Artikel

PENDIDIKAN MORAL LAWRENCE KOHLBERG

Oleh Trio Kurniawan, M. Fil. (Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino, Founder Betang Filsafat)

 

Pendahuluan

Indonesia berada di situasi dilematis antara dunia pendidikan dan outputnya: jika sistem pendidikan Indonesia sudah berjalan dengan baik, mengapa masih banyak terjadi pelanggaran nilai-nilai moral dalam tata hidup bersama? Masyarakat Indonesia dewasa kemudian mengkritisi hakekat dan tujuan pendidikan Indonesia. Beragam tinjauan kritis-akademis pun kemudian bermunculan dalam pergumulan kembali tentang hakekat pendidikan Indonesia. Dalam beragam tinjauan kritis maupun pergantian kurikulum pendidikan di Indonesia, satu poin yang ditekankan sedemikian rupa dalam sistem pendidikan Indonesia adalah pengembangan pendidikan karakter dan moral bagi para siswa.[1] Sudah menjadi rahasia umum bahwa karakter pendidikan Indonesia lebih menekankan kemampuan akademis daripada dimensi karakter dan moral.

Public Agenda,[2] sebuah organisasi internasional non-profit yang membantu para pemimpin dan anggota masyarakat dalam memetakan isu-isu kompleks, dalam surveynya menunjukkan bahwa para siswa, orang tua maupun pihak sekolah menginginkan proporsi pendidikan moral dan karakter yang cukup besar dalam kurikulum pendidikan (Public Agenda, 1994 dan 1997). Secara global, krisis pendidikan karakter dan moral tampaknya sudah mencapai titik puncak. Pendidikan karakter dan moral menjadi kebutuhan setiap manusia di segala tempat.

Salah satu tokoh yang dapat dipelajari pemikirannya berkaitan dengan pendidikan karakter dan moral adalah Lawrence Kohlberg (1981). Kohlberg mengembangkan studi tentang pendidikan, penalaran dan perkembangan moral. Tulisan ini akan lebih banyak mengulas pemikiran Lawrence Kohlberg dan kritik atas pemikirannya.

 

Riwayat Singkat Lawrence Kohlberg

Lawrence Kohlberg[3] lahir pada tanggal 25 Oktober 1927 di Bronxville, USA dalam sebuah keluarga yang cukup mapan dan meninggal pada tanggal 19 Januari 1987. Sejak kecil, Lawrence sudah dididik untuk memiliki kepekaan moral kaum kelas atas tentang kebebasan individu, hak-hak pribadi dan juga mengenai kapitalisme. Sejak masih bersekolah di pendidikan dasar, ia juga sering dihukum karena memberontak atas tindakan sekolah yang sewenang-wenang.

Setelah ia lulus SMA di Phillips Academy (Andover, Massachusetts), Lawrence Kohlberg memutuskan bergabung dengan US Merchant Marine dan melakukan perjalanan ke Eropa pada akhir Perang Dunia II. Dalam perjalanan itulah ia kemudian menyaksikan dan mengalami perjumpaan dengan para korban kekejaman Nazi, yaitu kaum Yahudi. Perjumpaan ini menjadi begitu penting bagi pemikiran Kohlberg karena dari pengalaman inilah ia memiliki “alasan moral untuk membangun identitasnya” (Snarey & Samuelson, 2008).

Setelah masa kerjanya di US Merchant Marine selesai, Lawrence Kohlberg kemudian kembali ke Eropa lagi dan bergabung sebagai anggota kru kapal Paducah. Kapal ini disewa oleh Haganah, sebuah organisasi militer Zionis. Kapal ini digunakan untuk menyelundupkan kaum pengungsi Yahudi Eropa. Hal yang cukup penting untuk diperhatikan dalam pilihan Kohlberg untuk membantu para pengungsi Yahudi Eropa ini adalah disposisi moralnya pada saat itu: manakah yang lebih penting antara mematuhi hukum ataukah membantu kaum tertindas ini untuk merdeka dan memiliki negara sendiri di Palestina? Selain itu, Kohlberg juga menilai tindakan Holocaust yang dilakukan oleh Nazi Jerman merupakan suatu tindakan yang benar-benar mengerikan dan “aneh” dari sisi logika pendidikan.

Pada tahun 1948, Kohlberg kembali ke Amerika dan masuk Universitas Chicago. Di sana ia menekuni studi Psikologi selama setahun dan memperoleh gelar Doktor Psikologi pada tahun 1958. Selama menyelesaikan studi doktoralnya, Kohlberg tertarik pada pemikiran Jean Piaget. Piaget merupakan seorang psikolog yang menekuni bidang pengembangan moral. Piaget ini yang kemudian banyak juga mempengaruhi pemikiran Kohlberg.

 

“Berguru” pada Jean Piaget

Lawrence Kohlberg, dalam mengembangkan gagasannya tentang Teori Perkembangan Moral, banyak membaca karya-karya Jean Piaget (1896-1980). Jean Piaget merupakan seorang filsuf, ilmuwan dan psikolog perkembangan asal Swiss. Ia menjadi terkenal berkat penelitiannya tentang anak-anak dan Teori Perkembangan Kognitifnya. Piaget juga merupakan “Bapak Perintis” teori Konstruktivis dalam perkembangan kognitif.

Secara sederhana, Teori Konstruktivisme meyakini bahwa pengetahuan dibentuk oleh murid atau orang yang belajar (Suparno, 2016). Pengetahuan bukanlah “pemberian” dari guru, melainkan murid sendiri yang menerima, mengolah dan kemudian mengkonstruksinya menjadi pengetahuan milik murid tersebut. Peran aktif dari murid untuk mengelaborasi informasi dari guru ataupun pihak lain begitu dominan dalam proses ini. Tanpa adanya murid yang berproses, tidak akan ada pengetahuan baru dalam diri murid tersebut.

Piaget (1932: 193-194) membagi penalaran moral ke dalam tiga tahap:

  1. Amoral

Tahap amoral dialami oleh anak-anak yang baru lahir hingga usia 2 tahun. Pada tahap ini, anak-anak belum memiliki pemahaman tentang moralitas dan aturan.

  1. Moralitas Heteronom

Dalam moralitas ini, manusia digerakkan atas dasar rasa hormat atas otoritas atau aturan tertentu, jadi, moralitas yang mendasarinya adalah kekuasaan ataupun legalitas. Dengan demikian, moralitas dilihat dari dimensi “hitam-putih”. Jika bersalah, seseorang akan dihukum sebagai konsekuensinya.

  1. Moralitas Otonom

Perspektif moralitas otonom melihat kesetaraan antar sesama manusia, sikap saling menghormati dan penghargaan atas hakekat kemanusiaan sebagai dasar dalam berelasi. Manusia dalam moralitas otonom ini sudah “meninggalkan” mentalitas taat pada otoritas atau aturan sebagai satu-satunya kebenaran. Dengan nalarnya, manusia bisa mempertimbangkan apa yang baik dan benar bagi sosietasnya.

Dalam perspektif Piaget, manusia yang berkembang secara kognitif akan terarah pada moralitas otonom karena ia sudah mengerti hakekat dari moralitas. Piaget juga membagi tahapan perkembangan moral manusia menjadi empat tahap. Gagasan Piaget tentang moralitas heteronom dan otonom ini kemudian nantinya dielaborasi oleh Lawrence Kohlberg dalam teorinya tentang tahap-tahap perkembangan moral.

Dari penjelasan singkat di atas, bisa dipahami jika Jean Piaget menentang dengan keras gagasan Emile Durkheim (1858-1917) yang menyatakan bahwa pengetahuan moral merupakan warisan dari guru atau orang tua. Dengan demikian, pendidikan menurut Durkheim bersifat indoktrinasi kebajikan moral. Bagi Durkheim, sosialisasi moral merupakan tugas dari lembaga pendidikan walaupun ia menyadari bahwa manusia memiliki tiga unsur moralitas seperti semangat disiplin, keterikatan sosial dan otonomi yang menyebabkannya memiliki pilihan bebas (Durkheim, Moral Education, 1925).

 

Perkawinan Gagasan Piaget dan Durkheim dalam Pemikiran Lawrence Kohlberg

Kohlberg menyadari bahwa gagasan Piaget begitu mempengaruhi cara berpikirnya tentang perkembangan kognitif manusia. Bagi Kohlberg, benarlah adanya fakta bahwa seorang anak akan mengalami perkembangan kognitif dalam tahapan-tahapan yang baku. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya ini, penalaran moral dari anak tersebut juga akan berkembang.

Kohlberg melihat anak-anak sebagai filosof moral (Kohlberg, 1968). Anak-anak secara sadar dan aktif mulai membangun dunianya, memahami realitasnya dan memberikan penilaian atas kesehariannya. Mereka punya banyak cara untuk membuat sebuah penilaian moral, walau penilaian tersebut tidak diindoktrinasikan oleh guru atau orang tua mereka sebelumnya.

Namun berbeda dengan Piaget yang secara terang-terangan mengkritik gagasan Durkheim, Kohlberg sendiri melihat bahwa apa yang diajarkan oleh Durkheim ada benarnya, terutama mengenai gagasan bahwa pendidikan moral bukanlah soal penilaian pribadi, melainkan kolektif. Menurut Durkheim, pendidikan hanya menjadi nyata dan hidup ketika anak dimasukkan dalam suatu kelompok sosial. Dari kelompok dan proses sosial yang terjadi di dalamnya, anak bisa belajar tentang moralitas. Dengan demikian, Kohlberg menyimpulkan bahwa perkembangan kognitif-moral anak dilakukan oleh anak itu sendiri dengan mengelaborasi realitas sosial yang ia hidupi. Dalam pemahaman ini, pendidikan moral anak jelas terjadi dalam sebuah lembaga pendidikan yang memberikan ruang bagi anak untuk menalar dan mengelaborasi sendiri penilaian moral yang ia butuhkan dalam memahami realitas sosial di hadapannya.

 

Tahapan Perkembangan Moral

Lawrence Kohlberg, dalam teorinya tentang tahapan perkembangan moral, banyak terinspirasi dari pemikiran Jean Piaget. Menurut Kohlberg, manusia berkembang secara moral melalui tiga tahap yang sejalan dengan perkembangan kognitif manusia. Ia meyakini bahwa dengan semakin berkembangnya kognisi manusia maka kemampuan manusia untuk memberikan penilaian moral yang baik juga akan berkembang.

Kemampuan untuk memberikan penilaian moral ini tentu dilakukan dalam proses pendidikan. Dalam proses tersebut, para guru, misalnya, memberikan pertanyaan seputar hal-hal baik dan jahat, benar dan salah untuk menilai tindakan anak. Anak kemudian akan terus belajar untuk membuat penilaian moral yang baik dan benar karena kognisinya juga terus dididik. Hal yang tak bisa dilupakan tentunya bahwa pendidikan moral anak ini juga terjadi dalam relasinya dengan masyarakat atau lingkungan sosialnya.

Kohlberg membagi proses perkembangan moral manusia ke dalam tiga tahapan yaitu tahap pra-konvensional, tahap konvensional dan pasca konvensional (Kohlberg, 1971):

  1. Tingkat I: Pra-Konvensional

Pada tingkatan ini, anak bersikap responsif terhadap label-label kultural tentang apa yang baik atau buruk. Sikap responsif ini diterjemahkan dalam konsekuensi-konsekuensi hukuman yang bisa ia terima. Jika berbuat baik, ia akan dipuji. Jika berbuat tidak baik, ia akan dihukum. Moralitasnya muncul dalam bentuk kepatuhan kepada otoritas yang bisa memberikan pujian atau hukuman. Tingkat ini dibagi menjadi 2 tahap:

  • Tahap I: Orientasi Kepatuhan dan Ketakutan atas Hukuman

Pada tahapan ini, anak terorientasi pada hukuman yang mungkin ia terima atas kesalahan yang ia lakukan, ataupun ganjaran jika ia berbuat baik. Moralitas suatu tindakan dinilai atas akibat fisik yang bisa ia terima. Itulah sebabnya anak pada tahap ini begitu ego-sentris. Ia tidak memikirkan pribadi lain di luar dirinya.

  • Tahap II: Orientasi Naif Egoistis

Pada tahapan ini, anak melihat kebaikan hanya dalam perspektif kebutuhan, minat dan kepentingannya saja. Di sisi lain, ia tahu bahwa orang lain juga melakukan hal yang sama, namun ia membiarkannya saja. Kebenaran dilihat sejauh tindakan bisa memenuhi kebutuhan dirinya sendiri atau juga orang lain. Relasi manusia dilihat seperti pasar: berjalan sejauh kebutuhan dipenuhi.

  1. Tingkat II: Konvensional

Dalam tingkatan ini, kebaikan dilihat sejauh anak bisa melakukan apa yang diharapkan oleh orang lain. Tingkatan ini biasanya juga disebut tingkat konformitas. Namun bukan hanya soal konformitas, loyalitas pada kelompok di luar dirinya (keluarga, sekolah, pertemanan) menjadi suatu nilai yang baik. Anak mulai mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok lain. Tingkat ini dibagi menjadi dua tahap:

  • Tahap III: Orientasi Anak yang Baik

Dalam tahapan ini, anak menyesuaikan diri dengan kelompok lain, bahkan ia bisa bersikap altruistik. Anak tidak lagi mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Ia menyesuaikan diri dengan peraturan untuk menjaga relasi dengan kelompok lainnya. Agar dinilai sebagai anak yang baik, ia bertindak sesuai dengan harapan kelompoknya.

  • Tahap IV: Moralitas Pelestarian Otoritas dan Peraturan Sosial

Dalam tahap ini, loyalitas pada kelompok berganti ke arah loyalitas pada hukum. Hukum dan peraturan dilihat sebagai fondasi yang mempertahankan kelompok sosial. Jika ia tidak menaati aturan kelompok, ia akan menjadi pribadi yang ditolak oleh kelompok tersebut.

  1. Tingkat III: Pasca-Konvensional

Pada tingkat ini, manusia memelihara moralitas yang ia terima sendiri. moralitas bagi manusia di tingkat ini tidak lagi berasal dari ucapan orang ataupun hukum yang berlaku. Manusia di tingkat ini sudah bisa memperoleh nilai-nilai moral yang sahih dan bersifat universal untuk kemudian dijadikan sebagai miliknya sendiri. Tingkat ini dibagi menjadi dua tahap:

  • Tahap V: Moralitas Kontrak Sosial dan Hak-Hak Individu

Dalam tahap ini, manusia menemukan kebenaran setelah mempertimbangkan hak-hak individu secara umum yang telah dikaji secara kritis. Legalitas hukum memang diperhatikan, namun tetap prioritas utama adalah kesejahteraan masyarakat.  Dalam tahap ini, keyakinan moral memang lebih fleksibel menyesuaikan demi keuntungan kelompok yang lebih besar. Manusia mencari opsi terbaik dari yang baik.

  • Tahap VI: Moralitas Prinsip-Prinsip Individu dan Conscience

Dalam tahap keenam ini, kebenaran berasal dari suara hati individu manusia setelah ia memahami prinsip-prinsip universal tentang moralitas keadilan, HAM dan penghormatan terhadap martabat manusia. Rasionalitas yang dimiliki oleh manusia memampukan ia untuk memiliki prinsip-prinsip moral yang tegas. Ketika ada hukum yang mungkin bertentangan dengan prinsip moralnya ini, ia tak akan segan-segan untuk menentang atau tidak mematuhinya.

 

Metode Pendidikan Moral Kohlberg

Teladan Moral. Menurut Snarey dan Samuelson (2014), salah satu pendidikan moral Kohlberg yang kurang dikenali adalah teladan moral. Bagi Kohlberg, keteladanan moral merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan dasar anak karena nilai-nilai moral hanya menjadi hidup dalam sikap manusia. Dari keteladanan ini, anak bisa belajar tentang contoh moralitas yang sebenarnya. Dengan memberikan keteladanan moral, para pendidik moral mewujudnyatakan prinsip-prinsip moral sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh aspek rasional anak.

Diskusi Dilema Moral. Kohlberg meyakini bahwa pendidikan moral bagi anak sangat tepat jika dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, secara khusus untuk mata pelajaran yang berkaitan dengan humaniora ataupun ilmu sosial. Di dalam mata pelajaran tersebut, anak diberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang moralitas. Para pendidik cukup memberikan kasus dilema moral dan anak diberikan kesempatan untuk memberikan alasan atas pendapatnya mengenai kasus dilema moral tersebut. Selain itu, dalam The Effects of Classroom Moral Discussion upon Children’s Level of Moral Judgment (1975), Blatt dan Kohlberg menemukan bahwa kualitas perkembangan moral anak jauh lebih pesat ketika anak ditempatkan dalam kelompok umur yang sebaya.

Sekolah Komunitas Keadilan. Pada tahun 1974, Kohlberg mendirikan Sekolah Komunitas Keadilan. Keunikan dari sekolah ini adalah siswa dan guru memiliki hak dasar yang sama, yang telah mereka sepakati bersama dalam pertemuan komunitas mingguan. Cara terbaik menurut Kohlberg adalah anak harus belajar dari lingkungan sosial di mana ia hidup, dalam hal ini sekolah bisa menjadi salah satu opsi. Konsep pendidikan komunitas adil ini kemudian banyak diadopsi di sekolah-sekolah lain.

 

Kritik atas Pemikiran Lawrence Kohlberg

Salah satu kritik yang disampaikan oleh Roger R. Hock (1999) mengenai gagasan Kohlberg adalah inkonsistensi antara perkembangan kognitif-moral seseorang dengan perilakunya. Belum bisa dipastikan bahwa tingkat perkembangan moral anak dapat menjamin kualitas perilaku moralnya. Tentu masih ada faktor lain yang mempengaruhi perilaku moral manusia.

Kritik lainnya adalah mengenai universalitas pemikiran Kohlberg. Gagasan konsep pendidikan moral yang dimunculkan oleh Kohlberg tampaknya hanya sesuai jika dilaksanakan di Eropa dengan iklim demokratis. Konsep ini masih mendapat kesulitan jika ditempatkan di dalam konteks Asia yang dikelilingi oleh aturan budaya, moralitas agama, aturan adat dan konsep moralitas bangsa timur.

 

Penutup

Lawrence Kohlberg dalam pengalaman maupun gagasannya telah menunjukkan bahwa pendidikan moral merupakan hal yang fundamental bagi manusia. Sejalan dengan itu, ia telah menunjukkan fakta bahwa perkembangan moral manusia bisa berjalan beriringan dengan perkembangan kognitifnya. Proses ini bisa terlaksana dalam lingkungan pendidikan dimana guru memberikan pendidikan moral dan anak belajar langsung dari lingkungan sosialnya.

Indonesia, dengan segala krisis kesadaran moral dan budayanya, tentu saja bisa memasukkan pendidikan moral dalam kurikulum pendidikannya. Membiasakan anak untuk berpikir kritis, ilmiah dan penuh pertimbangan moral merupakan bagian dari tujuan pendidikan nasional. Tidak cukup manusia Indonesia menjadi cerdas, ia juga harus bermoral agar dapat bertindak secara baik dan benar dalam kesehariannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Blatt, M. & Kohlberg, L. “The Effects of Classroom Moral Discussion upon Children’s Level of Moral Judgments” dalam Journal of Moral Education, IV. 1975.

Durkheim, E. Moral Education: A Study in The Theory and Application of The Sociology of Education. New York: Free Press. 1925.

Hock, R. Roger. Fourty Studies That Changed Psychology. New Jersey: Prentice Hall. 1999.

Kohlberg, L. “The Child as a Moral Philosopher” dalam  PSYCHOLOGY TODAY, Vol. 2, No. 4. 1968.

Kohlberg, L. & Turiel, E. “Moral Development and Moral Education” dalam Lesser, G. Psychology and Educational Practice. Chicago: Scott Foresman. 1971.

Piaget, J. The Moral Judgement of The Child. New York: Free Press. 1932.

Suparno, Paul. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. 2001.

[1] Konsep ini bisa dilihat dalam pembaharuan Kurikulum 2013 di link:

http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/Paparan/Paparan%20Wamendik.pdf .

[2] Public Agenda didirikan pada tahun 1975 oleh seorang ilmuwan sosial dan penulis Daniel Yakenlovich bersama dengan mantan Sekretaris Negara AS Cyrus Vance. Public Agenda  didirikan dengan tujuan membantu masyarakat umum untuk memahami isu-isu tentang kebijakan penting, juga membantu para pemimpin dunia untuk melihat sudut pandang publik atas fenomena tertentu.

[3] Sebagai pembanding, bisa dilihat di https://www.britannica.com/biography/Lawrence-Kohlberg atau juga dari John Snarey & Peter Samuelson, “Pendidikan Moral dalam Tradisi Perkembangan Kognisi: Ide-Ide Revolusioner Lawrence Kohlberg”, dalam Larry P. Nucci & Darcia Narvaez, Handbook Pendidikan Moral dan Karakter, terj. Imam Baehaeqie dan Derta Sri W., Bandung: Penerbit Nusa Media, 2014.

 

TRI_2020Aug11_Artikel Trio 031

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *