Artikel

Sekelumit Refleksi atas Penamaan Patung Yesus Panglima Burung

RD Gregorius Nyaming (Mahasiswa Tingkat Doktoral di The John Paul II Catholic University of Lublin, Poland)

 

Saya adalah imam diosesan Keuskupan Sintang. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 7 Agustus 2014 di Paroki Maria Ratu Semesta Alam, Sungai Durian oleh Yang Mulia Mgr. Agustinus Agus.

Lewat perkenalan singkat di atas, saya hanya mau mengatakan kalau Mgr. Agus mempunyai peran yang sangat penting dalam perjalanan panggilan saya menjadi seorang imam. Sekarang ini saya bisa berada di Lublin, Polandia untuk melanjutkan studi juga berkat jasa beliau ketika masih menjabat sebagai uskup Keuskupan Sintang. Oleh karena itu, tulisan ini mohon jangan dilihat sebagai bentuk ketidaksopanan atau rasa tidak hormat terhadap Beliau yang sudah banyak berjasa dalam hidup saya.

Lantas, dalam konteks apa tulisan ini mesti dibaca dan ditempatkan? Dalam konteks berteologi kontekstual di tengah suku Dayak. Tidak lebih dari itu.

Ada banyak tema yang bisa dikaji dan direfleksikan ketika berbicara tentang upaya berteologi kontekstual di tengah suku Dayak. Apalagi bila kita melihat kenyataan di mana gerak hidup manusia Dayak itu hampir selalu diwarnai oleh ritual dan upacara adat. Saat kelahiran, mandi pertama kali di sungai, saat menanjak dewasa, saat ada orang sakit, menikah, kematian, kegiatan terkait perladangan, pesta-pesta adat, pembangunan rumah, masuk rumah baru, dan lain-lain, selalu ada ritual-ritual khusus yang dilakukan.

Kenyataan di atas dapat menjadi pengingat bagi Gereja, bahwa dalam usaha membangun Kerajaan Allah di tanah Kalimantan, dialog yang jujur dan sabar dengan kebudayaan lokal kiranya menjadi sangat penting. Dengan cara demikian, Gereja bisa menyusun kebijakan-kebijakan pastoral yang tertuang dalam arah dasar Keuskupan maupun Paroki dengan bertolak dari dalam dunia simbol dan adat masyarakat lokal.[1]

Tulisan ini sendiri akan memokuskan diri pada gagasan dari Mgr. Agus yang melaluinya beliau berupaya menghadirkan dan menghidupkan simbol-simbol budaya lokal dalam karya dan misi penggembalaannya. Sebagaimana dilansir dari majalahduta.com, Mgr. Agus berencana mendirikan sebuah patung raksasa Yesus Kristus di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Dan beliau sudah menetapkan bahwa nama untuk patung itu nanti ialah “Patung Yesus Panglima Burung”.

 

Sebuah Upaya Berteologi Kontekstual

Lewat gagasan pendirian patung Yesus Panglima Burung, pun juga dari beberapa buah karya yang sudah bisa kita lihat dan nikmati (Rumah Retret St. Yohanes Paulus II, Anjongan, misalnya), Mgr. Agus, yang adalah putra asli suku Dayak, mau menunjukkan kepada kita bagaimana agar budaya lokal jangan sampai dihilangkan oleh Gereja dalam menjalankan tugas pewartaan dan perutusannya.

Upaya beliau tersebut tentu saja bukan tanpa dasar. Dalam hal ini Mgr. Agus mendasarkan dirinya pada sikap dan pandangan Gereja sendiri yang meyakini bahwa Warta Gembira tentang Kristus dan kebudayaan manusia itu mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebagaimana ditandaskan oleh Konsili Vatikan II, dalam dokumen Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa ini (Gaudium et Spes): “Sebab, Allah yang mewahyukan diri-Nya sepenuhnya dalam Putra-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman. Aneka ragam budaya manusia sungguh dapat menjadi medan pewartaan Gereja menyebarluaskan dan menguraikan pewartaan tentang Kristus, untuk menggali dan semakin menyelaminya, serta untuk mengungkapkannya secara lebih baik dalam perayaan liturgi dan dalam kehidupan jemaat beriman yang beraneka ragam” (GS art. 58).

Bila Gereja sungguh meyakini bahwa aneka ragam budaya manusia sungguh dapat menjadi medan pewartaan Gereja, maka tradisi dan budaya yang menjadi milik manusia Dayak tentu jugalah  termasuk di dalamnya. Hal inilah yang kiranya meneguhkan keyakinan Mgr. Agus. Karena itulah, saat menyumbangkan pemikiran dalam rangka pembukaan program Doktor Teologi di STFT Widya Sasana, Malang, beliau berpendapat: “Masyarakat adalah konteks Gereja setempat berada dan bertumbuh. Gereja tidaklah mengawang-awang; Gereja itu hadir di tengah konteks di mana ia berada dan berkembang. Itulah masyarakat. Maka, masyarakat Indonesia yang khas dengan persoalan dan budayanya harus menjadi locus theologicus (titik tolak berteologi).”[2]

Kalimat terakhir di atas mau menunjukkan kalau Mgr. Agus sedang menjalankan sebuah teologi yang kontekstual.[3] Dengan teologi yang kontekstual hendak memaksudkan bahwa Injil itu direfleksikan dalam konteks budaya lokal. Dalam bahasa Rm. Armada Riyanto, berteologi berarti mengakarkan Sabda atau membuat benih itu berakar dalam dan kokoh di kebudayaan manusia sedemikian rupa, sehingga Sabda bukan hanya akan tumbuh dan berbuah, melainkan juga menginjili nilai-nilai kebudayaan hidup sehari-hari manusia.[4]

Dalam berteologi kontekstual, Mgr. Agus merupakan satu dari sekian banyak uskup (teolog) yang menjalankannya. Di beberapa tempat lain kita bisa menemukan upaya serupa. Misalnya, teologi Dalit (India), telogi Minjung (Korea Selatan), teologi feminist, teologi pembebasan (Amerika Latin). Teologi-teologi tersebut menjadikan analisis atas situasi konkret sosio-politis sebagai titik berangkat. Analisis yang mereka lakukan berupaya untuk membongkar praktek penindasan, eksploitasi, alienasi dan diskriminasi. Berhadapan dengan praktek-praktek  yang menindas dan menginjak-injak harkat dan martabat manusia itu, para teolog yang membenamkan diri di dalamnya melihat bahwa pembebasan merupakan bagian integral dari tugas teologis. Oleh karena itu, tugas dari teologi pembebasan ialah menyuarakan pengetahuan dan pengalaman dari mereka yang suaranya tidak terdengar.[5]

Dalam konteks Asia sendiri, upaya Mgr. Agus selaras dengan apa yang ditandaskan oleh Federasi Konferensi-konferensi Para Waligereja Asia (FABC). Dalam Sidang Pleno V di Bandung, 17-27 Juli 1990, para Uskup Asia menegaskan: “Misi Gereja di Asia meliputi: “ada bersama dengan masyarakat, menanggapi kebutuhan mereka, dengan kepekaan terhadap kehadiran Allah dalam aneka ragam budaya dan dalam tradisi keagamaan lain, dan memberi kesaksian tentang nilai Kerajaan Allah lewat kehadiran, solidaritas, sharing dan perkataan. Misi kemudian berarti dialog dengan kemiskinan, budaya-budaya lokal dan tradisi keagamaan lain yang ada di Asia.”[6]

Sebuah teologi yang kontekstual tidak dijalankan tanpa model dan tujuan. Berkaitan dengan model, Stephen B. Bevans dalam bukunya menggagas ada enam model yang bisa digunakan dalam upaya menjalankan sebuah teologi yang kontekstual: terjemahan, antropologi,  praksis, sintetik, transendental dan counter-kultural. Dalam kasus Mgr. Agus, jika boleh saya tafsirkan, beliau menerapkan model pendekatan antropologi.

Apa yang penting dalam model ini, sebagaimana dikemukan oleh Stephen B. Bevans, ialah pemahaman bahwa Kristianitas itu berbicara tentang pribadi manusia dan pemenuhannya. Model ini memusatkan diri pada nilai dan kebaikan dari anthropos (pribadi manusia). Dalam model ini kodrat manusia, dan konteks manusia itu sendiri, dipandang baik, kudus dan bernilai. Dalam pemahaman ini, model antropologi akan menekankan bahwa di dalam budaya manusia-lah kita dapat menemukan pewahyuan Allah. Mereka yang menenggelamkan diri dalam model ini berusaha mencari pewahyuan dan penyataan diri Allah yang tersembunyi dalam nilai-nilai, pola-pola relasional dan keprihatinan-keprihatinan dari sebuah konteks.[7]

Dua hal kiranya dapat diangkat dari gagasan yang dikemukakan oleh Bevans di atas terkait dengan upaya berteologi kontekstual yang dijalankan oleh Mgr. Agus. Pertama, Mgr. Agus memandang bahwa kodrat manusia dan konteks kehidupannya adalah baik, kudus dan bernilai. Poin ini mengingatkan kita akan pengajaran dari Paus St. Yohanes Paulus II dalam ensiklik pertamanya Redemptor Hominis (1979). Berkaitan dengan relasi antara misi Gereja dan kebebasan manusia, Bapa Suci mengajarkan: “Sikap misioner selalu mulai dengan cita rasa menghargai secara mendalam ‘apa yang ada pada manusia’” (bdk. Yoh. 2:25), apa yang oleh manusia sendiri telah dikaji dalam lubuk jiwanya mengenai persoalan apa yang paling penting dan mendalam. Misi, Bapa Suci melanjutkan, dengan demikian tidak pernah berupa penghancuran, tetapi mengangkat dan membangun secara segar” (art. 12).

Kedua, Mgr. Agus berusaha mencari pewahyuan dan penyataan diri Allah yang tersembunyi dalam keprihatinan-keprihatinan dari sebuah konteks. Dalam hal ini yang menjadi konteksnya ialah masyarakat Dayak. Sedangkan persoalan atau keprihatinan yang menjadi locus theologicus-nya ialah kebodohan dan ketertinggalan. Oleh karena itulah, didirikannya patung ini beliau jadikan sebagai simbol pembebasan orang Dayak[8] dari kebodohan dan ketertinggalan baik dari segi pendidikan maupun ekonomi.

 

Yesus Panglima Burung: Cara Berkristologi dalam Konteks Dayak

Bagi saya pribadi, nama yang dipilih oleh Mgr. Agus ini menarik untuk dijadikan bahan refleksi, kajian dan diskusi. Menarik, karena sejauh pengetahuan saya inilah pertama kalinya tokoh atau sosok terkenal dari masyarakat Dayak namanya disandingkan dengan nama Yesus. Pemilihan dan pemberian nama tersebut tentu saja bukan tanpa dasar dan tujuan. Saya sungguh meyakini bahwa nama itu lahir dari buah pembacaan dan refleksi Mgr. Agus atas keadaan manusia Dayak, yang dalam beberapa segi masih mengalami ketertinggalan. Dari beberapa segi itu, Mgr. Agus lebih menyoroti segi pendidikan dan ekonomi. Karena itulah, patung Yesus Panglima Burung ini nanti akan menjadi simbol pembebasan orang Dayak dari kebodohan dan ketertinggalan.

Lewat pemilihan nama tersebut, Mgr. Agus tentu mengharapkan agar semangat perjuangan yang dimiliki oleh Panglima Burung, Panglima Suku Dayak, juga menjadi semangat putra-putri Dayak dan siapa saja yang berkehendak baik dalam berjuang untuk membebaskan orang Dayak dari kebodohan dan ketertinggalan.

Harus kita akui betapa Mgr. Agus melalui gagasannya ini menunjukkan perhatian dan kepedulian yang mendalam terhadap kemajuan manusia Dayak. Beliau ingin menggugah siapa saja yang berkehendak baik untuk turut berpartisipasi dalam membebaskan orang Dayak dari kebodohan dan ketertinggalan. Dan dari pihak Gereja sendiri, Mgr. Agus sangat mengharapkan agar Gereja tidak menutup mata terhadap persoalan-persoalan faktual yang dihadapi oleh umat.

Poin terakhir di atas mau menegaskan bahwa bagi Mgr. Agus inkulturasi itu bukan hanya mencakup bidang liturgi saja. Dengan kata lain, inkulturasi tidak sekadar mencakup perayaan misa yang meriah, di mana unsur-unsur dari budaya lokal dimasukkan dalam tata perayaan Ekaristi. Inkulturasi, bagi Mgr. Agus kiranya senada dengan apa yang disampaikan Rm. Emanuel Marthasudjita, yakni mesti mencakup hal yang lebih mendalam, yakni mengubah kehidupan yang sesuai nilai Injil. Inkulturasi sebaiknya dipahami sebagai suatu proses yang terus-menerus, dalam mana Injil diungkapkan ke dalam suatu situasi sosio-politis dan religius-kultural dan sekaligus Injil itu menjadi daya dan kekuatan yang mengubah atau mentransformasikan situasi tersebut dan kehidupan orang-orang setempat.[9]

Dan juga senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh Rm. Gregorius Budi Subanar. Dalam kesempatan Seminar Nasional dan Festival Borneo di Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, 8 – 13 Agustus 2018, berkaitan dengan inkulturasi Gereja Katolik di dalam kebudayaan suku Dayak, beliau mengatakan: “Selama ini, inkulturasi Gereja Katolik ke dalam budaya lokal, termasuk dalam Kebudayaan Suku Dayak, masih dilihat sebatas dalam pesta budaya maupun atraksi budaya setiap kali ritual selepas panen padi yang disebut gawai di Provinsi Kalimantan Barat, dan Isen Mulang di Provinsi Kalimantan Tengah, dan lain-lain”

Menurutnya, inkulturasi Gereja Katolik di dalam kebudayaan Suku Dayak, mesti dilihat sampai sejauh mana pergulatan Gereja Katolik di dalam menuntun proses kehidupan nyata masyarakat Suku Dayak, termasuk di antaranya menuntun hak hidup yang menyertainya berupa hak kepemilikan terhadap tanah, termasuk di antaranya memperjuangkan pengakuan terhadap kepemilikan tanah adat Suku Dayak. Oleh karena itu, Gereja Katolik di Kalimantan mesti mencari formula yang relevan di dalam menuntun masyarakat Suku Dayak dalam memperjuangkan haknya atas tanah, terutama tanah Adat Dayak. Karena tanah bagi masyarakat Suku Dayak merupakan hak hidup paling mendasar yang menyertainya di dalam kehidupan nyata di tengah-tengah pergulatan global di bidang budaya, sosial, ekonomi dan politik”.[10]

 

Nama “Yesus Panglima Burung”: Berdampak pada Pemahaman Umat akan Yesus?

Betapa pun luhur dan mulia cita-cita dan harapan yang mau digapai lewat kehadiran patung Yesus Panglima Burung ini, ada satu hal penting yang dalam hemat saya mesti menjadi bahan pertimbangan. Patung ini adalah patung Yesus, bukan patung Panglima Burung. Oleh karenanya, kajian, diskusi dan refleksi kita mau tidak mau harus juga menyasar kepada bagaimana dampak penamaan ini terhadap pemahaman umat beriman terhadap Yesus itu sendiri. Sebab, bagi umat Katolik, Kristus/Mesias, Juru Selamat, Anak Allah, Anak Domba Allah, Tuhan, Anak Daud, adalah beberapa nama dan gelar umum yang dipakai untuk menggambarkan Yesus.

Setiap kali umat Katolik mengarahkan pandangan ke patung ini nanti, seakan bergemalah apa ditulis oleh penginjil Yohanes: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:13-16).

Bagi orang Katolik, Yesus Kristus adalah kepenuhan wahyu Allah. Dia adalah sungguh Allah, sungguh manusia. Pengantara kepada Bapa. Juruselamat dunia yang datang untuk menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28). Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui-Nya (Yoh 14:6).

Apakah dengan memberi nama “Patung Yesus Kepala Burung”, pengetahuan dan pemahaman umat terhadap Yesus tidak akan dikacaukan atau dikaburkan? Tidakkah iman umat akan dikaburkan atau bahkan mungkin digoyahkan dengan pemberian nama “Panglima Burung” terhadap Yesus?

Umat mungkin tidak akan terlalu mempedulikan apakah pemberian nama itu akan berdampak pada pemahaman atau iman mereka terhadap Yesus. Akan tetapi, tidak demikian dengan seorang Uskup, yang diangkat oleh Roh Kudus menggantikan para Rasul sebagai Gembala jiwa-jiwa…Berkat Roh Kudus yang dikaruniakan kepada mereka, menjadi guru iman, Imam Agung dan Gembala yang sejati dan otentik.[11]

Sebagai seorang guru iman, seorang Uskup dianjurkan untuk menyajikan ajaran Kristiani dengan cara yang menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman; artinya menjawab kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah yang sangat menekan dan menggelisahkan orang-orang.[12] Namun poin berikut ini penting untuk diperhatikan bahwa dalam menyajikan ajaran Kristiani hendaknya mereka (para uskup) juga menjaga ajaran itu, sambil mengajar umat beriman untuk membela dan menyiarkannya.[13]

Mgr. Agus sendiri tentu sudah paham betul apa yang menjadi tugasnya sebagai seorang gembala dan guru iman. Karena itulah, saat menyumbangkan pemikiran dalam rangka pembukaan program Doktor Teologi di STFT Widya Sasana, Malang, menulis demikian: “Melakukan teologi haruslah selalu di dalam kerangka menggereja. Itu artinya harus sesuai dengan iman Gereja. Dalam hal ini, berteologi tidak boleh dilepaskan dari iman Gereja yang kita tahu sebagai warisan para rasul. Warisan para Rasul yang kita ketahui adalah Kitab Suci, Tradisi, dan nantinya ajaran resmi Gereja, yaitu Magisterium”.[14]

 

Sekadar Membandingkan antara Yesus dan Panglima Burung

Karena nama yang dipilih, hemat saya, memiliki kecenderungan mengaburkan pemahaman umat akan Yesus Kristus, maka guna memastikan atau menguji – jika memang dirasa perlu untuk dilakukan – apakah nama “Panglima Burung” cocok atau layak disandingkan dengan atau diberikan kepada Yesus, pertanyaan-pertanyaan berikut yang terkait dengan sosok Panglima Burung, harus dijawab terlebih dahulu secara jelas.

Siapa itu Panglima Burung? Nilai dan semangat hidup apa saja yang sudah diwariskan?, dan perjuangan apa  saja yang telah dilakukan oleh Panglima Burung bagi orang Dayak sehingga membuat namanya layak disandingkan dengan Yesus? Apakah semasa hidupnya dia juga berjuang bagi pembebasan orang Dayak dari kebodohan dan ketertinggalan? Apakah isi, cara/bentuk dan maksud perjuangan antara Yesus dan Panglima Burung berada pada level yang sama? Atau jangan-jangan bertolak belakang, meskipun judulnya sama-sama berjuang?

Saya sendiri ketika mendengar nama Panglima Burung akan langsung teringat dengan kerusuhan etnis Dayak-Madura beberapa tahun silam. Sebab, pada saat itulah untuk pertama kalinya saya mendengar cerita soal sosok Panglima Burung.

Dari beberapa sumber yang saya baca memang dikatakan kalau Panglima Burung, meskipun digambarkan sebagai sosok sakti dan luar biasa kuat, dia merupakan sosok yang baik hati. Ia juga dikenal ramah serta sangat sopan.[15] Panglima Burung juga adalah sosok yang tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Meskipun beringas saat dalam peperangan, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak, tetap berpegang teguh pada norma dan aturan adat.[16] Panglima Burung, dikenal oleh warga Suku Dayak sebagai tokoh yang agung, berwibawa, pemimpin spiritual, serta kesatria yang memiliki kesaktian dahsyat. Panglima Burung juga disebut sebagai orang Dayak sejati, karena sangat cinta damai, suka menolong, sederhana, dan selalu mengalah.[17]

Akan tetapi, semua sifat baik, sabar, tenang yang ada padanya akan luntur dan dia akan berubah menjadi sosok yang kejam namun penuh gagah berani saat orang-orang Dayak dan tanah Kalimantan tempat mereka hidup direndahkan atau dilecehkan.

Bagaimana dengan Yesus sendiri? Sama seperti Panglima Burung, Yesus juga menentang dan mengecam segala bentuk perendahan dan pelecehan terhadap manusia. Kecaman-Nya yang sangat keras terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi barangkali dapat menjadi contohnya. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Mat 23:14). “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23:23). Oleh Yesus, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dikatakan sebagai keturunan ular beludak (Mat 23:33).

Akan tetapi, Yesus tidak berubah menjadi sosok yang kejam, bengis, tanpa ampun ketika harga diri dan umat manusia yang Ia kasihi direndahkan dan diinjak-injak. Ketika ditangkap di taman Getsemani dan salah seorang yang menyertai-Nya menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya, Yesus malah berkata: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat. 26:51-51).

Kepada murid-murid-Nya Ia mengajarkan: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang membenci kamu…Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:27-28,36). Dan ketika tergantung di kayu salib, Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Pemaparan di atas menghantar kita pada hal penting lain yang kiranya memerlukan kajian atau refleksi lebih lanjut. Yakni, soal apakah cara perjuangan antara Yesus dan Panglima Burung berada pada ranah yang sama. Atau bila hendak dirumuskan dalam konteks gagasan Mgr. Agus, apakah pembebasan yang diperjuangkan oleh Yesus dan Panglima Burung menggunakan cara yang sama?

Panglima Burung, seperti yang telah dikatakan di atas, hanya datang pada saat suasana perang di mana hidup orang Dayak berada dalam ancaman. Ia datang untuk membantu orang Dayak, seperti dalam kasus kerusuhan Dayak-Madura, dengan cara merasuki mereka sehingga kebal dari berbagai senjata tajam. Juga dengan cara menerbangkan mandau yang katanya dapat mencari musuhnya sendiri dengan mencium bau musuh.

Ketika mendengar kehadiran patung ini nanti menjadi simbol pembebasan dari kebodohan dan ketertinggalan, muncul kekhawatiran dalam diri saya, khususnya terhadap anak-anak muda, bagaimana mereka menafsirkan pembebasan yang dimaksud. Jangan-jangan ada yang menafsirkannya sebagai medan pertempuran atau peperangan, lalu beramai-ramai mengikuti praktek ilmu kebal. Hal yang pernah menjadi keprihatinan dari Mgr. Agus sendiri.

Kekhawatiran saya itu barangkali membuat saya menafsir terlalu jauh. Akan tetapi, bila arti pembebasan itu sendiri tidak dijelaskan dengan benderang, tidak menutup kemungkinan akan ada anak-anak muda kita yang keliru menginterpretasikannya.

Fakta lain yang menarik untuk diangkat dalam rangka menilai atau menguji cocok atau tidaknya nama Panglima Burung digunakan ialah soal kehadirannya dalam hidup masyarakat Dayak. Berkaitan dengan soal ini saya bertanya kepada beberapa orangtua, termasuk Ayah saya, yang kebetulan adalah ketua adat di kampung. Terhadap pertanyaan yang saya ajukan kapan Panglima Burung hadir di tengah-tengah saudaranya suku Dayak, mereka memberi jawaban yang sama kalau Panglima Burung akan hadir dan datang untuk melindungi suku Dayak saat mereka berada dalam situasi tertekan dan terancam. Untuk memanggilnya pun agar bersedia datang menolong dan melindungi harus dengan melalui ritual adat tertentu.

Jika memang tugasnya untuk menjaga dan melindungi, mengapa dia tidak datang di saat banyak anak manusia, termasuk sesama saudaranya orang Dayak, menderita begitu hebatnya karena wabah pandemi Covid-19? Mengapa harus menunggu saat dipanggil saja baru menampakkan diri? Bolehkah kemudian kita mengatakan kalau Sang Panglima adalah orang yang tidak punya hati, melihat sesama saudaranya orang Dayak menderita tapi dia bersembunyi entah di mana? Pertanyaan-pertanyaan ini barangkali berada di luar konteks. Namun, jika memang Panglima Burung adalah pelindung orang Dayak, pertanyaan-pertanyaan itu rasanya tidak salah untuk diajukan. Sebab, apa salahnya meminta perlindungan kepada dia yang katanya tidak hanya sakti, tapi juga baik hati?

Sekarang, bagaimana dengan Yesus yang adalah Tuhan. Apakah dia hadir dalam hidup kita hanya saat-saat tertentu saja? Hanya saat kita manusia berada dalam situasi terdesak, tertindas dan terancam saja, misalnya? Peristiwa inkarnasi, Allah menjadi manusia, mau menegaskan dengan sangat benderang kepada kita kalau Tuhan hendak menyertai umat manusia, dalam situasi dan kondisi apa pun. Dengan menjadi manusia, Allah hendak turut menanggung segala beban derita yang menimpa umat yang dikasihi-Nya.

 

Akhir kata

Tulisan ini, kembali saya tegaskan, sama sekali tak ada urusannya dengan rencana pendirian Patung Yesus Panglima Burung di Jagoi Babang. Segala rencana yang berkaitan dengannya merupakan sepenuhnya urusan dan wewenang Mgr. Agus. Karena Jagoi Babang berada pada wilayah penggembalaan beliau.

Poin utama yang hendak disoroti dalam tulisan ini ialah soal pemberian nama terhadap patung tersebut. Sebagai seorang pastor asli suku Dayak, saya sungguh mengapresiasi dan menyambut dengan positif segala upaya berteologi kontekstual yang dilakukan Mgr. Agus. Secara khusus gagasan penamaan patung Yesus Panglima Burung, bagi saya pribadi, telah menginspirasi dalam mencari dan menemukan cara yang membumi berkristologi dalam konteks Dayak.

Pemaparan-pemaparan yang telah saya uraikan terkait dengan dugaan bahwa pemberian nama itu akan berdampak pada pengetahuan dan pemahaman umat, atau akan menggoyahkan iman umat akan Yesus Kristus, Begitu juga dengan kekhawatiran saya terhadap misinterpretasi terhadap bahasa pembebasan yang diusung oleh Mgr. Agus, barangkali agak sedikit berlebihan. Akan tetapi, dari pengalaman pastoral di mana masih ada umat yang bahkan mengucapkan doa-doa pokok dalam Gereja Katolik saja masih terbata-bata, kekhawatiran saya tersebut rasanya juga tidak terlalu berlebihan.

Akhirnya, segala bentuk penindasan, alienasi, rasisme, diskriminasi yang menginjak-injak martabat manusia juga menjadi keprihatinan Gereja. “KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”, demikian ditandaskan oleh Konsili Vatikan II.[18]

Namun, betapa pun Gereja harus terlibat dalam membebaskan umat manusia dari segala kuk yang menindas dan membelenggu mereka, iman akan Yesus Kristus sebagai kepenuhan wahyu Allah, yang dengan segenap kehadiran dan penampilan-Nya, dengan sabda maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-Nya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya…, meneguhkan dengan kesaksian Ilahi bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut, dan untuk membangkitan kita bagi hidup kekal,[19] jangan sampai dikorbankan atau dikaburkan maknanya. Justru iman itulah yang menjadi landasan utama bagi Gereja dalam mewartakan Kabar Gembira keselamatan dari Allah kepada mereka yang tertindas, terbelakang, terpinggirkan, dan sebagainya. Berlandaskan pada iman tersebut, maka cara-cara yang ditempuh oleh Gereja ialah dialog dan kerja sama penuh damai dengan semua orang yang berkehendak baik. Bukan dengan menggunakan kekerasan.

 

REFERENSI

 

DOKUMEN

KWI. Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Obor, 1993.

Paulus II, Paus Yohanes. Ensiklik Redemptor Hominis. Vatikan: Libreria Editrice Vaticana, 1979.

 

BUKU

Agus, Mgr. Agustinus. Parameter Berteologi di Indonesia, dalam Berteologi Baru untuk Indonesia  (Ed: Robert Pius Manik et al), Yogyakarta: Kanisius, 2020.

Bevans, Stephen B. Models Of Contextual Theology. Revised and Expanded Edition, New York: Orbis Book, 1992.

Fiorenza, Francis Schüssler. Systematic Theology Task and Methods, dalam Systematic Theology Roman Catholic Perspective (Ed: Francis Schüssler Fiorenza & John P. Galvin), Minneapolis: Fortress Press, 2011.

Marthasudjita, Emanuel Pranawa Dhatu. Berteologi Inkulturatif di Indonesia, dalam Berteologi Baru untuk Indonesia  (Ed: Robert Pius Manik et al), Yogyakarta: Kanisius, 2020.

Riyanto, Armada. Berteologi Baru untuk Indonesia Pengantar Pencarian Metodologi Baru, dalam Berteologi Baru untuk Indonesia (Ed: Robert Pius Manik et al), Yogyakarta: Kanisius, 2020.

 

MAKALAH/JURNAL

The Plenary Assembly V of the Federation of Asian Bishops’s Conferences, The Emerging Challenges to the Church in Asia in the 1990s: A Call to Respond, no. 3.1.2.

 

 

 

SUMBER INTERNET

https://independensi.com/2018/08/03/perdebatan-panjang-inkulturasi-gereja-katolik-di-suku-dayak-di-kalimantan. Akses: 20/2/2022.

https://nasional.okezone.com/read/2021/12/01/337/2510288/5-fakta-mencengangkan-panglima-burung-suku-dayak-nomor-4-terbangkan-mandau-untuk-cari-korban. Akses: 20/2/2022.

https://daerah.sindonews.com/read/666965/29/tuah-sakti-panglima-burung-sosok-gaib-yang-jaga-suku-dayak-saat-teraniaya-dan-perang. Akses: 20/2/2022.

[1]Hal ini pernah ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si art. 143-144: “Pengembangan kelompok sosial mengandaikan suatu proses sejarah yang berlangsung dalam suatu konteks budaya, dan membutuhkan keterlibatan terus-menerus, terutama dari pelaku masyarakat lokal, dengan bertolak dari budaya mereka sendiri. Hal tersebut hendak menegaskan bahwa gagasan tentang kualitas hidup tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dipahami dari dalam dunia simbol dan adat yang menjadi milik masing-masing kelompok manusia.”

[2] Mgr. Agustinus Agus, Parameter Berteologi di Indonesia, dalam Berteologi Baru untuk Indonesia  (Ed: Robert Pius Manik et al), Yogyakarta: Kanisius, 2020,  hlm. 170.

[3] Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menggambarkan teologi yang kontekstual: kontekstualisasi, inkulturasi, lokalisasi, indigenisasi.

[4] Armada Riyanto, Berteologi Baru untuk Indonesia Pengantar Pencarian Metodologi Baru, dalam Berteologi Baru untuk Indonesia (Ed: Robert Pius Manik et al), Yogyakarta: Kanisius, 2020,  hlm. x.

[5] Bdk. Francis Schüssler Fiorenza, Systematic Theology Task and Methods, dalam Systematic Theology Roman Catholic Perspective (Ed: Francis Schüssler Fiorenza & John P. Galvin), Minneapolis: Fortress Press, 2011, hlm. 47-49.

 

[6] The Plenary Assembly V of the Federation of Asian Bishops’s Conferences, The Emerging Challenges to the Church in Asia in the 1990s: A Call to Respond, no. 3.1.2.

[7] Bdk. Stephen B. Bevans, Models Of Contextual Theology. Revised and Expanded Edition, (New York: Orbis Book, 1992), hlm. 54-56.

[8] Patung ini nanti memang terletak di Kabupaten Bengkayang. Meski demikian, saya meyakini bahwa pembebasan yang dimaksudkan oleh Mgr. Agus bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat Dayak yang ada di Bengkayang, melainkan juga bagi seluruh masyarakat Dayak di tanah Kalimantan.

[9] Emanuel Pranawa Dhatu Marthasudjita, Berteologi Inkulturatif di Indonesia, dalam Berteologi Baru untuk Indonesia  (Ed: Robert Pius Manik et al), Yogyakarta: Kanisius, 2020,  hlm. 174-177.

[10] https://independensi.com/2018/08/03/perdebatan-panjang-inkulturasi-gereja-katolik-di-suku-dayak-di-kalimantan. Akses: 20/2/2022.

[11] Christus Dominus, art. 2.

[12] Ibid., art. 13.

[13] Ibid.,

[14] Mgr. Agustinus Agus, Op.Cit., hlm. 169.

 

[15]https://nasional.okezone.com/read/2021/12/01/337/2510288/5-fakta-mencengangkan-panglima-burung-suku-dayak-nomor-4-terbangkan-mandau-untuk-cari-korban. Akses: 20/2/2022.

[16]https://daerah.sindonews.com/read/666965/29/tuah-sakti-panglima-burung-sosok-gaib-yang-jaga-suku-dayak-saat-teraniaya-dan-perang. Akses: 20/2/2022.

[17] Ibid.,

[18] GS. art. 1.

[19] DV. art. 4.

 

Download Artikel di Sini: TRI_2022Feb28_Artikel Mo Nyaming_002

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *