Artikel

MENYEMBUHKAN RELASI MANUSIA DAN ALAM: Studi Sistem Perladangan Orang Dayak Kanayat’n Dengan Pendekatan C.A. Van Peurson (Part 1)

Penulis: Fransiskus Kebry, CM (Imam Katolik, Pemerhati Lingkungan Hidup)

 

Pengantar

 

Adalah suatu aksioma bilamana masyarakat Dayak menyatakan bahwa hutan merupakan milik mereka yang paling berharga. Antara mereka dengan hutan telah terpadu sedemikian rupa dan menyejarah. Oleh sebab itu, boleh dibilang kerabat kita dikalimantan ini senantiasa berikhtiar mempertahankan ekosistem, karena dari situlah mereka turun-temurun hidup sejak generasi masa lalu, kini dan masa depan. Dari persentuhan yang mendalam antara orang Dayak dengan hutan, tak pelak melahirkan sistem perladangan, yaitu sebentuk model kearifan tradisional dalam pengelolaan sumber daya hutan yang bersumber pada hukum adat. Bahkan sistem perladangan itu telah menjadi satu ciri pokok kebudayaan Dayak. Oleh sebab itu, dikalangan suku Dayak muncul gurauan reflektif, “orang Dayak yang tidak lagi berladang, boleh diragukan keDayakannya,” karena mereka telah tercerabut dari salah satu akar kebudayaan leluhur.[1]

 

Kutipan di atas merupakan buah pemikiran dari orang yang bukan berasal dari suku Dayak. Namun sebagai orang Dayak Penulis merasa bahwa apa yang dicetuskan oleh Penulis itu merupakan suatu kebenaran.

Berladang merupakan salah satu karakteristik kebudayaan Dayak. Menurut Dr. Fridolin Ukur ada tujuh karakterisitik yang sifatnya khas memperlihatkan kesamaan kebudayaan di antara semua suku Dayak di kalimantan, yang meliputi : rumah panjang, senjata khas (mandau,sumpit), anyam-anyaman, tembikar, sistem perladangan, kedudukan perempuan dalam masyarakat, seni tari. Penulis mengambil karakterisitik sistem perladangan sebagai suatu kearifan lokal yang akan Penulis dalami dalam tulisan ini. Secara khusus Penulis menggunakan sistem perladangan suku Dayak Kanayat’n sebagai fokus dari tulisan ini, meskipun pada dasarnya sistem perladangan setiap suku Dayak adalah sama.

Tulisan ini tidak hanya menyajikan bagaimana sitem perladangan suku Dayak Kanayat’n tapi lebih daripada itu ingin melihat atau mencari makna dari kearifan sistem perladangan orang Dayak. Dalam hal ini Penulis menggunakan pemikiran C.A. Van Peurson untuk melihat pola relasi manusia (orang Dayak) dan alam (hutan). Penulis mencoba melihat relasi orang Dayak dan alam dari sudut pandang pemikiran C.A. Van Peurson. Seiring dengan perkembgan zaman pola relasi manusia dan alam pun akan mengalami perubahan. Itulah yang terjadi saat ini yaitu perubahan pola relasi antara manusia Dayak dan hutan. Apakah perubahan pola relasi ini membawa pengaruh yang positi atau sebaliknya? Dengan menggali makna kearifan lokal masyarakat Dayak tentang sistem perladangan, tulisan ini secara tidak langsung mengkritik pola relasi orang Dayak atau orang yang tinggal di Kalimantan (yang bukan Dayak) dengan hutan saat ini.

Secara umum tulisan ini dibagi dalam beberapa pembahasan, yaitu: pertama, menjelaskan bagaimana sistem perladangan dalam suku Dayak Kanayat’n. Kedua, pola relasi manusia dan alam menurut C. A Van Peurson dan hubungannya dengan sistem perladangan. Ketiga, pola relasi manusia Dayak dan alam saat ini. Keempat, berisi saran Penulis terhadap pola relasi manusia Dayak dengan alam saat ini serta penutup yang menyimpulkan bahwa kearifan lokal dalam sistem perladangan jangan ditinggalkan begitu saja seiring dengan majunya teknologi melainkan harus selalu diingat dan ditanamkan dalam diri orang Dayak atau bahkan yang bukan orang Dayak agar dapat melihat alam bukan hanya sekedar objek yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan manusia tapi juga sebagai subjek dalam relasi peziarahan hidup manusia.

 

Sistem Perladangan Orang Dayak Kanayat’n

Sistem Perladangan orang Dayak pada umumnya adalah sama. Mungkin yang membedakan hanya beberapa penyebutan atau istilah dalam tahap-tahap membuka  ladang baru karena bahasa yang berbeda antara Dayak yang satu dengan yang lainnya. Berladang merupakan mata pencaharian pokok bagi orang Dayak.

Setiap tahun lahan untuk berladang selalu berganti. Lahan yang sudah digunakan untuk berladang dapat digunakan lagi kurang lebih lima tahun setelah digunakan. Pola perladangan seperti ini seringkali disebut pola ladang berpindah.

Lokasi ladang ditentukan bersama pada lokasi yang sudah disepakati bersama dan mendapat restu dari ketua adat. Setelah lokasi ditentukan lahan dapat segera di buka untuk berladang. Terdapat beberapa tahap dalam membuat ladang: penentuan lokasi, membakar, nugal, marumput, nurunni, mipit, gawean.

Pertama, penentuan lokasi. Untuk menentukan lokasi perladangan melalui pertemuan dengan warga sekampung. Dasar penentuannya adalah apakah lokasi yang akan dipilih itu sudah cukup lama tidak diladangi. Makin lama tidak diladangi dianggap makin baik. Apabila lahan dan waktu sudah ditentukan dan disepakati, maka proses pembuatan ladang dapat segera dilakukan. Sebelum tahap yang lainnya dilakukan, harus dilakukan ritual untuk meminta restu dan perlindungan dari jubata (Tuhannya orang Dayak Kanayat’n) dan roh-roh yang berada dilokasi di mana akan dibuat ladang. Untuk melakukan ritual tersebut dibutuhkan beberapa persyaratan diantaranya adalah sesajian. Sesajian itu berupa ayam panggang (dipanggang di lokasi), bontong dan tumpi (kue adat), lemang (nasi di dalam bambu). Sajian pertama berisi daging ayam panggang yang disuwir menjadi enam bagian kemudian  dibungkus dengan daun layang dan digantungkan di pohon-pohon yang terletak di setiap sudut lahan yang akan dijadikan ladang. Sesajian ini diperuntukkan kepada Jubata. Sesajian kedua sama seperti yang pertama, namun ditambahkan dengan darah ayam. Sesajian ini untuk roh-roh jahat supaya tidak mengganggu proses pembuatan ladang.

Kedua, bakar ladang (nunu’ moton). Sebelum lahan dibakar, batas lahan harus ditebas dan dibersihkan agar api tidak melewati batas yang sudah ditentukan. Apabila api melewati batas tersebut maka yang mempunyai lahan itu akan dikenakan denda adat. Pada tahap ini juga diadakan ritual untuk melancarkan proses pembakaran lahan. Ritual ini disertai dengan sesajian yang berupa, kapur sirih dan rokok daun yang digulung. Ritual dipimpin oleh dukun yang ditujukan kepada dewa api atau roh api supaya membuat ladang itu hangus terbakar dan menjaga api agar tidak membakar lahan yang lain.

Ketiga, nugal adalah tahap untuk membuat lubang di lahan yang sudah dibakar untuk meletakkan benih padi. Cara membuat lubang adalah dengan menusuk-nusukkan kayu yang sudah dilancipkan ujungnya ke tanah secara berulang-ulang sampai membentuk lubang-lubang. Tahap ini dilakukan secara bergotong-royong (balale) dan harus selesai dalam satu hari.Setelah nugal selesai dilakukan lalu dilanjutkan dengan ritual atau sembahyang nugal yang dipimpin oleh dukun atau  atau tetua adat dengan tujuan untuk meminta bantuan roh-roh yang ada di situ untuk merapatkan lubang tugal agar tidak diganggu oleh binatang liar atau hama seperti burung pipit,dll.

Keempat, marumput. Setelah padi tumbuh dan rumput di sela-sela padi mulai tumbuh, maka kegiatan berikutnya adalah marumput. Marumput adalah membuang rumput dengan menggunakan parang. Pekerjaan merumput ini dilakukan secara bergotong-royong. Setelah merumput selesai dilaksanakan, hal berikutnya yang dilakukan adalah menunggu padi sampai menguning dan akhirnya siap dipanen. Sambil menunggu padi menguning orang Dayak menyiapkan peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk panen seperti alat pemetik padi,  penampi padi, tempat menjemur padi dan tempat penyimpanan sekaligus untuk mengangkut padi.

Kelima, nurunni’merupakan tahap memetik buah padi yang pertama kali di ladang. Memetik bulir padi dilakukan secara bergotong royong. Setelah padi dipetik lalu dikumpulkan disimpan di dalam lumbung padi (mipit). Persiapan untuk pesta panen.

Keenam, gawean adalah pesta syukur atas padi yang sudah dipanen. Pesta ini dilakukan oleh masyarakat satu kampung dan biasanya mengundang orang-orang dari kampung tetangga.

[1]Roedy Haryo, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: Grasindo, 1998, hlm. 26-27.

 

(Bersambung ke Part 2…)

 

*Gambar Featured diambil dari https://beritagar.id/media/galeri-foto/kearifan-masyarakat-dayak-di-setulang*

 

TRI_2019Nov26_Artikel Kebry

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *