Artikel

MEMBEDAH PERSOALAN PERDAGANGAN MANUSIA

Penulis: Efrem Dwi Valencio Dowa Lego (STFT Widya Sasana Malang)

 

Pengantar

Perbudakan adalah hal yang wajar di abad-abad sebelum masehi. Pada masa itu, budak diperjual-belikan dan diperlakukan sesuai dengan keinginan majikannya. Ketika umat manusia terus-menerus berproses dalam mengembangkan akal budinya, perbudakan dianggap sebagai suatu hal yang salah. Sebab perbudakan tidak sesuai dengan kodrat manusia yang bebas untuk menentukan tujuan hidupnya tanpa ada paksaan dari luar dirinya. Seiring dengan berjalannya waktu, akal budi manusia terus-menerus berkembang, sayangnya perkembangan akal budi ini tidak dibarengi dengan kesadaran dalam memakainya secara tepat. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya kasus perbudakan dalam bentuk perdangangan manusia. Bila manusia diperdagangkan, maka tidak ada yang membedakannya dari barang atau hewan yang diperjual-belikan di pasar. Padahal setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Dasar negara Indonesia dan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1945 sangat menjunjung tinggi martabat manusia, sehingga pemerintah dan segenap rakyat Indonesia melakukan segala upaya untuk memerangi praktik perdagangan manusia yang juga disebut perbudakan modern ini. Pemerintah dan lembaga-lembaga kemanusiaan terus-menerus mengusahakan agar WNI yang menjadi korban perdagangan manusia ini dapat dipulangkan ke Indonesia dengan selamat.

 

Perdagangan Manusia

Piagam tertua yang memuat aturan mengenai perbudakan adalah Kode Ur-Nammu dari Sumeria. Piagam batu itu berasal dari sekitar masa 2100 Sebelum Masehi. Piagam lain, Kode Hammurabi dari tahun 1760 Sebelum Masehi, mengancam hukuman mati bagi siapa pun yang membantu seorang budak melarikan diri. Aturan-aturan yang mengatur perbudakan dalam kedua piagam itu (dan juga piagam-piagam dari daerah lain) menunjukkan bahwa di tempat-tempat itu, perbudakan bukanlah hal yang baru, melainkan sudah menjadi pranata sosial dan budaya di tempat masing-masing.[1]

Piagam tersebut menunjukkan bahwa perbudakan bukanlah suatu hal yang baru. Melainkan sudah menjadi semacam warisan turun-temurun bagi umat manusia. Pada masa itu perbudakan adalah hal yang wajar. Orang-orang itu menjadi budak karena tidak bisa membayar hutang-piutang atau tawanan karena kalah perang.[2] Sehingga jual-beli budak bukanlah hal yang salah kala itu. Dalam piagam tertua itu dituliskan bahwa daerah-daerah lain pun juga memiliki aturan-aturan tentang perbudakan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa di Indonesia juga terjadi aktivitas perbudakan. Pada zaman dahulu, dalam banyak kebudayaan di Indonesia, budak menempati lapisan terendah dalam masyarakat dan dianggap seperti suatu barang yang dapat diperjual-belikan, dihadiahkan, dan diwariskan.[3]

Pada masa ini, perbudakan adalah hal yang salah dan bukan hanya kesalahan melainkan suatu kejahatan. “Masa depan rakyat kita sebagian besar terkait dengan cara bagaimana kita memastikan masa depan yang bermartabat bagi mereka.” Demikianlah pesan Paus Fransiskus saat berkunjung ke Thailand pada tanggal 7 November 2019.[4] Menurut PBB, negeri Gajah Putih itu adalah tujuan utama perdagangan manusia serta sumber kerja paksa dan perbudakan seksual komersial.[5] Pernyataan ini menandakan bahwa sebagian besar korban perdagangan manusia ini dikirimkan ke negara yang dikuasai oleh Raja Vajiralongkorn. Memungkinkan bahwa Indonesia sebagai salah satu pemasok korban perdagangan manusia ke Thailand.[6] Tentu bila ditelusuri lebih dalam lagi transaksi perdagangan manusia ini tidak hanya terjadi antara Thailand dan Indonesia tetapi juga beberapa negara lain seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Taiwan, Jepang, Hongkong, Uzbekistan, Belanda, Polandia, Venezuela, Spanyol, Ukraina, dan Timur Tengah.[7] Banyaknya tujuan perdagangan manusia ke luar negeri ini memastikan bahwa banyak pula warga negara Indonesia yang menjadi korban praktik perdagangan manusia.

Sejak bulan April 2019 Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) mengungkapkan bahwa ada 13 perempuan asal Kalimantan dan 16 perempuan dari Jawa Barat yang menjadi korban perdagangan manusia.[8] Sementara itu di tahun 2018 Kementrian Luar Negeri (KEMENLU) melaporkan bahwa pihaknya menangani 162 kasus WNI korban TPPO di luar negeri.[9] Penanganan kasus ini tidak hanya dilakukan oleh KEMENLU saja tetapi juga dilakukan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dengan memulangkan 31 orang pekerja migran Indonesia yang bermasalah karena menjadi korban perdagangan manusia.[10]

Berbagai modus perekrutan dijalani oleh pelaku, mulai dari pegiriman TKI ilegal, kawin kontrak, hingga beasiswa untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Modus-modus dijalankan oleh sekelompok orang dengan sistem yang sudah terorganisir. Tentu korban berharap kehidupannya akan lebih baik bila mereka mengikuti kata-kata meyakinkan yang keluar dari mulut para pelaku. Kata-kata itu bisa merupakan pekerjaan dengan gaji yang besar, menikahi lelaki kaya raya, kawin kontrak dengan diberi uang 19 juta,[11] dan beasiswa untuk bersekolah di luar negeri.[12] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa para korban tidak hanya berasal dari keluarga yang berlatar belakang miskin tetapi juga orang-orang dari kalangan menengah ke atas dan terpelajar. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa banyak dari warga negara Indonesia tidak mengetahui prosedur untuk bekerja atau bersekolah di luar negeri. Karena ketidaktahuan ini semakin banyak orang yang menjadi korban perdagangan manusia.

Beberapa korban perdagangan manusia menceritakan bahwa mereka diperlakukan secara kasar dan tidak manusiawi. Seperti seorang perempuan migran yang berasal dari Timor Tengah Selatan, NTT bernama Omi, ia mengisahkan bahwa dirinya dipekerjakan mulai pukul 4.00 pagi hingga 00.00.[13] Selain itu ia juga tidak diberi privasi, sehingga ia harus tidur bersama majikannnya di dalam satu ruangan, dengan posisi majikan tidur di ranjang sementara ia harus tidur di lantai. Perlakukan tidak manusiawi itu tidak hanya dialami oleh Omi saja, tetapi juga oleh Mon dari Kalimantan Barat dan wanita yang berinisial EH. Mon yang adalah korban kawin kontrak dengan lelaki asal China dipekerjakan selama 24 jam bahkan ketika sedang dalam masa menstruasi Mon ditelanjangi oleh suaminya untuk membuktikan apakah ia sungguh-sungguh menstruasi, sebab saat itu Mon menolak untuk melayai suaminya.[14] Sedangkan perlakuan tidak manusiawi lainnya berasal dari kisah pilu EH yang mendapat caci maki dari KBRI di Damaskus, Suriah saat meminta perlindungan. Perlakuan kasar yang ia terima tidak berhenti sampai di situ saja, EH dikembalikan ke agen dan mendapat pukulan dari agen hingga dihamili oleh anak majikan baru.[15] Bentuk kekerasan yang lain yaitu tendangan yang deberikan oleh pelanggan restauran dan harus menerima guyuran air seni karena menolak untuk melayani nafsu birahi pelanggan.[16] Demikianlah kisah-kisah tragis yang diceritakan oleh beberapa korban yang berani angkat suara atas pengalamannya itu. Kisah-kisah yang dibagikan ini tentu bertujuan untuk menjadikan pengalaman mereka sebagai pembelajaran bagi seluruh warga negara Indonesia yang hendak bekerja atau bersekolah di luar negeri.

 

Manusia dan Sesamanya

Thomas Aquinas menyatakan bahwa perbedaan manusia dengan makhluk-makhluk yang lain adalah adanya rasio yang dimiliki manusia dalam kesatuan dengan badan.[17] Maka dari itu hakikat manusia adalah animal rationale bukan animal sensitiva. Animal sensitiva seperti kerbau, sapi, singa, buaya, kambing, ikan, dan semua hewan yang ada di muka bumi. Hewan-hewan itu tidak mengerti konsep ke-hewan-an karena mereka tidak memiliki akal budi seperti manusia, sehingga wajar bila sesama hewan saling berlaku keras satu sama lain,  membunuh, bahkan ada pula yang kanibal. Contohnya seperti ikan lele, ikan lele adalah pemakan segala atau omnivora. Ikan lele akan memakan sesama ikan lele bila tidak ada lagi sumber makanan. Berbeda dengan manusia yang memiliki akal budi, manusia dapat mengetahui konsep seperti ke-manusia-an, ke-hewan-an, dan lain-lain. Dengan kata lain manusia dapat membedakan yang mana sesamanya manusia dan yang mana hewan. Hewan adalah pembantu manusia untuk memenuhi kebutuhannya, hewan dapat berfungsi sebagai alat tranportasi, hiburan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan. Karena hewan-hewan itu memiliki kegunaan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, maka hewan-hewan itu dikembangbiakkan lalu diperjual-belikan. Wajar bila hewan diperlakukan seperti itu karena mereka tidak memiliki akal budi. Hal ini menjadi tidak wajar ketika dipraktikan dalam kehidupan manusia. Sebab, sebagai makhluk yang mempunyai akal budi, manusia tidak akan memperlakukan manusia dengan seperti hewan.

Dari kisah-kisah pilu para korban pedagangan manusia terlihat bahwa orang-orang yang menjadi korban tidak lain halnya dengan suatu barang atau hewan yang bisa diperjual-belikan dan diperlakukan sesuai keinginan pemilik. Dengan diperdagangkan, manusia dijadikan budak yang harus menuruti apa pun yang diinginkan tuannya. Dalam perdebatan tentang pro dan kontra perbudakan di amerika, Abraham  Lincoln mengatakan bahwa dia dan teman-temannya menggangap bahwa perbudakan adalah kesalahan besar, baik dilihat dari sudut pandang moral, sosial, maupun politik.[18] Perdagangan manusia juga disebut sebagai perbudakan modern. Aktivitas perdagangan manusia seolah-olah mencabut manusia dari kodratnya yang bebas dalam menentukan kehidupannya. Sebab, manusia itu memiliki kebebasan, kesederajatan, dan persaudaraannya sejak lahir, tetapi lenyap oleh berbagai bentuk penindasan manusia satu sama lain.[19]

Dalam tradisi individualisme dan liberalisme Eropa kebebasan diartikan sebagai suatu keadaan di mana tidak ada paksaan atau kekangan yang diberikan oleh pihak lain. Di dalam tradisi ini, seseorang boleh dikatakan bebas sejauh dia dapat memilih tujuan-tujuan atau menentukan tindakan-tindakan; dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang ada baginya ; dan tidak dipaksa untuk bertindak oleh kehendak orang lain, negara atau oleh kekuasaan apa pun, kalau dia sendiri tidak mau melakukannya dengan suka rela.[20]

Bila dilihat dari kasus-kasus perdagangan manusia yang telah dibahas di atas, korban-korban itu tidak memiliki hidup yang bebas. Mereka dipaksa untuk melakukan semua perintah sang majikan dan agen-agen. Mereka terpaksa menekan tujuan-tujuan hidup mereka untuk terus bertahan hidup. Kabur dari lingkungan itu adalah hal yang sukar untuk dilakukan. Sebab, ada agen yang telah memalsukan identitas korban. Ketidakberdayaan korban yang lain disebabkan oleh majikan yang mencekal semua dokumen penting milik korban. Selain itu, korban-korban itu juga diawasi agar tidak kabur. Bahkan menurut pengalaman EH, ia mendapatkan perlakukan buruk oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus ketika hendak meminta perlindungan.[21] Kasus ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa lagi memandang manusia lain secara manusiawi. KBRI yang seharunya menjadi tempat perlindungan pertama bagi warga Indonesia yang sedang bermasalah di luar negeri, tidak sepenuhnya menjalankan tugas. Rasa kemanusiaan yang dituntut oleh para korban tidak mendapat tanggapan dari sesamanya yang berakal budi sehingga lagi-lagi kekerasan menghampiri kehidupan para korban.

Kekerasan bertentangan dengan kodrat manusia. Being manusiawi tidak identik dengan Kekerasan. Manusia tidak diciptakan Tuhan untuk menghidupi Kekerasan melainkan cinta. Kekerasan merendahkan martabat manusia. Kekerasan juga menghadirkan kesemrawutan dan kengerian. Tidak ada yang perlu diambil sebagai pelajaran indah dalam Kekerasan. Kekerasan tidak membuktikan apa-apa kecuali kegilaan.[22]

Para pelaku kekerasan terhadap korban perdagangan manusia telah menentang kodrat manusia, tidak ada rasa hormat kepada sesamanya. Kekerasan yang harus diterima oleh para korban membuat mereka ngeri dan semrawut. Sokrates mengatakan bahwa manusia adalah jiwanya. Jiwa adalah tempat dimana terjadinya semua aktivitas berpikir, simpati, empati, dan aktivitas lainnya. Sehingga apa yang nampak dari manusia adalah cerminan dari Jiwanya. Bila seseorang melakukan kekerasan pada orang lain, maka jiwa dari pelaku kekerasan itu bisa disebut gila. Bagi Pitagoras, badan adalah penjara jiwa, jiwa terkurung dalam badan sebagai penebusan dosa. Pemurnian jiwa diperlukan untuk membebaskan jiwa dari badan. Pengetahuan adalah jalan untuk memurnikan Jiwa. Jadi ketika pelaku kekerasan tidak memiliki pengetahuan, dia tidak akan mencapai pemurnian jiwa. Bila pelaku tidak memiliki pengetahuan, pelaku akan terus menggunakan kekerasan kepada para korban perdagangan manusia itu. Sokrates menyebut aktivitas tidak tahu itu adalah sautu dosa. Dari sudut pandang Sokrates, pelaku itu berdosa karena tidak tahu.

Pengetahuan itu mencapai puncaknya dalam keputusan. Keputusan bisa benar, bisa salah. Dalam diri manusia, ada hasrat untuk menuju kebenaran. Pengetahuan yang benar bernilai, sedangkan pengetahuan yang salah sedapat mungkin dihindari. Pengetahuan disebut benar kalau sesuai dengan kenyataan.[23]

Para pelaku itu telah memutuskan hal yang salah dengan memperdagangkan sesamanya manusia. Sebab, pengetahuan yang dimiliki para pelaku belum sampai pada pemahaman akan hakikat manusia. Sehingga bila dilihat dari perbuatan mereka yang tidak berperikemanusiaan itu, dapat dikatakan bahwa mereka tidak mendasarkan pengetahuan yang mereka miliki pada kenyataan akal budi yang memahami kodrat dari setiap manusia. Setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Bila saja mereka mengambil keputusan yang benar dalam berbuat dengan mendasarkannya pada pengetahuan yang benar pula. Maka, mereka tidak akan menjual sesamanya demi kesenangan dirinya sendiri.

 

Hukum untuk Mencapai Kedamaian

Korban-korban yang dipulangkan oleh pemerintah Indonesia melalui menterinya membuktikan adanya usaha-usaha pemerintah dalam menegakkan keadilan bagi warga Indonesia. Namun lebih dalam daripada itu, pemerintah tidak hanya sekadar memperjuangkan keadilan, melainkan lebih menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Kesadaran akan perlunya melindungi martabat manusia harus dijaga. Maka pemerintah membuat hukum tentang Tindak Pindana Perdagangan Orang. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 21 Tahun 2017 tentang Pemberantasan TPPO telah memuat aturan-aturan yang dapat menjerat para pelaku TPPO agar martabat manusia tetap dijunjung tinggi. Dalam undang-undang itu ditulis bahwa setiap orang sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki hak-hak asasi sesuai dengan kemuliaan harkat dan martabatnya yang dilindungi oleh undang-undang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.[24]

Setiap hukum yang tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia harus sesuai dengan apa yang telah menjadi kontrak sosial bangsa ini dan pengalaman penjajahan yang telah dialami oleh para pendahulu bangsa yang tanpa menyerah membela bangsa ini. Terlihat bahwa rujukan dalam hal perlindungan martabat dan harkat manusia mengarah pada UUD 1945, hal ini menunjukkan bahwa sejak bangsa Indonesia berdiri sendiri, harkat dan martabat manusia telah dilindungi. Maka dari itu pencarian hingga penangkapan para pelaku TPPO terus-menerus dilakukan oleh aparat kepolisian. Pada hari selasa, 29 November 2019 terjadi penangkapan enam orang pelaku di daerah Ceger, Jakarta Selatan.[25] Tentu pencarian hingga penangkapan para pelaku bukan dimulai dan berhenti disitu. Melainkan akan terus-menerus dilakukan untuk menegakkan keadilan bagi para korban TPPO.

Penangkapan hingga pemenjaraam dan denda yang dikenakan pada pelaku bertujuan untuk membuat mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan. Teori yang dikemukakan oleh B.F. Skinner tentang pengondisian operan bisa digunakan bagi para pelaku kejahatan ini. Menurut Skinner apresiasi dan hukuman dapat berpengaruh pada perbuatan seseorang, bila suatu perbuatan diapresiasi hingga diberi hadiah maka perbuatan itu akan terus-menerus dilakukan, tetapi bila suatu perbuatan mendatangkan hukuman, maka perbuatan tersebut tidak diteruskan. Ketika mereka merasa sadar akan apa yang mereka perbuat dan telah mendapatkan hukuman, maka menurut Skinner pelaku kejahatan ini tidak lagi membuat manusia sebagai suatu barang dagangan.

Para pelaku kejahatan perlu menyadari bahwa apa yang mereka perdagangkan adalah sesamanya manusia. Oleh sebab itu, manusia layak diperlakukan secara manusiawi.

Wajah sesamaku sebagai seruan etis adalah tema karya Emmanuel Levinas. Terhadap wajah sesamaku, kebebasanku terikat secara etis. Aku menemukan sesamaku dalam “wajah yang telanjang” yang mengatakan “terimalah aku dan jangan membunuh aku”. Aku tidak boleh menafsirkan sesamaku sebagai suatu “alter ego” (aku yang lain). Diri sesama menampakkan diri sebagai sesuatu yang mutlak lain, fenomena yang serba baru. Dan ini tidak dapat direduksi menjadi satu eksponen dari suatu keseluruhan dan kebersamaan. … Hubungan dengan sesama etis dan mewajibkan. Semua sesamaku harus ku akui sebagai tuanku. … Saya dipanggil dari “atas” dan saya harus mengorbankan diri tanpa mengharapkan apa-apa (movement sans retour).[26]

Cara manusia memandang sesuatu menentukan bagaimana ia berperilaku atau bertindak. Ketika seseorang memandang kuda sebagai alat transportasi, maka ia akan menunggangi kuda dan memeperlakukannya sebagai alat transportasi untuk mengantarkannya ke suatu tempat yang telah menjadi tujuan. Namun, bila kuda dipandang sebagai bahan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kebutuhan untuk makan, maka kuda akan dibunuh dan dagingnya akan dikonsumsi. Demikian halnya dengan manusia, bila manusia memandang manusia lain sebagai manusia, maka ia akan memperlakukan manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia yang bebas dari penindasan dan paksaan.  Sehingga tidak akan ada perdagangan manusia bahkan kekerasan terhadap manusia lain. Tidak ada manusia yang mau disamakan dengan suatu barang atau hewan yang diperjual-belikan. Sebab, barang atau hewan yang diperjual-belikan harus mengikuti kemauan pedagang dan para pembelinya. Bila manusia disamakan dengan barang, mausia tidak lagi memiliki kebebasan untuk menentukan hidup sesuai dengan keinginannya. Ketika manusia sudah sanggup memandang manusia lain sebagai manusia, maka akan terjalin suatu relasi yang tidak hanya fungsional tetapi juga membangun dan saling melengkapi. Sehingga semua kelebihan atau kekurangan seseorang dapat menjadi suatu keunikan pribadi dan dalam hal ini tidak akan ada manusia yang memanfaatkan atau dimanfaatkan.

 

Pribadi yang Menjiwai Pancasila 

Ideologi yang dimiliki bangsa Indonesia mencakup nilai-nilai universal. Pancasila memuat nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan atau kesatuan, kerakyatan, permusyawaratan, dan keadilan. Nilai-nilai tersebut berhubungan dengan tiga topik utama dalam filsafat yaitu alam, manusia, dan Tuhan. Para pendiri Bangsa Indonesia menyadari pentingnya ketiga hal itu. Sehingga Pancasila yang menjadi dasar negara dan menjadi pedoman hidup segenap warga negara Indonesia dapat mengatur relasi manusia denga Tuhan, mansia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam atau tanah airnya. Dengan demikian Pancasila menjadi suatu ideologi yang mampu memerangi semua bentuk-bentuk kejahatan seperti satu diantaranya adalah TPPO.

Pancasila dapat menjadi suatu alat untuk mengatur bagaimana warga Indonesia memandang sesamanya dan berperilaku terhadap sesamanya. Sehingga terciptalah keadaan yang makmur, aman, dan sentausa. Sebenarnya bukanlah hal yang susah untuk mengamalkan Pancasila, sebab Pancasila dibuat dengan memperhatikan karakter dan watak dari manusia Indonesia. Kelima nilai yangg tekandung dalam Pancasila adalah cerminan dari watak manusia Indonesia. Namun, karena tidak kritisnya sebagian manusia Indonesia dalam menyikapi budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa ini, karakter bangsa Indonesia seperti solidaritas, gotong-royong, menghormati satu sama lain, dan menjunjung tinggi martabat manusia akan hilang. hilangnya karakter ini mengakibatkan timbulnya kasus-kasus kejahatan seperti TPPO. Maka dari itu, para pelaku yang telah tertangkap perlu untuk didoktrin nilai-nilai Pncasila. Selain itu setiap warga negara Indonesia wajib menanamkan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidak ada lagi kasus perbudakan manusia yang menimpa warga negara Indonesia.

 

Penutup

Kasus-kasus perbudakan telah ada sejak abad-abad sebelum masehi dan masih ada sampai sekarang. Perbudakan menjadi semacam budaya yang diturunkan dari generasi pendahulu hingga generasi saat ini. Pada zaman dahulu, telah terjadi perbudakan di Indonesia. Para budak berguna sebagai sesuatu yang diperjual-belikan, diwariskan, dan dihadiahkan. Bentuk perbudakan pada zaman modern ini salah satunya adalah perdagangan manusia. Tindakan Perdagangan manusia ini bertentangan dengan kodrat manusia yang bebas tanpa paksaan dari orang lain dalam menggapai tujuan hidupnya. Sebab, setiap manusia mempunyai akal budi yang berguna untuk membedakan antara sesamanya manusia dan binatang, demikianlah yang dikatakan oleh Thomas Aquinas. Sedangkan menurut Sokrates, manusia adalah jiwa atau batinnya. Jiwa adalah tempat dimana terjadinya aktivitas berpikir dan aktivitas lainnya. Maka dari itu tindakan atau perbuatan manusia adalah cerminan jiwa. Bila jiwanya baik, maka tindakannya juga baik. Dengan demikian jiwa para pelaku perdagangan manusia itu buruk. Sebab apa yang mereka lakukan itu buruk. Pemurnian jiwa manusia dapat dilakukan bila memiliki pengetahuan. Sebab, pengetahuan dapat mengarahkan jiwa pada kebenaran yang sesungguhnya.

Cara manusia memandang sesuatu menentukan bagaimana perilaku yang akan diambilnya. Bila para pelaku perdagangan manusia memandang manusia sebagai manusia. Maka, manusia tidak akan mereka jadikan objek perdagangan yang dapat dipergunakan sesuka hati para pelaku praktik perdagangan manusia. Bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Sehingga setiap warga negara akan mendapatkan perlindungan ketika mendapatkan perlakuan keras dari para pelaku yang mengambil bagian dalam memperdagangkan manusia Indonesia. Sebab Ideologi Pancasila memuat nilai-nilai yang menjunjung tinggi martabat manusia. Setiap warga negara Indonesia yang menjiwai nilai-nilai Pancasila secara tidak langsung memerangi praktik perdagangan manusia. Penjiwaan akan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila membentuk suatu karakter yang membuat manusia Indonesia saling menghargai dan menghormati sesamanya manusia sebagai manusia. Sehingga setiap manusia Indonesia diperlakukan secara manusiawi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hadi, P. Hardono. Jati Diri Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Riyanto, Amada. Menjadi Mencintai. Yogyakarta: Kanisius.

Snidjer, Aldebert. Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan. Yogyakarta: Kanisius.

Snidjer, Aldebert. Manusia Kebenaran. Yogyakarta: Kanisius.

Soeroto, A. Abraham Lincoln Penentang Perbudakan. Jakarta: Djambatan.

 

Sumber Koran

Kompas, Paus Kecam Eksploitasi Perempuan. Jumat, 22 November 2019.

 

Sumber Internet

https://internasional.kompas.com/read/2012/03/15/09415158/Pembawa.Budak.Pertama.di.Dunia?page=all

https://nasional.kompas.com/read/2017/03/29/19382151/menyikapi.perdagangan.manusia?page=all

https://regional.kompas.com/read/2019/06/27/13255471/7-fakta-mon-korban-perdagangan-manusia-dijanjikan    -jodoh-pria-kaya-asal?page=all

https://regional.kompas.com/read/2019/10/15/13255011/berbagai-modus-perdagangan-manusia-dari-pengantin-pesanan-hingga-pemebriann?page=all

https://dunia.tempo.co/read/904965/modus-perdagangan-manusia-di-asean-kawin-kontrak-hingga beasiswa/full&view=ok

https://www.hidupkatolik.com/2019/06/10/36993/siapa-suruh-jadi-buruh/

https://nasional.kompas.com/read/2019/04/10/08193921/cerita-pilu-korban-perdagangan-orang-terima-perlakuan-buruk-oknum-kbri?page=all

https://pih.kemlu.go.id/files/UU_no_21_th_2007%20tindak%20pidana%20perdagangan%20orang.pdf

https://nasional.kompas.com/read/2019/10/29/16474621/polisi-tangkap-6-pelaku-perdagangan-orang-48-perempuan-jadi-korban

[1]https://internasional.kompas.com/read/2012/03/15/09415158/Pembawa.Budak.Pertama.di.Dunia?page=all (akses 1 November 2019)

[2] Ibid.,

[3] Ibid.,

[4] AP/AFP/REUTERS/LOK, “Paus Kecam Eksploitasi Perempuan,” Kompas, Jumat, 22 November, 8.

[5] Ibid.,

[6]https://nasional.kompas.com/read/2017/03/29/19382151/menyikapi.perdagangan.manusia?page=all (akses 1 Desember 2019)

[7] Ibid.,

[8]https://regional.kompas.com/read/2019/06/27/13255471/7-fakta-mon-korban-perdagangan-manusia-dijanjikan    -jodoh-pria-kaya-asal?page=all (akses 1 Desember 2019 )

[9]https://regional.kompas.com/read/2019/10/15/13255011/berbagai-modus-perdagangan-manusia-dari-pengantin-pesanan-hingga-pemebriann?page=all  (akses 1 Desember 2019)

[10] Ibid.,

[11]https://regional.kompas.com/read/2019/06/27/13255471/7-fakta-kisah-mon-korban-perdagangan-manusia-dijanjikan-jodoh-pria-kaya?page=all (akses 1 Desember 2019)

[12] https://dunia.tempo.co/read/904965/modus-perdagangan-manusia-di-asean-kawin-kontrak-hingga beasiswa/full&view=ok (akses 1 Desember 2019)

[13] https://www.hidupkatolik.com/2019/06/10/36993/siapa-suruh-jadi-buruh/ (akses 2 Desember 2019)

[14]https://regional.kompas.com/read/2019/06/27/13255471/7-fakta-kisah-mon-korban-perdagangan-manusia-dijanjikan-jodoh-pria-kaya?page=all (akses 2 Desember 2019)

[15]https://nasional.kompas.com/read/2019/04/10/08193921/cerita-pilu-korban-perdagangan-orang-terima-perlakuan-buruk-oknum-kbri?page=all (akses 2 Desember 2019)

[16] https://www.hidupkatolik.com/2019/06/10/36993/siapa-suruh-jadi-buruh/ (akses 2 Desember 2019)

[17] P. Hardono Hadi, Jati Diri Manusia (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 38.

[18] A. Soeroto, Abraham Lincoln Penentang Perbudakan (Jakarta: Djambatan, 1975), 21.

[19] Armada Riyanto, Menjadi Mencitai (Yogyakarta: Kanisius, 2013), 220.

[20] Hadi, Op. cit., 155.

[21]Akhirnya EH dikembalikan ke agen oleh pihak KBRI dan mendapat pukulan dari agen, setelah itu EH dijual lagi ke Irak. Di majikannya yang baru dia tetap diperlakukan secara kasar, bahkan diperkosa oleh anak majikannya hingga hamil. Lih. https://nasional.kompas.com/read/2019/04/10/08193921/cerita-pilu-korban-perdagangan-orang-terima-perlakuan-buruk-oknum-kbri?page=all (akses 2 Desember 2019).

[22] Riyanto, Op,cit., 93.

[23] Adelbert Snidjer, Manusia Kebenaran (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 109.

[24]https://pih.kemlu.go.id/files/UU_no_21_th_2007%20tindak%20pidana%20perdagangan%20orang.pdf (akses 3 Desember 2019).

[25]https://nasional.kompas.com/read/2019/10/29/16474621/polisi-tangkap-6-pelaku-perdagangan-orang-48-perempuan-jadi-korban (akses 3 Desember 2019).

[26] Adelbert Snidjers, Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 49-50.

 

TRI_2020Jan20_Artikel Efrem_005

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *