Artikel

MENYEMBUHKAN RELASI MANUSIA DAN ALAM: Studi Sistem Perladangan Orang Dayak Kanayat’n Dengan Pendekatan C.A. Van Peurson (Part 2)

Penulis: Fransiskus Kebry, CM (Imam Katolik, Pemerhati Lingkungan Hidup)

 

Relasi Manusia dan Alam

A. Van Peurson dalam karya klasiknya Strategi Kebudayaan, pertama-tama ingin membuat sebuah skema atau bagan perkembangan kebudayaan. Namun demikian usahanya untuk membuat peta perkembangan kebudayaan, yang dia sebut sebagai buah dinamika ketegangan unsur “imanen dan transenden” kebudayaan, memuat unsur-unsur yang mengindikasikan bagan perkembangan relasi antara manusia dan dunianya.[1]

Adapun ketiga tahap dalam bagan itu ialah: tahap mitis, tahap ontologis dan tahap fungsional.[2] Menurut Van Peurson tahap mitis merupakan tahap di mana manusia merasa dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif.[3]Tahap ontologis ialah sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala halikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dirasakan sebagai kepungan. Ia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakekat segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya (ilmu-ilmu).[4]Tahap fungsional  ialah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam manusia modern. Ia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungannya (sikap mitis), ia tidak lagi dengan kepala dingin ambil jarak terhadap objek penyelidikannya (sikap ontologis). Bukan, ia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya.[5]

Pertama, tahap mitis. Alam pemikiran mitis tidak terlepas dari mitos. Peurson menjelaskan bahwa mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah terentu kepada sekelompok orang.

Cerita itu dapat dituturkan, tetapi juga dapat diungkapkan lewat tari-tarian atau ritual-ritual adat. Inti-inti cerita itu adalah lambang-lambang yang mnecetuskan pengalaman manusia purba: lambnag-lambang kebaiakn dan kejahatan, hidup dan kematian, dosa dan penyucian, perkawinan dan kesuburan, surga dan neraka. Mitos mengatasi makna cerita dalam arti kata modern, isinya lebih padat daripada semacam rangkaian peristiwa-peristiwa yang menggetarkan atau yang menghibur saja; mitos tidak hanya terbatas pada semacam reportase mengenai peristiwa yang dulu terjadi, sebuah kisah tentang dewa-dewi dan kelakuan manusia, dan merupakan semacam pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos itu manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian sekitarnya, dapat menanggapi daya-daya kekuatan alam. turut ambil bangian dinamakan partisipasi.[6]

Peurson melukiskan partisipasi itu dengan cara yang sederhana: terdapat subyek, yaitu manusia (S) yang dilingkari oleh dunia, obyek (O). Tetapi subyek itu tidak bulat, sehingga daya-daya kekuatan alam dapat menerobosnya. Manusia (S) itu terbuka dan dengan demikian berpartisipasi dengan daya-daya kekuatan alam (O).[7] Partisipasi tersebut berarti, bahwa manusia belum mempunyai identitas atau individulaitas yang bulat; subjek masih terbuka, belum merupakan subyek yang berdikari, sehingga dunia sekitarnya pun belum dapat disebut obyek yang sempurna dan utuh. Obyek dan subyek, daya kekuatan alam dan manusia saling meluluh, belum ada batas pemisah yang jelas.[8]

Alam dan manusia dalam tahap ini seolah-olah merupakan satu kesatuan yang identik satu dengan yang lainnya. Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa dilepaskan dengan keberlangsungan hidup alam yang didiaminya. Merusak alam berarti sama halnya dengan merusak manusia itu sendiri. Pada tahap ini, banyak rahasia kehidupan alam tetap misteri bagi manusia, terlebih karena pengetahun dan teknologi yang dimiliki manusia masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan praktek-praktek yang dilakukan manusia dengan sendirinya dikondisikan  oleh keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.[9]

Kedua, tahap ontologis. Dalam alam pikiran ontologis manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya. Manusia tak begitu terkurung lagi oleh mitos atau ‘kekuatan’ alam. Kadang-kadang  ia bertindak sebagai penonton atas hidupnya sendiri. Dengan demikian ia berusaha memperoleh pengertian mengenai daya-daya kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Perbuatan-perbuatan praktis, seperti pertukangan, tehnik dan kesenian memainkan peranannya, tetapi renunga-renungan teoritis mengenai alam yang nampak dan yang tidak nampak mulai tampil ke permukaan.[10]

Pada tahap ini lahir ilmu pengetahuan mengenai ada (ontologi). Terjadi perubahan dalam sikap manusia terhadap alam. Manusia mulai memikirkan dan menyelidiki dasar-dasar eksistensi segala hal. Sikap manusia ini dipengaruhi oleh cara berpikirnya yang semakin berkembang. Cara berpikir ontologis membebaskan manusia dari lingkaran mitologis. Manusia mengambil jarak dari dunia yang mengitarinya dan berani hidup dalam ketegangan distansi itu. manusia mulai mencari hakekat dari ada dunia. Terciptalah dikotomi subyek dan obyek, manusia sebagai subyek dan alam sebagai obyeknya. Obyek dalam relasinya dengan subyek dalam relasi ini disebut Peurson sebagai gejala substasialisme atau pengasingan. Pengasingan antara manusia dan alamnya dan antar manusia sendiri. Substasialisme itu memisahkan, mengisolasi. Manusia, barang-barang, dunia, nilai-nilai, Tuhan, dipandang sebagai lingkaran yang berdiri sendiri sebagai substansi-substansi lepas yang satu dari yang lain.[11]

Pola pikir ontologis mempunyai dampak negatif bagi keharmonisan dunia yang terdiri dari berbagai macam ada. Seperti yang Peurson ungkapkan sendiri bahwa pola pikir semacam ini membuat manusia ingin merebut kekuasaan. Substansialisme merupakan bahaya yang selalu mau menyergap pikiran ontologis. Peurson menggambarkan bahaya yang dimaksudnya dalam nilai-nilai dan konsep-konsep dijadikan sbustansi-substansi yang terlepas. Bahkan manusia sendiri dijadikan dua substansi: badan dan jiwa. Masyarakat tak lain daripada suatu penjumlahan individu-individu. Distansi menjadi retakan dan masyarakat dijadikan suatu sistem tertutup yang tak dapat diganggu gugat, entah karena sistem feodal, kapitalis atau disiplin partai. Bahaya yang digambarkan Peurson dapat berujung pada transendensi hilang lenyap karena Tuhan pun disubstansialiskan. Apabila Tuhan disubstansialiskan maka semua yang ada menjadi tidak riil lagi.

             Justru bila ada Tuhan dan koderatNya dapat dibuktikan secara 100% dan dengan demikian ditarik ke dalam lingkup daya pikiran logis manusia, maka hilanglah Tuhan. Bila nilai-nilai dijadikan kebenaran-kebenaran lepas peredaran waktu, maka kontak dan komunikasi lenyap dan nilai-nilai tadi menjadi pudar. Antara daya pikir yang paling agung dan alam pikiran yang tidak riil tinggal suatu jarang yang kecil seklai dan jarak itu dilintasi manusia. Daya pikir manusia dalam teknik dan ilmu pengetahuan menjadi demikian besar, sehingga tidak berpijak lagi pada kenyataan, kenyataan tidak relevan lagi. Pada awal abad ini Nietzsche berbicara mengenai runtuhnya dunia nilai-nilai. Nilai-nilai diruntuhkan dari tahtanya, langit menjadi kosong, manusia dirongrong masyarakt dipecahbelahkan.[12]

             Van Peurson menyimpulkan bahwa dengan demikian dunia ini menjadi tidak nyata, tidak riil. Dalam alam pikiran substansialis telah nampak peralihan ke suatu tahap kebudayaan baru. Peralihan ke arah suatu pembebasan yang baru. Kali ini bukan dari belenggu magi, melainkan dari kekosongan alam pikiran substansialistis.

Ketiga, tahap fungsionalis. Pada tahap ini subjek dan objek tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Hubungan atau relasi yang dimaksudkan adalah hubungan fungsional. Manusia dan alam dilihat dari fungsi keberadaanya.

Manusia sebagai subyek masih berhadapan dengan dunia, tetapi bukan lagi sebagai sesuatu yang bulat tertutup. Subyek terbuka terhadap obyek dan begitu pula sebaliknya.  Tak ada lagi sesuatu yang mempunyai arti bila dipandang lepas dari dunianya.[13]Tahap fungsionalis dimaksudkan Van Peurson sebagai tahap yang identik dengan kebudayaan modern.

Alam pikiran fungsional dapat dipandang sebagai suatu pembebasan.[14]Pembebasan dari alam pikiran ontologis yang dapat mengasingkan obyek maupun subyek. Sikap dasar dalam sikap fungsionalis menurut Van Peurson adalah bahwa orang mencari hubungan-hubungan antara semua bidang ; arti sebuah kata atau sebuah perbuatan maupun barang dipandang menurut peran atau fungsi yang dimainkan dalam keseluruhan itu yang saling bertautan. Dan oleh usaha tersebut maka gejala pengasingan dapat dihapuskan. Barang-barang serta peristiwa-peristiwa dapat dipandang lagi dalam konteksnya dan dengan demikian ditemukan kembali tempat seseorang dalam keseluruhan tadi.

Tentang alam pikiran mitis  hubungan antara manusia dan dunia dapat digambarkan sebagai saling meresapi, partisipasi. Selanjutnya berkembang ke tahap ontologis di mana di tahap ini kita menjumpai distansi, jarak antara manusia (subyek) dan dunia (obyek) dalam usaha mencari pengertian. Pada tahap fungsional seolah-olah relasi manusia dan dunia kembali pada tahap mitis karena mereka terbuka satu dengan yang lainnya. Tetapi bukan demikian halnya karena pada tahap fungsional tidak ada yang lebih tinggi statusnya. Subyek dan obyek adalah sama posisinya tergantung dari fungsi keduanya.Dalam tahap mitis memang ada relasi tetapi manusia dalam tahap ini terbatas karena dipandang sebagai partisipan dalam hubungannya dengan dunia.

Dalam dunia mitis manusia belum merupakan seorang pribadi yang bulat dan utuh. Dalam alam pikiran ontologis manusia dan dunia berdiri sendiri dan berhadapan muka. Tetapi dalam pendekatan fungsional bukan distansi yang diutamakan melainkan relasi. Subyek dan obyek dibuka yang satu terhadap yang lain. Ini tidak berarti, bahwa identitas manusia modern yang telah diperjuangkan dengan jerih payah, lalu dibiarkan hilang lenyap. Tetapi identitas itu tidak dipandang lagi sebagai suatu identitas yang bulat dan terisolir, melainkan sebagai suatu identitas yang hanya dapat berada dan berkembang dalam relasi-relasi dengan yang lain.[15] Kebudayaan juga merupakan sebuah identitas. Tapi dalam tahap fungsional kebudayaan bukanlah sebuah kata benda, melainkan sebuah kata kerja. Kebudayaan tak lain dari caranya seorang manusia mengekspresikan diri, caranya ia mencari relasi-relasi tepat terhadap dunia sekitarnya. Menurut Van Peursonkebudayaan khususnya merupakan suatu strategi untuk menyalurkan relasi-relasi itu secara optimal. Oleh karena itu relasi terhadap dunia ilahi selalu dipersoalkan di dalamnya. Pada tahap fungsional dunia ilahti tidak dipandang sebagai dunia yang tersendiri melainkan sebagai suatu dimensi ekstra dalam  dunia koderati ini. Kebudayaan sebagai identitas mengalami transformasi.

 

Catatan Kaki:

[1]Robertus Wijanarko, “Mencermati Visi Kosmologis Kontemporer. Tinjauan Kritis atas Dominasi Pemikiran Materialistik” dalam Benny Phang dan Valentinus Minum dari Sumber Sendiri.Dari Alam Menuju Tuhan, Malang: STFT Widya Sasana, 2011, hlm. 17.

[2] C. A. Van Peurson, Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 1976, hlm.18.

[3]Ibid.

[4]Ibid.

[5]Ibid.

[6]Ibid., hlm.36

[7]Ibid., hlm.38.

[8]Ibid.

[9]loc.cit., Robertus Wijanarko, hlm.18

[10]Ibid. hlm.55.

[11]Ibid., hlm.76

[12]Ibid., hlm.84

[13]Ibid., hlm.87

[14]Ibid.

[15]Ibid., hlm.102

 

(Bersambung ke Part 3…)

 

*Gambar Featured diambil dari https://beritagar.id/media/galeri-foto/kearifan-masyarakat-dayak-di-setulang*

TRI_2019Nov26_Artikel Kebry

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *