Artikel

[PERSPEKTIF TRIO] DI RUMAH SAJA: MENGERIKAN?

Oleh Trio Kurniawan, M. Fil. (Founder Betang Filsafat)

 

Tagar #dirumahaja menghiasi laman linimasa media sosial selama beberapa pekan belakangan. Pemerintah dan banyak kelompok aktivis lainnya getol menyuarakan pemberlakuan tagar ini demi menghindari penyebaran Virus Corona (Covid-19). #dirumahaja merupakan sebuah seruan bersama demi “hidup-mati” masyarakat banyak.

Bagi kaum rebahan, isu #dirumahaja adalah isu yang sudah out of date. Mengapa? Karena keseharian kaum rebahan adalah #dirumahaja. Seruan #dirumahaja hanya menjadi semacam legitimasi kaum rebahan untuk semakin menyesuaikan lekuk tulangnya dengan kasur yang ada di rumah. Bagi kaum rebahan, #dirumahaja bukanlah sebuah seruan heroik. #dirumahaja adalah jalan ninja kaum rebahan.

Seruan #dirumahaja justru berdampak besar bagi kaum kantoran dan pekerja lepas. Bagaimana dampaknya? Bagi pekerja lepas, #dirumahaja tentu bisa mengganggu pendapatan harian keluarganya. Bagaimana keluarganya bisa makan-minum jika ia hanya #dirumahaja? Dalam hal ini, peran pemerintah dan solidaritas masyarakat dibutuhkan agar pekerja lepas dapat tetap menjalankan kehidupannya walau #dirumahaja.

Bagaimana bagi pekerja kantoran? Well, sudah merupakan rahasia umum bahwa selama ini para pekerja kantoran rutin bersuara untuk menambah libur agar dapat berada di rumah bersama. Dalam keadaan normal, kita (pekerja lepas, kantoran, mahasiswa dan lainnya) adalah pejuang di garda terdepan untuk menyerukan #dirumahaja saat bekerja aktif. Apalagi jika ternyata #dirumahaja tidak menyebabkan gaji dipotong. Nikmat apa lagi yang kau dustakan?

Pandemi Corona menyebabkan semua orang diwajibkan untuk #dirumahaja. Situasi ini sejatinya membawa refleksi tersendiri. Saat di awal masa #dirumahaja, banyak orang tampaknya bersuka ria karena mendapat kesempatan “libur gratis”. Apa yang kemudian terjadi? Orang beramai-ramai keluar dari rumah untuk menuju tempat wisata.

Saya kemudian bertanya: ada apa dengan rumah hingga orang-orang menjadi “tidak betah” berada #dirumahaja lalu memutuskan untuk rekreasi ke luar rumah? Ada apa dengan rumah hingga kemudian akhir-akhir ini orang mulai bosan berada di rumah? Sejatinya, rumah itu apa?

Rumah, bagi saya, bukanlah hanya kesatuan antara tiang, tembok dan atap. Rumah adalah sebuah situasi. Rumah adalah darimana kita berasal. Rumah adalah diri kita sendiri. Ketika saya melihat ramai disuarakan tagar #dirumahaja, saya tersenyum: ini saatnya semua orang kembali kepada dirinya sendiri. Ini saatnya orang-orang bertemu dengan dirinya.

Mengapa saya tersenyum ketika menyadari hal ini? Bertemu dengan diri sendiri bukanlah perkara mudah. Ketika manusia diberikan ruang untuk bertemu dengan dirinya sendiri, ia bisa saja akan ketakutan. Siapa yang lebih tahu kekurangan atau kerusakan di dalam diri kita selain diri kita sendiri? Ketika manusia diberi waktu untuk kembali kepada dirinya sendiri, cukup gentlekah ia untuk mengakui dan menerima keburukan dirinya? Ketika ada waktu 14×24 jam untuk bersama-sama keluarga, cukup beranikah kita mengakui bahwa sejatinya diri kita adalah pribadi yang “payah” dalam banyak hal di rumah? Cukup beranikah suami-istri berbicara dari hati ke hati dan mengevaluasi diri secara utuh? Cukup beranikah anak untuk menatap orang tuanya dari hati dan mengatakan: “Saya menyayangi Bapak-Mamak”?

Selama ini, pekerjaan dan ragam kegiatan lainnya menjadikan manusia “lari” dari dirinya sendiri. Pekerjaan menjadi alasan bagi banyak orang untuk tidak “menyelesaikan” dirinya. Kesibukan menyebabkan manusia beralasan untuk selalu menghindari dari pasangan. Tugas kuliah dan sekolah menjadi alasan anak untuk tidak berbicara jujur kepada orang tuanya.

Sekarang, bagaimana rasanya #dirumahaja? Jawaban atas pertanyaan ini bisa beragam. Menurut saya, yang paling penting adalah menyadari bahwa masa #dirumahaja adalah waktu emas. Ini momen berharga untuk berkontemplasi dengan diri. #dirumahaja adalah “padang gurun” dimana manusia bisa menjadi utuh atau malah menjadi kacau.

Berani #dirumahaja?

 

TRI_2020Apr17_Artikel Trio 018

Download PDF

1 thought on “[PERSPEKTIF TRIO] DI RUMAH SAJA: MENGERIKAN?

    • Author gravatar

      Haha Trio, asyik n unik, sebab bgku di rumah aja–DRA– berkesempatan lihat hobi baca di ruang buku, nikmati suasana di rumah, baca, nulis, online-classes, academic chatting, etc.
      DRA sbb Covid-19 ad kesempatan fokus n refleksi dgn keluarga dan kerja. Unik, lingkungan bs lebih sehat, hiruk pikuk menurun dlm kengerian? Coronavirus gives the opportunity for the earth to take a rest, doesn’t it Trio?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *