Filsafat

MEROBEK STIGMA TERHADAP MANUSIA DAYAK

Oleh Trio Kurniawan (Founder Betang Filsafat, Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino)

 

Pendahuluan

Pengumuman resmi Presiden Joko Widodo mengenai pemindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Penajam paser Utara (Kalimantan Timur) berdampak pada banyak hal. Salah satu dampak langsungnya adalah pertanyaan ataupun diskusi mengenai eksistensi manusia Dayak yang merupakan penduduk asli Pulau Kalimantan. Ragam pertanyaan ataupun liputan media terkait manusia Dayak kembali bermunculan di banyak tempat (walaupun sudah sejak dahulu hal ini terjadi).

Dari sekian banyak perbincangan tentang manusia Dayak itu, topik-topik stigmatif kemudian tampaknya paling banyak diperbincangkan. Hal ini tampaknya sejalan dengan adagium yang mengatakan bahwa manusia lebih senang membaca apa yang ia inginkan, bukan yang sebenarnya. Itulah sebabnya kabar/berita buruk seringkali menjadi sebuah tema berita yang sangat baik. Gibah dan hal negatif tampaknya mendapat rating tinggi di masyarakat. Bad news is a good news. Manusia Dayak disebut gemar mabuk-mabukan, pemburu kepala manusia (headhunters) hingga objektivikasi tubuh wanita Dayak. Stigma ini menyakitkan dan perlu diluruskan.

Tulisan ini akan mengelaborasi berbagai hal terkait stigma terhadap manusia Dayak. Tulisan ini bisa dikategorikan sebagai sebuah “tulisan apologetik” yang didasarkan pada data. Sebagai catatan, Saya bukanlah seorang antropolog ataupun pakar budaya Dayak. Saya adalah seorang manusia Dayak dan pengajar Filsafat di STKIP Pamane Talino. Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam membedah persoalan ini adalah pendekatan filosofis murni. Penggunaan beberapa informasi penelitian antropologis-kultural terkait manusia Dayak digunakan sejauh relevan dan mendukung gagasan di tulisan singkat ini.

 

Manusia Dayak

Siapakah manusia Dayak? Pertanyaan ini sangat penting untuk diajukan sebelum kita memasuki persoalan terkait stigma terhadap manusia Dayak. Namun sebelum itu, menarik jika kita melihat penyebutan Pulau Kalimantan sebagai tempat tinggal manusia Dayak. Ragam dan sejarah penamaan Pulau Kalimantan ini sangat menarik juga untuk “diulik” karena akan menggambarkan perkembangan stigma atau stereotip terhadap manusia Dayak.

Simon Takdir[1] menguraikan dengan sangat baik perkembangan sejarah dan makna dari “Kalimantan”. Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini tulisan-tulisan tentang pulau ini, oleh penulis dari luar Indonesia, lebih sering menggunakan kata “Borneo” daripada “Kalimantan”. Hal ini bisa dimengerti karena dalam perjalanan sejarahnya orang-orang Eropa menggunakan kata Borneo untuk menyebut Pulau Kalimantan setelah mereka pertama kali mengadakan kontak dengan teritori ataupun penduduk Pulau Kalimantan.

Menurut Victor T. King[2] Borneo merupakan nama yang muncul dari orang Eropa dan bersumber dari kata aslinya, yaitu Burni. Burni merupakan nama sebuah negara dagang Islam abad ke-16 di sebelah Barat Laut Pantai Borneo. Pada saat itu, nama Burni digunakan untuk menyebut seluruh daratan Borneo. Dalam tulisan-tulisan berikutnya, Borneo juga sering ditulis dengan nama Burney, Burny, Borny, Borney, Berneo, Bornei dan lainnya.

Istilah Kalimantan sendiri secara resmi digunakan oleh orang Indonesia untuk menyebut pulau ini setelah penyerahan kedaulatan kepada NKRI pada 27 Desember 1949. Konteks semangat nasionalisme pada saat itu membuat nama Borneo secara perlahan memudar dan berganti dengan Kalimantan. Nama Kalimantan sendiri diyakini berasal dari pelbagai istilah, mulai dari Kali-Mantan (Sungai Besar – Tjilik Riwut) hingga Kalamantan – Lamanta (pohon sagu liar – Victor T. King).

Dalam buku Indonesia Di Ambang Sejarah,[3] van der Meulen menjelaskan bahwa nama Kalimantan digunakan untuk menyebutkan sebuah pulau yang subur dan kaya akan emas dan biji-bijian. Uniknya, penyebutan ini mirip dengan sebuah daerah yang ditulis oleh Claudius Ptolemaeus (astronom dan geograf Yunani) pada tahun 165 M. Beberapa ratus tahun kemudian, penyebutan yang kurang lebih sama muncul lagi di Prasasti Raja Sanjaya (732 M).[4] Sejarawan Indonesia meyakini bahwa pulau yang dimaksud oleh Ptolemaeus adalah Pulau Jawa. Namun van der Meulen meyakini bahwa pulau tersebut adalah Kalimantan karena Pulau Jawa tidak memiliki emas, perak dan intan.

Perkembangan tentang penamaan Pulau Kalimantan ini sejatinya menggambarkan beberapa hal yang kemudian akan berdampak pada cara melihat manusia Dayak dulu hingga saat ini:

  1. Pemahaman tentang Kalimantan sebagai sebuah pulau sejak awal diperoleh justru bukan dari penduduk aslinya, namun dari orang luar. Dengan demikian, “tafsir” atas pulau ini juga bisa dinilai sepihak;
  2. Catatan sejarawan menunjukkan bahwa sejak dahulu Kalimantan dikenal sebagai sebuah “surga yang ada di dunia”. Kalimantan, pada masa itu (hingga sekarang) dilihat sebagai pulau yang memendam harta karun;
  3. Penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949 dari Kalimantan kepada NKRI saat itu tampaknya merupakan bentuk euphoria Kemerdekaan Republik Indonesia. Masih perlu digali lagi catatan sejauh mana suku-suku Dayak menyetujui hal tersebut. Catatan ini sangat penting untuk menjelaskan fenomena manusia Dayak hari ini ketika berhadapan dengan nasionalisme ataupun pemerintahan.

Kembali ke paragraph awal di sub-bab ini: siapakah manusia Dayak? Ada sebuah tulisan menarik dari Masri Singarimbun terkait beberapa aspek kehidupan masyarakat Dayak.[5] Selain soal penamaan wilayah, pengenalan tentang aspek-aspek kehidupan masyarakat Dayak juga sangat penting untuk mengenali jati diri manusia Dayak.

Manurut catatan Masri, Dayak adalah sebuah nama kolektif untuk menyebut berbagai suku asli di Kalimantan. Dalam perjalanan sejarahnya, sebutan Dayak pernah dimaknai sebagai sesuatu yang merendahkan. Hal ini terjadi karena kelompok masyarakat di luar Dayak melihat manusia Dayak sebagai orang yang terbelakang, mempunyai kebiasaan mengayau, animisme dan lain sebagainya. Walaupun saat ini pemaknaan seperti itu sudah mulai berkurang, namun sebenarnya masih ditemukan cara berpikir dan menilai yang negatif terhadap manusia Dayak.

Aspek kehidupan manusia Dayak sangat luas dan mendalam. Namun paling tidak ada beberapa ciri dari kehidupan manusia Dayak, misalnya: bertempat tinggal di pedalaman (di tepi atau di lembah sungai), sistem pertanian berladang, memiliki agama tradisional (Kaharingan), tinggal di Betang/Lamin, bertato dan lainnya. Manusia Dayak hidup dalam kelompoknya masing-masing. Jarang ditemukan catatan di masa lalu dimana ada manusia Dayak yang merupakan seorang perantau. Artinya, hidup bersama/komunal adalah ciri mendasar dari manusia Dayak.

Lebih dari sekadar manusia yang menempati Pulau Kalimantan, manusia Dayak sejatinya adalah dia yang hidup dan menyejarah bersama alam Kalimantan. Tanah, udara, hutan dan sungai tidak dilihat semata persoalan objek semata. Alam adalah bagian dari hidup manusia Dayak.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa manusia Dayak jarang diberi ruang untuk mendefinisikan dirinya. Definisi atas manusia Dayak justru hadir dari catatan sejarawan dari luar manusia Dayak. Akibatnya, definisi tersebut seringkali sangat timpang dan tidak adil. Celakanya, catatan-catatan tersebut dijadikan dasar untuk menilai atau berelasi dengan manusia Dayak pada masa ini.

Manusia Dayak adalah dia yang egaliter dan hidup dalam sistem berpikirnya yang sangat mendalam dan kompleks. Menarik untuk diamati gagasan dari Benediktus Benik[6] tentang jati diri manusia Dayak saat berhadapan dengan alam. Manusia Dayak tidak melihat alam sebagaimana adanya. Alam memiliki jiwa/roh. Kepercayaan inilah yang kemudian membentuk tradisi ataupun ritus dalam masyarakat Dayak.

Secara filosofis, sistem berpikir manusia Dayak yang seperti ini tentu tidak sama dengan cara pikir manusia modern yang sangat teknis-materialis dalam melihat alam. Alam adalah diri manusia Dayak sendiri. Sistem berpikir seperti ini pulalah yang menyebabkan penilaian terhadap manusia Dayak menjadi sangat sepihak dan cenderung merendahkan. Kelompok manusia modern yang tidak memahami cara pikir manusia Dayak akan menganggap manusia Dayak terbelakang dan tidak mau berkembang. Padahal justru sebaliknya, manusia Dayak mengajarkan sebuah sistem berpikir unik dimana manusia dan alam saling melengkapi. Manusia Dayak tidak akan mengeksplotasi dirinya sendiri. Kelompok manusia modern tampaknya kurang mampu memahami sistem berpikir yang jenius semacam ini.

 

Stigma

Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, kerangka besar dari tulisan ini ada persoalan stigmatisasi pada manusia Dayak. Ada cukup banyak teori yang bisa digunakan untuk membedah konsep stigma. Saya memilih untuk menggunakan konsep Erving Goffman tentang stigma.

Erving Goffman adalah seorang filsuf dan sosiolog asal Kanada yang dilahirkan pada 11 Juni 1922. Ia banyak dikenal karena Teori Dramaturgi dan Teori Stigma (disamping ada sangat banyak karyanya yang lain. Beberapa karyanya yang paling sering dibaca adalah The Presentation of Self in Everyday Life dan Stigma: Notes the Management of Spoiled Identity.

Erving Goffman mendefinisikan stigma sebagai “attribute that is deeply discrediting”.[7] Stigma adalah atribut yang ditempelkan pada perseorangan atau kelompok dan sangat merendahkan. Alasan untuk merendahkan ini bisa disebabkan oleh warna kulit, ukuran tubuh, catatan kriminal, cacat, penyakit kejiwaan, kesukuan dan banyak lainnya. Singkatnya, keberadaan stigma dimaksudkan untuk memperburuk citra seseorang atau kelompok. Goffman sendiri menyadari bahwa kebanyakan manusia pasti pernah mengalami distigmatisasi.

Bagaimana stigma terbentuk? Menurut Erving Goffman, stigma terbentuk karena ada celah/ruang antara identitas yang diharapkan/diasumsikan (virtual social identity) dengan identitas yang tampak/terbukti (actual social identity). Identitas ini lahir dalam keterkaitannya dengan “Diri” (Self). Self adalah konsep tentang hasil dari cara individu dalam melihat atau memaknai dirinya sendiri. Self juga terbentuk dari cara individu dalam menyikapi pandangan orang lain terhadap dirinya.

Dalam Teori Dramaturgi, Self adalah ruang Back Stage (panggung belakang) dari keseharian manusia. Di panggung belakang ini, manusia menjadi dirinya sendiri tanpa perlu harus mengikuti keinginan atau aturan di luar dirinya. Self memang mengandaikan ruang kesendirian manusia dan orisinalitasnya.

Di sisi lainnya, identitas lahir di Front Stage (panggung depan). Di panggung depan ini, manusia berusaha untuk menampilkan citra yang baik karena hidupnya adalah “tontonan” banyak orang. Ketika actual social identity sejalan dengan virtual social identity, individu tersebut dapat diterima dalam kelompok masyarakat. Sebaliknya, individu akan ditolak dan distigmatisasi ketika actual social identity tidak sejalan dengan virtual social identity.

Pada titik ini, stigma hanya bisa dimengerti sejauh berada dalam sebuah relasi sosial. Tanpa adanya komunitas masyarakat yang menjamin relasi, stigma tidak akan terbentuk. Stigma juga tergantung pada pengetahuan individu/kelompok tentang objek yang distigmatisasi. Selain itu, karena stigma adalah soal relasi sosial, maka stigma sangat erat kaitannya dengan sebuah relasi kuasa. Hanya pihak yang merasa (atau benar-benar berkuasa) yang dapat memberi stigma. Stigma dibuat sebagai kontrol atas individu agar tercipta keseragaman.

 

Stigma Pada Manusia Dayak

Ada cukup banyak stigma yang dilekatkan pada manusia Dayak. Sebagaimana yang dituliskan di bagian pendahuluan, stigma ini menyakitkan bagi manusia Dayak. Klaim yang dilakukan lewat pemberian stigma ini seringkali berat sebelah dan digeneralisir. Berikut adalah beberapa stigma yang dilengketkan pada manusia Dayak:

  1. Orang Dayak Senang Mabuk-Mabukan

Penjelasan tentang stigma ini bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana: suku apa di Indonesia yang tidak memiliki minuman keras khasnya? Hampir semua suku di Indonesia memiliki minuman alkohol khas suku/daerahnya. Dalam artikelnya, Cita mengatakan bahwa minuman alkohol tradisional khas Indonesia seperti arak Bali, ballo, moke, dan lainnya secara historis tidak hanya sekedar minuman yang mengandung kadar alkohol tertentu namun memiliki peran serta nilai (value) dalam kehidupan masyarakat adat sejak dahulu kala mulai dari ritual keagamaan, ritual adat istiadat, dan simbol dalam kegiatan kehidupan sehari-hari.[8]

Konsep inilah yang sebenarnya terjadi juga di manusia Dayak. Tuak (minuman alkohol khas Dayak) adalah minuman beralkohol yang digunakan dalam ritual adat. Minuman ini termasuk minuman sakral dalam ritual tersebut. Ketika tuak digunakan dalam acara adat, tidak tepat jika disimpulkan bahwa manusia Dayak senang mabuk-mabukan. Sebagai catatan, perilaku minum-minuman keras (beralkohol) hingga mabuk juga terjadi di banyak tempat dan suku. Cara pikir stigmatif dan mengeneralisir seperti ini seharusnya tidak terjadi lagi.

  1. Orang Dayak adalah Perusak Hutan

Sebagaimana yang Saya paparkan di bagian Manusia Dayak, alam adalah bagian dari hidup manusia Dayak. Tentu sangat tidak masuk akal ketika manusia Dayak diberi stigma sebagai perusak hutan karena menerapkan sistem ladang berpindah. Ini adalah tuduhan dan stigma yang sangat tidak berdasar.

Sistem ladang berpindah seperti yang dilakukan oleh manusia Dayak adalah bentuk penyesuaian hidup manusia Dayak terhadap lingkungannya.[9] Sistem ladang berpindah yang dibuka dengan membakar lahan ini sudah terlaksana sejak lama. Untuk membuka lahan, ada ritual adat yang dilakukan. Pembatasan wilayah ladang untuk dibakar juga dibuat agar api tidak menyebar. Singkatnya, karena manusia Dayak percaya bahwa alam memiliki jiwa/roh, tentu manusia Dayak sangat hati-hati dan tidak serakah saat membuka lahan untuk berladang.

  1. Wanita Dayak Memiliki Ilmu Magis

Salah satu stigma yang cukup menggelikan adalah terkait wanita Dayak yang memiliki ilmu magis sehingga bisa menghilangkan alat kelamin pria yang mempermainkan wanita Dayak. Stigma ini sangat merendahkan karena menganggap wanita Dayak tidak humanis dan berpendidikan. Uniknya, stigma seperti ini dipercaya hingga saat ini.

  1. Wanita Dayak Cantik (Objektivikasi)

Dalam banyak kesempatan, stigma “wanita Dayak cantik” tidak ditempatkan pada tingkat pujian, namun lebih ke arah objektivikasi wanita Dayak. Dalam pandangan kelompok pemberi stigma ini, kecantikan wanita semata-mata dilihat sebagai pemuas nafsu dan imajinasi liar mereka. Cara pikir para pemberi stigma ini tampaknya lahir dari kebiasaan dan kesadaran mereka dalam melihat wanita di lingkungan tempat hidupnya. Mereka pikir semua orang memandang wanita sebagaimana mereka memandang wanita.

  1. Orang Dayak Barbar (Pengayau)

Stigma manusia Dayak sebagai orang yang barbar ini muncul karena pemberitaan tentang sistem kayau (pemburuan kepala manusia) di kelompok manusia Dayak. Masri Sareb mengatakan bahwa citra primitif dan peyoratif terhadap manusia Dayak sebenarnya dimulai dari para pelancong Barat pada abad ke-18 yang mau mencari “nilai berita” dan menjual keunikan dari manusia Dayak yang mereka kunjungi.[10] Salah satu komoditas yang menarik untuk “dijual” adalah informasi tentang manusia Dayak yang melakukan praktek mengayau.

Praktek mengayau sendiri sudah dihentikan sejak tahun 1894 dalam Perjanjian Tumbang Anoi. Sebelum Perjanjian Tumbang Anoi, mengayau tidak diterjemahkan sebagai sebuah kegemaran untuk memenggal kepala manusia. Harus ada alasan yang kuat bagi manusia Dayak untuk mengayau. Alasan ini dikemukakan dalam musyawarah adat. Jika tidak ada alasan yang rasional, pengusul mengayau bisa dihukum adat. Beberapa alasan yang menyebabkan manusia Dayak mengayau adalah melindungi ladang, alasan spiritual, balas dendam dan sebagai pondasi bangunan. Namun, ada satu alasan lainnya untuk mengayau, yaitu mempertahankan diri.

Saya tentu tidak bermaksud membenarkan tindakan penghilangan nyawa. Namun, alasan-alasan di atas juga terjadi dalam banyak suku bangsa atau (bahkan) dalam manusia modern. Dengan demikian, stigma manusia Dayak sebagai pengayau sudah seharusnya dihapus karena sudah tidak memiliki dasar yang kuat, terlebih praktek tersebut sudah hilang sejak Perjanjian Tumbang Anoi.

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa stigma yang diberikan pada manusia Dayak sangat “berat sebelah”. Stigma-stigma ini harus dihapuskan, terlebih pada saat ini dimana konsep kesetaraan manusia semakin diperjuangkan.

 

Merobek Stigma

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana cara merobek stigma seperti ini? Jika merujuk pada teori Erving Goffman, tindakan stigmatisasi akan selalu ada dalam kelompok masyarakat yang hierarkis-struktural (non-egaliter). Selama kelompok masyarakat tidak mampu mengakomodasi perbedaan, maka stigma akan selalu bermunculan. Selama standar kebenaran-normatif hanya menjadi milik satu kelompok saja, maka tindakan perendahan martabat manusia di luar kelompok akan selalu ada.

Menurut Patrick Corrigan dan David L. Penn, paling tidak ada 3 hal yang bisa dilakukan untuk mereduksi stigma, yaitu melakukan protes, kontak sosial dan pengembangan pendidikan.[11] Tulisan ini sejak awal memang dimaksudkan sebagai sebuah tulisan “apologetik”. Ketika Saya memaksudkan demikian, hal yang sebenarnya terjadi adalah Saya sedang menggunakan cara pertama: protes. Perilaku stigmatif bisa dilawan dengan protes yang rasional.

Tentu ada banyak metode protes yang bisa dilakukan. Namun, salah satu metode protes yang elegan adalah melalui karya kreatif ataupun tulisan. Jürgen Habermas, salah satu filsuf dari generasi ke-2 Mazhab Frankfurt, dalam banyak kesempatan menunjukkan ketidaksetujuannya atas tindakan revolusi fisik (lewat pemberontakan maupun kekerasan) untuk mengembalikan tata sosial masyarakat menuju arah yang lebih baik. Bagi Habermas, rasionalitas manusia sangat mencukupi untuk memperbaiki tata sosial kemasyarakatan.

Manusia Dayak, untuk melawan stigma, bisa melakukan protes dengan publikasi di media sosial ataupun karya kreatif lainnya. “Cacat nalar” para pemberi stigma hanya bisa diperbaiki lewat perbaikan nalar. Protes ini tentu harus dilakukan secara terus-menerus dan sistemik agar stigma-stigma tersebut bisa hilang.

Cara kedua yang bisa dilakukan adalah kontak sosial. Apa artinya? Kontak sosial yang dimaksudkan di sini adalah keterbukaan dari manusia Dayak untuk memberi ruang bagi pihak luar melihat, mendengarkan dan mengalami sendiri kebaikan dari manusia Dayak. Erving Goffman menjelaskan bahwa stigmatisasi terjadi karena ada celah antara identitas yang diharapkan dan identitas yang terlihat. Sejatinya, untuk mengetahui manusia Dayak yang sebenarnya, sisi yang harus diamati adalah self (jati diri keseharian manusia Dayak). Dengan memahami sistem berpikir manusia Dayak, pihak luar akan mengerti alasan dan dasar tindakan manusia Dayak. Ketidaktahuan hanya akan membawa pada penghakiman tanpa dasar.

Namun demikian, cara kedua ini tidak selalu mudah dilakukan. Kelompok manusia Dayak hidup dalam komunitasnya masing-masing. Dalam sejarah tentang praktek mengayau, salah satu alasan mengayau adalah munculnya ancaman terhadap kelompok. Kehadiran pihak lain ke komunitas Dayak bisa jadi adalah ancaman bagi stabilitas kelompok.

Naluri untuk selalu merasa waspada ini diwariskan kepada setiap keturunan manusia Dayak. Itulah sebabnya, orang Dayak akan selalu merasa nyaman jika tinggal dengan kelompok sesuku, walau saat itu ia sedang merantau. Ketika manusia Dayak berada di luar pulaunya, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari informasi tentang siapa rekan sesuku atau sedaerahnya. Komunitas adalah “zona nyaman” manusia Dayak. Pandangan ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengeneralisir seluruh manusia Dayak. Ada cukup banyak juga manusia Dayak yang nyaman dan mampu hidup sendiri di perantauan.

Manusia Dayak dewasa ini cukup selektif untuk menerima “orang baru” dalam komunitasnya. Tetapi jika orang tersebut dinilai baik, manusia Dayak akan memperlakukannya sebagaimana diri mereka sendiri. ia akan diterima dengan sangat baik. Namun jika manusia Dayak dikecewakan/dikhianati oleh “orang baru”, manusia Dayak bisa menjadi sangat tegas bagi orang tersebut. Percampuran penduduk yang “dipaksakan” saat ini di Kalimantan seringkali menimbulkan konflik horizontal karena “orang baru” seringkali dinilai “mengancam” keberadaan manusia Dayak.

Cara ketiga adalah melalui pendidikan. Pendidikan menjadi media paling tepat untuk melawan stigma. Harus diakui bahwa kualitas pendidikan untuk manusia Dayak masih sangat minim. Dalam beberapa kesempatan diskusi internal, Saya mengemukakan pendapat berikut: “Manusia Dayak tampaknya sengaja dibiarkan tidak berpendidikan. Akses terhadap pendidikan berkualitas sengaja dibatasi. Entah untuk alasan apa. Mungkin saja supaya kekayaan alamnya dengan mudah dikeruk”.

Pendapat pribadi tersebut bukan tanpa alasan. Masih sangat banyak anak-anak muda Dayak yang tidak bersekolah. Harus pula diakui bahwa masih ada anak muda Dayak yang tidak mau bersekolah. Faktor penyebabnya tentu beragam. Jika manusia Dayak ingin menghapus stigma di atas: bersekolahlah! Anak-anak muda Dayak harus meraih pendidikan setinggi dan sedalam mungkin. Ambil kesempatan bersekolah. “Curi” ilmu dari banyak tempat. Setelah lulus, kembalilah ke Kalimantan dan kembangkan manusia Dayak. Padukan antara nilai-norma suku dengan riset atau inovasi terbaru.

Nature dari manusia Dayak adalah komunitas. Ketika komunitas Dayak diperkuat oleh intelektual-intelektual Dayak yang terus bermunculan, tanah dan air dimana manusia Dayak hidup akan terjaga. Manusia Dayak sejatinya harus mampu memahami dan bertanggungjawab terhadap sektor-sektor esensial dari kehidupan di Kalimantan. Ada banyak bidang ilmu ataupun pekerjaan yang memerlukan kualitas terbaik dari manusia Dayak. Sudah saatnya generasi muda Dayak belajar sebanyak mungkin, menguasai ilmu dan membuat inovasi yang ramah dengan alam. Bayangkan situasi dimana inovasi, teknologi dan keseimbangan alam berjalan bersamaan. Ini hanya mungkin jika dilakukan oleh intelektual Dayak karena hidup bersama alam sudah ada dalam nadinya.

Salah satu catatan penting juga terkait pendidikan ini adalah tentang cara manusia Dayak mendidik dirinya. Dalam salah satu diskusi dengan Dr. Albert Rufinus (peneliti Dayak), saya menemukan informasi bahwa cara manusia Dayak mendidik dirinya sangat unik. Menurut Albert Rufinus, manusia Dayak, dalam tradisinya, tidak mengenal sistem pendidikan formal seperti sekarang ini. Manusia Dayak mendidik diri dan komunitasnya lewat keteladanan. Orang tua akan menunjukkan caranya dan anak-anak akan meniru. Ketika orang tua Dayak ingin mendidik anak untuk mencintai alam, ia akan mengajak anak-anaknya ke ladang, hutan ataupun sungai. Ia akan menunjukkan ritual adat untuk menghormati alam.

Salah satu cara mendidik lainnya di manusia Dayak adalah lewat tradisi bertutur. Orang tua Dayak (atau yang dituakan) biasanya bercerita kepada anak-anak di Betang. Ceritanya bisa sangat beragam. Namun yang pasti, ada pesan yang selalu disampaikan di setiap cerita tersebut.

Kolaborasi antara sistem pendidikan formal saat ini dengan cara manusia Dayak mendidik dirinya belum terjalin. Manusia Dayak “dipaksa” untuk tercabut dari akarnya lewat sistem seperti ini. Cara-cara baru dipaksakan untuk dihidupi oleh manusia Dayak tanpa pihak luar mau mendengarkan dan melihat cara manusia Dayak menyejarah dan menjalankan kehidupannya. Secara tidak sadar, manusia Dayak akan kehilangan selfnya, terlebih ketika pengagungan terhadap modernitas terus dilakukan.

Tanggung jawab untuk menjaga bumi Kalimantan pertama-tama ada di pundak manusia Dayak. Inilah cara manusia Dayak untuk merobek stigma.

 

Penutup

Stigma memang menyakitkan. Pemberi stigma adalah subjek yang cacat nalar. Namun demikian, manusia Dayak tidak harus hidup dalam stigma tersebut terus menerus. Teori dari Erving Goffman sangat membantu kita untuk melihat dasar logis dari kemunculan stigma sehingga tindakan yang akan dilakukan terhadap pemberi stigma juga akhirnya bisa dirumuskan.

Tawaran untuk merobek stigma terhadap manusia Dayak adalah sebuah keniscayaan. Adalah tanggung jawab semua pihak, secara khusus manusia Dayak, untuk melawan perilaku stigmatif. Protes, kontak sosial dan pendidikan adalah alternatif yang bisa diambil.

Saya mengundang semakin banyak anak muda Dayak untuk menjawab persoalan ini bersama-sama. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga komunitas kita dan bumi Kalimantan. Saya menunggu munculnya ilmuwan-ilmuwan muda Dayak yang bisa membangun tanah warisan leluhur ini. This is our wake up call!

 

*Tulisan ini dipresentasikan dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Mahasiswa Dayak Atma Jaya Yogyakarta tanggal 25 September 2021

 

REFERENSI

Alqadri, Syarif I. “Kepercayaan Nenek Moyang dalam Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat dan Hubungannya dengan Kehidupan Sosioekonomi dan Budaya Mereka”. Suara Almamater Universitas Tanjungpura. No 3 Juli 1991.

Benik, Benediktus. Memahami Tuhan melalui Alam: Religiusitas Dayak Kalimantan. Jakarta: Yayasan Martinus de Porres. 2010.

Corrigan, Patrick dan Penn, David L. “Lessons from Social Psychology on Discrediting Psychiatric Stigma”. American Psychologist, Oktober 1999.

Goffman, Erving. Stigma: Notes the Management of Spoiled Identity. New York: Simon and Schuster. 1963.

Meulen, W. J. van der. Indonesia Di Ambang Sejarah. Yogyakarta: Kanisius. 1988.

Sareb Putra, Masri. “Makna Di Balik Teks Dayak sebagai Headhunter”. Jurnal Communication Spectrum, Vol.1, No. 2, Agustus 2011-Januari 2012.

Serfiyani, Cita Yustisia, dkk. “Perlindungan Hukum terhadap Minuman Alkohol Tradisional Khas Indonesia”. Jurnal Negara Hukum, Vol. 11, No. 2 November 2020.

Singarimbun, Masri. “Beberapa Aspek Kehidupan Masyarakat Dayak”. Jurnal Humaniora. No. 3, 1991.

Takdir, Simon. Autronesia Dayaka tentang Kelompok Suku Salako Dayaka Borneo. Pontianak: Top Indonesia. 2017.

 

[1] Simon Takdir, Autronesia Dayaka tentang Kelompok Suku Salako Dayaka Borneo, Pontianak: Top Indonesia, 2017, hlm. 1-14.

[2] Ibid.

[3] W. J. van der Meulen, Indonesia Di Ambang Sejarah, Yogyakarta: Kanisius, 1988.

[4] Op. Cit., Simon.

[5] Masri Singarimbun, “Beberapa Aspek Kehidupan Masyarakat Dayak”, Jurnal Humaniora, No. 3, 1991, hlm. 139-150.

[6] Benediktus Benik, Memahami Tuhan melalui Alam: Religiusitas Dayak Kalimantan, Jakarta: Yayasan Martinus de Porres, 2010, hlm. 30-31.

[7] Erving Goffman, Stigma: Notes the Management of Spoiled Identity, New York: Simon and Schuster, 1963.

[8] Cita Yustisia Serfiyani, dkk., “Perlindungan Hukum terhadap Minuman Alkohol Tradisional Khas Indonesia”, Jurnal Negara Hukum, Vol. 11, No. 2, November 2020, hlm. 267-287.

[9] Syarif I. Alqadri, “Kepercayaan Nenek Moyang dalam Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat dan Hubungannya dengan Kehidupan Sosioekonomi dan Budaya Mereka”, Suara Almamater Universitas Tanjungpura, No 3 Juli 1991.

[10] Masri Sareb Putra, “Makna Di Balik Teks Dayak sebagai Headhunter”, Jurnal Communication Spectrum, Vol.1, No. 2, Agustus 2011-Januari 2012.

[11] Patrick Corrigan dan David L. Penn, “Lessons from Social Psychology on Discrediting Psychiatric Stigma”, American Psychologist, Oktober 1999.

 

Sumber Gambar Featured: https://www.idntimes.com/travel/destination/bayu-widhayasa/10-potret-pesona-suku-dayak-di-kalimantan-c1c2

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *