Intermezzo

MENJADI MANUSIA (MAHASISWA) MERDEKA

Penulis: Fransiskus Heru (Mahasiswa Prodi PBI di STKIP Pamane Talino Ngabang)

 

Banyak sekali orang-orang hebat  terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Orang-orang ini adalah dia yang tidak asing lagi dengan kata “kegagalan”. Sering kali kita menafsirkan kegagalan adalah akhir dari segalanya. Tetapi disini saya mengajak kita berefleksi dari kegagalan yang pernah kita hadapi. Pernahkah kita bertanya: berapa kegagalan yang pernah orang-orang hebat ini alami? Mungkin buku catatan saya yang hanya 100 halaman tidak cukup untuk mencatat kegagalan yang pernah mereka alami.

Tempat kita berasal tidaklah menjadi hambatan untuk mengembangkan kemampuan yang kita miliki, yang terpenting adalah tekad yang kuat untuk terus mencoba. Tan malaka, aktivis kemerdekaan dan filsuf dari Indonesia tahun 1897-1949 mengatakan: “Bila kaum muda yang telah belajar di bangku sekolah, menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat, yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak dimiliki sama sekali”. Pernyataan Tan Malaka ini keras. Penerimaan diri tentang dari mana kita berasal akan membuat kita menjadi pribadi yang baik dan dewasa. Artinya, pada titik terhebat manusia, kembali dan mengingat serta bekerja di wilayah “titik nadir”nya merupakan sesuatu yang masuk akal.

Pendidikan mempunyai peran penting dalam memerdekakan manusia. Aristoteles, filsuf dari Yunani pada abad 384 SM – 322 SM, mengatakan “Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis”. Kutipan ini mempunyai makna bahwa sesuatu yang baik itu pasti sulit untuk diraih. Namun di ujung rasa sulit tersebut, ada “buah manis” yang bisa diperoleh. Banyak orang merasa bahwa tidak perlu bersusah-payah dalam melakukan sesuatu. Kita lebih menyenangi hal tersebut dan tanpa kita sadari yang kita anggap “baik” itu mendorong kita pada jurang yang dalam. Hal ini membuat kita tertinggal dan bahkan mundur beberapa langkah dari mereka yang sudah maju.

Sebelumnya saya mengatakan bahwa tempat kita berasal tidak menjadi hambatan untuk mengembangkan kemampuan yang kita miliki. Untuk menjadi “manusia merdeka”, setiap orang harus mampu menerima beban masa lalu dan latar belakangnya untuk kemudian menyusun rencana ke depannya. Saya adalah mahasiswa dari kampus yang berada di pedalaman Kalimantan Barat. Tetapi ada sesuatu yang berbeda yang saya rasakan ketika kuliah di kampus ini. Saya menemukan hal yang mungkin tidak pernah orang lain mengalaminya.

Kampus STKIP Pamane Talino ini mempunyai catatan yang menarik dan penting bagi saya. Kampus ini berisi orang-orang yang memiliki visi besar tentang dunia pendidikan di Kalimantan. Orang-orang ini adalah tenaga pengajar dan disisi lain mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan agar kampus tersebut berkembang menjadi besar. Dari merekalah saya belajar banyak hal. Saya sendiri tidak menyangka bahwa saya bisa membuat tulisan yang saat ini Anda baca.

Catatan ini bagi Anda mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kami di pedalaman, catatan kecil seperti ini sangat berarti. Keberanian dan kemampuan untuk menuliskan gagasan adalah “kemerdekaan” yang boleh kami rasakan dan hidupi. Catatan kecil ini sendiri saya pelajari di “gudang penyimpanan” pikiran saya, sekaligus dengan dosen Filsafat yang menginspirasi saya. Siapa yang menyangka di “gudang penyimpanan” saya bisa mendapatkan inspirasi tersebut? Sekali lagi, proses saya (dan kita) untuk menjadi manusia merdeka dan hebat tidak semata-mata ditentukan dari tempat (fasilitas/infrastruktur yang mewah), tetapi denga siapa kita untuk menimba ilmu tersebut dan seberapa besar niat kita untuk menjadi manusia merdeka.

Kita harus terus berjuang untuk memerdekakan diri kita atas keraguan yang kita miliki. Mulailah dari hal yang kecil yang bisa merubah kehidupan kita menuju manusia yang merdeka. Dalam belajar, jangan mudah puas dengan apa yang kita terima hari ini karena hari esok akan lebih banyak ilmu-ilmu yang akan kita pelajari. Kegagalan di satu sisi tidak akan membuat kita gagal di seluruh kehidupan kita. Ada banyak hal baru yang kita belum ketahui menanti di depan. Terus mencoba hal-hal baru akan menjadi pengalaman yang membuat kita menjadi orang besar. Sebagaimana yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri”, kelak kita berharap bahwa “buah manis yang kita makan” berasal dari usaha kita sendiri.

 

*Gambar Featured diambil dari http://nadisiswa.com/archives/603*

 

TRI_2019Nov24_Artikel Heru 2

 

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *