Artikel

LIYAN-KAH PEREMPUAN?

Oleh Benedictus Hasan (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)

 

Pengantar

Ketika kita mengucapkan terminologi “manusia” serentak di dalamnya disertakan dua gender dari manusia itu sendiri, yaitu laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya keduanya berbeda secara gender, namun sama secara martabat. Perbedaan gender ini dalam perkembangan zaman ternyata membawa petaka tersendiri bagi salah satu gender, yaitu perempuan.

Perempuan kerap kali tidak dilihat sebagaimana mestinya dalam kerangka kemanusiaan. Kerangka kemanusiaan mengajarkan bahwa setiap manusia merupakan subjek, tetapi pada kenyataannya tubuh perempuan kerap kali diobjektivikasi oleh berbagai pihak, baik itu dari laki-laki maupun dari sesama gender perempuan itu sendiri. Dengan kata lain, di sini tubuh perempuan diliyankan.

Objektifikasi terhadap tubuh perempuan adalah sebuah pelanggaran bagi kemanusiaan manusia. Sudah barang tentu halnya mengarah kepada dehumanisasi manusia. Dehumanisasi ini bertentangan dengan moral, khususnya moral kristiani yang menyatakan bahwa manusia adalah imago Dei. Dengan dasar ini, martabat perempuan sebagai yang ambil bagian dalam kecitraan ini harus dijaga, dan liyanisasi perempuan pun merupakan sebuah pelanggaran secara moral.

 

Liyan dan Perempuan

Secara gramatikal, terminologi liyan dapat dimengerti sebagai dia yang lain, atau dapat dikatakan sebagai orang ketiga. Dalam pandangan sejarah, mulai dari zaman Yunani kuno hingga kini, liyan tidak mendapat tempat yang baik. Liyan itu identik dengan mereka yang tersisih, tersingkir, menderita, terlantar, anak-anak dan perempuan.

Misalnya saja dalam pemikiran ideologi, pemahaman tentang liyan menunjukkan bahwa ia dipandang secara tidak manusiawi. Contohnya saja dalam revolusi industri, di sini liyan disimak sebagai kelompok masyarakat yang tersisih, tertindih, oleh beban kehidupan di satu pihak terpojok oleh kemiskinan telak.[1] Liyan dikenakan tindakan ketidakadilan. Demikian pula yang terjadi dalam ideologi kapitalis, liyan adalah mereka yang terkena kemiskinan, kaum buruh, masyarakat proletar yang sama sekali berbeda dengan mereka sang pemilik modal.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa liyan sesungguhnya tidak diperlakukan sebagai seorang subjek. Liyan kerap kali diobjektivikasi oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dengan kemanusiaan. Kemanusiaan liyan kerap diingkari oleh kepentingan oknum yang tak bertanggung jawab.

Dalam diskursus filosofis, Liyan tak terpisahkan dari eksistensi perempuan.[2] Ketakterpisahan Liyan dari eksistensi perempuan terjadi karena terdapat dualitas dalam pandangan umum tentang perempuan. Perbedaan pandangan ini secara signifikan memberikan pengaruh terhadap eksistensi dan hidup perempuan. Perempuan kerap kali tidak dipandang secara protagonis, tetapi diperlakukan secara antagonis.

Dualitas yang kontradiktif ini merupakan ironi bagi eksistensi perempuan. Sangat disayangkan bahwa ironi ini merupakan situasi faktual dalam sosietas. Perempuan memang bereksistensi sebagai subjek dalam sosietas, tetapi ia rupanya juga dipandang sekaligus sebagai objek pula. Perempuan kerap kali dipuja karena keelokkan wajahnya dan juga oleh kemolekkan tubuhnya, namun ia tertindas.

Penindasan terhadap perempuan tak bisa dipungkiri bersandar pada budaya. Budaya patriarkis-maskulinistik yang menjadi paham sebagian besar warga dunia membuat perempuan berada dalam situasi ini. Hal ini menjadi dasar penyingkiran kaum perempuan dalam banyak aspek kehidupan manusia di seluruh dunia.

Aspek yang paling kelihatan adalah politik. Aristoteles seorang filsuf yang juga menaruh perhatian besar pada politik, menyatakan bahwa perempuan tidak punya hak dalam partisipasi aktif berpolitik. Perempuan tidak memiliki urusan dalam bidang ini. Hal ini dikatakan Aristoteles karena ia beranggapan bahwa perempuan yang terlalu menggunakan perasaannya tidak cocok di bidang ini. Dengan dominan menggunakan perasaan, maka perempuan dikatakan hanya lebih tinggi sedikit dari binatang. Hanya laki-laki yang dianggap Aristoteles sebagai manusia, karena laki-laki dominan menggunakan akal budi.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, eksistensi perempuan pun mendapat tempat yang kurang baik. Kacamata sejarah menunjukkan bahwa perempuan tidak ditempatkan pada posisi yang tepat, pada martabat sesungguhnya. Perempuan tidak menikmati hal-hal yang pada umumnya dinikmati oleh laki-laki, seperti pendidikan. Eksistensi perempuan Indonesia di masa lalu sangat tidak akrab dengan dunia pendidikan. Mereka dijauhkan dari hal ini karena dianggap perempuan itu tempatnya adalah di dapur.

Pendidikan yang sama sekali tidak identik dengan perempuan ini pada akhirnya menjadi momok, karena perempuan Indonesia adalah perempuan yang kurang terdidik secara intelektual. Baru pada zaman Raden Ajeng Kartini realitas ini ditabrak. Beliau merupakan tokoh emansipasi wanita yang membawa perubahan yang amat signifikan dalam kelanjutan sejarah eksistensi perempuan Indonesia. Keterpisahan perempuan terhadap pendidikan merupakan sebuah penindasan intelektual terhadap kaum ini. Keterpisahan ini menunjukkan pandangan bahwa perempuan memiliki kualitas di bawah laki-laki secara intelektual di masa itu.

 

Meliyankan Tubuh Perempuan

Pengidentikkan liyan dengan perempuan mengantar perilaku liyaninasi terhadap perempuan. Dalam buku Relasionalitas oleh Armada Riyanto digambarkan dengan sangat jelas liyanisasi ini dalam diri Sumiati seorang Narkerwan (tenga kerja wanita) Indonesia yang dianiaya oleh majikannya di Saudi. Foto-foto yang beredar menampilkan wajah dari Sumiati yang tidak lagi elok dipandang. Mukanya sembab, bibirnya digunting, wajahnya amat mengenaskan.

Penyiksaan fisik yang diterima oleh Sumiati merupakan pukulan bagi bangsa ini, bangsa yang dikatakan sebagai bangsa yang besar, tetapi belum mampu mendidik dan menjamin keamanan dari warganya. Sudah jelas dengan penyiksaannya martabat Sumiati pasti dihina. Penghinaan terhadapnya merupakan penghinaan terhadap kemanusiaannya. Martabatnya dihina.

Miris, Tenaga Kerja Indonesia pada dasarnya menyumbangkan dana yang cukup besar bagi devisa negara ini tetapi pemerintah bersikap acuh. Tenaga Kerja Indonesia tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup. Ia dianiaya di negeri orang tetapi juga terdepak dari penghargaan dan perlindungan dari negeri sendiri. Sumiati diliyankan oleh majikannya juga bahkan oleh negaranya sendiri.

Liyan (other) adalah konsep ontologis etis. Dalam Liyan dipertaruhkan nilai keluhuran manusia. Dalam bukunya, Second Sex, filsuf Simone de Beauvoir menulis, “One is not born, but made a woman.” Ungkapan ini mengatakan sebuah protes keras terhadap  perlakuan societas kepada perempuan. Menurut de Beauvoir, perempuan itu tidak (pernah) ada sampai dia “dibuat demikian” oleh societas. Perempuan telah lama terdiskriminasi. Perempuan tidak terlahir, melainkan  “dicetak”. Artinya, perempuan sebenarnya teraniaya, terpenjara, terdepak dari segala pengakuan kesederajatan luhur dan indah. Tubuh perempuan bukan miliknya, tetapi milik societas (laki-laki), untuk sopan-santun, menjaga nafsu, dan semacamnya.[3]

Dari gagasan di atas, apabila konsep Liyan dipandang sebagai konsep ontologis etis, maka kehadiran diri perempuan pun menyatakan konsep etis. Konsep etis dalam gagasan filosofi Levinas mengarah pada keterbukaan dan rasa hormat terhadap liyan.[4] Rasa hormat ini merupakan sebuah tanggung jawab yang dimiliki oleh setiap orang saat berjumpa dengan liyan.

Dalam kasus Sumiati, tanggung jawab akan martabat dan nilai etis dari kehadiran diri Sumiati sama sekali tidak diperhitungkan. Pertama-tama apabila dilihat dari sudut pandang sang majikan, Sumiati hanyalah pekerja tanpa memandang sisi manusiawinya. Konteks diri dari Sumiati, martabatnya dan kepentigannya tidak diperhitungkan. Sumiati dinilai hanya sebatas materi belaka. Ia adalah ‘barang’ yang dapat diperlakukan dengan seenaknya oleh ‘tuannya’. Tubuh Sumiati bukan lagi miliknya sendiri.

Dari sudut pandang negeri ini, Sumiati baru dikenali sesudah tragedi yang ia alami. Pengetahuan tentang Sumiati bersifat post factum penganiayaan. Dalam hal ini seolah ‘perlu penganiayaan’ untuk megenal seorang Sumiati. Ia bila tidak dianiaya adalah seorang yang anonim di negeri ini. Eksistensinya sama sekali tidak diperhitungkan. Dalam banyak kasus, teradapat banyak Sumiati-Sumiati lain yang tertindas, terliyanisasi. Ini adalah sebuah ironi bagi kemanusiaan.

Tubuh Sumiati tidak dipandang sebagaimana mestinya. Tubuhnya bagaikan barang yang bisa dieksploitasi dengan bebas oleh pihak tertentu yang merasa diri lebih berkuasa atas tubuh itu. Tubuh mewakili martabat manusia, demikian pula dengan perempuan, maka pengeksploitasian terhadap tubuh adalah penghinaan terhadap martabat manusia. Pengeksploitsian ini merupakan proses dehumanisasi. Dehuhmanisasi adalah sebuah pelanggaran berat terhadap esensi dari kemanusia. Hal ini kemudian akan digali lebih lanjut dalam tulisan ini.

 

Manusia Mengada dengan Tubuhnya

Being (mengada) manusia identik dengan proses memanusiawinya. Proses memanusiawi manusia memerlukan tubuh sebagai media dari proses memanusiawinya. Tubuh manusia itu mengatakan kehadirannya.[5] Kehadiran manusia dengan tubuhnya menyatakan esensi dari keberadaannya di dunia, dengan kata lain dengan hadirnya tubuh manusia, ia hadir dengan kemanusiaannya.

Kemanusiaan adalah itu yang menjadi hakikat manusia. Kemanusiaan mengatakan aspek sama dalam setiap manusia. Setiap manusia memiliki kemanusiaan, dalam kerangka ini dimengerti bahwa manusia itu adalah sama dalam kemanusiaan dan martabat. Dengan mengerti hal ini secara demikian, maka apabila seseorang menghargai Presiden dengan penghormatan yang sedemikian rupa, tak ada alasan baginya untuk tidak menghormati pengemis di jalanan dengan cara yang sama, karena keduanya memiliki martabat yang sama.

Martabat dan kemanusiaan pada akhirnya membawa manusia pada konsep etis. Dengan tubuh sebagai itu yang menunjukkan martabat dan kemanusiaan, maka halnya harus dihormati dan diperlakukan secara etis. Filosof Levinas menggagas bahwa konsep etis harus diaplikasikan dalam relasi antara aku dan liyan. Relasi antara aku dan liyan adalah relasi yang asimetris. Relasi asimetris menyatakan bahwa liyan adalah dia yang martabatnya harus aku hormati. Liyan tidak sama denganku, ia berbeda dalam keberlainannya.

Gagasan filsafat alteritas Levinas adalah gagasan yang amat luar biasa. Ia memberi cakrawala baru bagi pandangan filosofis Cartesius yang menekankan cogito. Hal ini menjadikan aku sebagai yang utama, yang lain tidak. Secara implisit gagasan ini seolah melegalkan eksploitasi terhadap liyan, juga alam semesta. Levinas hadir untuk memperbaharui gagasan ini.

Dengan gagasan etis relasi asimetris, Levinas ingin menyatakan bahwa pelanggaran terhadap tubuh liyan adalah pelanggaran terhadap kemanusiaan dan martabatnya. Demikian yang terjadi terhadap perempuan, yang dalam uraian di atas wajah perempuan diwakili oleh Sumiati. Martabatnya dihina.

Pembicaraan tentang martabat manusia adalah hal yang amat esensial untuk didiskusikan, terlebih tentang perempuan yang dalam sejarah sudah dipandang sebelah mata. Pembicaraan ini tidak hanya diminati oleh bidang filsafat semata, tetapi juga oleh teologi terlebih khusus Teologi Moral. Teologi moral melihat martabat manusia sebagai itu yang amat bernilai, karena diperoleh dari Dia Sang Pencipta. Demikian uraian di bawah ini akan dibahas tentang pandangan Teologi Moral tentang kemanusiaan.

 

Martabat Manusia dalam Perspektif Gereja Katolik

Sudah sejak Konsili Vatikan II, Gereja menekankan bahwa proses berteologi harus berangkat dari Kitab Suci. Kitab Suci harus menjadi jiwa dari teologi, teologi suci harus bertumpu pada sabda Allah yang tertulis, bersama dengan Tradisi suci, sebagai landasan yang tetap.[6] Maka dalam gagasan tentang martabat manusia, uraian ini akan berangkat dari Kitab Suci sebagai titik tolak. Dalam Kitab Suci martabat manusia dijelaskan dalam kitab Kejadian. Manusia adalah dia yang diciptakan lebih tinggi dari ciptaan manapun dalam rangkaian kisah penciptaan. Penciptaan manusia pun dilakukan pada hari keenam, sebelum hari ketujuh pada saat Allah beristirahat.

Dalam kitab Kejadian 1:26-27, dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia seturut citraNya agar berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan seturut citraNya. Dalam kerangka kitab Kejadian ini kita mengerti bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama di hadapan Allah, dengan tugas yang sama seperti tertulis dalam ayat 26, dan dengan membawa martabat yang sama, citra Allah.

Menyatakan bahwa manusia adalah imago Dei merupakan pernyataan yang teologis.[7] Halnya dikatakan teologis karena ada relasi antara Allah dan manusia. Relasi ini memiliki dampak pada makna menjadi manusia. Manusia sekalipun berdosa tidak akan kehilangan martabatnya sebagai citra Allah ini. Manusia sekalipun ia adalah pengemis, anak jalanan, penderita cacat, bahkan Sumiati yang adalah narkerwan pun tak pernah bisa dilepaskan dari kenyataan ini, halnya melekat dalam tubuh manusia. Status gambar dan rupa Allah ini sama sekali tidak dapat ditarik kembali.[8]

Secara teologis, Allah yang transenden menjadi immanen dalam manusia sebagai citraNya. Allah tidak pernah melegalkan manusia berbuat tidak adil terhadap sesamanya. Dalam warta gembira Injil, Yesus sendiri telah menyatakan bahwa hukum yang tertinggi adalah kasih, kasihilah Tuhan Allahmu dan sesamamu manusia, demikian bunyi perintahNya.

Tubuh manusia mewakili citra Allah di dunia. Dengan kehadiran tubuhnya di dunia ia menghadirkan pribadi transenden yang megatasinya dan menjadikannya. Kelekatan antara Dia yang transenden dengan manusia adalah kelekatan yang relasional. Manusia dengan beradanya di dunia mensyaratkan adanya Dia yang transenden sebagai necesarium dari manusia yang contingens. Tanpa adanya Dia yang transenden tidak ada apa-apa di dunia ini.

Tubuh manusia mencapai keparipurnaannya sebagai citra Allah dalam inkarnasi Yesus. Allah yang mengambil rupa manusia serentak telah mengangkat martabat tubuh manusia dalam keallahannya. Yesus telah mengerjakan hal ini dalam inkarnasinya, Ia mengambil rupa dalam manusia yang adalah citraNya.

Menyimak Transendensi Keindahan dalam Perempuan

Tubuh perempuan adalah itu yang sering menjadi objek apresiasi dari laki-laki. Apresiasi itu datang dengan alasan bahwa tubuh itu indah, molek, sensual dan sebagainya. Dalam kerangka apresiasi yang seperti ini, tubuh perempuan hanya dilihat sebatas materinya saja. Kemampuan intelek untuk mengatakan bahwa tubuh itu seksi adalah produk dari instrumen sensibilis manusia yaitu lewat mata yang melihatnya, atau tangan yang merabanya.

Instrumen sensibilis hanya melihat tubuh sejauh materi dan memberikan penilaian langsung atasnya. Peniaian ini di satu sisi bersifat objektif karena berdasarkan pengalaman. Dalam Kant, pengetahuan ini disebut pengetahuan a posteriori. Penilaian ini terbatas dan tidak sampai pada nilai transendental dari tubuh perempuan. Padahal dalam konsep metafisika, perempuan itu harus dipandang sejauh ada. Sejauh ada mengatakan ada objek formal di balik tubuh yang kelihatan indah itu.

Keindahan memiliki karakteristik universal sekaligus subjektif. Keindahan yang universal adalah keindahan yang objektif. Sesuatu tampak indah karena sesuatu itu sebagai objek menampilkan keindahan. Keindahan dipandang sebagai sesuatu yang subjektif memaksudkan bahwa keindahan itu tergantung dari subjek yang memandang objek tertentu.

Dalam hal ini, problem transcendental keindahan pertama-tama bukan soal subjektivitas atau objektivitas keindahan seperti diurai di atas. Transendensi keindahan menunjuk pada refleksi mengenai kodrat atau natura dari keindahan itu sendiri.[9] Transendensi keindahan mau mengatakan bahwa ia mengatasi partikularitas baik keindahan subjektivitas maupun objektivitas.

Dalam konteks teologi katolik, keindahan dipandang sebagai indah karena berpartisipasi dengan Sang Keindahan sejati, yaitu Allah sendiri. Demikian tubuh perempuan dipandang sebagai indah pertama-tama bukan karena kemolekan dari tubuhnya, dan keindahan dari lekuk tubuhnya. Tubuh perempuan dipandang sebagai indah karena berpartisipasi dengan Sang Keindahan Sejati itu. Partisipasi ini yang membuat tubuh itu menjadi indah.

Lagi keindahan tubuh perempuan itu selalu bersumber dari naturanya. Natura dari perempuan sebagai dia yang adalah citra dari Allah menjadi alasan dari keindahan itu. Allah adalah keindahan sejati, Ia sebagai causa exemplaris dari manusia mewariskan keindahan itu kepada citraNya. Perempuan sebagai imago Dei menerima keindahan ini sebagai konsekuensi dari naturanya yang adalah citra Allah. Maka dalam kerangka berpikir teologis, keindahan tubuh bukan merupakan pencapaian pribadi perempuan dari hasil diet, olahraga dan sebagainya, melainkan keindahan tubuhnya adalah konsekuensi dari naturanya yang adalah citra Allah.

 

Penutup

Tubuh memiliki arti yang amat mendalam bagi manusia baik laki-laki maupun perempuan. Tubuh memancarkan keindahan. Keindahan ini mengalir dari Sang Keindahan sejati yaitu Allah sebagai causa exemplaris dari manusia. Namun dalam kenyataannya keindahan tubuh ini kerap disalahgunakan sebagai bahan eksploitasi. Pengeksploitasian ini marak terjadi terhadap perempuan. Hal ini merupakan objektivikasi terhadap tubuh itu. Pengeksplotasian merupakan penyangkalan terhadap keindahan tubuh itu. Keindahan ini tidak bisa dipandang sebatas materi saja, ia memiliki sisi transendentalnya. Keindahan ini berpartisipasi dengan keindahan dari Dia Sang Keindahan sejati, karena perempuan adalah citraNya. Keindahan ini mengalir sebagai konsekuensi dari natura perempuan yang adalah citra Allah.

Liyanisasi pada diri perempuan dari sendirinya adalah tidak etis. Epifani wajah perempuan menuntut tanggung jawab atas eksistensinya. Konsekuensi langsung dari eksistensi manusia, yang dalam konteks tulisan ini ialah perempuan, adalah etika itu sendiri. Etika merupakan fondasi dari tiap relasi, demikian liyanisasi dengan segala manifestasinya adalah tindakan non-etis. Oleh karena itu, bentuk tanggung jawab atas eksistensi perempuan adalah tindakan etis yang menjamin, menunjukkan dan mempertahankan martabatnya dengan relasi yang berfondasikan etika.

 

Daftar Pustaka

Aman, Peter C. Moral Dasar Prinsip-Prinsip Pokok Hidup Kristiani. Jakarta: Obor, 2016.

Konsili Vatikan II. “Konstitusi Dogmatis Tentang Wahyu Ilahi (DV) dalam Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R.Hardawiryana, S.J. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI-Obor, 1993.

Tjaya, Thomas Hidya.  Emmanuel Levinas Enigma Wajah Orang Lain. Jakarta: KPG, 2018

Riyanto, Armada. Diktat Metafisika. Unpublished.

_____________.  Menjadi Mencintai. Yogyakarta: Kanisius, 2013.

_____________.  Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Yogyakarta:  Kanisius, 2018.

[1] Armada Riyanto, Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen (Yogyakarta:  Kanisius, 2018), 265

[2] Ibid., 277

[3] Ibid., 279

[4] Bdk. Thomas Hidya Tjaya, Emmanuel Levinas Enigma Wajah Orang Lain (Jakarta: KPG, 2018), 47

[5] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai (Yogyakarta: Kanisius, 2013), 9

[6] DV. No. 24

[7] Peter C. Aman, Moral Dasar Prinsip-Prinsip Pokok Hidup Kristiani (Jakarta: Obor, 2016), 27

[8] Ibid.

[9] Armada Riyanto, Diktat Metafisika (Unpublished), 53

 

Sumber Gambar Featured: https://lakilakibaru.or.id/110/

TRI_2019Jul10_Artikel Hasan 029

Download PDF

1 thought on “LIYAN-KAH PEREMPUAN?

    • Author gravatar

      Perempuan, dalam sejarah peradaban manusia, menyimpan sejumlah memori luka jika ditelisik dari perspektif kemanusiaan yang berkeadilan. Di zaman Yesus, posisi perempuan nyaris terpinggirkan oleh sekelumit aturan dan hukum, terutama dalam konteks masyarakat Yahudi kala itu. Hukum, dengan segala macam bentuknya, baik lisan maupun tertulis, seolah-oleh menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi daripada kaum laki-laki.
      Hukum, terutama “hukum” agama, terkesan mengamini segala macam tindakan liyanisasi terhadap perempuan.

      Lihat saja produk hukum di negara Indonesia. Ada apa dengan produk hukum Indonesia?

      Masih ingatkah kita dengan wacana “gila” untuk menutup dan menggembok alat kelamin wanita dalam rangka menghindari pelecehan seksual yang tempo hari sempat membuat heboh Jawa Timur? Atau, aturan “gono-gini” terkait pakaian yang harus dikenakan perempuan? Itu baru dua contoh, belum lagi contoh-contoh lain.

      Memang, diskursus tentang perempuan tak pernah tuntas. Itu karena selama ini perempuan selalu menjadi kaum kelas dua dalam societas.

      Praktik hukum di Indonesia terkesan masih belum sepenuhnya memberi ruang kebebasan bagi perempuan. Kaum perempuan selalu menjadi kaum tertuduh dan dipersalahkan jika dirinya dilecehkan. Ada yang bilang bahwa karena perempuan suka berpakaian seksi, sehingga mengundang birahi laki-laki. Lalu pertanyaannya: Apa hubungan antara perempuan berpakaian seksi dengan laki-laki yang birahi? Mengapa perempuan dilarang berpakaian seksi serta diminta menutup aurat? Mengapa bukan pikiran laki-laki tersebut yang seharusnya dijinakkan sehingga tidak menjadi liar?
      Ah, manusia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *