Artikel

KEMATIAN

Oleh Trio Kurniawan (Founder Betang Filsafat)

 

Apakah kematian sedekat yang saya pikirkan?

Seminggu ini pesan Whatssapp saya dipenuhi dengan berita duka: berita kematian. Tanggal 8 Januari 2021, saya menerima kabar meninggalnya Rm. B.A. Pareira, O. Carm. Romo Pareira, bukan hanya bagi saya, adalah dosen dan orang tua bagi kami selama berkuliah di STFT Widya Sasana Malang. Dalam salah satu tulisan, saya menceritakan bagaimana arti dan peran Romo Pareira dalam hidup saya.

Tanggal 9 Januari 2021, saya mendengar kabar hilangnya pesawat Sriwijaya Air 182 Jakarta-Pontianak. Saya dan Sansan hampir saja kembali pada hari itu, dengan pilihan maskapai yang sama. Hampir. Kami memutuskan kembali pada tanggal 4 Januari 2021 dengan maskapai yang berbeda.

Tanggal 11 Januari 2021, kembali saya mendengar kabar duka lagi: Rm. Dodik Ristanto, CM – mantan Rektor saya, pembina dan orang tua – meninggal dunia. Saya lemas tak bisa berkata-kata ketika mendengar kabar ini. Saya menitikkan air mata. Romo Pareira dan Romo Dodik, keduanya dekat di hati dan hidup saya. Tanggal 13 Januari 2021, ayah Romo Dodik, CM kemudian dipanggil Tuhan.

Kematian ternyata sedekat itu. Kematian tidak jauh: dari lingkaran kenalan hingga nyaris menghampiri saya di 9 Januari 2021. Bagaimana saya kemudian melihat kematian?

Dalam bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari mengatakan bahwa tidak mungkin manusia bisa mengalahkan kematian. Manusia hanya mencoba untuk mengobati penyakit, namun tidak bisa “menyembuhkan” kematian. Beberapa riset belakangan tampaknya mengarah pada usaha untuk “menyembuhkan” kematian, namun tampaknya sia-sia. Unreasonable Expectations, menurut Yuval Noah Harari.

Dari Yuval Noah Harari, kita kemudian menyadari bahwa tak ada pilihan bagi manusia selain bersahabat dengan kematian. Apa artinya? Persahabatan dengan kematian bukan berarti permusuhan dengan kehidupan. Bersahabat dengan kematian artinya menerima kematian sebagai bagian dari kemanusiaan kita. Sama seperti kehidupan, kematian adalah satu rentangan yang sama dengan kehidupan, hanya saja berbeda “bilik”. Sebagaimana kehidupan adalah momen yang bermakna, kematian sejatinya adalah momen yang serupa. Bagaimana ini bisa dipahami? Prof. Armada Riyanto pernah berkata dalam kuliah yang ia berikan: “Kematian sejatinya adalah momentum pelukan. Di ujung perjalanannya, Pencipta sudah menunggu manusia dengan pelukan. Momen ini adalah momen kebahagiaan adikodrati: manusia bertemu dengan Penciptanya”.

Lantas bagaimana kemudian kematian menjadi begitu menyesakkan? Mengapa kematian kemudian menjadi begitu menakutkan? Budi Hardiman dalam tulisannya Filsafat Kematian Heidegger mengatakan bahwa kematian merupakan momen yang “mencemaskan” bagi manusia yang sadar akan dirinya. Paling tidak ada 2 hal yang menyebabkan kematian menjadi momen seperti itu. Pertama, kematian tampak mengerikan justru pada momen peralihannya: dari hidup ke mati. Momen sakratul maut tampaknya bukanlah momen yang menyenangkan. Momen ini gelap, sendiri. Terkadang, momen ini digambarkan sangat menyakitkan.

Kedua, kematian kemudian menjadi menakutkan karena pemahaman kematian sebagai momen keterpisahan. Saat mati, manusia membuat jarak. Artinya, ada yang akan kehilangan. Ada juga yang akan meninggalkan. Bagi yang ditinggalkan, kematian hadir ibarat asam yang dijatuhkan ke luka: perih. Bagi yang meninggalkan (jika harus dibayangkan demikian), kematian hadir bagaikan sebuah tamparan keras pertanyaan: apa yang sudah saya lakukan selama ini?

Dalam banyak perbincangan, kematian membuat manusia menjadi pesimis. Manusia lalu berpikir: jika semua orang pasti mati, mengapa harus berpura-pura berjuang untuk hidup? Mengapa harus mengejar cita-cita? Mengapa harus berbuat baik pada orang lain? Kematian adalah keniscayaan.

Martin Heidegger, dalam Being and Time, mengelaborasi kematian dengan sangat mendalam. Baginya, kematian bukanlah dimengerti sebagai berhentinya fisik manusia bekerja. Ini yang unik, kematian adalah momen yang hadir bersamaan dengan kehadiran manusia di dunia. Ketika manusia “terlempar” ke dunia, kematian sudah mengikutinya sejak awal. Manusia ada dan menuju kematian.

Ini berarti bahwa setiap saat adalah momen manusia menuju kematian. Refleksi tentang kematian kemudian bukan menjadi milik orang tua semata. Refleksi tentang kematian adalah milik setiap manusia.

Lantas bagaimana menyikapi kesadaran tentang kita yang akan mati kapanpun itu? Kembali Heidegger menawarkan 2 pilihan: atau menjadi manusia yang tidak otentik atau manusia yang otentik? Pada pilihan pertama, manusia yang tidak otentik akan melihat kematian sebagai peristiwa yang biasa saja. Ia tidak peduli dengan kematian. Toh semua manusia pasti mati. Manusia yang tidak otentik akan mengabaikan proses pencarian dirinya dan lebih memilih untuk menggunakan “topeng”. Manusia yang tidak otentik akan menjadi pengecut yang mengatasnamakan “nilai-nilai hidup” demi memanipulasi tujuan hidupnya.

Pada pilihan kedua, manusia yang otentik akan melihat kematian sebagai momen antisipasi. Ia cemas terhadap kematian. Karena kecemasannya, ia memutuskan untuk mencari jati dirinya. Ia berjuang untuk mengenal dirinya. Ia menghidupi integritas yang ia percayai. Ia tidak mau kematian menjemputnya saat dirinya masih penuh dengan kepalsuan. Ia ingin mati dalam keadaan purna.

Pada masa ini, kematian tampaknya menjadi semakin dekat. Pertanyaannya: kematian seperti apa yang kita harapkan?

 

TRI_2021Jan15_Artikel Trio_001

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *