Intermezzo

SAAT PANDEMI COVID-19 KOK MERAYAKAN HARI BUMI, ANDA SEHAT?: Refleksi Seorang Pendidik tentang Hari Bumi di Saat Pandemi Corona

Oleh Marselus Suarta Kasmiran, M. Pd. (Dosen PBI STKIP Pamane Talino)

 

Hari bumi tahun ini merupakan hari bumi yang kelima puluh. Seharusnya, hari ini seluruh aktivis lingkungan merayakan “pesta emas” gerakan tersebut. Semua aktivis akan turun ke jalan untuk merayakan hari bumi dan menyuarakan gerakan peduli lingkungan. Beberapa mungkin akan protes kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Atau paling tidak, kalau kami tidak berani turun ke jalan dan berhadapan dengan polisi, beberapa dari kami akan posting photo di Instagram dengan background penanaman pohon. Walau hanya menanam satu pohon, setidaknya kami mendapat satu juta like. Atau kami akan naik gunung, meninggalkan sampah di jalan pendakian kami, memasang bendera di atas gunung, lalu kami akan turun sambil memungut sampah yang kami tinggalkan di jalur pendakian kami. Tidak lupa acara tersebut akan ditutup dengan photo bukti bahwa kami telah memungut banyak sampah.

Saya teringat pada saat kuliah, saya mengikuti sebuah forum masyarakat dan mahasiswa pencinta alam. Kami bersama gabungan mapala, aktivis lingkungan sampai organisasi Young on Top pada saat itu bergabung untuk melakukan kegiatan penanaman pohon bakau. Terkadang kami merayakan hari bumi di lereng Gunung Sindoro yang sering kebakaran dan menanam pohon-pohon disana. Tetapi, hari ini semua Gerakan Earth Day berpindah ke internet. Di situs https://www.earthday.org/, Gerakan Earth Day mengkampanyekan misi mereka yaitu membangun gerakan peduli lingkungan terbesar di dunia yang bertujuan untuk menyuarakan perbaikan pada planet dan manusia.

Pada hari ini aktivitas dan perayaan hari bumi berpindah ke dunia digital. Tentu saja gerakan tersebut seolah terlupakan karena wabah yang sedang dunia hadapi pada saat ini. Hampir semua berita membicarakan tentang covid-19. Adapula berita trending tentang staf khusus presiden yang mengundurkan diri. Saya lupa namanya. Saya juga melihat angka statistik Covid-19 yang terus menanjak. Bahkan di https://www.worldometers.info/coronavirus/ data menunjukkan terdapat 2.557.504 kasus Covid-19 di seluruh dunia. Saya tidak ingin berbicara tentang angka kematian, karena hal tersebut membuat saya semakin khawatir. Ngomong-ngomong, adakah yang masih berani mengadakan acara tanam pohon? Tenang. Pohon-pohon sekarang sedang tumbuh sendiri. Hehehe.

Di tengah kekhawatiran saya akan virus Covid-19, saya ingin berbagi tiga poin refleksi saya tentang hari bumi. Refleksi ini tentu tidak akan saya lepaskan dari peran saya sebagai seorang pendidik. Refleksi ini merupakan buah permenungan saya akan hari bumi dari sudut pandang pendidikan. Ngomong-ngomong, saya tidak akan berdebat masalah hutan yang dibakar untuk kebun sawit. Itu diluar kapabilitas saya. Baiklah, mari kita mulai.

Poin pertama, kita semua bertanggung jawab atas wabah Covid-19. Anda mungkin akan berpikir “iya jelaslah, udah tahu kali”. Eits, tunggu dulu. Saya membaca di sebuah surat kabar yang mengatakan bahwa China merupakan pihak yang disalahkan atas pandemi ini. Mereka dituntut membayar ganti rugi 7.000 triliun. Saya tidak bermaksud untuk berdebat. Tapi apakah Anda yakin Anda tidak ikut berkontribusi dalam wabah ini? Ingatkah Anda tentang awal mula kemunculan penyakit Ebola yang menjangkiti manusia dan menewaskan 21 dari 37 warga desa pada Januari 1996. Tahukah Anda penyebabnya? Iya, penyakit tersebut berasal dari simpanse yang dimakan oleh warga di desa tersebut. Tahukah Anda bahwa beberapa penyakit seperti Malaria, HIV, Ebola dan demam berdarah ada kaitannya dengan perusakan alam yang manusia lakukan? Tahukah Anda bahwa kita yang dengan bangga memamerkan bahwa kita sedang menonton sirkus dan pertunjukan lumba-lumba merupakan penyebab dari kepunahan hewan-hewan sirkus tersebut? Lalu, apakah kita sebagai orang yang bergelar bersekolah turut melakukannya? Semoga tidak. Apakah kita mencontohkan kepada anak-anak kita untuk ikut peduli lingkungan dan bukan cuma mengajarkannya? Semoga iya.

Poin kedua, kita perlu menanamkan lebih banyak nilai riset dan sains kepada anak-anak didik kita dan tentu saja kepada diri kita sendiri sebagai pendidik. Ketika semua orang di negara lain berlomba meneliti dan published penelitian tentang virus corona, kita belum memiliki satu penelitian yang ter-published tentang virus tersebut. Kita masih sibuk buat tiktok. Eh. Padahal kita memiliki litbang dan lembaga-lambaga riset yang katanya handal. Katanya kita memiliki perguruan-perguruan tinggi yang masuk daftar kampus kualitas internasional. Semoga label tersebut bukan hasil beli. Hehe. Apakah kita di kelas mengajarkan anak-anak kita untuk meneliti hal-hal di sekitar kita? Apakah kita membiarkan anak-anak kita membuat lebih banyak pertanyaan di kelas agar mereka lebih kritis dalam menilai segala hal? Apakah kita mengajak anak-anak kita untuk pergi ke alam sekitar dan melihat indahnya alam atau hanya mengurung mereka di dalam sebuah ruangan berbentuk persegi yang dinamakan kelas? Apakah kita juga menjalankan tugas penelitian kita? Tau ah, pertanyaannya bikin pusing, mending cari jodoh di tinder aja.

Poin ketiga, saya mengajak kita semua sebagai orang-orang yang bersekolah (pendidik, mahasiswa, siswa atau pernah menjadi siswa atau pernah menjadi mahasiswa) untuk menguatkan lagi pendidikan karakter di kelas atau di lingkungan keluarga kita. Pendidikan karakter merupakan kunci manusia bertahan di zaman ini. Saya ingat seorang penulis pernah mengatakan bahwa zaman batu berakhir bukan karena batunya habis. Zaman perunggu berakhir bukan karena perunggunya habis. Kualitas karakter pada manusia yang mampu membuatnya bertahan. Dalam salah satu poin di pendidikan karakter ada nilai peduli akan lingkungan. Apakah kita menerapkannya? Bapak kita, Romo Mangun, sangat peduli kepada pendidikan karakter. Semoga semangatnya menjadi semangat kita juga. Tentu, semangat ini tidak akan hidup bila kita hanya mengajarkan kepada anak-anak kita. Kita juga bertanggung jawab untuk menghidupi semangat tersebut. Karena ilmu tanpa contoh sama dengan kebohongan.

Akhirnya, saya yang turut merayakan hari bumi di tengah wabah ini, menutup refleksi saya dengan sebuah pengingat. Sampai saat ini bumi adalah satu-satunya planet di alam semesta yang bisa kita tinggali. Sayanglah kepadanya, sama seperti ia menyayangi kita. Lebih sakit mana dibilang tidak menghidupi ilmu atau ditinggal pas lagi saying-sayangnya? Tau ah, bucin. Tiktokan aja lah.

 

Sumber Gambar Featured: https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/04/22/deretan-ucapan-selamat-hari-bumi-2020-share-wa-dan-ig-earth-day-di-tengah-wabah-virus-corona

TRI_2020Apr22_Artikel Miran 020

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *