Sosial-Budaya

RITUAL MEMBUKA LADANG DI SUKU DAYAK UUD DANUM SERAWAI

Penulis: Trio Kurniawan (Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino Ngabang)

 

Ritual membuka ladang adalah upacara adat singkat yang biasa dilakukan para orang Dayak Uud Danum sebelum membuka ladang. Berladang merupakan cara Suku Dayak Uud Danum memenuhi kebutuhan hidup, selain berburu di hutan atau menjala di sungai. Tanaman yang bisa ditanam di ladang diantaranya adalah padi, ubi, jagung, tebu, timun dan lain-lain (Soemarwoto: 2004).

Suku Uud Danum (dalam beberapa literatur disebut juga sebagai Ot Danum atau Uut Danum) merupakan suku yang mendiami dua sisi pegunungan Schwaner di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah (Sutimbang 2013: 1). Kata Uud Danum, secara etimologis, bisa dimengerti sebagai berikut. Uud merupakan kata yang bisa merujuk pada dua pengertian, yaitu bagian hulu dan atau suku. Danum berarti air atau sungai. Dengan demikian, Uud Danum dimengerti sebagai suku yang berdiam di bagian hulu sungai (air).

Ritual membuka ladang wajib dilakukan oleh para peladang Uud Danum karena mereka harus meminta ijin kepada “Pemilik” tanah, pohon dan sungai. Ada juga sebagian masyarakat Uud Danum yang menganggap upacara ini sebagai “basa-basi” kepada Roh atau Otu’ (hantu, roh halus) yang mendiami tanah, pohon dan sungai yang akan digunakan untuk berladang. Ritual ini, selain permohonan ijin, juga dimaksudkan sebagai doa bagi seluruh proses berladang dari awal hingga akhir agar dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang berlimpah. Tempat yang digunakan untuk berladang pertama-tama diyakini bukanlah milik peladang tersebut. Tempat berladang ini dimiliki oleh Roh yang berdiam di situ.

Suku Dayak Uud Danum meyakini bahwa jika peladang tidak melaksanakan ritual membuka ladang, ada banyak petaka yang bisa saja menimpa dirinya, keluarganya atau juga masyarakat. Bisa saja ia terkena penyakit berbahaya atau mati mendadak jika menebang pohon yang ada “penghuninya” tanpa ijin. Ladangnya pun bisa tidak menghasilkan sama sekali. Selain itu, jika tidak mengadakan ritual ini, akan ada musim dan wabah yang buruk bagi pertanian Suku Dayak Uud Danum secara keseluruhan.

Ritual membuka ladang ini biasanya hanya dilakukan dan dipimpin oleh pemilik ladang bersama dengan keluarga intinya saja di tanah dimana mereka akan berladang. Alat-alat yang dipersiapkan adalah batu asah (yang digunakan untuk mengasah alat kerja), daun semomolum (daun bunga cocor bebek), sesaji (daging ayam, sirih-pinang, rokok, nasi dan lainnya). Upacara ini biasanya dilakukan secara singkat dan diisi dengan doa pemilik ladang kepada penghuni tanah tersebut. Di akhir upacara, pemilik ladang akan menanam daun semomolum tersebut. Daun ini menjadi simbol kesuburan karena tanpa niat untuk ditanampun (dilempar sembarangan saja misalnya), daun ini tetap dapat tumbuh di tanah.

Masyarakat Uud Danum membangun relasi yang sangat intim dengan alam dan “para penghuninya”. Tanah, pepohonan dan sungai merupakan bagian yang tak terpisahkan dari siklus kehidupan mereka. Hampir semua upacara dalam kehidupan manusia Uud Danum selalu menyertakan barang-barang dari alam. Selain itu, upacara-upacara yang mengiringi kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal selalu dimaknai dalam hubungannya dengan alam. Itulah sebabnya ketika membuka ladang pun masyarakat Uud Danum selalu memulainya dengan doa dan permohonan ijin kepada Sang Pemilik alam.

Perkara ritual membuka ladang pertama-tama ingin menunjukkan sebuah relasi hormat-cinta antara manusia dan alam. Manusia Uud Danum menyadari bahwa alam sudah begitu baik kepada mereka. Jika ingin daging, mereka tinggal mencari di hutan. Ingin minum, mereka cukup pergi ke sungai. Kayu yang membusuk di tanah pun bisa menghasilkan jamur untuk dijadikan sayur. Atas kebaikan alam inilah manusia Uud Danum menaruh hormat dan cinta.

Bumi, pepohonan dan sungai merupakan sesuatu yang juga memiliki kehidupan (jiwa) seperti manusia. Manusia Uud Danum meyakini bahwa “menyakiti” alam dengan sengaja justru akan membawa petaka. Itulah sebabnya lingkungan hidup manusia Uud Danum harus juga dijaga dengan baik. Kebaikan alam bukan untuk dieksploitasi. Berladang juga diletakkan dalam konteks semacam ini. Sudah semestinya jika orang Uud Danum ingin memanfaatkan alam demi kebutuhan hidup, mereka kemudian harus “mohon ijin” kepada alam.

Tanah, pepohonan dan sungai bukanlah benda mati. Meminjam terminologi Martin Heidegger (Being and Time: H 64-113), alam itu bukanlah realitas yang bermakna hanya karena kegunaannya saja (ready-to-hand). Tanah, pepohonan dan air bukanlah materi-materi murni yang tanpa arti (present-at-hand). Perjumpaan manusia dengan alam selalu mengandaikan kedalaman makna. Ritual membuka ladang menunjukkan kedalaman makna tersebut.

Perjumpaan manusia Uud Danum dengan alam dalam ritual membuka ladang membuka lagi ruang-ruang relasi yang selama ini mungkin tertutup oleh nafsu eksploitatif manusia modern atas alam. Ritual tradisionil yang masih dilakukan oleh masyarakat Uud Danum hingga sekarang ini menunjukkan usaha dan kesadaran yang terus menerus untuk berdamai dengan alam. Ketika banyak dari umat manusia dan perusahaan-perusahaan yang menebang pohon, mengeruk emas dari sungai-sungai dan membunuh hewan-hewan langka di hutan, manusia Uud Danum masih setia dan hormat pada alam. Setidaknya, mereka masih berjuang untuk menjalin relasi yang harmonis dengan alam sehingga alam jangan sampai “murka” atas kejahatan manusia modern atasnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Heidegger, Martin, 1996. Being and Time (trans. Joan Stambaugh). Albany: State University of New York.

Ngawan, Sutimbang, 2013. Fonologi Bahasa Dayak Uud Danum [skripsi diterbitkan]. Pontianak: Universitas Tanjungpura.

Soemarwoto, Otto. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Yogyakarta: Penerbit Djambatan.

 

*Gambar featured diambil dari https://dendiblues.wordpress.com/2016/06/09/mengenal-sub-suku-dayak-panu/*

 

TRI_2019Nov21_Ritual Membuka Ladang Uud Danum

Download PDF

1 thought on “RITUAL MEMBUKA LADANG DI SUKU DAYAK UUD DANUM SERAWAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *