsi menjamin keberlangsungan produktivitas. Apabila niat beli masyarakat berkurang, maka diciptakan suatu sistem ekonomi dengan manajemen yang rapi melalui manipulasi kebutuhan. Bahkan melalui propaganda dalam reklame atau iklan, masyarakat dipengaruhi dan dimanipulasi untuk membeli. Dan Ellul melihat teknologi memiliki sifat yang totaliter. Sifat ini menguasai secara tuntas tanpa membiarkan ruang kosong bagi manusia untuk menjadi dirinya sendiri.[6]

Manusia menjadi bungkam untuk mengkritik ketika segala kebutuhan dan kepuasan (prinsip kebahagiaan) diberikan. Teknik menimbulkan pemberontakan pada segelintir orang saja dan memadamkan keinginan berjuta-juta orang. Gerakan revolusioner dikekang dan dikontrol. Kontrol dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Gerakan revolusioner kaum buruh dapat dimatikan dan dikontrol dengan membentuk serikat pekerja atau oragansiasi pembela martabat buruh oleh kapitalis. Atau kaum buruh dapat dikendalikan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan vital mereka seperti penyediaan fasilitas kesehatan, rekreasi, tunjangan, atau kebijakan-kebijakan manajemen yang dianggap masuk akal. Marcuse memberi contoh “sekarang perbedaan atau pertentang antarkelas buruh – majikan nampaknya tidak ada. Majikan dan buruh sama-sama menikmati barang-barang mewah.

Buruh dapat menikmati mobil mewah, pesawat televisi, liburan mewah dan berbagai prinsip kesenangan lainnya, tetapi harus dibayar dengan kerja lembur, sikap kooperatif – bekerjasama dengan perusahaan termasuk mematikan gagasan atau gerakan revolusi dari dalam diri atas ketidakadilan atau penjajahan. Kemiskinan manusia modern adalah kemiskinan untuk mengaktualisasikan diri karena pembungkaman dan pengontrolan pemenuhan kebutuhan manusia.

Kemiskinan terjadi bukan karena adanya penindasan manusia atas manusia; atau pun golongan atas golongan lain. Yang menindas dan memperbudak dewasa ini adalah sistem teknologi yang totaliter, yang menjelma dalam seluruh segi kehidupan manusia. Keunggulan teknologi untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan manusia membungkam keinginan manusia untuk menolaknya. Bahkan membangkitkan keinginan untuk menampiknya.

Teknologi dan Kekuasaan Kapitalisme

Munculnya kapitalisme disebabkan antara lain oleh revolusi industri pada abad ke-XVIII/XIX.[7] Revolusi ini ditandai dengan penemuan mesin uap, baja, tenaga listrik dan penemuan-penemuan cara berproduksi yang masal dan efisien. Penemuan-penemuan ini jalas mendobrak semangat kapitalisme yang lahir dari semangat berusaha dan bersaing. Teknologi dan kapitalisme saling mendukung dan menerima. Kapitalisme akan selalu melahirkan dan mengembangkan teknologi agar tercipta teknologi yang canggih dan modern. Teknologi yang canggih ini, nantinya membantuk kapitalisme dalam memperlancar dan mengembangkan usahanya.

Dalam masyarakat industri modern, khususnya kapitalisme modern, teknologi di konstruksi dan digunakan sebagai alat dominasi dan penindasan. Marcuse sadar bahwa teknologi telah digunakan oleh penguasa untuk mencapai tujuan yang kadang melawan kemanusiaan. Masyarakat industri modern cenderung ke arah totalitarianisme sebagai akibat penguasaan dan pengetahuan atas dasar teknik.

Para totalitarianis yang menguasai teknologi mampu menembuas setiap aspek kehidupan masyarakat, sembari menghasilkan suatu sistem dominasi total yang terjadi lewat manipulasi kebutuhan oleh mereka yang berkepentingan dan bertujuan.[8] Dengan segala tujuan dan kepentingan dominasi, melalui teknologi para kapitalis memproduksi, menjual dan mendistribusikan komoditi tempat mereka mengeruk keuntungan dan menancapkan kekuatan. Mereka dapat menciptakan masyarakat konsumtif yang senantiasa haus akan barang-barang yang nyaman, menyenangkan dan membahagiakan.

Teknologi yang dikendalikan oleh kapitalisme dapat menjadi alat untuk mengalahkan atau menguasai bangsa lain. Teknologi memiliki relasi dengan politik. Pemerintahan yang ingin melanggengkan kekuasaan dapat menjadikan teknologi sebagai kendaraan atau sarana yang ideal. Ketika masyarakat mendewakan teknologi dan menjadikannya sebagai suatu alternatif yang menentukan kemakmuran dan kesejahteraan, maka terbuka kesempatan untuk melanjutkan dominasi.

Teknologi dapat diterapkan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mau pun untuk melanggengkan kekuasaan. Akan tetapi kendala yang muncul adalah teknologi tidak pernah netral. Teknologi berada di bawah kekuasaan ekonomi atau pemilik modal sehingga relasi antara politik, kapitalisme dan teknologi sebagai kekuatan dominasi, manipulasi dan penindasan semakin kuat terjalin. Teknologi dapat dijadikan sarana oleh kapitalis untuk mengeruk keuntungan.

 

Jalan Pembebasan Marcusian

Herbert Marcuse sangat peduli akan nasib manusia. Ia tidak berpangku tangan dan berdiam diri terhadap situasi perbudakan dan penindasan. Ia berusaha menganalisa dan mengkritisi masyarakat industri modern dengan teknologinya serta mencari jalan pembebasan untuk membebaskan manusia dalam situasi itu. Marcuse tidak bermaksud membuang teknologi, karena manusia tidak mungkin lepas dari teknologi. Yang dapat dilakukan adalah membuang sifat teknologi yang memperbudak dan menindas dan mencari alternatif dan sifatnya yang membebaskan.

Dasar Pembebasan Berasal dari Kebebasan Manusia

Marcuse membicarakan pembebasan manusia dari belenggu perbudakan dan penindasan masyarakat teknologi modern. Ia mengecam tindakan yang memanipulasi kebebasan. Bagi Marcuse kebebasan adalah keharusan a priori dari pembebasan.[9] Ia melontarkan kritik yang amat tajam dan menghendaki suatu perubahan sosial yang radikal agar manusia dapat menikmati kebebasannya.

Marcuse memiliki keprihatinan akan kejahatan dan penindasan yang mengatasnamakan kebebasan manusia. Menurut Marcuse, manusia yang bebas adalah manusia yang menjadi subjek, manusia yang menjadi individu, serta ia mampu mengembangkan posibilitasnya. Ini merupakan keharusan a priori dari usaha pembebasan.

Dalam masyarakat industri modern, manusia mengalami degradasi. Ia menjadi benda dan obyek dari nurani atau nafsunya sendiri serta dari sistem masyarakat. Ia dikontrol, diatur dan dipaksakan melakukan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Subyek yang otonom, bebas bertindak, bebas berkehendak dan berpikir tidak dimungkinkan oleh sistem yang menindas.

Pengaruh Hegel atas pemikiran Marcuse tentang subyek-obyek cukup kuat. Hegel mengagas bahwa subyek adalah yang ada dalam dirinya dan sekaligus ada bagi dirinya sendiri: “sesuatu itu ada dalam dirinya sejauh ia telah kembali kepada dirinya dari ada untuk yang lain”. Dari sini dapat ditarik beberapa pendapat bahwa manusia pertama-tama ada untuk dirinya, ia adalah otonom, bebas dan mandiri. Ia tidak ditentukan, dipaksakan dan ditindas. Ia memiliki kebebasan untuk mengembangkan diri dengan segala yang telah ada. Sebagai subyek ia memiliki kesadaran akan eksistensinya. Ia memiliki daya refleksi, kebebasan dan pemahaman yang menyeluruh.

Hal yang essensial dari kebebasan dan kesadaran akan dirinya adalah kesadaran akan independensinya dari obyek. Subyek yang bebas mengontrol obyek dan mampu menggunakan obyek itu untuk tujuan dan pemenuhan dirinya. Tetapi jika obyek yang mengontrol subyek, maka yang terjadi adalah kondisi tidak bebas. Situasi ini dialami manusia dalam masyarakat modern, dimana obyek mengontrol dan menindas subyek.

Subyek yang terasimilasi ke dalam obyek, kehilangan subyektivitasnya. Subyek telah kehilangan kemampuan untuk menentukan perkembangan dan menjadi obyek penindas. Jadi dasar pembebasan adalah manusia. Manusia yang memiliki harkat dan martabat sebagai makhluk berakal budi dan berkehendak bebas.

 

Teknologi yang Membebaskan

Herbert Marcuse menginginkan suatu perubahan dari teknologi yang menindas. Masyarakat industri modern dengan sistem teknologinya telah merusak tatanan dan mutu kehidupan yang manusiawi. Gagasan yang tepat – dari rekonstruksi dan rekonsiliasi antara teknologi dan kemanusiaan – adalah mengubah sifat represif teknologi.[10] Maksud dari gagasan ini adalah untuk menghasilkan masyarakat yang bebas dan pembebasan manusia.

Gagasan tentang teknologi yang membebaskan tentunya tidak terlepas dari kekuatan dan kehebatan teknologi yang menjadi sarana pembebasan manusia. Contohnya adalah sebagai berikut: otomatisasi dapat mengurangi beban kerja, kerja semakin ringan, ada banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk perkembangan diri. Tetapi dibalik kekuatan dan kehebatan teknologi ini, ada suatu kekuatan irasional masyarakat modern yang dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan dan menjadi sarana dominasi atas manusia.

Bagaimana gagasan Marcuse atas teknologi yang membebaskan? Marcuse menginginkan ada perubahan radikal dari teknologi dan perlunya kontruksi yang baru demi pembebasan.[11] Teknologi yang baru yaitu teknologi yang mengarah pada tujuan demi perkembangan manusia seutuhnya. Perkembangan martabat manusia menjadi tujuan teknologi karena teknologi adalah sarana pembebasan manusia untuk mencapai kepenuhannya. Teknologi bukan sebagai sarana dominasi dalam berbagai bidang kehidupan (ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan budaya).

Teknologi yang dikembangkan seperti dalam dunia militer – senjata-senjata pemusnah massal atau dalam bidang medis untuk tujuan-tujuan di luar nilai kemanusiaan seperti untuk aborsi dan euthanasia – perlu mendapat pengawasan dari masyarakat, bukan di tangan para teknolog atau penguasa. Pembalikan tujuan teknologi dalam masyarakat kapitalis sangat perlu agar organisasi, sistem dan unsur-unsur yang dipakai untuk mengejar keuntungan semata, khususnya dalam penggunaan teknologi dikurangi bahkan dihilangkan.

Teknologi perlu direkonstruksi untuk melayani kepentingan kebebasan dan kebahagiaan manusia. Marcuse melihat bahwa “dengan semakin bertumbuhnya penaklukan alam oleh teknologi tumbuh pula penaklukan manusia oleh manusia. Penaklukan ini mereduksi kebebasan yang merupakan keharusan a priori dari pembebasan”.[12] Teknologi cenderung dimanfaatkan sebagai instrumen dominasi dan melayani kepentingan pihak penguasa. Pengerusakan tanah, banjir, menipisnya lapisan ozon, percemaran lingkungan, penumpukan sampah dan timbulnya berbagai penyakit merupakan bukti penguasaan penaklukan dan eksploitasi alam. Alam menjadi instrumen dan objek dalam rasionalitas teknologis.

Demi pembebasan manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya harus direnggut dari tangan mereka, yaitu mereka yang menyalahgunakan teknologi sebagai alat dominasi penguasa. Teknologi harus direbut dari sifat represifnya dan kemudian, digunakan untuk pembebasan manusia universal.

 

Penutup

Dewasa ini, tidak ada satu negara pun di dunia yang begitu terisolir atau mengisolir diri dari percaturan ekonomi, politik mau pun budaya dunia, demikian pula negara dan bangsa Indonesia. Perubahan dalam kehidupan internasional merupakan faktor yang ikut menentukan pula dalam menghadapi masalah-masalah yang bersifat nasional. Sebagai contoh, mulai berlakunya pajak pulsa dan token listrik di Indonesia, meningkatnya harga kebutuhan primer manusia, harga bahan bakar dan harga ‘sembako’ di tengah masa pandemi covid-19 atau meningkatnya eksploitasi sumber daya alam, kerusakan ekologi dan penjarahan atas flora dan fauna di Indonesia sebagai akibat dari konsep perdagangan bebas-internasional dan penerapan teknologi yang tidak tepat guna.

Bercermin dari pengalaman-pengalaman negara lain dalam menghadapi persoalan, teknologi seharusnya menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan untuk menentukan arah dan gerak pembangunan kita. Kiranya pemikiran Marcuse masih cukup aktual bagi kita dalam menyimak persoalan imperialisme teknologi.

Kapitalisme global dapat menjadikan teknologi sebagai sarana untuk menekan dan menindas bangsa lain. Teknologi dapat menjadi kendaraan eksploitasi dan manipulasi atas bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya suatu bangsa. Dengan penggunaan teknologi alat perang canggih oleh negara adi kuasa dapat memicu negara lain menyatu dengan jalan politik mereka. Tidak disangkal bahwa perkembangan ilmu dan teknologi membawa perubahan dalam perilaku hidup dan tantanan nilai budaya, moral – agama dalam masyarakat kita. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi sebuah ideologi dan kekuatan destruktif dan imperialis.

 

Referensi:

Ellul, John. Manusia dan Teknologi. Yogyakarta: Kanisius, 1986.

Heuken, A. et.all., Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila, II (F-Ker). Jakarta: CLC, 1991.

Magnis Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Marcuse, Herbert. Manusia Satu Dimensi. (Judul asli: One Dimensional Man), terj. Silvester G. Sukur dan Yusup Priyasudiarja. Yogyakarta: YBB, 2000.

Saeng, Valentinus. Herbert Marcuse Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global. Jakarta: Gramedia, 2012.

 

 

[1] New Left atau gerakan kiri baru bukanlah suatu organisasi, melainkan suatu perasaan atau suasana yang bersimpati pada apa saja yang “kiri” dan menentang establishment (kemapanan). Valentinus Saeng, Herbert Marcuse Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global, (Jakarta: Gramedia, 2012), 78; Bdk. Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 174.

[2] Herbert Marcuse, Manusia Satu Dimensi (Judul asli: One Dimensional Man), terj. Silvester G. Sukur dan Yusup Priyasudiarja, (Yogyakarta: YBB, 2000), 30.

[3] Ibid., 328.

[4] Ibid., 323.

[5] Ibid., 13.

[6] John Ellul, Manusia dan Teknologi (Yogyakarta: Kanisius, 1986), 65.

[7] A. Heuken, et.all., Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila, II (F-Ker), (Jakarta: CLC, 1991), 215.

[8] Marcuse, Manusia Satu Dimensi, 3.

[9] Ibid., 364.

[10] Marcuse tidak menolak teknologi karena relasi yang erat antara teknologi dan perkembangan manusia. Meskipun tidak disangkal bahwa masyarakat industri dengan teknologinya menindas manusia, ia tidak mengajak manusia untuk kembali ke zaman pra-industri atau pra-teknik, melainkan tetap menoleh pada kemampuan teknologi dan industrialisasi yang membebaskan.

[11] Ibid., 331-335.

[12] Ibid., 364.

 

Sumber Gambar Featured: https://erpinnews.com/impact-of-information-technology-on-society

TRI_2021Mar17_Artikel Dismas K

Download PDF

9 thoughts on “Teknologi Sebagai Sarana Pembebasan Manusia dalam Perspektif Herbert Marcuse

    • Author gravatar

      Selamat pagi Betang Filsafat, saya menyimak ulasan saudara Dismas bahwa teknologi dapat menjadi alat kekuasaan dan dominasi. Teknologi dapat menjadi ancaman terhadap kehidupan manusia autentik. Misalnya perang, bahaya nuklir, pemanasan global, bencana alam, kerusakan ekologi menjadi bukti kemajuan teknologi yang mengancam hidup manusia. Kemajuan teknologi tentu disartai dengan persoalan moral dan etis. Saya setuju dengan pendapat saudara Dismas bahwa kemajuan teknologi harus membangun martabat dan melayani manusia. Teknologi memiliki nilai jika kemajuan-kemajuannya melayani perkembangan manusia. Terima kasih telah berbagi tulisan yang padat makna.

    • Author gravatar

      Sebuah artikel yang sangat aktual, dengan relevansi dan analisa kritis filosofis yang sangat dalam. Sepakat Bung Dismas bahwa Marcuse tidak menyangkal dampak pemanfaatan teknologi oleh kaum kapitalis sebagai alat dominasi dan penindasan. Hal ini perlu disimak dalam kerangka pemikiran Marcuse yang berusaha mengkritik masyarakat kapitalis modern. Karena itu sangat masuk akal bagi Marcuse memberikan porsi yang lebih banyak pada fungis teknologi sebagai alat penindasan oleh kaum yang berkepentingan daripada mengembangkan pemikirannya tentang netralitas teknologi. SALAM.

    • Author gravatar

      Sebuah artikel yang sangat aktual, dengan relevansi dan analisa kritis filosofis yang sangat dalam. Sepakat Bung Dismas bahwa Marcuse tidak menyangkal dampak pemanfaatan teknologi oleh kaum kapitalis sebagai alat dominasi dan penindasan. Hal ini perlu disimak dalam kerangka pemikiran Marcuse yang berusaha mengkritik masyarakat kapitalis modern. Karena itu sangat masuk akal bagi Marcuse memberikan porsi yang lebih banyak pada fungis teknologi sebagai alat penindasan oleh kaum yang berkepentingan daripada mengembangkan pemikirannya tentang netralitas teknologi. SALAM.

    • Author gravatar

      SELAMAT SIANG Mas Dismas. Tulisan yang sarat dengan informasi berharga tentang pernak-pernik kehidupan yang dibalut dengan refleksi filosofis yang tajam dan menukik. Manusia lebih bernilai dari pada teknologi, betul sekali. Teknologi memiliki nilai jika kemajuan-kemajuannya melayani perkembangan manusia. Tetapi jika kemajuan-kemajuan bidang teknologi hanya dipandang begitu saja ia tidak berarti bagi pengembangan hidup manusia. So, teknologi memiliki arti sejauh melayani manusia kesejahteraan, kebahagiaan dan keadilan bagi manusia. Terima Kasih sudah berbagi tulisan yang sangat informatif. Salam hangat.

    • Author gravatar

      Tulisan indah yang menarik, Pak Dismas pemaknaan sejati atas segala sesuatu memang menembus batas lahiriah dan fisiknya, jauh mengorek hingga substansi intinya. Inilah yang saya banggakan dari publikasi artikel di Betang Filsafat, menarik dan sangat berbobot layak dibaca oleh para penggiat ilmu filsafat. Setuju Pak Dismas bahwa teknologi memiliki pengaruh konkret atas kehidupan manusia. Melalui tinjauan kritis, filsafat hendak melacak pengaruh-pengaruh teknologi atas pembentukan konkret kehidupan manusia. Terima kasih atas ulasan menariknya Pak Dismas.

    • Author gravatar

      Sebuah artikel dengan kebaharuan dan refleksi kritis filosofis yang deep bangget. Benar Bung Dismas bahwa teknologi merupakan bagian penting dari peradapan manusia. Sebagai bagian dari peradapan manusia modern teknologi memiliki aspek positif bagi kesejahteraan manusia. Namun, dalam realitas hidup teknologi bisa digunakan untuk maksud-maksud jahat dan bahkan dalam penggunaan yang bermaksud baik pun senantiasa terkandung kemungkinan yang berdampak negatif. Terima kasih kepada Betang Filsafat telah mempublikasi tulisan dengan pilihan kata yang menarik dan sangat indah serta mudah dipahami.

    • Author gravatar

      Selamat sore mas Dismas, Terima kasih sudah berbagi tulisan inspiratif sekaligus menantang. Kita tidak boleh lalai dalam memperhatikan bahaya dari hasil-hasil teknologi yang tidak diinginkan. Hal ini sering kali datang dari inkorporasi teknologi secara buruk ke dalam totalitas kehidupan manusia. Salam sehat.

    • Author gravatar

      Selamat pagi Pak Dismas. Saya sangat setuju dengan ulasan Pak Dismas yang mengatakan bahwa teknologi adalah sarana pembebasan. Teknologi membantu manusia untuk mengembangkan dan menikmati kebebasannya. Martabat dan kesejahteraan manusia semakin bertumbuh seiring dengan kemajuan di bidang teknologi. Hakekat dasar teknologi yang sebenarnya adalah melayani kebutuhan manusia. Terima kasih telah memberikan wawasan dan kesadaran baru untuk para pembaca.

    • Author gravatar

      Selamat siang saudara Dismas. Sebuah artikel yang sangat menarik dan gamblang. Alih-alih teknologi merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Teknologi merupakan kekuatan utama dalam masyarakat industri modern. Dapat dikatakan teknologi merupakan ‘jiwa’ masyarakat modern. Dalam artikel ini saudara Dismas membahas dengan lugas poin-poin penting yang berkaitan dengan teknologi dan dampaknya. Terima Kasih. Salam berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *