SARJANA

Oleh Trio Kurniawan (Founder Betang Filsafat, Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino)

 

Dua hari yang lalu kampus saya baru saja mewisuda 164 mahasiswa pada jenjang sarjana. Ya, sarjana! Bagi saya dan kampus ini, mewisuda 164 mahasiswa berarti melahirkan 164 orang yang akan secara total berkontribusi bagi perkembangan Kab. Landak dan Kalimantan Barat. Mereka adalah sarjana-sarjana baru. Masih segar. Harusnya mereka masih idealis dan penuh gairah dalam mengaplikasikan segenap ilmu yang mereka pelajari selama kuliah.

Sebelum tulisan ini melangkah lebih jauh ke pertanyaan: “apa yang harus dilakukan para sarjana muda ini”, saya mengajak kita untuk melihat lebih dulu arti kata sarjana. Sarjana, dalam pengertian dewasa ini, dilekatkan pada pribadi yang sudah selesai studi di tingkat Strata-1 (S1). Mereka yang mendapat ijasah setelah lulus jenjang tersebut kemudian disebut sebagai sarjana. Dalam arti yang lebih sempit, mereka yang sudah selesai S1 (entah mereka benar-benar ahli atau tidak) otomatis laik menyandang gelar sarjana.

Ini problematis sekaligus dilematis. Mengapa demikian? Mari kita lihat pada makna “sarjana” dari sisi etimologis. Sarjana berasal dari Bahasa Sanskerta Srij (melepas) dan Jana (Orang). Secara sederhana, sarjana kemudian bisa dimengerti sebagai seseorang yang melepas sesuatu. Sesuatu apa? Banyak terjemahan memahami sesuatu itu sebagai keduniawian. Sarjana lantas dipahami sebagai orang yang telah melepaskan keduniawiannya.

Sarjana juga (masih dalam Bahasa Sanskerta) diyakini berasal dari kata Saras (mengalir, kefasihan berbicara) dan Jana (manusia). Artinya, sarjana adalah orang yang dianugerahi kemampuan untuk berbicara dengan lancar, indah dan jelas. Berkata-kata tentang apa? Dalam tradisi Hindu klasik, anugerah ini berupa kemampuan untuk menyampaikan ajaran Vedha.

Dengan makna kata sarjana yang ternyata sangat dalam itu, apakah kemudian mereka yang menyandang gelar sarjana mampu bertanggungjawab atas gelar tersebut? Inilah sisi problematisnya. Sarjana kemudian direduksi hanya sebatas gelar akademis setelah menyelesaikan studi. Sarjana menjadi kehilangan makna. Dilemanya adalah bidang kerja dewasa ini “membutuhkan gelar tersebut” sebagai syarat untuk bekerja di institusi-institusi. Bisa dimengerti kemudian bahwa banyak sarjana berorientasi pada “bekerja dimana”, bukan “menciptakan pekerjaan apa”.

Dilema ini kemudian linear dengan dagelan yang sering muncul di kampus-kampus kota besar ketika ada wisudawan baru: “Selamat datang para wisudawan! Selamat datang para pengangguran baru!”. Pemahaman tentang sarjana baru sebagai pengangguran baru sudah jamak didengar oleh masyarakat. Bagi saya, ini adalah efek dari dunia pendidikan yang menerjemahkan sarjana sebagai “orang yang bergelar”, bukan “orang yang mampu”.

Saya ajak Anda kembali ke kampus saya, kepada para sarjana baru dari kampus kami. Tampaknya dagelan sarkas-miris di atas tidak berlaku di Kab. Landak dimana kampus saya berada. Ini murni asumsi saya. Apakah karena kampus saya berkualitas? Sebentar dulu. Saya tidak ingin berbicara tentang kualitas kampus saya yang masih newbie ini. Saya bisa saja paparkan kualitas-kualitas baik dari kampus di pedalaman ini. Saya akan berbicara tentang bagaimana sarjana muda kami berkiprah di Kab. Landak.

Kampus saya adalah kampus pendidikan calon guru dan wirausahawan di bidang pendidikan. Sampai pada tahun ini, Kab. Landak sendiri masih memerlukan ribuan guru di setiap kecamatannya. Dengan kebutuhan guru sebanyak ini, lulusan kami pasti terserap dengan cepat. Kabupaten ini memerlukan guru! Lapangan pekerjaan tersedia dengan sangat luas di kabupaten ini. Lantas apa yang menjadi kegelisahan saya?

Kegelisahan saya adalah sejauh mana para sarjana muda kami ini mampu berkiprah dengan maksimal di tempat kerja mereka. Apakah mereka mampu 100% menjadi guru yang baik sebagaimana yang kami cita-citakan bersama? Saya tergelitik untuk mengetahui apakah para sarjana muda kami ini menjadi sarjana karena kecintaan mereka pada dunia pendidikan atau hanya formalitas belaka. Jika hanya karena alasan kedua, tentu ada masalah serius yang harus diperbaiki.

Pada tahun 2016, saya menulis skripsi tentang Personal Knowledge oleh Michael Polanyi (seorang filsuf, epistemolog). Skripsi tersebut kemudian saya publikasikan menjadi buku pada tahun 2020 lalu. Saya selalu tertarik pada gagasan dasar Polanyi yang meyakini bahwa “manusia tahu lebih banyak daripada apa yang dapat ia katakan”. Argumen ini ia sampaikan sebagai bentuk kritiknya atas Hitler (dan Nazi) yang mereduksi pengetahuan manusia hanya pada sebatas angka. Polanyi meyakini bahwa pengetahuan manusia sangat luas dan luar biasa. Pengetahuan itu, oleh Polanyi, semakin kuat dan bernilai ketika manusia memiliki tanggung jawab sosial-etis atas pengetahuan tersebut.

Gagasan itu kemudian terkonfirmasi dengan baik ketika saya mendengarkan kuliah umum oleh Jim Kwik (pakar Optimalisasi Brain Performance) yang menyatakan bahwa “informasi yang dikombinasikan dengan emosi akan menjadi sebuah long term memory”. Ini menarik. Para sarjana muda belajar banyak pada saat kuliah. Mereka menerima ribuan informasi. Pertanyaannya: sejauh mana mereka melibatkan emosi dalam pembelajaran mereka? Emosi yang saya maksud di sini adalah rasa tanggung jawab, cinta, pengharapan ataupun pengabdian mereka. Tanpa melibatkan emosi, informasi selama kuliah hanya akan terlupakan begitu saja. Bukankah kita dengan mudah mengingat informasi yang lekat dengan pengalaman emosional kita?

Hal yang ingin saya katakan adalah berikut ini. Para sarjana muda sudah resmi bertarung dalam dunia pekerjaan. Apakah ilmu mereka kemudian dapat digunakan? Apakah mereka laik untuk menjadi sarjana dalam arti yang dalam? Sejauh yang saya pahami, para sarjana muda akan menjadi sarjana yang baik, kreatif dan berkembang ketika mereka tahu dan cinta akan panggilan diri mereka. Hanya yang mencintai sarjanalah yang benar-benar akan menjadi sarjana.

TRI_2021Mar18_Artikel Trio_004