Perspektif Trio

PERUNDUNGAN (BULLY)

Oleh Trio Kurniawan, M. Fil. (Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino, Founder Betang Filsafat)

 

Lagi. Saat ini, secara gamblang kita melihat aksi perundungan oleh sekelompok anak muda terhadap seorang anak kecil penjual gorengan, Rizal. Percayalah, ada banyak “Rizal-Rizal” lain di seantero negeri ini yang mengalami tekanan batin yang sama, namun tidak bersuara. Tentu sudah jamak kita temui kisah orang yang depresi hingga bunuh diri karena aksi perundungan. Kali ini, mari kita melihat lebih dalam dengan nurani dan akal budi kita. Bisa jadi, kita (dan saya terutama) adalah perundung yang gemar menunjukkan telunjuk saya kepada pelaku perundungan, namun lupa “bercermin” untuk melihat perilaku keseharian kita.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menerjemahkan perundungan sebagai menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu, seperti memanggil nama seseorang dengan julukan yang tidak disukai, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong. Kata perundungan ini, didekatkan maknanya dengan kata bully yang jauh lebih populer. Oxford Dictionaries mengartikan bully sebagai seek to harm, intimidate, or coerce (someone perceived as vulnerable).

Ketika melihat definisi perundungan atau bully tersebut, ada satu makna tersirat yang sepertinya banyak orang abai untuk perhatikan. Ketika berbicara tentang perundungan atau bully, kita sepertinya lebih terfokus pada tindakan-tindakan lahiriahnya semata: olokan, makian, hinaan, gossip, kekerasan fisik dan lain sebagainya. Namun pernahkah kita bertanya apa akar dari perundungan?

Perundungan adalah sebuah bentuk nyata kegagalan manusia dalam berelasi dengan yang lain. Kegagalan ini disebabkan oleh banyak hal. Jika melihat ke Etika Emmanuel Levinas, pelaku perundungan tidak mampu (gagal) berdamai dengan wajahnya sendiri ketika ia melakukan perundungan terhadap pihak lain. Mengapa? Menurut Levinas, dalam konteks relasi, orang lain adalah penampakan dari wajah diri kita sendiri. Ketika kita menyakiti orang lain, pada titik itu kita menyakiti diri kita sendiri.

Selanjutnya, perundungan adalah bentuk paling nyata “karakter feodalis” yang tertanam dalam diri manusia. Apa itu karakter feodalis? Karakter feodalis adalah suatu cara berpikir dan bersikap yang melihat manusia lain berada pada level lebih rendah dari dirinya atau kaumnya. Mereka yang berkarakter feodalis akan melihat orang lain sebagai negasi dari status dan posisinya. Menurut konsep berpikir Martin Buber, karakter feodalis (perundungan) adalah wujud dari relasi I-It dimana Subjek melihat orang lain tak lebih dari sekadar benda yang bisa dihina atau dihancurkan.

Saya sengaja menunjukkan akar dari persoalan perundungan atau bully ini di hadapan kita semua agar masing-masing kita menyadari: bisa jadi kita adalah pelaku perundungan juga. Mungkin bisa jadi kita tidak berbuat sebagaimana yang dilakukan perundung kepada Rizal. Tetapi, kita juga bisa menjadi perundung dalam bentuk lain: menganggap remeh rekan kerja, menghina keterbatasan mahasiswa di ruang kelas, menertawakan keterbatasan orang lain dan masih banyak lagi lainnya. Dengan dasar kegagalan berhadapan dengan “wajah” kita sendiri dan karakter feodalis, bisa jadi kita adalah perundung.

Pertanyaan terakhir yang mungkin bisa kita munculkan adalah: bagaimana membedakan perundungan dan guyonan antar sahabat? Kita tentu seringkali bercanda dengan sahabat menggunakan diksi yang berkonotasi negatif. Klasifikasi untuk dua hal tersebut sebenarnya sederhana: sejauh ucapan atau sikap kita tidak bermaksud (intensi) pada cara pikir yang intimidatif dan merendahkan (feodalis), kita bukanlah merundung. Persahabatan dibangun dari keterbukaan dan kesetaraan. Pada ruang yang terbuka dan setara, tidak akan ada perundungan. Jika “persahabatan” kita tidak terbuka atau setara, bisa jadi kita hanya berpura-pura punya sahabat.

Berhentilah menjadi perundung! Berhenti dari mental feodalis!

 

Sumber Gambar Featured: https://www.kajianpustaka.com/2018/01/pengertian-unsur-jenis-ciri-ciri-dan-skenario-bullying.html

TRI_20202Mei18_Artikel Trio 028

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *