Artikel

SEBERAPA SIAPKAH ANAK-ANAK DAERAH 3T UNTUK MARDEKA BELAJAR?: Menilik Keputusan Kuliah Daring di Pedalaman untuk Pencegahan Covid-19

Oleh Marselus Suarta Kasmiran, M. Pd (Dosen di STKIP Pamane Talino)

 

“Merdeka Belajar” lalu dilanjutkan dengan “Kampus Mardeka” dari Pak Nadiem merupakan beberapa kebijakan yang cukup booming di era pemerintahan kedua dari Presiden Jokowi. Banyak orang berbicara mengenai kebijakan-kebijakan tersebut. Suatu kebahagiaan bagi saya melihat para petinggi kampus berdiskusi mengenai pentingnya pemberian kesempatan kepada anak-anak didik di institusi masing-masing untuk lebih aktif dalam belajar. Banyak elit pendidikan yang memprotes kebijakan tersebut, karena diangap tidak memerhatikan kualitas guru yang ada di daerah.

Dalam wawancara singkat berdurasi 4.27 menit di kanal YouTube Kemendikbud.RI, Pak Nadiem memaparkan bahwa mardeka belajar ialah suatu konsep kebijakan. Dalam konsep kebijakan tersebut, sekolah-sekolah di Indonesia diberi kesempatan untuk mengembangkan budaya belajar di sekolah sesuai dengan keadaan sekolah. Sekolah diajak untuk memberi kesempatan kepada siswa-siswanya untuk belajar secara lebih partisipatif, bukan lagi hanya sebagai pendengar yang baik. Sekolah juga diajak untuk mengembangkan budaya belajar dimana guru-guru lebih banyak berinteraksi dengan murid, ketimbang sibuk dengan urusan administratif. Konsep pendidikan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kebijakan yang diberi nama “Kampus Mardeka”.

Bagi saya sendiri seorang pendidik yang lahir di masa milenial, kebijakan tersebut merupakan hal yang dapat memfasilitasi pemikiran dan protes saya terhadap kelas-kelas saya yang telah lalu. Bukan berarti semua kelas yang saya ikuti di masa lalu buruk, namun beberapa kelas yang saya ikuti memang rasanya terlalu top-down. Saya sebagai siswa ditempatkan hanya sebagai pendengar dan penerima.

Pada hari Minggu, tanggal 15 Maret 2020, Pak Jokowi, Presiden Indonesia, mengumumkan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan aktifitas belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Beberapa tokoh masyarakat terkenal, seperti Pak Nadiem dan Najwa Sihab, mengkampanyekan gerakan social distance atau mengurung diri di rumah untuk mengurangi penyebaran Virus Corona.

Ketika wabah Corona menampakkan wajahnya di negeri ini, hal menarik terjadi di dunia pendidikan. Mau tidak mau siswa dipaksa untuk belajar melalui online platform, karena kelas-kelas dipindahkan ke model pembelajaran online. Sebuah pertanyaan menggelitik di benak saya. Siapkah anak-anak kita diajak untuk belajar secara online? Siapkah anak-anak di daerah saya yang masuk daerah 3T diberi kebebasan untuk belajar di rumah dengan bimbingan dan tugas yang disediakan melalui online platform.

Tentu tulisan ini tidak dapat mengenalisir konteks di tempat lain. Saya dulu berkuliah di salah satu kampus di Yogyakarta yang memiliki fasilitas pembelajaran online yang sangat bagus. Saya ingat dulu kami melakukan model pembelajaran campur (blended learning). Platform yang dipakai ialah exelsa2012. Di sana pembelajaran online bukan hal yang baru. Namun kondisi di daerah 3T mungkin agak sedikit berbeda. Oleh sebab itu, saya tertarik untuk melakukan sebuah studi sederhana mengenai persepsi mahasiswa tentang pembelajaran online dan hal apa yang dapat dosen dan kampus lakukan untuk membantu mereka belajar lebih maksimal.

Saya berdiskusi dengan 35 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dari beberapa angkatan di STKIP Pamane Talino tentang kuliah online yang mereka harus lakukan karena epidemi virus corona. Diskusi ini saya lakukan melalui chat Whatsapp. Untuk alasan tertentu saya tidak akan menyebutkan nama mahasiswa yang saya wawancarai. Saya menemukan beberapa catatan menarik dari diskusi saya dengan beberapa mahasiswa tersebut.

Pertama, saya menemukan bahwa 24 mahasiswa (68 %) dari 35 siswa yang saya wawancarai merasa bahwa kuliah tatap muka lebih efektif dari kuliah online. Hal disebabkan karena beberapa faktor. Faktor itu antara lain: (1) mahasiswa belum terbiasa dengan model pembelajaran online, sehingga ada kemungkinan mereka tidak akan belajar dan mengunakan waktu tersebut secara tidak produktif, seperti membuka medsos (2) mehasiswa tidak dapat bertanya dan berdikusi secara maksimal seperti yang mereka lakukan di kelas tatap muka, (3) mahasiswa kurang paham dengan perintah di platform online tersebut, (4) di beberapa daerah mahasiswa mengalami kesulitan sinyal internet, (5) beberapa mahasiswa tidak memiliki fasilitas penunjang, seperti handphone dan laptop, (6) ada yang melihat dari sisi kerugian ekonomis bagi pengusaha di sekitar kampus dan (7) dari sisi kesehatan mahasiswa mungkin akan lebih mudah terkena ganguan mata, karena terekspos dengan gadget terlalu lama.

Kedua, data menunjukkan bahwa 8 (22 %) dari 35 siswa menjawab bahwa pembelajaran online bisa menjadi efektif dan bisa menjadi tidak efektif. Menjadi efektif karena (1) siswa memiliki waktu lebih banyak untuk mencari bahan pembelajaran secara mandiri, (2) kuliah secara online lebih sederhana, karena bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, (3) pembelajaran efektif karena keadaan sekarang tidak memungkinkan kita untuk berkumpul, (4) bagi siswa yang terbiasa dengan online learning, mereka tidak akan kaget dan (5) membantu siswa lebih kreatif dan mandiri. Dan bisa menjadi tidak efektif karena beberapa alasan di poin pertama.

Ketiga, data menunjukkan bahwa 3 (8 %) dari 35 siswa mengatakan bahwa pembelajaran online itu efektif bagi mereka. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti (1) keadaan sekarang memang mengharuskan kita untuk kuliah dari rumah, (2) pembelajaran lebih fleksibel dari sisi waktu dan tempat, (3) bila ada niat untuk belajar dengan sungguh, maka kuliah online sangat berguna, (4) bisa menghemat uang dan (5) bisa memakai waktu luang untuk berbisnis.

Selain catatan di atas, saya juga bertanya kepada mereka. Bagaimana pihak kampus dan dosen dapat membantu mahasiswa belajar di rumah lebih efektif? Berikut beberapa catatan dari mereka, mahasiswa-mahasiswa yang sangat saya cintai.

Pertama, para mahasiswa meminta para dosen terkasih untuk tidak hanya memberikan tugas dan penjelasan tertulis, namun juga pembelajaran dalam media lain, seperti video rekaman dosen tersebut dan juga podcast dari dosen yang bersangkutan. Dengan Bahasa dosen yang lebih sederhana, para mahasiswa merasa itu akan membantu mereka mengerti materi dengan lebih baik.

Kedua, luangkan waktu lebih banyak untuk berdiskusi dengan mahasiswa secara online (via chat atau video call). Para mahasiswa merasa belum siap untuk benar-benar belajar secara mandiri. Mereka meminta para dosen untuk tetap meluangkan waktu untuk menjelaskan dan menglarifikasi kebingungan mereka. para mahasiswa meminta para dosen tetap memotifasi dan mengarahkan mereka untuk lebih mandiri dalam belajar.

Ketiga, phak kampus diminta untuk menyediakan online platform yang lebih terintegrasi satu sama lainnya. Hal tersebut akan membuat mahasiswa lebih sederhana dalam hal administratif, seperti misalnya mendaftarkan diri di banyak online platform.

Demikianlah, hasil studi sederhana yang saya buat. Saya mengutip apa yang Pak Nadiem sampaikan mengenai konsep mardeka belajar. “Mardeka Belajar” ialah suatu kata kunci yang menjadi call to action untuk masyarakat, para guru, kepala sekolah, orang tua, companies, agar kita semua meredefinisi apa itu culture yang tepat, culture yang mardeka di dalam unit pendidikan (Makarim, 2020). Belajar di rumah bukan hanya menjadi tanggung jawab para mahasiswa, tapi juga menjadi tanggung jawab dosen dan kampus. Hal itu demi terlaksananya pendidikan yang mardeka.

Salam hangat dari rumah karena bertemu langsung belum tentu selalu ramah.

Selasa, 17 Maret 2020

 

 

REFERENSI

Handoyo. (2020). Dampak Wabah Virus Corona, 65 Perguruan Tinggi Terapkan Kebijakan Kuliah Jarak Jauh. Dikutip dari: https://nasional.kontan.co.id/news/dampak-wabah-virus-corona-65-perguruan-tinggi-terapkan-kebijakan-kuliah-jarak-jauh

Makarim, N. (2020). Kenapa Mardeka Belajar?. Kemendikbud RI. Dikutip dari https://www.youtube.com/watch?v=_rwkDlMedpc

Pengelola Web Kemendikbud. (2020). Mendikbud Luncurkan Empat Kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka. Dikutip dari: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/01/mendikbud-luncurkan-empat-kebijakan-merdeka-belajar-kampus-merdeka

Sari, H.P. (2020). Penjelasan Mendikbud Nadiem Makarim soal Kebijakan “Kampus Merdeka. Dikutip dari: https://nasional.kompas.com/read/2020/01/29/05395941/penjelasan-mendikbud-nadiem-makarim-soal-kebijakan-kampus-merdeka?page=all

Wahidin, K.P. (2019). Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim, Melupakan Kompetensi Guru. Dikutip dari: https://www.alinea.id/nasional/merdeka-belajar-nadiem-makarim-melupakan-kompetensi-guru-b1XrF9qeW

 

Sumber Gambar Featured: http://jurnalsumatra.com/menristek-harap-perguruan-tinggi-terapkan-belajar-daring/

TRI_2020Mar17_Artikel Miran_010

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *