Artikel

PRESENSI KULIAH TIDAK PENTING!

Oleh Trio Kurniawan (Founder Betang Filsafat)

 

Pagi ini saya memutuskan untuk menyelesaikan tulisan yang sebenarnya sudah saya mulai di otak saya, namun belum satu kata pun saya tulis di laptop. Alasan saya untuk menyelesaikan tulisan itu hari ini cukup sederhana: otak saya mandeg saat menyelesaikan tumpukan tugas administratif. Saya perlu rekreasi sejenak. Lantas, mulailah saya menulis.

Ide tulisan ini dimulai saat kuliah online semakin menjamur pada saat pandemi Covid-19. Hampir setiap saya akan memulai pengajaran ataupun selesai mengajar ada mahasiswa yang chat ke grup WA kelas ataupun secara personal ke saya: “Pak, saya mohon ijin tidak bisa masuk ke kelas Bapak karena ada gangguan sinyal…” ataupun “Pak, ijin tadi tidak bisa masuk karena tadi kuota habis…”. Di sisi lain, ada juga mahasiswa yang memang tidak masuk kuliah tanpa kabar.

Terhadap semua itu, jawaban saya selalu sama: “Okay Nak. Silahkan akses materi di GC ya. Ada juga video pembelajaran di situ. Kalau bingung, silahkan chat saya untuk diskusi. Jangan lupa, isi presensi, ya…”. Benar. Bagi yang hadir ataupun tidak hadir di kelas online, saya akan meminta mereka untuk mengisi presensi.

Bagi mahasiswa yang ada di kelas saya sejak awal menjadi dosen dulu pasti mengerti bahwa saya nyaris tidak memaksa mahasiswa untuk hadir ke kelas saya. Bagi saya, kehadiran mahasiswa di ruang kelas adalah bentuk “klaim” mereka atas hak belajar setelah mereka membayar uang kuliah. Lantas mengapa saya memarahi mahasiswa karena tidak mengambil hak belajarnya? Tentu saya tidak bermaksud menjadi “hitam-putih”. Poin utama saya lewat argumen itu sebenarnya adalah mahasiswa harus sadar posisinya sebagai manusia dewasa yang berpikiran terbuka dan bertanggung jawab. Hadir atau tidak hadirnya mahasiswa di ruang kelas seharusnya merupakan keputusan yang sudah mereka pahami konsekuensinya.

Karena itu, saya selalu memberi kesempatan bagi mahasiswa yang hadir atau tidak hadir di kelas online untuk mengisi presensi kuliah di GC. Saya sempat diprotes oleh mahasiswa yang rajin kelas online karena tindakan saya ini. Saya dinilai tidak adil. Mungkin saja dosen-dosen lain yang membaca tulisan ini, dan tahu tindakan saya sebeoumnya, akan protes juga ke saya. Terlebih karena tanggung jawab saya di Bagian Akademik kampus. Berikut penjelesan saya.

Apa itu presensi kuliah? Presensi kuliah, secara sederhana, adalah penanda kehadiran mahasiswa di ruang kelas. Pada saat kuliah tatap muka, presensi sebagai penanda kehadiran ini mendapat tempat yang sangat sentral dalam penentuan nilai akhir mahasiswa. Tapi sepertinya paradigma ini diporak-porandakan oleh kuliah online. Pertanyaan saya, benarkah “yang online-online” menjadi penyebab perubahan makna tentang kehadiran? Atau jangan-jangan kita selama ini terlalu menyederhanakan arti kehadiran.

Saya ingin bercerita sebentar. Pada suatu waktu, dunia sempat menikmati kehadiran satu filsuf besar. Namanya Martin Heidegger. Saya lebih sering menulis dirinya dengan nama Heidegger. Pada saat ia hidup, Heidegger membuat pertanyaan sederhana: Siapa Manusia? Ia menolak pertanyaan: Apa Manusia? Heidegger cemas. Ia menggugat keberadaan (baca: kehadiran) manusia di dunia. Siapa manusia sehingga ia hadir di dunia dan kemudian memiliki hak untuk memberi makna atas segala yang ada?

Ketika manusia hadir ke dunia, Heidegger melihat kehadiran itu sebagai sebuah momen keterlemparan. Alasannya sederhana: manusia tidak pernah meminta hadir di dunia. Ia seperti dilempar begitu saja dan lantas ada di dunia lalu ada juga bersama yang lainnya. Ironis? Iya. Manusia terlempar ke dunia sebagai dia yang sendiri dan hanya mengenal dirinya sendiri. Namun demikian, Heidegger tetaplah Heidegger. Ia tidak puas. Ia tidak yakin bahwa manusia adalah dia yang terlempar dan nggak ngapa-ngapain. Ia yakin bahwa manusia pasti punya tujuan.

Kita mundur sejenak. Ketika manusia terlempar ke dunia, apa yang membuat ia bisa mengenal dirinya dan kehadirannya? Menurut Heidegger, “waktu” adalah alasan paling logis yang menjadi penyebab manusia bisa memaknai kehadirannya (eksistensi). Artinya, di dalam waktu, manusia bisa memaknai siapa dirinya dan apa yang ia cari di dunia. Waktu membuat manusia bisa membuka diri dan menjadi diri yang sejati.

Mengapa manusia kemudian harus memaknai dan menemukan jati dirinya? Menurut Heidegger, keterlemparan manusia ke dunia membuat ia harus (mau tidak mau) hidup bersama yang lainnya. Apakah ini mudah? Tentu tidak. Pribadi yang lain belum tentu bisa membuat manusia nyaman dan bisa menemukan kesejatiannya. Untuk itulah di sepanjang hidupnya manusia harus selalu menemukan makna. Manusia akan selalu mencari nilai yang berharga bagi dirinya.

Cerita saya tentang Heidegger sudah selesai. Apa yang sebenarnya ingin saya katakan tentang pemikiran Heidegger? Saya akan ringkas gagasannya dalam poin-poin yang saya harap lebih sederhana:

  1. Bagi Heidegger, kehadiran bukanlah ada begitu saja. Kehadiran bukan keterlemparan dan lantas nggak ngapa-ngapain. Ketika manusia hanya hadir secara fisik dan tidak berbuat apapun, tampaknya itu bukanlah kehadiran yang sejati;
  2. Lantas apa itu kehadiran? Kehadiran adalah momen hadirnya manusia secara utuh untuk memaknai hidupnya dan mencari jati dirinya. Ia tidak terima jika hidupnya hanya sebuah keterlemparan tanpa arah. Lewat kehadiran, manusia memastikan bahwa hidupnya diarahkan pada kesejatian.

Dari 2 poin di atas, sebenarnya sudah tergambar alasan saya tidak terlalu memaksakan presensi kuliah. Bagi saya, yang jauh lebih penting dari sebuah kehadiran fisik adalah kehadiran seluruh diri mahasiswa di kelas saya. Artinya, saya mengandaikan bahwa mahasiswa yang masuk ke kelas saya adalah mereka yang benar-benar ingin belajar ilmu yang saya bagikan, bukan hanya sekadar mengisi presensi. Itulah hakekat kehadiran.

Jika mahasiswa datang ke kelas saya hanya atas dasar mengisi presensi kuliah, apa bedanya ia dengan manusia yang hadir ke dunia karena keterlemparan lalu kemudian tidak melakukan apapun? Hal yang terpenting dari sebuah kehadiran adalah proses mengisi dan memaknai kehadiran. Dalam konteks perkuliahan, bisa saja saat itu mahasiswa saya tidak hadir karena berbagai alasan yang saya ketahui atau tidak ketahui, namun ternyata ia belajar dan mengikuti kelas saya lewat media lainnya. Singkatnya, kehadiran mahasiswa di ruang kelas adalah gambaran dari keputusan akal budi mahasiswa itu sendiri.

Pada sisi yang berbeda, ketidakhadiran mahasiswa di ruang kelas (terutama karena bolos) mungkin bisa jadi ruang refleksi bagi saya sebagai dosen. Analoginya begini: ada 1 orang yang sedang lapar dan ingin membeli makanan. Ada 2 pilihan warung makanan. Warung A menjual nasi goreng. Warung B menjual bakso. Pelayan di Warung A judes dan tidak komunikatif. Nasi gorengnya pun disajikan apa adanya dan cenderung serampangan. Pelayan di Warung B berbeda. Ia ramah. Saat pembeli sedang menunggu, penjual berkomunikasi dan memberikan pelayanan yang memuaskan. Baksonya pun disajikan dengan sangat baik dan lezat. Pembeli tentu saja akan memilih Warung B, bukan Warung A.

Analogi di atas mungkin tidak 100% menggambarkan situasi di ruang perkuliahan. Tapi yang ingin saya katakan adalah bahwa ketidakhadiran mahasiswa di ruang kuliah bisa saja terjadi karena kualitas pengajaran dan komunikasi dosen tidak menarik. Teknik belajar-mengajar sudah berubah dari masa ke masa. Perlu harmoni antara teknik mengajar, motivasi mahasiswa, urgensi mata kuliah dan kreativitas pembelajaran.

Lantas, setelah semua catatan ini, apakah Presensi Kuliah menjadi sangat mendesak dan kaku lagi? Entahlah. Saya hanya berasumsi bahwa setelah tulisan ini selesai dibaca, akan ada banyak orang yang tidak setuju dan mengkritik balik argumen saya. Toh bagi saya ini adalah sebuah catatan kritis dari saya, bukan sebuah dogma.

Terima kasih. Saya mau lanjut membuat link Presensi Kuliah mahasiswa saya.

 

TRI_2021Okt5_Artikel Trio_009

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *