Buku

[RESENSI BUKU] Book Report on Rhetoric

Oleh Agustinus Tamtama Putra, S.Fil. (Mahasiswa Magister di STF Driyarkara Jakarta)

 

Judul buku      :           Rhetoric and Composition

Pengarang       :           Steven Lynn

Penerbit           :           Cambridge University Press, New York

Tahun terbit     :           2010

Halaman          :           ix-319

 

Vir bonus discendi peritus, demikian perkataan Quinlitianus dikutip oleh Steven Lynn pada bukunya Rhetoric and Composition, hlm.11.  “Pria yang baik berbicara dengan baik” sejauh ia tahu bagaimana menjadi seorang yang mampu menyampaikan pesan secara kuat dan mendalam dengan metode yang baik dan mudah dimengerti sehingga yang ia sampaikan bukan hanya bisa diterima dengan baik, tetapi seolah menyihir pendengar dan pembaca sehingga lantas membawa mereka ke dunia yang berbeda. Begitulah gambaran transformatif dari buku Rhetoric and Composition karangan Steven Lynn ini.

Dibuka dengan frasa “The open hand” (tangan yang terbuka) buku ini mengajak sidang pembaca untuk menyambut retorika dan komposisi sebagai jalan menuju menjadi pria yang baik yang bisa berbicara dengan baik. Tentu saja akan dilihat nanti bahwa retorika dan komposisi di sini dianggap sebagai dua sisi dari satu mata uang di mana pembaca dituntun dengan sangat baik untuk mendalami ilmu yang sarat dengan teknik jitu untuk berbicara dan menulis secara lingustik dan literatur dilengkapi dengan segudang informasi berkaitan dengan sejarah dan nama-nama yang belum tentu pernah pembaca dengar. Terhadap buku dengan kualitas semacam ini setiap pembelajar pasti akan mengangkat topi.

Pada bagian pertama disuguhkan kepada pembaca bagaimana sejarah retorika. Dalam hal ini fokus yang diambil ialah retorika klasik Helenistik yang lantas dikembangkan secara sistematis dalam dunia Barat. Retorika dimulai di Sirakusa, Sisilia, sekitar tahun 467-466 SM ketika Corax mulai mengajarkan argumen persuasif untuk pembayaran konsumen. Kala itu banyak warga Sirakusa yang dituntut untuk membayar denda karena ditindas oleh penguasa yang tiran dan hal itu bisa diluruskan lewat perdebatan di semacam persidangan sehingga kemampuan berargumentasi dan berdebat menjadi syarat mutlak dalam membela hak. Orang-orang muda yang belajar di Academia Platon juga dibina untuk belajar retorika, meskipun konteks dan tujuan pembelajaran di sini bukan dalam ranah tindakan persuasif atau pidato, melainkan jawaban-jawaban logis yang merupakan syarat mutlak dalam diskursus dialektika Platonis yang terkenal itu. Dalam dua tulisannya Gorgias dan Phaedrus dengan sangat jelas Platon mengatakan maksud dan tujuan retorika yaitu sebagai “seni memenangkan jiwa dengan diskursus.” Demikian pula dari Republic Aristoteles retorika termasuk ke dalam “synagoge tekhnon” (kumpulan keterampilan) yang dalam tulisannya On Rhetoric, kaum sofis yang memelacurkan pengetahuan dilawan dengan retorika sebagai antistrophos (konterpart, korelatif, atau koordinat, atau gambaran cermin) dari dialektika. Demikianlah dari orang Athena, dunia mengenal retorika sebagai organon atau alat untuk memperoleh, mempertahankan dan membela kebenaran.

Begitulah dalam tahap perkembangan berikutnya, di dunia Barat, berkembang ilmu retorika yang digambarkan sebagai seorang perempuan (Had Lady Rhetoric) yang dipelajari di trivium dalam gymnasium. Inti dari retorika pada dasarnya ialah instruksi praktis untuk mengeluarkan argumen-argumen untuk tujuan persuasif secara efektif. Retorika klasik terfokus pada oral, sedangkan jaman sekarang juga mencakup tulisan. Retorika juga merupakan strategi mempertajam diskursus untuk maksud tertentu termasuk dalam ujicoba trial and error sebuah sistem. Fokus utama dari retorika ialah manusia dan bahasa. (Hlm. 14.)

Berikutnya komposisi juga termasuk dalam retorika Helenistik yang diasimilasi ke dalam dunia Romawi/Barat yang hingga jaman medieval termasuk dalam artes liberales. Aristoteles, Cicero, Quinlitianus, Agustinus Hipo, Boethius, Martianus Capella, Chancer, Shakespear, Dryden, Pope, Swift dan Johnson merupakan deretan nama sepanjang sejarah yang juga mempelajarinya. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan yang ditandai dengan Enlightenment, kekuatan penjelasan sains bertumbuh hingga merambah juga ranah retorika dan komposisi. Retorika dan komposisi lantas saling mengandaikan meskipun tetap dibedakan berdasarkan jenis penyampaiannya, yaitu retorika bersifat oral sedangkan komposisi bersifat tekstual.(Hlm. 28). Meskipun tradisi retoris mencakup pidato, tulisan dan komposisi dengan latihan terbaiknya ialah mencatat percakapan, komposisi sendiri cukup baru diajarkan di dalam kelas pada sekitar abad ke-19. Edgar Allan Poe dalam bukunya “The Principle of Composition” (1846) menyuratkan hal itu.

Inti dari komposisi mengacu pada instruksi praktis tentang keterampilan menulis yang jelas bertautan dengan seni berbicara. Komposisi juga merujuk pada bagaimana orang menulis dan belajar menulis. Ia merupakan meta-analisis yang mengkarakterkan “teori” dalam studi literatur. Tahap yang harus dilewati ialah menemukan ide-ide, menyusun ide-ide tersebut, mengartikulasikan dengan gaya tertentu, mengingat akan hal-hal yang mau disampaikan dan memberikan dengan penuh keyakinan. Struktur menjadi penting dalam retorika dan komposisi. Inilah bab satu dari buku Steven Lynn ini.

Di dalam bab dua kepada kita disuguhkan cara bagaimana penulis memperoleh ide untuk tulisannya. Dipaparkan juga di sana tentang bagaimana teorist atau peneliti dapat membayangkan pembicara atau penulis tadi memperoleh ide. Inilah yang oleh Steven Lynn disebut sebagai invention (penemuan). Dikatakan bahwa penemuan tentang ide ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu originalitas dan imitasi.

Berikutnya bab tiga diberi judul arrangement (penyusunan). Fokus pada bab ini ialah susunan dari struktur dan bagian dari esai, apakah juga memungkinkan bila susunan ini berdasarkan template. Yang dilakukan di sini ialah mengevaluasi apa yang kita ketahui tentang struktur dan bagaimana teknik mengajarkan struktur tersebut dalam menulis.

Menguji teks berdasarkan karakter kreatif penulis adalah poin inti bab empat. Pada bagian yang disebut style ini penggagas retorika dan komposisi diarahkan untuk merayakan kefasihan. Penampilan diperluas dan dikembangkan sesuai dengan gaya dari penulis sehingga tujuan dari retorika dan komposisi untuk mengkonstruksi pribadi pendengar menjadi terejawantahkan.

Steven Lynn selanjutnya menyuguhkan memory dalam bab lima. Kenangan yang dimaksudkan di sini berupa kilasbalik sejarah secara singkat yang mendukung penyampaian topik retorika dan komposisi. Yang dimaksud bukan hanya sejarah tetapi juga fakta, observasi dan spekulasi tentang masa lalu. Bukan pula hanya orientasi tetapi juga tentang aturan-aturan retoris masa lalu yang sangat kaya.

Sebagai penutup dari buku yang indah ini, puncak dan aksi nyata dari retorika dan komposisi ialah penyampaian. Belajar menyampaikan pidato—dan terkhusus bagi pendidik—mengajar retorika mensyaratkan suatu proses interpretasi. Proses ini dimulai dari hal-hal permukaan di antaranya bagaimana memulai dan mempertajam diskusi, sampai pada yang filosofis mengapa pengajaran tentang teknik menulis ditempatkan pada tahap pertama dan mungkinkah instruksi menulis sampai merambah pada dan terkait dengan demokrasi.

Setelah melihat secara garis besar isi buku Rhetoric and Composition karya Steven Lynn ini, marilah melihat kepada inti dari hermeneutika literer yang ditawarkan. Fokus dari retorika dan komposisi yang berkaitan dengan kebahasaan secara khusus ada pada bagian dua dan tiga dari keseluruhan buku, yaitu inventio dan arrangement. Tak dipungkiri bahwa pada bagian delivery dirangkum keseluruhan kemampuan untuk berretorika dan berkomposisi dengan baik, akan tetapi pembedahan secara mendalam dan terperinci yang dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas konkret berkaitan langsung dengan kebahasaan diulas banyak dalam kedua bagian di atas.

Pada bagian inti ini, Steven Lynn dalam salah satu kutipannya memberikan metode menulis dari buku Elisabeth Cowan (1980) berjudul Writing. Dalam buku itu diungkapkan enam aspek atau kategori yang berbeda untuk membantu penulis dalam menemukan ide. (hlm. 56) Berikut keenam kategori tersebut:

  1. Deskripsikan itu (warna, bentuk ukuran)
  2. Bandingkan itu (mirip dengan apa, dalam hal apa saja dan bagaimana itu berbeda)
  3. Asosiasikan (apa yang membuat Anda berpikir tentang itu)
  4. Analisis (bagaimana itu dibuat, bagian-bagiannya apa saja)
  5. Aplikasikan (apa yang dapat Anda buat dengan itu, bagaimana itu digunakan)
  6. Argumen untuk atau melawan itu (efek baik atau jelek, harga dan moralitas)

 

Setelah memperoleh inspirasi dari tahapan-tahapan di atas, pembaca diajak untuk mendalami inventio sebagai dasar menemukan bahan dan lantas menganalisis bahan tersebut secara linguistik.

Pertama, terdapat dua pemikiran yang berbeda tentang inventio, yaitu klasik dan romantik, kuno dan modern, formal dan intuitif, prosedural dan proses. Inventio klasik bagus untuk dipakai karena memiliki dua karakter, yaitu manipulatif dan bank sistem, artinya ide untuk retorika dan komposisi diperoleh dari studi yang mendalam atas teks-teks.

Kedua, retorika dan komposisi harus berangkat dari budaya tentang apa yang masyarakat tahu. Ini berarti argumen sebaiknya berangkat dari apa yang bisa diterima oleh masyarakat. Dari sana lantas penggagas  belajar sesuatu, memperoleh pengetahuan dan mengimitasi sebagai strategi efektif untuk persiapan. Dari retorika romantik bisa juga dipelajari prosedur yang dituntut proses di dalamnya. Proses itu bermuara pada rasionalitas yang pada gilirannya menghasilkan insight originalitas personal sehingga rancangan retorika dan komposisi merupakan sebuah inovasi dan bersifat unik. Retorika klasik dan romantik di atas memiliki validitas sejarah dan epistemologis. Gabungan keduanya akan menghantar kepada koneksi logis yang di dalamnya terdapat fleksibilitas dan kecakapan. Aplikasi nyata di ruang kelas dapat berupa murid membaca semua jenis teks, menganalisis teks-teks tersebut dengan hati-hati dan lantas menyandingkan argumen yang satu dengan yang lainnya.

 Ketiga, hal berikut ini bukanlah keseluruhan, yaitu memulai dengan style dan struktur, menyediakan konten, membiarkan murid bermain dengan cara berbeda untuk mengekspresikan materi yang diberi. Fokus di sini ialah menjadi kreatif dengan cara menyisihkan sejenak style dan struktur sebab “for those of us who work in composition and rhetoric, the adventure is showing students the richest possible repertoire to draw upon.” (hlm. 101.)

Dari ketiga acuan di atas dikembangkanlah oleh Steven Lynn delapan aktivitas awal retorika berikut:

  1. Carilah topik tentang budaya atau bahasa tertentu. Bagi topik tersebut dan berikan kepada setiap siswa. Siswa lantas mempresentasikan dengan tetap memegang fotokopi dari teks tersebut dengan tambahan ide dari misalnya jurnal tentang isu terkini. Siswa kemudian berdiskusi tentang aplikasi dari contoh-contoh yang dipakai, asumsi-asumsi, prinsip-prinsip yang digarisbawahi dan argumen yang dipakai di dalam teks. Setiap siswa menulis analisis singkat pada kertasnya atau kertas orang lain.
  2. Buat freewriting (tulisan bebas) yang berisi laporan singkat tentang pengalaman.
  3. Invention strategy (strategi penemuan) dari James Dickey sangat baik untuk diterapkan. Setiap siswa diminta untuk membawa buah atau sayuran selama dua puluh empat jam dan tidak luput untuk melihat buah atau sayuran tersebut. Kemudian Dickey meminta mereka membuat puisi dan secara menakjubkan dihasilkanlah inventif poems (puisi-puisi temuan) yang indah. Metode ini bisa diaplikasikan ke berbagai objek termasuk karya sastra klasik tertentu secara linguistik.
  4. Pilih artikel dan pelajari sedetail mungkin bersama para murid. Sisihkan artikel dan kemudian reproduksi argumen, makna dan plot dengan kata-kata sendiri. Hal ini penting sebab siswa diajak fokus pada aktivitas intelektual setelah menemukan ide dasar dari tulisan yang dipakai. Berikutnya ialah membandingkan dengan versi pengarang dari segi ide-ide, logika dan gaya.
  5. Setiap siswa diminta untuk menganalisis artikel dengan berbagai genre untuk dibedakan satu dengan yang lainnya. Hal yang disorot ialah bagaimana penulis tahu dan menemukan materi. Mereka diminta membuat daftar tentang apa saja yang penulis ketahui.
  6. Adakan turnamen berupa debat dialektik. Aktivitas menyanggah atau mendukung ide terrtentu bisa dilakukan secara bergilir/bergantian.
  7. Beri siswa artikel kemudian minta mereka meringkas artikel tersebut. Buat kutipan yang sesuai, plagiat itu dan tandai setiap upaya mereka.
  8. Bandingkan bagaimana google berbeda dari inventio dalam tradisi klasik.

 

Setelah memeperoleh ide yang begitu kaya dari berbagai aktivitas yang bisa dilakukan secara praktis dalam inventio di atas, proses yang kemudian penting untuk dilakukan ialah penyusunan ide-ide. Penyusunan yang ditawarkan oleh Steven Lynn di sini juga melibatkan aktivitas-aktivitas juga. Sebagai pembanding ia menunjukkan bagaimana D’Angelo membuat struktur dari Kitab Pengkothbah tersusun sedemikian rupa sehingga begitu solid, dengan proses-proses sebagai berikut:

  1. Kutip teks,
  2. Puji pengarang,
  3. Parafrasa/jelaskan teks,
  4. Beri satu atau lebih alasan untuk mendukung teks tersebut,
  5. Perkenalkan sebuah analogi,
  6. Hadirkan analogi kontras,
  7. Beri satu atau lebih contoh,
  8. Dukung dengan opini orang lain dan

 

Proses penyusunan teks komposisi dan retorika yang telah melewati proses inventio ini menurut Steven Lynn bisa dilaksanakan dalam delapan aktivitas berikut. Proses arrangement ini sekiranya menjadi inti dari proses analisis retorika dan komposisi mengingat bahan yang diolah di sini sudah jadi dan tinggal dikembangkan, diperluas atau dipersempit, di dalam style, memory dan delivery, ketiga bagian berikutnya dari struktur keseluruhan buku Rhetoric and Composition ini.

  1. Buatlah esai yang isinya ialah analisis argumen. Argumen tersebut bisa oral maupun tertulis. Kemudian jelaskan argumen tersebut, siapa yang membuatnya, untuk siapa dan di mana karena konteks sangat menentukan nuansa suatu hal. Dalam hal ini orientasikan pembaca atau pendengar sedemikian rupa sehingga mereka masuk ke dalam kesempatan atau situasi tersebut. Berikutnya laporkan pernyataan-pernyataan yang menuntun kepada argumentasi. Lalu susun pernyataan atau kejadian sehingga pembaca atau pendengar merasakan argumen yang sedang dibangun.
  2. Rhetorica ad Herennium karya Cicero Muda cocok untuk penulis muda. Terdapat pola di sana, yaitu pola yang biasa diterapkan pada orasi retorika klasik berupa awal, tengah dan akhir. Sangat baik untuk fokus pada bagian awal di mana yang dilakukan ialah menarik atensi audien, menggugah hasrat untuk mendengar dan memberikan orientasi atau tujuan. Yang bisa dilakukan ialah membuat paragraf pembuka dengan mempertimbangkan audien yang beragam, argumen yang bervariasi dan bentuk beserta konten yang mempengaruhi.
  3. Pada jaman digital seperti sekarang ini dengan adanya komputer, esai bisa disampaikan secara aktual maupun virtual. Anak didik diminta untuk mencari esai secara acak dan melihat apa yang terjadi. Bisakah suatu aturan atau pola tertentu berlaku universal? Tugas yang dibisa dipikirkan ialah pertama menerangkan struktur esai dan kedua mengapa struktur asli bisa demikian.
  4. Guru bisa membagikan sebuah tulisan. Anak-anak diminta untuk menggambarkan bentuk dari tulisan tersebut tentu saja beserta strukturnya, tanpa kata-kata. Ini menjadi proyek yang asyik sebab peserta didik diajak untuk membentuk dokumen imajiner di dalam pikiran mereka.
  5. Pendekatan Elbow dalam buku “Writing with Power” sangat baik untuk diterapkan. “You cannot write really incoherently if you write quickly,” begitu ungkapnya. Tulislah secepat mungkin selama lima menit, kemudian deskripsikan struktur yang telah ditulis.
  6. Ajak murid berpikir dengan cara membandingkan entitas yang satu dengan yang lain, kemudian hal itu diterapkan pada membandingkan esai atau outline esai.
  7. Minta murid menceritakan pengalaman tentang struktur tulisan mereka. Ajak mereka untuk membayangkan perspektif yang berbeda.
  8. Guru mengajak murid untuk membawa tulisan yang menurut mereka bagus. Fokus pada tiga hal, yaitu bagian pembuka, isi dan penutup. Kemudian imitasi seoriginal mungkin.

 

Demikianlah buku ini secara keseluruhan memberikan pengantar yang mudah diakses baik bagi pemula untuk belajar retorika dan komposis maupun guru yang mengajar keduanya. Dengan menggabungkan sejarah retorika, eksplorasi dari teorinya dan survei terkini tentang ilmu retorika dan komposisi, Steven Lynn memberikan fondasi solid bagi studi lebih lanjut. Pembaca akan sungguh menemukan informasi dan teknik analisis literer yang sangat berguna berkaitan dengan cara memperoleh ide, menyusun ide-ide tersebut, mengekspresikannya secara efektif dan betapa studi kuno tentang sejarah dan teknik diskursif penyampaiannya penting untuk retorika dan komposisi. Secara pedagogis, buku ini menyediakan titik berangkat untuk belajar tentang disiplin yang berkaitan dengan menulis, berpikir dan berargumentasi.

Sebagai penutup dikutip secara langsung komentar di bagian sinopsis dari buku Rhetoric  and Composition karya Steven Lynn ini demikian.

An ideal text for undergraduate as well as graduate use. the suggested readings make the book a effective and dynamic teaching tool. Other books have tried to combine several dimensions of rhetoric and composition in one volume, but they do not have the strengths of this book or the talents of this author. It is exceptionally good.” Philip Sipiora, Professor of English, University of South Florida.

 

TRI_2020Okt28_Artikel Tamtam_036

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *