Artikel

MEMAKNAI HARI KARTINI

Oleh Monika Widyastuti Surtikanti, M. Pd. (Dosen PBI STKIP Pamane Talino)

 

Raden Ajeng (R.A) Kartini lahir pada 21 April 1879. Beliau adalah wanita bangsawan  terpelajar yang gigih memperjuangkan ide dan gagasan tentang kesetaraan gender pada masa penjajahan. Pada masa itu, R.A Kartini yang memperoleh kesempatan belajar dan berkorespondensi dengan pelajar di Eropa membandingkan kesetaraan hak wanita di Eropa dan wanita pribumi. Ketimpangan hak wanita pribumi inilah yang “merasuki’ jiwa RA Kartini untuk memperjuangkan hak-hak wanita, diantaranya hak untuk memperoleh pendidikan. Beliau lalu mendirikan sekolah bagi wanita pribumi.

Tanpa perjuangan RA Kartini, mungkin kita tidak akan pernah mengenal sosok Sri Mulyani Indrawati- Menteri Keuangan RI dan beliau juga pernah menjawab sebagai Direktur Bank Dunia, atau Susi Pudjiastuti-Menteri Perikanan dan Kelautan, dan bahkan dr. Karolin Margret Natasha- Bupati Landak. Berkat Kartini, peran wanita diperhitungkan dalam berbagai bidang.  Atas dedikasi beliau, maka pada 2 Mei 1965 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 yang berisi penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya” ujar Bung Karno. Maka setiap tanggal 21 April diperingatilah sebagai Hari Kartini. Memaknai hari Kartini tidak hanya sebatas perayaan seremonial. Berdandan cantik menggunakan baju daerah, perlombaan memasak, atau fashion show menggunakan baju daerah adalah kegiatan normatif yang dilakukan banyak instansi dalam memperingati Hari Kartini. Tapi apakah demikian pemaknaannya?

Tentu tidak hanya sebatas itu. Pemikiran Kartini yang brillian perlu kita maknai dan hidupi dalam kehidupan sehari-hari. “Habis Gelap, terbitlah Terang” sebuah judul buku populer yang ditulis RA Kartini harus terus digaungkan dan digelorakan setiap hari tak hanya pada tanggal 21 April. Makna “habis gelap” bisa kita maknai dengan meninggalkan hal-hal buruk sifat iri, dengki, picik, kesombangan , dan lain-lain dan beralih menuju pada “terang” kebaikan.

Suatu ketika mantan mahasiswa saya bercerita bahwa dirinya adalah satu-satunya gadis yang memperoleh gelar sarjana di kampungnya. Kemudian saya bertanya, bagaimana itu bisa terjadi? Dia bercerita bahwa kebanyakan orang-orang di kampungnya menganggap pendidikan tidaklah terlalu penting bagi wanita. Seorang anak gadis akan segera dinikahkan ketika ia sudah akhil baliq. Maka angka putus sekolah terutama di kalangan gadis-gadis di desanya relatif tinggi. Teman- teman masa kecil dan sekolahnya sudah banyak yang menikah bahkan anak-anak mereka sudah relatif cukup besar. Hal ini membuat saya semakin salut dengan mahasiswi ini yang mampu memperjuangkan cita-citanya untuk menempuh pendidikan tinggi. Dia menjadi “telur yang menetas pertama”, menginspirasi, dan menjadi contoh bagi tetangga-tetangganya. Dia  adalah sosok Kartini di kampungnya.

Kartini yang dahulu berjuang demi pemenuhan hak-hak wanita melawan adat kolot nan usang dan belenggu kolonialisme yang tak kunjung lekang karena sudah berjelaga. Sedangkan Kartini jaman sekarang masih harus berjuang melawan paradigma dan bahkan stigma yang melekat pada wanita. Bahwa wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Bahwa wanita seutuhnya adalah wanita yang menikah dan memiliki anak. Apakah wanita yang memutuskan untuk tidak menikah adalah bukan wanita seutuhnya?. Wanita sejati adalah yang pernah melahirkan anak secara normal, lalu apakah wanita yang melahirkan secara sesar dengan bekas luka jahitan yang menyiksa adalah bukan wanita sejati?. Label-label inilah yang harus dihapus. Berhenti mengkotak-kotakkan hal demikian. Begitu pula untuk kaum pria. Berhenti menjadikan bagian tubuh wanita sebagai bahan candaan. Percayalah, itu tidak lucu, bung!

Untuk menghidupi semangat Kartini diperlukan perubahan pemikiran progresif. Mengubah stigma menjadi paradigma baru yang membangun. Itulah makna dari “Habis gelap terbitlah terang.”

Perayaan Hari Kartini pada masa Pandemi Covid 19 ini pastilah berbeda. Tidak ada lomba baju daerah, tidak ada dandanan mencolok, tidak ada hiasan sana sini. Momen seperti ini sudah layaknya dimanfaatkan untuk berefleksi. Kembali melihat ide dan gagasan Kartini. Kartini yang penuh semangat, Kartini yang gigih, Kartini yang pantang menyerah, dan Kartini yang ingin melihat wanita Indonesia bersinar. Semangatnya harus selalu digulirkan, disuarakan, direalisasikan sesuai konteks perkembangan zaman.

Sejalan dengan semangat Kartini, wanita Indonesia perlu untuk terus berbenah. Berefleksi atas kontribusi yang telah diberikan maupun yang belum mampu diberikan. Lantang memperjuangkan haknya. Berani menentang kekerasan dan segala bentuk pelecehan. Dalam hal ini wanita tentu tidak bisa berjuang sendiri. Kaum pria perlu juga untuk mendukung semua bentuk usaha, karya, inovasi, ide, dan gagasan wanita agar bisa terus bersinergi.

Memaknai hari Kartini memerlukan perjuangan yang konsisten. Sama seperti beliau yang teguh dan konsisten pada impiannya.

Selamat Hari Kartini para wanita Indonesia. Teruslah berkarya. Tegakkan kepala, melajulah dan raihlah mimpi.

Bukan laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat usang“.

(R.A. Kartini)

 

DAFTAR PUSTAKA

https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/13/120000369/biografi-ra-kartini-pejuang-emansipasi-perempuan?page=all. Diambil pada 20 April 2020

https://nasional.kompas.com/read/2017/04/25/18060681/kartini.dan.bung.karno?page=all. Diambil pada 20 April 2020

 

TRI_2020Apr21_Artikel Monika 019

Download PDF

1 thought on “MEMAKNAI HARI KARTINI

    • Author gravatar

      Dengan mengingat kembali perjuangan RA Kartini, semoga peran wanita di negeri tercinta ini semakin bertambah banyak dan kesetaraan gender juga semakin meningkat terutama di daerah yang masih menggunakan tradisi adatnya menganggap laki laki itu lebih tinggi derajatnya dari pada perempuan. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sama derajatnya yang berarti sederajat. Selamat hari Kartini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *