Artikel

MENYEMBUHKAN RELASI MANUSIA DAN ALAM: Studi Sistem Perladangan Orang Dayak Kanayat’n Dengan Pendekatan C.A. Van Peurson (Part 3 – Selesai)

Penulis: Fransiskus Kebry, CM (Imam Katolik, Pemerhati Lingkungan Hidup)

 

Sistem Perladangan: Wujud Relasi Mitis Orang Dayak dengan Alam

Kita telah melihat bagaimana tahap-tahap pembuatan  ladang dalam masyarakat Dayak Kanyat’n. Kita juga telah menguraikan tiga pola relasi antara manusia dan alam menurut Van Peurson. Setelah mengetahui keduanya kita dapat mengatakan bahwa dalam sitem perladangan orang Dayak kita dapat menemukan suatu pola relasi seperti yang dijelaskan Van Peurson. Pola relasi itu masuk pada tahap yang disebut tahap mitis.

Pada tahap ini seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa antara manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang identik satu dengan yang lainnya. Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa dilepaskan dengan keberlangsungan hidup alam yang didiaminya. Merusak alam berarti sama halnya dengan merusak manusia itu sendiri. Apa yang menjadi unsur dalam pola ini juga tergambar atau terwujud dalam tradisi membuat ladang dalam masyarakat Dayak.

Ritual-ritual yang dilakukan dalam setiap proses pembuatan ladang menunjukkan adanya kesatuan antara orang Dayak dengan alam.Ritual-ritual itu juga menunjukkan bahwa manusia Dayak tidak dapat mengolah alam seenaknya sendiri atau dengan kata lain sebelum bertindak harus mendapatkan restu dari alam. Orang Dayak percaya kalau restu itu diberikan maka proses pembuatan ladang akan berjalan lancar. Untuk meminta restu itu diperlukan syrat-syarat seperti sesajian dan ritus-ritus tertentu.

Mulai dari menentukan lahan sampai pada pesta panen semuanya membutuhkan ijin dari ‘alam’. orang Dayak tidak memandang dirinya sebagai subjek yang berkuasa atas hutan melainkan sebagai bagian dari alam atau hutan. Sikap-sikap orang Dayak untuk menghormati dan menjaga alam yang terungkap dalam sistem perladangannya merupakan bagian dari usaha orang Dayak untuk melestarikan keberlangsungan hidupnya. Melukai alam sama dengan melukai orang Dayak sendiri. Merusak alam juga berarti merusak keberlangsungan hidup orang Dayak sendiri. Untuk mengembalikan keharmonisan itu harus ada rekonsiliasi. Oleh karena itu akan ada hukum adat bagi mereka yang merusak alam. Dalam sistem perladangan hal ini dibuktikan dalam hukuman yang diberikan kepada pihak yang mempunyai ladangapabila dalam membakar ladang apinya melewati batas yang ditentukan.

Pada tahap mitis ini menjadi sangat mungkin kelestarian alam terpelihara dengan sangat baik. Dengan demikian hutan, sungai, binatang hutan, dapat memberikan kehidupan kepada manusia dan hidup manusiapun dapat berlangsung.

Seiring dengan masuknya budaya luar, maka budaya berladang dengan segala ritual yang ada di dalamnya juga mengalami perubahan bentuk bahkan terancam hilang. Perubahan ini tentu mempengaruhi pola relasi manusia Dayak dengan alam. Perubahan pola relasi seperti apakah yang terjadi antara orang Dayak dan alam? membangun? Atau menghancurkan?

 

Transformasi Pola Relasi Manusia Dayak dengan Alam

             Akan tetapi, sistem perladangan itu dituduh secara sepihak cenderung merusak hutan, rendah teknologi, dan tidak produktif. Melalui pelbagai program pembangunan di sektor pertanian, mereka digiring bahkan dipaksakan untuk bertani menetap dengan sistem persawahan atau perkebunan yang berorientasi pada industri. Pergeseran dari masyarakat ladang ke masyarakat industri (pascaadat), tak pelak juga menjadi faktor penyebab melemahnya kelembagaan adat.[1]

Modernisasi merupakan tahap ketiga dari pola-pola relasi manusia dengan alam menurut Van Peurson. Tahap fungsional atau modern ini akan memberi dampak positif apabila manusia terlebih dahulu masuk pada tahap ontologis. Tahap ontologis merupakan tahap yang mengandaikan adanya perkembangan akal budi atau pengetahuan pada manusia.Perkembangan akal budi atau pengetahuan merupakan hasil dari pendidikan. Dengan akal budi dan pengetahuan yang memadai akan membuat manusia siap untuk masuk pada tahap fungsional.Ketidaksiapan manusia akan berdampak buruk pada dirinya ketika masuk pada tahap ini kerena dia bisa kehilangan identitas dirinya. Relasi yang terjadi pada tahap fungsional merupakan relasi yang seharusnya membuat subyek dan obyek  yaitu manusia dan alam menjadi berkembang bukan sebaliknya.

Saat ini pola relasi manusia Dayak dengan alam sedang mengalami transformasi. Transformasi ini tidak lepas dari masuknya pengaruh globalisasi di tanah borneo. Modernisasi adalah salah satu dari bentuk pengaruh globalisasi tersebut. Dalam pengertian Van Peurson relasi masyarakat Dayak dengan alam masuk pada tahap fungsional. Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah tahap fungsional yang dimaksudkan Van Peurson bahwa subyek dan obyek berkembang juga terjadi dalam relasi manusia Dayak dengan alamnya?

Terjadi perubahan yang signifikan dalam diri manusia Dayak saat ini. Salah satu yang sudah diungkapkan di atas adalah perubahan sistem perladangan yang lebih berorientasi pada industri. Sistem perladangan tradisional ditinggalkan karena dianggap pemerintah dapat merusak hutan. Kebijakan pemerintah yang mengatakan bahwa sistem perladangan tradisional itu merusak hutan apakah bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan? Atau mempunyai maksud lain?

Apabila melihat faktor yang mendorong perubahan sistem perladangan masyarakat Dayak dapat disimpulkan bahwa perubahan yang terjadi seolah-olah dipaksakan. Perubahan yang terjadi tidak disertai dengan usaha untuk mengembangkan pengetahuan dan akal budi manusia Dayak. Padahal untuk masuk dalam tahap fungsional seperti yang dimaksudkan Van Peurson sisubyek yaitu manusia paling tidak mempunyai karakter manusia modern. Identitas manusia modern ditemukan pada tahap ontologis di mana rasionalitas sangat ditekankan. Tahap inilah yang belum dilalui masyarakat Dayak. Masyarakat Dayak yang masih berada di tahap mitis dipaksakan melompat ke tahap fungsional yang menuntut adanya kemampuan akal budi dan pengetahuan yang memadai. Bagaimana identitas masyarakat Dayak dapat bertahan pada tahap fungsional apabila dia tidak mempunyai kemampuan akal budi dan pengetahuan yang memadai?

Mungkin bisa dikatakan manusia Dayak sedang mengalami dua tahap sekaligus yaitu ontologis dan fungsional yang akhirnya membuat masyarakat Dayak bingung dengan identitas dirinya yang sekarang. Karena akal budi yang tidak dikembangkan dan pengetahuan yang terbatas keberlangsungan hidup masyarakat Dayak menjadi terancam. Mungkin sebagai manusia tetap ada tapi yang dikhawatirkan adalah keDayakannya yang menghilang. Mengapa demikian?

Saat ini tanpa disadari masyarakat Dayak sebenarnya sedang melukai dirinya sendiri. Masyarakat Dayak sekarang mudah terpengaruh untuk menjadikan alam sebagai sumber penghasilan yang dapat dieksploitasi sesuka hati. Kebanyakan Orang Dayak tidak lagi tertarik membuka ladang dengan segala aturan dan syarat yang ada dalam tradisinya. Karena hal itu bukanlah pekerjaan yang mendatangkan hasil yang banyak. Mereka lebih memilih bekerja di perkebunan sawit dan menambang emas yang hasilnya bisa berkali-kali lipat dibandingkan berladang.  Mudah terpengaruhnya manusia Dayak disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan dampak yang terjadi apabila mereka melakukan eksploitasi terhadap alam yang sebenarnya adalah diri orang Dayak sendiri. Alam tidak lagi dilihat sebagai kesatuan dengan dirinya. Ritual-ritual yang masih dilakukan sekarang tidak lagi dilihat sebagai bentuk kesatuan dengan alam, tetapi hanya sekedar formalitas atau syarat saja. Karena kalau orang Dayak melakukannya atas dasar kesatuan dengan alam, maka tidak mungkin orang Dayak dengan mudah membiarkan alamnya terluka oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri.

Melihat transformasi relasi manusia Dayak dengan hutan, kita dapat menyimpulkan bahwa pola relasi orang Dayak dengan alam sekarang ini tidak dapat disejajarkan dengan pola relasi menurut Van Peurson.Tiga tahap pola relasi yang diterangkan Van Peurson menunjukkan adanya perkembangan pola pikir dalam diri manusia. Mulai dari pola pikir yang sederhana pada tahap mitis sampai pada pola pikir yang kompleks dalam tahap fungsional atau modernisasi. Atau dengan kata lain perubahan cara berpikir holistik-intuitif ke arah pikiran yang bersifat analitik. Perkembangan pola pikir sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang diterima oleh manusia sebagi subyek. Inilah yang tidak terjadi pada masyarakat Dayak. Sampai saat ini pola pikir yang bersifat holistik-intuitif masih mendominasi masyarakat Dayak. Padahal situasi menuntut pola pikir analitik.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang pemerhati suku Dayak yaitu Rudi Haryo bahwa persoalan dalam proses transformasi budaya saat ini, apakah masyarakat Dayak telah mengarah pada cara berpikir yang bersifat analitik. Atau justru karena keterkejutan budaya, membuat masyarakt Dayak kian terbenam pada pemikiran holistik-intuitif.

Kemajuan teknologi yang masuk dalam masyarakt Dayak tidak bersamaan dengan kemajuan pola pikir masyarakat Dayak. Hal ini mengakibatkan bukan manusia Dayak yang menguasai teknologi melainkan teknologilah yang menguasai orang Dayak. Dengan mempunyai barang-barang teknologi orang Dayak seolah-olah sudah menguasai teknologi. Oleh karena itu orang Dayak berlomba-lomba ingin mempunyai barang-barang yang merupakan wujud dari kemajuan teknologi tersebut. Misalnya seperti TV, parabola, sepeda motor, HP, gadget, dll. Untuk memperoleh benda-benda tersebut tentunya dibutuhkan uang yan tidak sedikit. Oleh karena itu demi memenuhi kebutuhan akan teknologi tersebut orang Dayak akhirnya rela meninggalkan ladangnya lalu ikut ambil bagian dalam eksploitasi alam seperti perkebunan sawit, penambangan emas di sungai, penebangan kayu yang akhirnya berdampak pada pengrusakan alam dan manusia Dayak sendiri.Jadi pola relasi manusia Dayak dengan alam tidak terlepas dari pengaruh budaya luar yang masuk ke dalam masyarakat Dayak.

Budaya modern yang terjadi pada masyarakat Dayak adalah “kebudayaan modern tiruan”. Ia terwujud dalam suatu lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegerlapan teknologi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah semata.[2] Kebudayaan modern tiruan hidup dari ilusi, bahwa asal seseorang bersentuhan dengan hasil teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal duania artifisial itu, tidak memberikan sumbangan apapun terhadap jati diri seseorang.[3] Modernisasi yang membuat identitas manusia berkembang seperti yang dijelaskan Van Peurson tidak terjadi pada orang Dayak.

 

Pola Relasi yang Menyembuhkan: Kembali Pada Identitas Awal

Pola relasi manusia Dayak dengan alam yang tercetus dalam sistem perladangan merupakan suatu nilai yang sangat berharga. Dalam pemikiran Van Peurson pola relasi semacam ini berada pada tahap mitis yang mempunyai ciri bahwa antara manusia dengan alam seolah-olah mempunyai kesatuan yang identik satu dengan yang lainnya. Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa terlepas dengan keberlangsungan hidup alam yang didiaminya. Tradisi berladang yang dilakukan orang Dayak secara turun temurun bisa dikatakan sebagai identitas awal orang Dayak. Karena sejak jaman dulu orang Dayak tidak pernah terlepas dari berladang. Orang Dayak identik dengan berladang.

Saat ini berladang perlahan-lahan ditinggalkan orang Dayak. Masuknya budaya modern membuat orang Dayak melihat dan mengambil pilihan-pilihan lain selain berladang untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Hal ini menunjukkan bahwa orang Dayak terbuka pada budaya luar.Namun tak dapat dipungkiri bahwa keterbukaan itu saat ini mengancam identitas orang Dayak sendiri. Hutan semakin sedikit, sungai tercemar, kemiskinan. Kebersatuan antara manusia Dayak dan alam yang merupakan identitas awal mereka entah disadari atau tidak perlahan-lahan sudah ditinggalkan.Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya orang Dayak yang terlibat dalam tindakan pengeksploitasian alam secara berlebihan. Orang Dayak yang terlibat di dalam pengeksploitasian itu mungkin tidak mengerti akan dampak yang akan diperoleh nantinya karena memang tidak semua orang Dayak mempunyai kemampuan berpikir seperti yang dituntut oleh jaman ini. Bukan karena orang Dayak tidak mampu tapi karena orang Dayak menjadi korban ketidakadilan dalam pembangunan dalam hal ini adalah pendidikan.

Orang Dayak harus sadar bahwa keikutsertaanya dalam pengeksploitasian alam merupakan tindakan melukai diri sendiri. Pendidikan merupakan sarana untuk memunculkan dan menanamkan kesadaran ini. Saat ini luka itu perlahan-lahan harus kita sembuhkan agar identitas Dayak kita tidak hilang. Kembali pada identitas awal merupakan salah satu cara untuk menyembuhkan luka itu. kembali pada identitas awal bukan berarti orang Dayak harus kembali berladang seperti dulu lagi. Kembali pada identitas awal berarti kembali melihat alam sebagai satu kesatuan dengan diri kita sebagai manusia Dayak. Meskipun kita tidak berladang lagi, tetapi nilai atau makna berladang yang kita yakini selama ini sebagai cetusan kebersatuan kita dengan alam jangan sampai kita tinggalkan. Hal ini menjadi penting karena kesadaran akan nilai dan makna itu akan membantu kita dalam memutuskan tindakan kita apakah melukai alam atau tidak? Apakah memelihara keberlangsungan alam atau tidak? Kebersatuan kita dengan alam akan membuat kita merasa cemas apabila tindakan kita itu melukai alam. begitu pula sebaliknya kalau tidak ada rasa kebersatuan dengan alam lagi maka kita tidak peduli lagi dengan tindakan kita apakah itu melukai bahakan merusak alam atau tidak.

 

Kepustakaan

Alloy, Sujarni, dkk. Mozaik Dayak Keberagaman Suku dan Bahasa Dayak di Kalimanta Barat. Pontianak: Institut Dayaklogi. 2008.

Haryo, Roedy, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: Grasindo, 1998.

Peurson, Van, Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 1976.

Riyanto, Armada, dkk., Kearifan Lokal~Pancasila.Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan, Yogyakarta: Kanisius. 2015

Wijanarko, Robertus, “Mencermati Visi Kosmologis Kontemporer (Tinjauan Kritis atas Dominasi Pemikiran Materialistik)” dalam Beni Phang & Valentinus, Minum dari sumber Sendiri.Dari Alam menuju Tuhan, Malang: STFT Widya Sasana, 2011.

 

Catatan Kaki:

[1]Loc. Cit.,Roedy Haryo, hlm.26-27

[2]Ibid., hlm.46

[3]Ibid.

 

*Gambar Featured diambil dari https://beritagar.id/media/galeri-foto/kearifan-masyarakat-dayak-di-setulang*

TRI_2019Nov26_Artikel Kebry

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *