Artikel

KETIADAAN FRASA ‘TERIMA KASIH’ DALAM SUKU DAYAK UUD DANUM SERAWAI

Penulis: Trio Kurniawan, M. Fil (Dosen di STKIP Pamane Talino, Pendiri Betang Filsafat)

 

Frasa “terima kasih” merupakan frasa yang sering diucapkan orang-orang pada umumnya, entah dalam bahasa apapun. Frasa ini digunakan sebagai ungkapan syukur atas kebaikan dari Tuhan, alam ataupun sesama manusia. Namun demikian, frasa ini ternyata tidak terdapat dalam perbendaharaan kata di Suku Dayak Uud Danum. Suku ini tidak memiliki padanan kata yang sesuai, yang bisa menggambarkan konsep terima kasih. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah: apakah Suku Dayak Uud Danum merupakan suku yang tidak tahu berterima kasih?

Suku Dayak Uud Danum merupakan salah satu suku Dayak yang tinggal di pinggiran hulu Sungai Melawi dan Sungai Serawai di Kab. Sintang, Kalimantan Barat. Suku ini dulunya hidup dalam komunitas kesukuannya dan tinggal di betang-betang yang dibangun di setiap kampung. Betang, atau biasa juga disebut sebagai Rumah Panjang, merupakan rumah khas orang Dayak yang di dalamnya terdapat puluhan hingga ratusan bilik (Pram, 2013). Satu bilik biasanya ditempati oleh satu keluarga.

Suku Dayak Uud Danum hidup dari hasil bumi dan sungai. Letak perkampungan mereka yang selalu berada di pinggiran sungai ini tampaknya sejalan dengan arti etimologis Uud Danum. Kata Uud Danum, secara etimologis, bisa dimengerti sebagai berikut. Uud merupakan kata yang bisa merujuk pada dua pengertian, yaitu bagian hulu dan atau suku. Danum berarti air atau sungai. Dengan demikian, Uud Danum dimengerti sebagai suku yang berdiam di bagian hulu sungai (air).

Suku Dayak Uud Danum, dalam bahasa Uud Danum yang mereka gunakan dalam kesehariannya, tidak memiliki kata yang sepadan untuk menjelaskan konsep terima kasih. Sejak dahulu, “terima kasih” sebagai frasa keseharian memang tidak pernah digunakan dalam percakapan. Frasa tersebut baru digunakan ketika masyarakat Uud Danum mulai mengadopsi bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua mereka. Tak heran jika dalam perbincangan sehari-hari, frasa “terima kasih” dicampurkan begitu saja dalam bahasa Uud Danum karena memang tak ada kata Uud Danum yang cocok untuk menerjemahkan frasa tersebut.

Ketiadaan frasa “terima kasih” dalam kebahasaan masyarakat Uud Danum bukan tanpa sebab. Orang Uud Danum memang tidak mengerti konsep terima kasih sebagai sebuah ucapan. Mereka memaknai ucapan terima kasih dalam konsep balas budi. Sebagai contoh, ketika seseorang berkunjung ke bilik tetangganya di rumah betang, ia pertama-tama akan menanyakan apakah tuan rumahnya ada di dalam bilik atau tidak. Ketika ia sudah dipersilahkan masuk, ia akan menanggalkan mandaunya di luar pintu. Mandau adalah senjata khas orang Dayak (Dianawati Ajen, 2007). Jika mandau tersebut dibawa masuk, ia bisa dituntut adat karena dianggap ingin menyerang tuan rumah.

Tuan rumah biasanya akan menghidangkan makanan kepada tamunya. Paling tidak, tuan rumahnya akan membuatkan kopi sebagai sajian bertamu. Dalam beberapa kesempatan, sering juga tuan rumah memberikan bekal makanan atau daging hasil buruan kepada tamu tersebut. Uniknya, ketika pulang, tamu tersebut tidak akan mengucapkan terima kasih atas pemberian tuan rumah tersebut. Ia akan pergi begitu saja. Tuan rumah pun tidak tersinggung ketika pemberiannya tidak dibalas dengan ucapan terima kasih. Orang Uud Danum menempatkan konsep terima kasih dalam prinsip balas budi. Kebaikan tuan rumah yang diberikan pada hari ini akan dibalas oleh tamu itu dalam kesempatan lainnya. Itulah konsep terima kasih dalam pengertian masyarakat Uud Danum.

Ketiadaan frasa “terima kasih” dalam perbendaharaan bahasa masyarakat Uud Danum ini tampaknya bisa menjadi kritik dan permenungan yang mendalam bagi kehidupan masyarakat modern. Manusia dewasa ini gemar mengumbar ucapan “terima kasih” dan “maaf” tanpa benar-benar memaksudkan makna dibalik ucapan tersebut. Frasa tersebut seringkali hanya digunakan sebagai formalitas untuk mempertahankan status diri dan relasi. Lebih buruk lagi, ucapan “terima kasih” dan juga “maaf” jamak dilontarkan justru untuk menyombongkan “kerendahan hati” seseorang. Kata-kata indah mulai kehilangan makna.

Martin Heidegger (Being and Time: H 168-170) menggunakan kecenderungan manusia untuk berbincang yang penuh basa-basi untuk menunjukkan kejatuhan manusia pada perjumpaan yang dangkal. Heidegger mengatakan bahwa obrolan tanpa tujuan (idle talk) seringkali membuat manusia lupa akan kesejatian hidupnya. Manusia tidak mencintai kedalaman makna yang tersembunyi dalam kesehariannya. Obrolan semacam ini hanya dijadikan sebagai pemuas akal budi semata.

Masyarakat Uud Danum tidak hendak mereduksi konsep terima kasih ke dalam kata-kata yang bisa digunakan sebagai formalitas semata. Bagi mereka, kebaikan seseorang haruslah dibalas dengan kebaikan, bukan dengan ucapan semata. Konsep semacam ini tidak hendak mengatakan bahwa manusia Uud Danum selalu dibebani oleh kebaikan sesamanya karena mereka harus membalasnya di kemudian hari. Sebaliknya, manusia Uud Danum justru terpanggil untuk selalu berbuat baik kepada sesamanya karena membalas kebaikan orang sudah merupakan bagian dari diri mereka sendiri. Dengan demikian, masyarakat Uud Danum tidak hendak menjatuhkan dirinya ke dalam perbincangan-perbincangan kosong tentang “terima kasih”. Mereka memaknai frasa tersebut secara lebih dalam melewati perjumpaan kebaikan dengan sesamanya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ajen, Dianawati, 2007. Mengenal Alam dan Budaya Indonesia. Jakarta: Wahyu Media.

Heidegger, Martin, 1996. Being and Time (trans. Joan Stambaugh). Albany: State University of New York.

Pram, 2013. Suku Bangsa Dunia dan Kebudayaannya. Jakarta: Cerdas Interaktif Group.

 

TRI_2020Feb3_Artikel Trio_007

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *