Artikel

SEMESTA DAN RELASI KEHIDUPAN MANUSIA DENGAN ALAM: Melihat Semesta dari Perspektif Plato

Oleh Fransiskus Heru (Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Pamane Talino)

 

Semesta.

Semesta yang indah dan luas penuh dengan tanda tanya dan misteri. Ia memberikan kehidupan untuk ribuan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Keluasan dan kemisteriusan semesta menyebabkan ada banyak definisi tentang semesta. Walaupun belum ada kata sepakat tentang satu definisi universal, namun kita harus bisa mendefinisikan sendiri apa itu semesta agar kita dapat mensyukuri apa yang telah dihadirkan dalam semesta.

Kita percaya bahwa dunia yang kita diami saat ini dirancang  oleh Sang Pencipta semesta. Setiap agama atau kepercayaan tentu penyampaiannya berbeda-beda, namun itu semuanya mengarah pada satu hal, yaitu menjelaskan tentang keberadaan Sang Pencipta dan arsistek yang menciptakan semesta. Pencipta ini juga berperan sebagai sutradara yang mengatur jalannya scenario kehidupan. Kita yang hidup di dalamnya telah diberi skenario masing-masing tentang perjalanan kehidupan kita.

Semesta ini memang penuh dengan tanda tanya. Mungkin kita pernah mendengar kalimat: “Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah kesempatan, esok adalah misteri”.  Tidak ada yang tahu kapan kita akan kembali pada Sang Pencipta semesta karena semua itu adalah rahasia dari Sang Pencipta. Manusia adalah miniatur yang kapan saja akan dipindahkan oleh Pemiliknya, namun manusia sering lupa bahwa ia akan kembali kepada Sang Pencipta. Manusia sering lupa oleh karena keindahan yang dimiliki Dunia Indrawi, dunia yang oleh Plato disebut sebagai replika/tiruan Dunia Idea.

Plato, seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis Philosophical Dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, membagi semesta dunia menjadi dua bagian yaitu Dunia Idea dan Indrawi.  Plato mendefenisikan Dunia Idea sebagai dunia yang di dalamnya bersifat abadi dan tidak berubah. Mungkin yang Plato maksud adalah dunia yang sering kita  dengar dalam ajaran agama sebagai surge, dunia yang dijanjikan, tempat untuk kita kembali kepada Sang Pencipta dan tempat peristirahatan terakhir untuk mereka yang telah meninggal.

Dunia Indrawi adalah benda nyata yang menyangkut benda-benda yang kongkret, yang dapat dirasakan dan dilihat oleh panca indera kita. Dunia Inderawi adalah dunia yang saat ini kita tinggali. Di dalamnya penuh dengan keindahan yang bersifat sementara seperti; jabatan, harta, dan kekuasaan.

Bermimpi untuk kelestarian semesta dunia ibaratkan kita mempunyai keinginan untuk terbang sementara disisi lain kita mengetahui bahwa kita tidak bisa terbang. Ini sangat paradoks. Sebagaimana Plato mengandaikan bahwa setiap manusia yang hidup di Dunia Inderawi harus selalu digerakkan untuk mengarahkan dirinya kepada Dunia Idea yang sempurna, semesta dunia pun sejatinya demikian.

Menghentikan kerusakan lingkungan yang ada di semesta ini tentu bukan pekerjaan yang mudah. Semesta dunia yang lestari adalah “Dunia Idea” yang kita harapkan. Kita semua mengetahui bahwa manusia memanfaatkan lingkungan hidup pertama-tama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi itu ada batasnya. Jika pemenuhan kebutuhan hidup ini sudah melampaui batasnya, itulah yang kemudian disebut sebagai ketamakan. Ketamakan membawa manusia pada tindakan merusak lingkungan hidup. Hal yang bisa kita lakukan adalah mencegah ketamakan dan keserakahan dari sifat manusia untuk merusak lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan tidak bisa kita hindari namun bisa dikurangi. Jika tidak, semesta yang kelihatan indah akan memperlihatkan sisi buruk yang ada di dalamnya.

Banyak di antara kita berteriak lantang tentang kelestarian lingkungan hidup, tetapi kita terus melakkukan perusakan dan pencemaran terhadap lingkungan tersebut. Di hadapan dunia mungkin kita meneriaki kelestarian lingkungan, sedangkan disisi lain kita melakukan perusakan dan perambahan hutan lindung secara masal. Pertanyaannya sederhana: sampai kapan manusia bersandiwara tentang pelestarian lingkungan hidup sementara dunia sudah semakin rusak? Jika tindakan pelestarian hidup tidak segera dilakukan secara bersama-sama, maka impian untuk mengalami semesta yang indah tak akan tercapai. Ide Plato akan dikubur.

 

Sumber Gambar Featured: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/09/07/m9z900-penciptaan-alam-menurut-alghazali-dan-ibnu-rusyd-4habis

TRI_2020Mar18_Artikel Heru_011

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *