Artikel

PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF PLATON

Yoga Febriano

 (Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, Semester V)

 

Pengantar

Perempuan dalam tatanan kehidupan sosial sering kali mengalami perlakuan yang diskriminatif. Tidak boleh ini, harus begitu, dilarang yang ini, dan harus yang itu. Perempuan dalam realitasnya sering kali dinafikan oleh societas. Kehadiran mereka bagi segelintir orang bahkan kerap dipandang sebagai penghalang menuju kesucian. Para perempuan diamanatkan menggunakan atribut-atribut tertentu guna “melindungi” kaum lelaki supaya tidak menjadi objek berahi dan semacamnya. Apakah cara berpikir yang demikian berpihak kepada perempuan?

Tulisan ini menyoal pandangan masyarakat terhadap citra perempuan. Adapun keseluruhan tulisan ini dijiwai oleh tulisan Platon yang paling fenomenal, yaitu Republik.

 

Perempuan Menurut Platon

Bagimanakah pandangan Platon terhadap perempuan? Dalam dialog Symposium, Platon memberikan kepada seorang wanita, pendeta wanita legendaris, Diotima sebuah kehormatan karena telah memberikan wawasan filsafat kepada Sokrates.[1] Contoh ini memberi gambaran kepada sidang pembaca bahwa sejak zaman Yunani klasik, wacana mengenai perempuan sudah menjadi perhatian filsuf, secara khusus Platon. Platon sebagai seorang pemerhati dan sekaligus kritikus dalam masyarakat kala itu memberikan perhatian terhadap berbagai lini kehidupan bernegara, termasuk di dalamnya mengenai hakikat perempuan. Dalam bukunya Politeia, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai The Republic[2], dan dalam bahasa Indonesia sebagai Republik, Platon membuat suatu argumen yang terbilang cukup genius,

“Lelaki dan perempuan tampak memiliki kemampuan, kecakapan atau pencarian yang berbeda. Kita sebaiknya mengatakan bahwa kecakapan atau pencarian semacam itu harus ditentukan untuk salah satu di antara mereka, tetapi kalau perbedaan itu hanya terletak dalam hal perempuan bertugas melahirkan dan lelaki bertugas membuahi, hal ini tidak membuktikan bahwa perempuan itu berbeda dari lelaki dalam hal pendidikan yang harus diterimanya, dan karena itu kita harus terus mempertahankan bahwa para pelindung kita dan isteri mereka harus memiliki pencarian yang sama.”[3]

Secara eksplisit Platon ingin menegaskan bahwa pada kodratnya laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Perbedaan ini merupakan suatu keniscayaan bagi keduanya. Meskipun demikian, Platon mengingatkan bahwa kodrat yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan bukanlah alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif terhadap perempuan dan mengagung-agungkan laki-laki di lain pihak. Perempuan adalah subyek yang layak dihormati, diberi pendidikan, dan diberi ruang kebebasan.

Dalam dialog-dialog selanjutnya, pembaca akan menjumpai dialektika kritis yang diusung oleh Platon ketika berbicara mengenai hakikat lelaki dan perempuan. “Kita dengan gagah berani dan dengan senang hati suka berkelahi menuntut kebenaran verbal, bahwa hakikat yang berbeda harus memiliki tugas dan pekerjaan pula, tetapi kita sama sekali tidak pernah memikirkan dan mempertimbangkan apa artinya kesamaan dan perbedan hakikat, atau mengapa kita membedakan mereka ketika kita menentukan tugas dan pekerjaan yang berbeda pada hakikat yang berbeda dan memberikan tugas dan pekerjaan yang sama terhadap hakikat yang sama.”[4] Di sini agaknya Platon mengkritisi secara tajam hakikat ke-lelaki-an dan ke-perempuan-an yang tampak memiliki keberjarakan, yang oleh masyarakat dibuat begitu absurd. Platon mengajak setiap orang untuk memikirkan secara kritis mengenai esensi dari eksistensi lelaki dan perempuan.

 

“Memandang” Perempuan Sebagai Individu

Secara etimologis individu berasal dari bahasa Latin individuus (tidak dapat dibagi), dari in (tidak) dan dividuus (dapat dibagi). Terjemahan dari kata Yunani atomon (tak dapat dibagi).[5] Dengan demikian individu menunjuk kepada yang utuh, tak terpisahkan, keseluruhan dan yang satu.

Pembicaraan mengenai perempuan memang telah menyita perhatian sejak zaman Yunani klasik. Terutama ketika menyoal peran perempuan dalam tatanan masyarakat. Platon merupakan salah satu filsuf yang menaruh perhatian pada persoalan ini, sebagaimana tertulis berikut ini:

The fact that the genders are principally equal will have concrete social implications in Plato’s ideal polis: both genders will receive the same education, will be in a position to acquire the same occupations, even the most prominent ones, and have the same opportunities to realize their full potential. They ought also to be engaged in performing the highest political functions from the military and protecting to the ruling activities, if they are talented to do so. Plato even says that the social and political set-up of Athenian society during his time is “Contrary to nature” (para physin) as opposed to his views on the social roles of both genders which are, “according to nature” (para physin), based on the principle that similar natures should follow similar pursuits.[6]

Berbicara tentang perempuan tidak melulu menunjuk kepada perempuan sebagaimana yang dicerap oleh panca indera. Berbicara mengenai perempuan berarti “memandang” ke-perempuan-an, esensi, atau jati diri yang melekat dalam diri perempuan sebagai subjek. “Memandang” perempuan sama dengan menyelami “misteri” humanitas dan historisitas perempuan dalam dirinya sendiri sebagai manusia. Bagi Platon, “memandang” manusia (perempuan) berarti menunjuk kepada hakikatnya sebagai suatu kesatuan pikiran, kehendak, dan nafsu-nafsu.[7]

 

Penutup

Dari Platon memang agak susah untuk mengatakan bahwa pandangannya sempurna secara menyeluruh terhadap perempuan. Dalam tatanan dunia polis misalnya, perempuan seolah-olah ditenggelamkan ke dalam kubangan misterius dunia polis.[8] Namun hendaknya pembaca tidak perlu buru-buru menafsirkan bahwa secara keseluruhan pandangan Platon terhadap perempuan melulu begitu. Di beberapa teks-teks dialog, kita bisa menjumpai beragam pendapat Platon yang mengafirmasi secara positif kehadiran perempuan.

Yang penting adalah bagaimana seseorang bisa belajar dari nilai-nilai adiluhung yang dicetuskan oleh Platon terutama soal menghargai perempuan sebagai subjek. Perempuan bukan saja tubuhnya, goyangannya, lirikan matanya, ke-seksi-annya, atau semacamnya. Perempuan adalah manusia yang layak untuk dihargai dan dicintai sebagaimana ia ada bersama dalam jati diri ke-perempuanan-nya.

 

Daftar Pustaka

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Edisi Revisi, Yogyakarta: Kanisius, 2017.

Gaarder, Jostein. Dunia Sophie, penerj. Rahman Astuti, Bandung: Mizan, 2018.

Platon, Republik, diterj. dari The Republic oleh Sylvester G. Syukur, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002.

Riyanto, Armada. Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen., Yogyakarta: Kanisius, 2018.

 

[1] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, penerj. Rahman Astuti, Bandung: Mizan, 2018, hlm. 158.

[2] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani. Edisi Revisi, Yogyakarta: Kanisius, 2017, hlm. 142.

[3] Platon, Republik, diterj. dari The Republic oleh Sylvester G. Syukur, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002, hlm. 212.

[4] Ibid., hlm. 211.

[5] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, hlm. 336.

[6] https://journals.openedition.org/etudesplatoniciennes/277, diakses tanggal 28 September 2019: 18.00 WIB.

[7] Lorens Bagus., Ibid., hlm. 565.

[8] Armada Riyanto, Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen., Yogyakarta: Kanisius, 2018, hlm. 289.

 

Sumber gambar: https://media.suara.com/pictures/970×544/2019/10/11/93479-ilustrasi-kekerasan-terhadap-perempuan-wanita-stop-kekerasan-kasus-kekerasan-perempuan.jpg

GSW_2020Des17_Artikel Yoga Febriano_041

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *