Artikel

MENGULIK PEMBELAJARAN ONLINE MAHASISWA DI PERBATASAN

Oleh Tuminah, S.S., M. Pd. (Dosen PBI STKIP Pamane Talino)

 

Sesuai dengan anjuran pemerintah dalam rangka mencegah penularan Covid 19, hampir semua Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta seluruh Indonesia mengubah cara belajar mahasiswanya dengan cara pembelajaran online .  Begitu juga yang terjadi di daerah perbatasan.  Di daerah ini pada umumnya masih tergolong daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal), sehingga sarana dan prasarana masih sangat terbatas.

Selama 2-3 pekan mendatang pembelajaran online masih akan dijalankan oleh sebagian besar mahasiswa di Negeri ini, untuk menjalankan social distancing yang dianjurkan pemerintah pusat maupun daerah.  Untuk perguruan tinggi yang berada di kota-kota besar pembelajaran online sangat mudah untuk dilakukan karena sarana dan prasarana mendukung. Hal ini jauh berbeda dengan kampus-kampus yang berada di wilayah perbatasan antar negara, dimana sarana dan prasarana sangat terbatas dan kemampuan finansial mahasiswa rata-rata masih rendah.

Pembelajaran on line tantangan untuk dosen-dosen di Perbatasan

Pembelajaran online yang sudah diterapkan sekitar seminggu lebih ini merupakan tantangan baru bagi dosen-dosen yang mengajar di kampus-kampus sekitar perbatasan.  Dalam waktu sekitar 2-3 pekan dosen akan mengadakan pembelajaran on line dengan sarana dan prasarana yang masih sangat terbatas,  misalnya: ketersediaan jaringan internet yang belum merata di daerah perbatasan. Hal ini juga disebabkan karena lokasi tempat tinggal mahasiswa yang masih tinggal di daerah terpencil yang belum bisa diakses melalui internet.  Sebagai contoh yang nyata banyak kita temukan nama desa atau kampung-kampung tidak ditemukan di Google Map. Hal ini membuktikan bahwa daerah-daerah tersebut masih termasuk daerah terpencil.  Lalu, bagaimana para dosen di daerah 3T ini melakukan pembelajaran online?  Ada beberapa cara yang masih bisa dilakukan untuk pembelajaran on line ini, antara lain melalui Group Whatsapp (WA), Google Classroom,  Teleconference dengan Zoom dan lain-lain.  Dengan pembelajaran online yang cukup sederhana ini terkadang masih banyak kendala yang dihadapi, namun bisa diatasi.

Berdasarkan pengalaman dosen yang mengajar dari beberapa perguruan tinggi di perbatasan selama kurang lebih sepekan ini banyak manfaat yang bisa diambil untuk pembelajaran online ke depannya.  Banyak kendala yang dihadapi, pada umumnya berasal dari mahasiswa yang menerima  perkuliahan onlineYang pertama, mahasiswa merasa terbebani dengan banyaknya tugas yang diberikan dosen dalam waktu sepekan.  Hal ini juga dirasakan mahasiswa di semua tempat.  Yang kedua, kendala sarana dan prasarana di rumah mahasiswa, mengingat banyak mahasiswa yang masih tinggal di kampung-kampung terpencil yang belum ada listrik.  Yang ketiga, kendala finansial pada umumnya mahasiswa di perbatasan hidup dalam keterbatasan, sehingga untuk membeli pulsa tidak bisa dilakukan setiap saat diperlukan.  Yang keempat, kendala waktu karena mahasiswa belum terbiasa belajar secara online maka saat pembelajaran akan dimulai mereka banyak yang belum siap.

Apa Yang Bisa Dilakukan Dosen?

Dari beberapa kendala di atas yang paling memprihatinkan di pedalaman adalah minimnya sarana dan prasarana yang ada, hal ini menuntut dosen harus ‘smart’ dalam mengambil tindakan.  Dosen harus cermat dalam memilih jenis pembelajaran on line yang bisa diterapkan.  Sebagai contoh, dosen bisa menerapkan lebih dari satu jenis pembelajaran on line.  Misalnya menggunakan video dengan mengunduh di internet terlebih dahulu kemudian baru dibagikan ke mahasiswa sehingga mahasiswa dapat menonton video tersebut secara offline.

Cara yang lain dengan menggunakan teleconference secara singkat kemudian dilanjutkan dengan chatting di group Whatsapp.  Memadukan penggunaan group Whatsapp dengan mengunduh berbagai macam aplikasi games di internet, kemudian membagikan games tersebut ke mahasiswa secara offline di Google Classroom.  Hal ini akan lebih memudahkan mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran on line tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Penutup

Beberapa pengalaman menarik terkait pembelajaran online di kampus-kampus sekitar perbatasan antara lain: ketika dosen melakukan teleconference ada beberapa mahasiswa yang tidak bisa mengikuti kegiatan ini dengan berbagai macam alasan.  Ada yang kehabisan pulsa atau tidak memiliki pulsa, ada yang tidak ada sinyal di rumahnya, ada yang tiba-tiba HP atau laptopnya rusak dan sebagainya.  Alasan-alasan tersebut bisa dipahami jika yang berkaitan dengan terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki.  Masih banyak hambatan-hambatan yang dihadapi namun hal itu tidak pernah menyurutkan dosen yang mengajar di tapal batas negeri ini.

Kiranya paparan sederhana tentang pembelajaran on line di perbatasan ini dapat menginspirasi semua kalangan untuk lebih memajukan pendidikan dalam situasi apapun, termasuk sekarang dalam mencegah penyebaran Covid 19 di tanah air. Segala bentuk usaha dalam memajukan pendidikan generasi muda bangsa pasti suatu saat akan dirasakan hasilnya, tak terkecuali generasi muda di tapal batas negeri ini.

 

TRI_2020Apr24_Artikel Bu Mona 021

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *