Artikel

MENJADI MANUSIA INDONESIA YANG BERADAB DAN BERBUDAYA

Penulis: RD. Fransiskus Gregorius Nyaming (Mahasiswa Tingkat Doktoral Universitas Katolik Yohanes Paulus II Lublin, Polandia)

 

Saat-saat terakhir biasanya menjadi kesempatan yang baik untuk merenungkan makna eksistensi kita sebagai manusia. Bahkan seorang filsuf eksistensialis, Karl Jaspers, menjadikan “saat-saat terakhir” sebagai momen penting dalam hidup manusia untuk menegaskan eksistensinya. Dia menyebutnya sebagai “situasi-situasi batas” (boundary situasions) atau Grenzsituationen dalam bahasa Jerman. Menurutnya ada empat situasi-situasi batas utama dalam hidup manusia: penderitaan (suffering), pergumulan (struggle), perasaan bersalah (guilt), dan kematian (death). Dari keempat situasi batas itu, kematian adalah situasi yang tak terhindarkan. Di hadapan situasi-situasi batas itu manusia dihadapkan pada dua pilihan: mau berkembang atau mundur. Jaspers mengajak manusia untuk berkembang dengan menerima dan masuk ke dalam situasi-situasi batas itu dengan mata terbuka. Dengan begitu, maka kita akan bereksistensi secara sungguh-sungguh.

Berakhirnya tahun 2019 tentulah bukan akhir dari peziarahan hidup kita. Kita tidak sedang berada di salah satu situasi batas, yakni kematian, seperti dimaksud oleh sang filsuf. Namun dalam konteks pemikiran itu, kita bisa mengambil waktu sejenak untuk merenungkan kembali perjalanan hidup kita. Apalagi sekarang kita telah memasuki tahun baru 2020. Masing-masing kita tentu mengharapkan segala yang baik dan indah bagi hidup kita. Harapan yang sama kita tujukan bagi kehidupan bersama di negeri Indonesia tercinta ini. Semoga di tahun yang baru ini, kita bukan semakin mundur, tapi semakin berkembang menjadi manusia-manusia Indonesia yang beradab dan berbudaya.

 

Sebuah Contoh dan Pengalaman

Lalu, dalam konteks tersebut apa yang patut kita renungkan? Mari berangkat dari peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Peristiwa yang nampak sepele, namun sungguh memilukan. Peristiwa tersebut ialah aksi dua orang gadis di Mojokerto yang keramas di atas motor. Aksi mereka yang katanya hanya demi mencari sensasi dan membuat konten lucu di youtube sungguh sangat memprihatinkan. Namun, di mana letak lucunya? Tak masuk akal rasanya memasukkan ke dalam kategori lucu sebuah aksi yang jelas-jelas tidak hanya melanggar aturan, tapi juga membahayakan nyawa sendiri dan orang lain. Meski beberapa orang meyakini kalau kebikjasanaan tertinggi itu ialah saat kita mampu menertawakan kebodohan diri sendiri, namun ada beberapa kebodohan yang tak akan membuat kita terlihat bijaksana selain dari terlihat bodoh itu sendiri.

Selera kita soal konten youtube memang berbeda. Namun, apa pun seleranya kita sepakat konten-konten tersebut sungguh menghibur dan bisa menambah wawasan kita yang melihatnya. Konten yang mengganggu ketertiban umum, apalagi yang bersifat rasis, merendahkan harkat dan martabat orang lain tentulah sangat kita tolak. Menjadikan jalan raya, yang adalah fasilitas umum, sebagai tempat untuk mandi dan keramas jelaslah bukan sebuah aksi yang pantas dari manusia yang mengaku diri sudah terdidik dan terpelajar. Manusia-manusia purba saja yang belum mengenal teknologi, apalagi bangku sekolah, paham betul kalau sungai atau kali atau sumur merupakan tempat terasyik dan ternyaman untuk mandi.

Kedua gadis tersebut beraksi demikian tentu bukan hanya sekadar mencari sensasi. Mereka sungguh memanfaatkan media sosial agar aksi mereka itu bisa viral. Celakanya cara yang mereka pilih sungguh tidak lucu. “Rekamlah dalam hatimu. Itu lebih penting daripada mencoba menunjukkan kepada semua orang apa yang sedang engkau alami”, demikian tulis Paulo Coelho dalam salah satu novelnya. Meski akan banyak yang tidak sependapat dengan kata-kata tersebut, mengingat fungsi dari media sosial ialah untuk berbagi, tetap diperlukan juga kebijaksanaan hati (sepientia cordis) untuk memilih mana yang layak dijadikan konsumsi publik dan mana yang harus disimpan untuk konsumsi pribadi.

Terlepas ingin menjadi viral, aksi kedua gadis itu memunculkan pertanyaan: Apakah aksi itu merupakan cerminan dari manusia Indonesia yang terkenal santun dan ramah? Manusia yang mengaku sudah beradab dan berbudaya? Perlu dicatat, dengan menjadikan aksi kedua gadis ini sebagai contoh, Penulis tentu tidak bermaksud menyinggung atau melecehkan suku tertentu. Tak ada tujuan lain selain hendak menunjukkan bahwa masih ada persoalan yang harus kita pikirkan dan benahi bersama.

Pengalaman Penulis berikut, meski nampak sederhana, mungkin bisa sedikit menjadi bahan pencerahan. Penulis sungguh bersyukur memiliki kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri, tepatnya di Kota Lublin, Polandia. Salah satu hal yang membuat Penulis kagum ialah ketertiban dalam berlalu-lintas. Baik pengguna kendaraan maupun pejalan kaki sudah sadar betul bagaimana berperilaku ketika berada di jalan raya. Tidak ada sopir yang berani menerobos lampu merah sekalipun suasana jalan begitu lengang. Begitu juga para pejalan kaki akan menunggu dengan sabar untuk menyeberang sampai lampu hijau menyala, sekalipun di zebra cross yang mereka lewati tak ada mobil yang lalu lalang. Dalam kesadaran tertib berlalu-lintas itu, kemudian terpancar nilai-nilai berharga yang sangat penting bagi kehidupan bersama. Menghargai hak orang lain, terutama pejalan kaki adalah nilai yang paling nampak. Penulis yang setiap harinya berjalan kaki pergi ke kampus sungguh merasakan hal tersebut. Mengedepankan kepentingan mereka yang sakit dan menderita adalah nilai lain yang terlihat jelas. Contoh yang paling nyata ialah saat ada ambulance lewat. Semua pengandara akan menepi untuk memberi ruang agar ambulance bisa melaju tanpa hambatan.

Peristiwa di atas bukan hanya sebatas soal kesadaran mematuhi peraturan di jalan raya, melainkan sungguh mencerminkan sebuah bangsa yang manusia-manusianya sudah beradab dan berbudaya. Karena itu, melakukan aksi seperti yang dilakukan kedua gadis di atas tidak akan terlintas dalam benak mereka. Selain karena mereka sadar aksi demikian melanggar peraturan, mereka juga sadar aksi seperti itu hanya akan merusak jati diri negara mereka di mata dunia.

 

Pancasila sebagai Falsafah Hidup Bersama

Aksi kedua gadis itu mungkin hanya sebatas menyangkut taat-tertib di jalan raya. Memang masih banyak contoh lain yang lebih relevan yang bisa kita angkat ke permukaan. Namun, selama aksi demikian dipandang sah-sah saja, maka di kemudian hari bisa menjadi sebuah kultur, yang tidak hanya merusak generasi muda, tapi juga mencoreng citra bangsa kita. Lebih lagi bila aksi itu sudah viral di media sosial, semua orang, termasuk netizen di luar negeri, sudah pasti bisa mengaksesnya. Sebagai hasil, mereka bisa saja melabeli kita sebagai bangsa yang tak beradab.

Tentu kita tidak menginginkan pelabelan yang demikian. Kita, manusia-manusia Indonesia, tentulah bukan orang yang tak memiliki akhlak dan budaya. Di mata dunia kita dipandang sebagai orang yang ramah dan santun. Setidaknya itulah pengakuan dari para wisatawan asing yang biasa berkunjung ke negara kita. Namun demikian, kita juga harus jujur mengakui munculnya sisi banalitas dalam diri kita telah menyisakan catatan-catatan kelam yang turut merusak citra bangsa kita di mata dunia.

Karena itu, tahun baru 2020 haruslah membangkitkan harapan sekaligus juga tekad untuk berubah menjadi manusia-manusia yang berperikemanusiaan. Tujuannya bukan semata-mata menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa kita adalah bangsa yang beradab, tapi yang lebih penting kepada sesama saudara yang menghuni Tanah Air tercinta ini. Sebab, sesama saudara yang seharusnya menjadi rekan seperjalanan dalam membangun negeri ini, justru kadang menjadi korban kebencian dan kekerasan hanya karena berbeda suku, bahasa, ras dan agama.

Bila kita ingin menjadi manusia Indonesia yang berbudaya dan beradab, apa kemudian yang bisa menjadi pedoman kita bersama? Menemukan pedoman bersama menjadi penting sebab bila kita berbicara tentang manusia Indonesia, kita berbicara tentang keragaman suku, bahasa dan agama yang menjadi ciri khas bangsa kita. Menjadikan seperangkat aturan atau dogma dari sebuah suku atau golongan sebagai pedoman hidup bersama menjadi satu hal yang mustahil sebab hanya akan menimbulkan benturan-benturan antarsesama putra-putri bangsa.

Apa kemudian pedoman yang bisa menjadi pijakan kita bersama?  Jawabannya tak lain ialah Pancasila. Mengapa Pancasila? Seorang sosiolog Perancis, Alain Touraine, berpendapat bahwa realitas sosial sekian lama dianalisis dari paradigma politis: tertib dan tidak tertib, perang dan damai, raja dan bangsa, revolusi. Lalu paradigma politis ini digantikan oleh paradigma sosial dan ekonomi: kekayaan dan kelas sosial, borjuis dan proletariat, stratifikasi dan mobilitas sosial, ketidakseimbangan dan redistribusi. Kita memerlukan paradigma baru dalam memahami serta menata dunia. Paradigma yang dimaksud ialah menggunakan paradigma kultural. Dengan menggunakan bahasa atau kategori-kategori kultural penekanan diberikan pada betapa pentingnya relasi setiap orang dengan dirinya sendiri dalam keterlibatannya menata kehidupan sosial. Paradigma ini, dengan kata lain, sungguh menempatkan manusia sebagai subjek. Subjek yang memiliki kebebasan serta mempunyai kapasitas untuk berkembang dan mengolah diri baik secara individual maupun kolektif (Alain Touraine 2005, hal.1-5).

Apa yang digambarkan oleh Alan Touraine sangat aktual dengan situasi bangsa kita.  Bahasa-dan kategori-kategori politis seakan-akan memenuhi setiap sendi kehidupan kita. Akibatnya, pola pikir kawan-lawan, musuh-sahabat, mempengaruhi tindakan dan pola pikir kita. Dengan pola pikir demikian, kita untuk mencurahkan segenap tenaga mencari strategi yang jitu untuk menjatuhkan para lawan kita. Dan strategi yang dipakai seringkali kotor dan licik. Pemakaian kata “cebong” dan “kampret” yang begitu sering terdengar selama masa Pilpres yang lalu adalah produk dari pola pikir tersebut. Kita mengharapkan terminologi yang demikian atau yang serupa tidak lagi menghiasi keseharian hidup kita. Karena terminologi demikian tidak hanya menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat, tapi merendahkan harkat dan martabat manusia itu sendiri sebagai ciptaan Tuhan yang paling luhur dan mulia.

Kita sudah lelah menyaksikan konflik dan permusuhan yang hanya mendatangkan kepedihan. Kita merindukan hidup yang penuh damai. Bila kita sepakat dengan gagasan Alan Touraine yang menjadikan paradigma kultural sebagai sarana untuk memahami dan menata kehidupan bersama, maka menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup bersama adalah sebuah langkah untuk mewujudkan damai tersebut. Pancasila sungguh didasarkan pada dimensi kultural masyarakat Indonesia. Dalam sambutan pada saat penyerahan Doktor Honoris Causa di Universitas Gadjah Mada, Soekarno mengutarakan bahwa: “Oleh karena Penulis, dalam hal Pancasila itu, sekadar menjadi “perumus” dari pada perasaan-perasaan yang telah lama terkandung-bisu dalam kalbu rakyat Indonesia, sekadar menjadi “pengutara” dari pada keinginan-keinginan dan isi-jiwa bangsa Indonesia turun-temurun…Penulis menganggap Pancasila itu corak karakternya bangsa Indonesia” (Andreas Doweng Bolo dkk 2012, hal. 24).

Soekarno memandang Pancasila sebagai watak terdalam masyarakat Indonesia. Pancasila dibangun di atas nilai-nilai luhur yang sudah berkembang dalam tatanan kultural selama berabad-abad. Nilai-nilai luhur yang khas dan membudaya di masyarakat seperti gotong-royong, ramah, santun, toleran dan peduli terhadap sesama adalah nilai-nilai yang telah mengakar di masyarakat jauh sebelum Indonesia berbentuk negara kesatuan. Bila demikian, diversitas bukan lagi menjadi sumber kebencian, konflik dan permusuhan, melainkan sungguh menjadi sumber kedamaian dan kerukunan. Sebab “Keragaman agama bukan suatu keburukan yang harus dihilangkan, tetapi suatu kekayaan yang harus diterima dan dinikmati oleh semua” (Paul F. Knitter 2002,  hal 9).

Suatu kali di kampus kami diadakan sebuah pertemuan khusus dalam rangka mengenang mendiang Santo Yohanes Paulus II sebagai pelindung kampus. Salah satu tamu yang diundang ialah Kardinal Stanisław Dziwisz (baca Staniswav Dziwisz), mantan sekretaris pribadi Paus Yohanes Paulus II hampir selama 40 tahun. Kebetulan Penulis ada menyimpan sebuah buku yang ditulis oleh beliau. Setelah selesai pertemuan, Penulis pun berusaha menjumpai beliau agar berkenan membubuhkan tanda tangannya pada buku tersebut. Tanda tangan beliau pun tersemat dengan indah. Namun, hal yang membuat Penulis kaget sekaligus bangga ialah saat dia tahu bahwa Penulis berasal dari Indonesia, sambil tersenyum, dengan jelas beliau hanya mengucapkan sebuah kata, “Pancasila”.

Sebuah kebanggaan tersendiri tentunya ketika sesuatu yang menjadi identitas bangsa kita dikenal oleh orang asing. Namun, rasa bangga haruslah juga memunculkan tekad untuk menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam hidup bersama. Kita tidak ingin selalu hidup dalam ketegangan, pertikaian dan permusuhan, yang bisa saja menghantar kita kepada “situasi-situasi batas” sehingga kadang bisa membuat kita menyerah dan tak berdaya. Sebaliknya, kita ingin hidup dalam suasana penuh rahmat. Suasana di mana kita saling hidup rukun dan damai satu sama lain. Dalam suasana demikian, kita akan sampai pada kesadaran bahwa masing-masing kita memiliki peran yang sangat penting dalam menata bangsa ini menjadi tempat yang nyaman untuk didiami. Juga dalam suasana yang rukun dan damai, kita bisa mengolah diri lalu berkembang baik secara individual maupun secara kolektif sebagai sebuah bangsa yang semakin harmonis, humanis dan toleran.

 

 

KEPUSTAKAAN

 

Doweng Bolo, Andreas dkk. Pancasila Kekuatan Pembebas. Yogyakarta: Kanisius, 2019.

Knitter, Paul. Pengantar Teologi Agama-Agama. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Touraine, Alain. A New Paradigm for Understanding Today’s World. USA: Polity Press, 2007.

 

Sumber gambar featured: https://internasional.kompas.com/read/2019/08/18/20461121/sama-sama-berwarna-merah-putih-ini-beda-bendera-indonesia-dan-monako?page=all

 

TRI_2020Jan05_Artikel Nyaming_002

Download PDF

1 thought on “MENJADI MANUSIA INDONESIA YANG BERADAB DAN BERBUDAYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *