Artikel

POLITIK PEDESAAN

Pemilihan pemimpin masyarakat secara demokratis adalah cita-cita dari setiap warganegara yang ingin adanya keadilan. Dalam hal ini setiap warga negara bebas menentukan pemimpin terbaik menurut mereka masing-masing. Di proses pemilihan inilah istilah politik dalam makna praktisnya dimengerti oleh masyarakat.

Mao Zedong / Mao Tse-Tung, pendiri Republik Cina, mengatakan bahwa poltik adalah perang tanpa pertumpahan darah, sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah. Politik adalah bentuk lain dari perang, hanya saja (diharapkan) tidak menimbulkan pertumpahan darah.

Ketika berbicara soal politik sepintas muncul dibenak kita adalah seorang pemimpin atau kepemimpinan. Politik secara umum adalah suatu cara untuk mencapai tujuan. Sebagai masyarakat yang demokratis kita bebas menyuarakan pilihan kita. Dalam menentukan pemimpin kita seringkali bimbang karena adanya “politik baik atau kotor” yang dimainkan. Dengan adanya kebebasan dalam berpolitik, kita sering kali dimanfaatkan oleh oknum yang ingin adanya perpecahan.

Beberapa hari belakangan ini, Kabupaten Landak telah melaksanakan Pemilihan Kepala Desa. Setiap desa memiliki calon masing-masing yang akan menjadi pemimpin mereka selama beberapa tahun ke depan. Masing-masing calon Kepala Desa saling beradu visi dan misi untuk mencari perhatian dari masyrakat yang mempunyai hak pilih agar mereka mendapatkan “suara” dari kelompok masyarakat tersebut.

Dalam politik, masyarakat yang di pedesaan tampaknya masih kurang memahami apa itu politik. Dalam beberapa hal, mereka masih mudah untuk terprovokasi oleh isu sara, sehingga mudah terombang-ambing oleh isu politik yang dimainkan. Aturan dimana kepala desa saat ini dipilih langsung oleh masyarakat tentunya menimbulkan “pro dan kontra”. Sistem ini bisa memberikan dampak positif dan negatif dilingkup masyrakat pedesaan. Dengan demikian, “politik pedesaan” ini tidak boleh dianggap sepele.

Poin positif dalam pemilihan kepala desa di pedesaan adalah masyarakat bisa ikut terlibat dalam pesta demokrasi di level kecil. Pesta demokrasi ini dirayakan secara bersama-sama. Ada poster serta baliho yang ditampilkan. Ada visi-misi yang ditawarkan. Ada jargon-jargon politik yang diteriakkan. Singkatnya, pesta demokrasi pedesaan ini diikuti oleh semua masyarakat desa, entah sebagai calon pemimpin ataupun masyarakat biasa.

Pada sisi negatif, adanya pemilihan kepala desa secara langsung dapat menimbulkan permasalahan. Ini sudah menjadi fenomena di masyarakat, dimana dalam proses berpolitik menimbulkan perpecahan di masyarakat. Bahkan dalam satu keluarga ditemukan kasus dimana dalam keluarga tersebut terdapat perbedaan pilihan dan menimbulkan konflik di keluarga tersebut. Bahkan tidak sedikit ditemukan kasus di masyarakat adanya intimidasi dari calon kepala desa kepada masyrakat yang beda pilihannya dan menimbulkan perkelahian diantara tim pemenangan diantara kedua belah pihak calon pemimpin. Hal ini tentu menjadi “wajah lain” dari politik pedesaan yang harus diperhatikan dengan serius.

Mae West, tokoh inspiratif dan aktris terkenal berkebangsaan Amerika Serikat pada dekade 1970, berkata: “Segalanya berada di dalam pikiran. Dari sanalah segala hal berawal. Mengetahui apa yang diinginkan adalah langkah pertama meraih keinginan.” Mae West mungkin benar. Permasalahan dalam politik pedesaan bisa jadi disebabkan oleh pola pikir masyarakat pedesaan yang masih belum memahami secara utuh tentang berpolitik yang sehat. Pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM) di pedesaan masih rendah sehingga menjadi penyebab masyarakat di pedesaan tampaknya mudah untuk terprovokasi. Pendidikan sangatlah penting bukan hanya sekedar sebagai bekal untuk mencari pekerjaan belaka. Pendidikan berperan dalam kemajuan dan perubahan pola pikir kita sehingga tidak mudah untuk terprovokasi.

Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang memerdekakan manusia. Pendidikan ini hanya dibangun di dalam hati yang merdeka, demikian kata Trio Kurniawan (Penulis Filsafat Pendidikan Demokratis-Deliberatif: Dari Jurgen Habermas Untuk Pendidikan Indonesia). Bisa dibayangkan apabila pendidikan di masyarakat sudah merata dan berkualitas, pesta demokrasi seperti pemilihan kepala desa akan terasa lebih menarik dan gembira karena masyarakat lebih bijak dalam menjalankan politik praktis. Calon pemimpin yang mencalonkan diri sebagai pemimin masyarakat akan lebih bijaksana dalam berpolitik. Dengan kata lain, calon pemimpin yang terdidik tidak lagi menganggap politik sebagai perang dan menjatuhkan calon lain dengan cara-cara yang tidak sehat.

Benito Mussolini mengatakan bahwa lebih baik hidup sehari sebagai singa daripada 100 hari sebagai domba. Ini menarik. Kita sebagai masyrakat juga harus kritis tehadap dunia politik dan menentukan para calon pemimpin pilihan kita. Tidak cukup kita hanya menerima begitu saja politik yang mereka jalankan. Mungkin untuk mencegah hal seperti ini terulang kembali, ada peran dari pemerintah dengan memberikan sosialisasi dan penyuluhan. Dengan demikian masyrakat akan lebih memahami pesta demokrasi, sehingga tidak menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat.

 

Penulis: Fransiskus Heru (Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Pamane Talino)

 

*Gambar Feature diambil dari https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/pilkades-2019-di-bojonegoro-tidak-ada-calon-dari-asn-kenapa/*

 

TRI_2019Nov19_Artikel Heru

Download PDF

4 thoughts on “POLITIK PEDESAAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *