Artikel

SIAPA SAHABATKU KINI? (KRITIK ATAS RELASIONALITAS PERSAHABATAN BERKARAKTER PRIMORDIAL-SEKTARIAN)

Oleh Yoga Febriano (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)

 

Pendahulaun

Persahabatan kerap direduksi ke dalam model-model sempit ideologi tertentu. Skema-skema dan narasi persahabatan yang dibangun, dalam banyak peristiwa, lebih banyak berciri primordial-sektarian dari pada universal. Karakter semacam ini membuat persahabatan itu kehilangan esensinya.

Peradaban masa lalu bangsa Indonesia memberikan sebuah pemahaman kepada kita tentang arti persahabatan sejati. Salah satu peristiwa monumental tentang persahabatan adalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Peristiwa sejarah ini benar-benar melukiskan apa yang disebut bhnineka tunggal ika (unity in diversity). Kesadaran akan nilai-nilai dan esensi persahabatan membuat mereka (baca: anggota kongres) mampu mengesampingkan sikap-sikap primordialistik yang berpotensi menghalangi jalan menuju kemerdekaan. Mustahil mencapai kemerdekaan tanpa dilandasi sikap persatuan dan persahabatan satu dengan yang lain. Dan kita tahu dengan baik buah manis dari persahabatan model Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah lahirnya ikrar dan pengakuan akan kesatuan bahasa, bangsa dan tanah air Indonesia.

Namun, bangsa ini juga pernah mengalami sejarah kelam di mana definisi persahabatan direduksi melulu pada konsep-konsep idelogis belaka. Rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto adalah “pencetus” model persahabatan yang demikian. Bahkan tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa model persahabatan tersebut adalah salah satu model paling absurd dan banal yang pernah ada dalam sejarah dunia. Relasionalitas masa itu benar-benar irrasional. Bahasa-bahasa berbau ideologi telah menskemakan manusia-manusia Indonesia – dan dengan sendirinya juga persahabatannya – ke dalam skema “ideologi komunis” dan “non-komunis”. Dengan alasan ideologi inilah, persahabatan yang seharusnya milik semua manusia, diamputasi dan dicabut dari akarnya sehingga pembantaian dan pembunuhan terhadap manusia-manusia tak bersalah (innocent) yang dicap PKI mendapat pembenaran dan legitimasinya.

Sekarang mari kita beranjak dari dua peristiwa di atas dan membuka mata demi melihat realita bangsa kita saat ini. Adakah persahabatan di sana? Memang benar saat ini bangsa kita sedang dilanda pandemi covid 19. Tentu peristiwa ini merupakan luka yang mendalam bagi bangsa kita. Tetapi, jauh sebelum pandemi covid 19 melanda negeri kita, terdapat sejumlah kasus dan peristiwa lain yang mengusik nalar dan nurani kita. Sebutlah sebagai contoh misalnya saudara-saudara kita di Papua yang terus dilanda konflik berkepanjangan; aksi-aksi terorisme berkedok agama di Jawa dan Sulawesi; isu-isu rasial; politik identitas; korupsi dalam lingkaran kaum birokrat; sengketa lahan dan masalah-masalah lingkungan hidup di Kalimantan; hingga budaya kekerasan yang telah merambah dalam keluarga-keluarga. Hingga hari ini masalah-masalah tersebut masih berkelindan dan menuntut jalan keluar yang benar.

Tulisan ini merupakan kritik atas model-model “persahabatan” dan “kesetiakawanan” yang diusung oleh societas kita (Indonesia) dewasa ini. Saya melihat ada indikasi ketidakbenaran, di mana skema “kita” dan “mereka” kerap dijadikan sebagai pembenaran atas suatu nilai yang dipegang. Saya membagi tulisan ini ke dalam tiga bagian utama yaitu pendahuluan, isi dan penutup. Metodologi yang digunakan adalah studi pustaka, jadi kualitatif. Sesuai judulnya, tulisan ini pun berupaya mencari bahasa-bahasa persahabatan di mana manusia dapat dihargai seturut harkat dan martabatnya sejauh manusia, bukan karena emblem-emblem identitas tertentu!

 

Bersahabat Tanpa Syarat

Aksentuasi nilai persahabatan sesungguhnya tidak dapat direduksi ke dalam berbagai kategori mana pun. Armada Riyanto dalam bukunya Relasionalitas mengajar secara bernas, bahwa kodrat manusia bukan hanya rasional tetapi juga relasional.[1] Mendevaluasi persahabatan ke dalam kategori dan skema tertentu merupakan pengkhianatan terhadap kodrat manusia. Yang dapat kita lakukan hanyalah mengartikulasikan ulang apa yang menjadi esensi dan muatan substantif persahabatan sejati.

Aksentuasi dalam rangka mengaktualisasikan nilai-nilai persahabatan selalu mensyaratkan understanding of context. Kontekstualiasi tanpa mendevaluasi muatan substantif konteks persahabatan memang tidak mudah. Sebagai negara yang terkonstruksi oleh sub-sub kultur yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, Indonesia membutuhkan metode-metode elegan dalam rangka mempromosikan dan mengartikulasikan persahabatan universal tanpa terhalang sikap-sikap primordial-sektarian-partisan. Fanatisme sempit berbasis identitas akhir-akhir ini tampak sedang berusaha menancapkan pengaruh dan hegemoninya dalam societas kita. Gejala-gejala destruktif yang berpotensi mendevaluasi gagasan-gagasan substansial yang termuat dalam Pancasila beserta Bhinneka Tunggal Ika-nya, yang muncul dari gerakan-gerakan tersebut, patut untuk diwaspadai.

Wabah Covid 19 membawa Indonesia ke dalam situasi isolatif yang sanggup mengekskludir dan mempartisi manusia ke dalam sebuah zona entah. Sentralitas manusia dalam aktivitas harian pun mau tidak mau harus adaptif dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Konstruksi sosialitas-humanitas harian prapandemi mensyaratkan dekonstruksi secara bijaksana demi memproteksi diri dan sosietas dari terpaan virus corona. Sikap defensif ini, selain demi proteksi diri, juga sebagai ungkapan relasionalitas yang rasional yang tidak hanya mementingkan keselamatan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Wabah Pandemi Covid 19 juga menuntut manusia modern mencari alternatif model persahabatan antropologis dalam framework inklusivitas. Re-valuasi dan re-animasi model-model persahabatan di masa pandemi bukan saja perlu melainkan juga niscaya. Substansi value dari gagasan ini menitikberatkan kebahagiaan sebagai dambaan manusia yang terisolir dalam zona isolatif Covid 19. Persahabatan yang mendalam bisa membuat manusia lebih puas daripada pesta seks gila-gilaan, demikian salah satu ajaran Epicurus.[2]

Untuk mencapai kebahagiaan bukanlah perkara mudah. Pertama, kita akan dihadapkan dengan kompleksitas abstraksi definisi tentang term itu, artinya kita mesti mencari finalitas arti yang universal tentang kebahagiaan. Meminjam dari Harari, bahwa mencapai kebahagiaan riil tidak akan menjadi lebih mudah dari mengatasi usia tua dan kematian.[3] Lagi pula, dalam rangka mencari kebahagiaan, bukankah karena sebelumnya kita telah mengalami penderitaan terlebih dahulu dan karena itu kita ingin mengakhirinya? Dalam kasus ini Harari benar. Lebih mudah bagi manusia untuk mengatasi kematian, misalnya dengan konsultasi secara rutin kepada dokter, dari pada mengatasi penderitaan dan mengubahnya menjadi kebahagiaan.

 

Bahasa Persahabatan yang Terdistraksi

Kita mencari sebuah model dan bahasa persahabatan yang memiliki karakter resiprokal-mutual. Persahabatan jenis ini adalah persahabatan yang memiliki karakter contra dehumanisasi. Emil Salim, dalam harian Kompas tertanggal Kamis, 18 Februari 2021, memberikan warning mengenai gagasan untuk mengembangkan jasa-jasa ekonomi dengan teknologi menggantikan peranan manusia. Menurutnya gagasan ini memicu proses dehumanisasi dalam pembangunan, antara lain melalui proses robotisasi dalam Revolusi Industri 4.0.[4]

Yang juga harus diantisipasi adalah resistensi kelompok-kelompok tertentu yang menolak regulasi dan kebijakan Covid-19 yang dikeluarkan oleh pemerintah. Fenomena ini sama destruktifnya dengan gagasan dehumanisasi manusia lewat proses robotisasi dalam Revolusi Industri 4.0, seperti yang dikhawatirkan Emil Salim. Baru-baru ini kasus rasial terjadi di Amerika Serikat dengan motif kebencian terhadap ras Asia. Kasus ini merupakan buntut panjang dari sikap Donald Trump yang menyalahkan China sebagai biang keladi Covid-19. Akibatnya, delapan orang tewas ditembak di sebuah spa di Atlanta, dan enam orang di antaranya merupakan perempuan Asia.

Dalam beberapa kasus lain dehumanisai kerap terjadi atas dasar radikalisme dan fundamentalisme agama serta revivalisme aliran-aliran tertentu yang sarat kekerasan. Juga kelompok konservatif-triumfalistik tak kalah ekstrim dari kelompok radikal dan fundamentalis. Bahkan keduanya adalah identik dan sepakat soal kekerasan. Faham-faham ini sering menafikan manusia dari zona eksistensialnya sehingga chaos kemanusiaan sering terjadi. Kelompok-kelompok banal yang miskin narasi kedamaian ini kerap menjadi batu sandungan dan memantik api kebencian terhadap sesama. Di bawah payung identitas-primordialisme, neurosis mereka kambuh dan menyebabkan chaos sosial.

Aksi-aksi destruktif terhadap humana societas yang kontra nilai-nilai fraternitas jelas bertentangan dengan kodrat manusia yang relasional. Kodrat manusia sebagai rasional-relasional tidak mungkin (impossible) diejawantahkan lewat cara-cara yang sarat kekerasan. Kekerasan hanya mengatakan suatu disposisi batin yang hampa akan cinta, tak berdaya, tertekan dan putus asa. Abraham Maslow menyebut disposisi jenis ini sebagai metapatologi.[5]

Indonesia memiliki track record metapatologi kekerasan “ultradestruktif” atas kemanusiaan. Selain kasus PKI, terdapat sejumlah kasus-kasus lain yang hingga hari ini belum terselesaikan. Ironisnya, semua kasus tersebut diresapi oleh semangat yang sama yaitu kekerasan. Berdasarkan catatan harian Kompas, Sabtu, 27 Maret 2021 dalam kolom Politik dan Hukum di halaman 2, ada 12 kasus pelanggaran HAM masa lalu yang belum diselesaikan. Kasus-kasus itu di antaranya adalah peristiwa 1965-1966, penembakan misterius 1982-1985, peristiwa Talangsari Lampung 1998, peristiwa Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II, peristiwa penghilangan orang secara paksa 1997-1998, kerusuhan Mei 1998, peristiwa Simpang KKA Aceh 3 Mei 1999, dan peristiwa Jambu Keupok Aceh 2003.[6]

Fenomena dan realitas kultural, rasial, politik dan agama berciri corak kekerasan masa lalu mungkin akan menemukan bentuk-bentuk baru di abad ini. Dehumanisasi pun mungkin akan berkamuflase lewat cara-cara halus dan senyap. Di bawah dominasi nalar-instrumentalis-artifisial, demikan saya meminjam terminologi Valentinus Saeng[7] dalam Siapakah Manusia Siapakah Allah, konteks Revolusi Industri 4.0 membawa potensi dehumanisasi nyata bagi humanitas manusia abad ini.

Apakah kekerasan multidimensi di atas adalah tanda defisit dan devaluasi esensi persahabatan dalam societas kita? Tidak mudah untuk dijawab. Jika menyimak fenomena life world harian dewasa ini, agaknya kita sedang terjebak dalam zona isolatif-manipulatif teknologi. Deliberasi nilai-nilai moral-etis yang termanifestasikan lewat semboyan bhinneka tunggal ika justru seperti sedang mengalami anomali. Universalitas nilai kebhinnekaan pun turut terdistorsi secara adekuat oleh determinasi dan hegemoni Intelligence Artificial (AI).

Ignatius Haryanto, pengajar jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara Serpong, dalam harian Kompas, mengkritisi kecerewetan netizen Indonesia dalam kaitannya dengan pengetahuan melek digital.[8] Menurut Haryanto, sangat mungkin terjadi bahwa perangkat teknologis yang dimiliki seseorang sangat canggih, tetapi orang tersebut minim pengetahuan literasi digital. Sikap kritisnya ini merupakan tanggapan atas riset ilmiah yang dilakukan Microsoft beberapa waktu lalu yang menyebut netizen Indonesia rmasuk dalam kategori netizen paling tidak sopan di dunia maya.  Netizen Indonesia lantas merespons riset tersebut dengan menyerbu situs dan akun sosial media Microsoft untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Dengan nada bertanya, Haryanto menyatakan bahwa kemarahan netizen Indonesia atas riset Microsoft justru semakin mengafirmasi ketidaksopanan mereka (baca: netizen Indonesia).

Menurut Ahmad Najib Burhani, dalam Kompas, Sabtu 27 Maret 2021, ada empat indikator untuk mengukur makna keadaban seseorang dalam dunia virtual, di antaranya, 1) apakah seseorang akan berpikir atau merenung terlebih dahulu sebelum membalas kepada orang yang tak disetujui, 2) menghormati pandangan orang lain, 3) memperlakukan orang lain dengan hormat dan bermartabat, 4) membela orang yang diperlakukan secara tidak baik dan tidak sehat di dunia daring.[9]

Burhani, masih dalam kolom yang sama, mengutip Tom Nicholas dalam bukunya The Death of Expertise, menegaskan ulang efek negatif dari dunia digital. “Internet membuat kita lebih kejam, bersumbu pendek, dan tak mampu membangun iklim diskusi di mana setiap orang saling belajar. Masalah utama dengan komunkikasi instan ini adalah sifatnya yang instan itu… Kadang-kadang manusia perlu berhenti sejenak dan merenung, memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk menyerap informasi dan mencernanya”. Ia memberikan contoh kasus-kasus perundungan (bullying) di media sosial sebagai tanda bahwa netizen Indonesia kehilangan kemampuan untuk bertabayun (berefleksi dan konfirmasi). Salah satu kasus yang diangkatnya adalah perundungan terhadap Buya Syafii Maarif karena tulisannya yang berjudul “Isu Kebangkitan PKI Jadi Ritual Tahunan”. Di medsos, Buya Syafii Maarif dirundung habis-habisan dengan kata-kata seperti “orang tua gila”, “semakin tua semakin sesat”, “si pikun utek liberal”, “kerak neraka”, “semakin tua semakin kehilangan akal”, “agen PKI kedok ulama”, “intelek kok guoblok”, “berbicaranya lantang, tetapi telinganya tuli, pandangannya buta”.[10] Demikian Burhani menyoroti tatanan etika bermedia sosial saat ini.

Sesungguhnya abstraksi definisi atas esensi fraternitas konteks Revolusi Industri 4.0 kerap ambigu. Ambiguitas definisi ini mungkin akibat determinasi teknologi yang disalahgunakan oleh subjek-subjek tak bertanggung jawab seperti contoh kasus bullying di atas. Ada kesenjangan antara kecanggihan perangkat (device) teknologi dengan muatan etika dan kemampuan literasi subjek. Kasus-kasus perundungan (bullying) di media sosial sesungguhnya merupakan cerminan diri yang rapuh tanda ketidakmampuan untuk menginternalisasi nilai-nilai etika secara baik. Devaluasi fraternitas dalam konteks Revolusi Industri 4.0 seolah-olah menemukan titik terangnya di bawah dominasi dan determinasi internet beserta devices teknologis yang mengitarinya.

 

Mencari Bahasa Persahabatan Konteks Revolusi Industri 4.0

Konflik-konflik horizontal, dehumanisasi sunyi dan senyap teknologis, dan lunturnya etika dalam societas adalah peringatan sekaligus panggilan untuk “membangun kembali” (rekonstruksi) universalitas persahabatan sejati. Aktualisasi potentia nilai-nilai persahabatan dalam rangka rekonstruksi value of fraternity mungkin teraktualisasi jika kita mau keluar dari dan melampaui (beyond) diri kita.  Ketika hidup disimak dengan sangat detail dan teliti, akan tersibak kebenaran-kebenaran yang mengejutkan dan mencengangkan.[11] Relasi mengandaikan kebenaran bahwa keberadaan “engkau” adalah penyusun komunikasi itu sendiri.[12]

Relasi persahabatan adalah keterlibatan partisipatif dalam suka dan duka, tawa dan tangis, harapan dan kecemasan, untung dan malang, menang dan kalah dalam pengalaman eksistensial manusia. Pengalaman-pengalaman itu ibarat puzzle terserak yang bila disatukan akan membentuk satu kesatuan yang utuh. Dalam empati persahabatan, setiap manusia adalah subjek komunikatif yang memiliki tanggung jawab menemani, mencari, dan merangkai puzzle secara bersama-sama.

Degradasi relasi persahabatan yang berkelindan dalam hidup harian manusia menghalangi terwujudnya relasi komunikatif intersubjektivitas. Secara laten, dalam konteks Revolusi Industri 4.0, tersembunyi akar-akar kekerasan, depresi, frustasi, keterasingan hingga rasa putus asa yang menurunkan kualitas relasionalitas intersubjektif manusia. Bahasa persahabatan seperti apa yang hendak kita usung?

Pertama, understanding of context. Pemahaman kita terhadap konteks hidup subjek akan membantu kita menemukan akar dan sumber masalah yang digumulinya. Konteks Revolusi Industri 4.0, misalnya, adalah suatu situasi di mana teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi emblem hidup sehari-hari manusia abad ini. Pengetahuan yang baik mengenai dampak yang ditimbulkan oleh teknologi akan membantu untuk menganalisis akar masalah yang sedang digumuli.

Kedua, empati. Bersimpati saja tidak cukup. Dalam konteks fenomenologi misalnya, empati adalah rasionalitas dari kedalaman relasi. Rasionalitas empati berada pada struktur cetusan kebersamaan dengan sesamanya.[13] “Apabila aku bersama dengan yang lain, aku memiliki respons atas kehadirannya; dan demikian dia juga memiliki respons atas kehadiranku. Konteks respons satu sama lain ini memiliki fondasi rasionalitas humanitas” demikian Armada tentang empati dalam Relasionalitas.[14] Empati mengatakan being-with-others dan menjadi one of them atas pengalaman hidup orang lain. Empati itu ibarat adagium klasik ini: “tempatkalah kakimu pada salah satu sepatu orang lain”.

Ketiga, mencari jalan keluar sebuah permasalahan (problem solving). Berempati tanpa memberikan sebuah solusi seolah belum cukup. Kebersamaan dalam berbagai dilema kemanusiaan harus disertai ide-ide dan tindakan solutif atas dasar empati. Ketika berhadapan dengan pengalaman kekerasan seksual, misalnya, maka menjadi tanggung jawab bersama untuk memikirkan upaya-upaya terbaik demi mencegah terulangnya peristiwa yang serupa. Atau terhadap kasus perundungan (bullying) di media sosial, halnya mensyaratkan upaya konkrit bagaimana agar tindakan bullying di media sosial dapat segera diatasi. Finalitas problem solving demikian adalah mengembalikan fondasi rasionalitas humanitas dalam framework relasi persahabatan-intersubjektif.

 

Penutup

Persahabatan tidak dapat direduksir dalam partikularitas makna. Persahabatan sejati harusnya difondasikan di atas rasionalitas humanitas yang merupakan natura manusia itu sendiri. Keterserakan makna persahabatan abad ini mensyaratkan rekonstruksi dan redefinisi hakikat persahabatan sejati, walau sejatinya forma dan hakikat persahabatan itu tak pernah berubah. Yang berubah adalah kita, para manusia, akibat determinasi mentalitas zaman.

Apa yang dapat kita lakukan adalah kembali kepada diri kita demi melihat apa yang telah lama hilang. Mungkin kita telah lama dikuasai oleh egoisme dan fanatisme sempit ideologi, sistem kepercayaan, dan sikap-sikap primordialisme tertentu. Jika iya, hendaknya kita berdiskresi, menemukan akar-akar dari sikap-sikap jahat kita, dan mengusahakan kembali apa yang baik bagi sesama. Merajut kembali tali persahabatan itu bak sikap pertobatan yang disertai niat dan usaha yang konkret. Bahasa persahabatan hanya mungkin terbahasakan lewat sikap persaudaraan dalam bingkai belas kasih terhadap sesama.

 

Kepustakaan

 

Buku:

Harari, Yoval Noah. Homo Deus. Masa Depan Umat Manusia. Masa Depan Umat Manusia (Judul asli: Homo Deus. A Brief History of Tommorow, terj. Oleh: Yanto Mustofa), Tangerang Selatan: Penerbit Alvabet, 2018.

Riyanto, Armada. Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen, Yogyakarta: Kanisius, 2018.

Saeng, Valentinus. Antara Eureka dan Erica: Konsep Manusia di Era 4.0 dalam Valentinus et al (eds), “Siapakah Manusia Siapakah Allah. Menyingkap Tabir Manusia dalam Revolusi Industri Era 4.0” Seri Filsafat Teologi Widya Sasana Vol. 29 No. Seri 28, Malang: STFT Widya Sasana, 2019.

Schultz, Duane. Psikologi Pertumbuhan. Model-model Kepribadian Sehat (terj. Oleh: Yustinus MSc. OFM dari Judul Asli: Growth Psychology: Models of the Healthy Personality) (reprint., 1991), Yogyakarta: Kanisius, 2006.

 

Surat Kabar:

Burhani, Ahmad Najib. Keadaban Digital Masyarakat Kita dalam Kompas, Sabtu, 27 Maret 2021.

Haryanto, Ignatius. Netizen dalam Kompas, Jumat 26 Maret 2021.

Salim, Emil. Covid-19 dan Mencerdaskan Bangsa, dalam Kompas, Kamis, 18 Februari 2021.

Selesaikan Kasus HAM Sesuai UU dalam Kompas, Sabtu, 27 Maret 2021.

 

[1] Armada Riyanto, Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen (Yogyakarta: Kanisius, 2018), i.

[2] Yoval Noah Harari, Homo Deus. Masa Depan Umat Manusia. Masa Depan Umat Manusia (Judul asli: Homo Deus. A Brief History of Tommorow, terj. Oleh: Yanto Mustofa) (Tangerang Selatan: Penerbit Alvabet, 2018), 51.

[3] Ibid.

[4] Emil Salim, Covid-19 dan Mencerdaskan Bangsa, dalam Kompas, Kamis, 18 Februari 2021, 6.

[5] Duane Schultz, Psikologi Pertumbuhan. Model-model Kepribadian Sehat (terj. Oleh: Yustinus MSc. OFM dari Judul Asli: Growth Psychology: Models of the Healthy Personality) (reprint., 1991, Yogyakarta: Kanisius, 2006), 96.

[6] Selesaikan Kasus HAM Sesuai UU dalam Kompas, Sabtu, 27 Maret 2021, 2.

[7] Valentinus Saeng, Antara Eureka dan Erica: Konsep Manusia di Era 4.0 dalam Valentinus et al (eds), “Siapakah Manusia Siapakah Allah. Menyingkap Tabir Manusia dalam Revolusi Industri Era 4.0” Seri Filsafat Teologi Widya Sasana Vol. 29 No. Seri 28 (Malang: STFT Widya Sasana, 2019), 67.

[8] Bdk. Ignatius Haryanto, Netizen dalam Kompas, Jumat 26 Maret 2021, 7.

[9] Ahmad Najib Burhani, Keadaban Digital Masyarakat Kita dalam Kompas, Sabtu, 27 Maret 2021, 6.

[10] Ibid.

[11] Armada Riyanto, Relasionalitas, 188.

[12] Ibid., 215.

[13] Armada Riyanto, Relasionalitas, 337.

[14] Ibid.

 

TRI_2021Jul16_Artikel Yoga_008

Sumber gambar featured: https://id.depositphotos.com/vector-images/relasi.html

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *