Artikel

KEMANUSIAAN-MENCINTA DAN KEKERASAN: SEBUAH REALITAS PARADOKS Diskursus Metafisis-Fenomenologis Berdasarkan Perspektif Armada Riyanto

Gregorius Andika Rio Kurniawan

Gerwin Bernardus Putra

Agustinus Gusti Randa

 (Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, Semester III)

 

Abstrak

Fokus tulisan ini adalah diskursus metafisis-fenomenologis tentang kemanusiaan-mencinta dan kekerasan dalam perspektif Armada Riyanto. Tujuan riset ini adalah untuk menggali makna metafisis kemanusiaan yang di dalamnya termuat aspek mencinta dan hubungannya dengan fenomena kekerasan yang kerap kali terjadi di Indonesia. Metodologi penulisan ini menggunakan analisis metafisis dan mengomparasikannya dengan aspek fenomenologis berdasarkan perspektif Armada Riyanto memandang “kemanusiaan” sebagai suatu hal yang universal dan mengatasi yang partikular. Kemanusiaan mengandung cinta yang merupakan aktivitas intersubyektif antara Aku dan Liyan. Kemanusiaan-mencinta adalah satu kesatuan yang dimiliki semua manusia. Namun dalam fenomena sehari-hari, kesatuan kemanusiaan-mencinta itu mendapat pengingkaran oleh adanya tindak kekerasan. Kekerasan merupakan itu yang menjadi budaya baru masyarakat. Pada saat yang sama kekerasan menjadi “momok” yang menciptakan ketidakadilan. Hal ini menjadi sesuatu yang patut digugat keberadaannya. Dari fenomena ini tampaklah bahwa kemanusiaan-mencinta belum menjadi dasar yang kokoh bagi manusia dalam bertindak dan berperilaku.

 

Kata kunci: Kemanusiaan, Mencinta, Kekerasan, Aku, dan Liyan.

 

Pengantar

Kemanusiaan adalah itu yang dimiliki manusia secara kodrati. Kemanusiaan menjadikan manusia bereksistensi secara berperikemanusiaan. Kemanusiaan tidak dapat berdiri sendiri. Dalam kodrat kemanusiaan itu terdapat relasi antara Aku dan Liyan. Relasi ini didorong oleh rasa cinta. Fenomena yang terjadi dewasa ini sering terjadi manusia tidak menunjukkan kemanusiaan dalam dirinya. Manusia cenderung “membunuh” kemanusiaannya untuk kepentingan diri. Situasi kelaparan, perang, dan kapitalisme menjadi representasi dari “kematian” kemanusiaan.

Kemanusiaan-mencinta berarti manusia yang mencinta dengan penuh. Situasi kepenuhan cinta memberi kesempatan kepada manusia lain untuk memenuhi dirinya sebagai “ada-belum-penuh”. Kemanusian-mencinta dapat terjadi dengan hadirnya sesama manusia dalam diri. Melalui fenomen-fenomen hidup keseharian, manusia dibawa pada suatu relasi yang menciptakan kisah antara Aku dan Liyan.

Dalam dunia yang “terang benderang” oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terdapat sebuah lingkaran “hitam pekat dan gelap”. Masih banyak orang di berbagai sudut kota, bahkan desa, kampung, dan dusun-dusun mengalami kekerasan −menjadi korban pelecehan seksual, diperkosa, dibunuh, dan “dilumatkan”−. Di satu sisi manusia mencari kehidupan dengan memperjuangkan haknya sebagai manusia, tetapi di sisi yang berseberangan dunia dewasa ini telah menciptakan dilema di mana kekerasan menjadi kultur hidup dan menghalangi perjuangan manusia itu.

Kemanusiaan seakan-akan tidak lagi menjadi dasar bagi manusia dalam bertindak dan berperilaku. Kaum miskin, lemah, dan tersingkir menjadi objek pertama penindasan. Bayangan akan sebuah keindahan dalam perjalanan hidup hanya menjadi sebuah mimpi nyata. Harkat dan martabat terutama bagi kaum perempuan hanya sebuah permainan. Para elit politik dan kalangan ber-uang kerap kali menomor-dua-kan berbagai kasus tindak kekerasan. Akhirnya kekerasan berubah menjadi budaya baru dalam hidup bermasyarakat. Hal ini disebabkan oleh persepsi manusia terhadap persoalan tindak kekerasan sangat sederhana dan disepelekan, seakan-akan kekerasan adalah hidup itu sendiri.

 

Kemanusiaan: Manusia, Relasionalitas Aku dan Liyan, & Liyan sebagai Parameter Nilai

Kemanusiaan merupakan suatu hal yang universal dan mengatasi yang partikular. Kemanusiaan mengandung cinta yang merupakan aktivitas intersubyektif antara Aku dan Liyan. Kemanusiaan-mencinta mengungkapkan suatu hubungan relasional yang penuh antara Aku dan Liyan. Kedalaman mencinta itu nyata pada transendensi cinta yang mengatasi kesenangan badaniah. Kemanusiaan yang mencinta memampukan kita memandang Liyan sebagai “parameter nilai”, sehingga itu yang partikular dapat dihilangkan di dalam diri.

 

Manusia

Manusia tidak pernah terlepas dari pengalamannya. Pengalaman menjadi bagian yang berharga di dalam diri manusia. Adapun dunia pengalaman manusia adalah dunia subjektif.[1] Pengalaman manusia yang subjektif ini menjadikannya bersifat personal dan memiliki keunikannya masing-masing. Pengalaman manusia terjadi dalam hidup sehari-hari. Dan, dari keseharian, kita semua mendulang nilai-nilai kehidupan manusiawi.[2] Nilai-nilai kehidupan ini yang membentuk manusia, memberi arah, tujuan-sarana dalam hidup. Manusia menjadi unik karena manusia memiliki akal budi yang memberi pengetahuan. Artinya, pengetahuan itu ada dalam akal budi sendiri yang memiliki struktur kategoris. Seakan-akan akal budi itu sendiri yang memiliki struktur kategoris.[3] Struktur kategoris menjadi pemberi kategori dalam akal budi, sehingga tidak tercampur dengan berbagai pengalaman lainnya.

Kant berpendapat bahwa manusia “tidak tahu” apa-apa, namun ini bukan berarti ignorant, tapi skema pengetahuan manusia tentang realitas sudah ada dalam akal budinya.[4] Rasio yang ada dimiliki manusia secara otomatis membawa manusia pada suatu pengetahuan. Apa yang dimiliki manusia, yaitu rasio menjadi yang khas milik manusia.

Manusia tidak hanya “dikondisikan” oleh tubuh. Ia juga memiliki akal budi (rasio). Perhatikan pengalaman saat ini. Aku bisa berpikir, bisa merencanakan karena akal budi. Rasio merupakan khas milik Manusia. Makhluk apa pun tidak memiliki rasio seperti manusia.[5]

Manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Perspektif ini memberikan kedudukan manusia pada posisi tertinggi di bumi di antara makhluk lainnya. Rasio manusia menuntunnya menuju kebenaran. Kebenaran sendiri bersifat subjektif ketika seorang memaksakan kebenarannya kepada orang lain. Karena kebenaran itu berkaitan dengan kesesuaian ide dengan realitas, asal usul Kebenaran ialah realitas itu sendiri.[6] Memaksakan kebenaran subjektif terhadap sesama menjadikan manusia sulit untuk menjadikan Liyan sebagai bagian dalam hidupnya.

 

Relasionalitas Aku dan Liyan

Relasionalitas merupakan kodrat kemanusiaan. Manusia merupakan makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Seorang pribadi membutuhkan pribadi lain untuk hidup. Relasi menjadi sarana bagi seorang pribadi berhubungan dengan pribadi lain. Relasi mengandaikan dua pribadi, antara Aku dan Liyan. “Aku” adalah keseluruhan, keutuhan manusia. Eksistensi manusia adalah “Aku”.[7] “Aku” mewakili keseluruhan manusia karena “Aku” menggambarkan hidup, perbuatan dan pengalaman. Dalam cara pandang ini “Aku” dibawa kepada kesadaran akan “Esse”-ku.

Kesadaran akan “Aku” adalah kesadaran akan “Esse”-ku (Being-ku), realitas “mengada”-ku. Kesadaran “Aku” adalah kesadaran tentang keseluruhan eksistensi dan keberadaanku. Hidup-ku itulah “Aku”. Perbuatan-ku itulah “Aku”. Relasi-relasi-ku itulah “Aku”. Cinta-ku dan segala konsekuensi pengorbanan yang menyertainya, itulah “Aku”. Cita-cita, pengharapan dan kecemasan-ku itulah “Aku”. Pengalaman keseharian-ku itulah “Aku”. Jatuh-bangun perjuangan-ku itulah “Aku”. Keprihatinan-ku itulah “Aku”.[8]

“Aku” mencakup banyak hal yang mewakili jati diri seseorang. Secara tidak langsung Liyan menjadi bagian dalam kesadaran “Aku”. Liyan menjadi bagian dari “Aku” melalui kehadirannya dalam pengalaman hidup sehari-hari. Liyan sendiri diartikan sebagai orang lain atau sesamaku. Antara Aku dan Liyan terdapat suatu komunikasi yang membentuk suatu relasi. Aku adalah subjek yang berkomunikasi; engkau adalah subjek lain yang dengannya aku berkomunikasi.[9] Komunikasi memerlukan kehadiran dari subjek. Kehadiran subjek berarti kehadiran seorang pribadi yang sadar dan mau untuk berkomunikasi dengan yang lain. Kehadiran menggambarkan keseluruhan kemanusiaan untuk berkomunikasi dengan yang lain. Subjek adalah subjek yang komunikatif. Maksudnya, subjek tidak mungkin memosisikan dirinya sebagai “dia” yang netral.[10] Tindakan komunikatif menuntut manusia untuk mau ambil bagian di dalamnya, sehingga diperlukan tindakan aktif dari subjek.

Netralitas merupakan wilayah “entah” yang tidak bersangkut paut dengan dunia subjektif. Netralitas merupakan suatu wilayah di mana subjek tidak ambil bagian di dalamnya. Dengan “Netralitas” tidak aku maksudkan perbincangan dalam konteks politik. Juga aku tidak sedang bicara dalam konteks psikologis, melainkan filosofis.[11]

Relasi antara Aku dan Liyan meminta suatu tindakan aktif dari Aku, sehingga terjadi suatu hubungan yang penuh dan mendalam. Perlu diingat bahwa kepenuhan relasi antara Aku dan Liyan terwujud dalam pola hubungan timbal-balik yang berdampak baik dari kedua belah pihak.

 

Liyan: Parameter Nilai

Liyan menjadi parameter nilai berarti Liyan menjadi tolak ukur, gambaran, tujuan dalam membentuk nilai di dalam hidup. Nilai di sini dapat dimengerti sebagai pegangan dan tujuan baik yang hendak diwujudkan di dalam diri. Dengan demikian, keburukan yang terjadi di dalam realitas kehidupan menjadi itu yang bertentangan dengan nilai ini.

Kemanusiaan memerlukan nilai sebagai pegangan dalam menggapai arah dan tujuan hidup manusia. Ketika kemanusiaan manusia terlepas dengan nilai yang dipegang, kemanusiaan seakan hilang dan tujuan yang hendak dicapai menjadi kabur. Seluruh deretan nilai itu bersifat “relatif” (karena secara hakiki terarah) terhadap kodrat indrawi; tetapi sama sekali tidak relatif terhadap organisasi kodrat indrawi tertentu, misalnya terhadap manusia; dan juga tidak relatif terhadap benda dan pengalaman tertentu, yaitu: terhadap hal-hal dan kejadian-kejadian (dalam) dunia nyata yang bagi makhluk dengan organisasi tertentu bersifat “enak” atau “tidak enak”.[12] Nilai menjadi subjektif seturut pandangan seorang pribadi.

Nilai subjektif yang dipahami dari Liyan juga bisa menjadi bagian dalam hidup. Parameter nilai mengandaikan bahwa Aku mampu untuk membuka dan menerima realitas yang terjadi di bumi. Realitas ini sering kali bertolak belakang dengan ide atau pikiran yang ada di dalam akal budi manusia. Aku mencoba untuk mampu menerima realitas dan menerimanya sebagai fenomena dalam hidup.

Liyan yang menjadi parameter nilai menjadi penting dalam menumbuhkan kemanusiaan. Kemanusiaan bertumbuh bukan karena menjadi nilai subjektif yang menjadi patokan dan pegangan dalam hidup, tetapi juga dibarengi dengan nilai-nilai lain yang melengkapi nilai dalam diri. Nilai yang dianut dan dialami dari Liyan, kerap kali mengubah perspektif manusia dalam bertindak dan merasa.

 

Mencinta: Dasar Keberadaan Manusia

Cinta adalah itu yang dirindukan semua orang. Segala manusia merindukannya, mengharapkannya, jatuh bangun mewujudkan dan menghidupinya.[13] Mencinta di sini dapat dimengerti sebagai memberi dan menaruh kasih kepada pribadi di luar Aku. Mencinta menjadi kata kerja aktif. Mencinta menjadi suatu hubungan antara Aku dan Liyan. Plato memberikan pendapatnya tentang cinta.

Plato merefleksikan Cinta secara lebih halus. Orang yang mencintai adalah orang yang menyatukan diri. Cinta itu energi yang menyatukan. Karena Cinta jiwa mencari pasangannya (soul mate). Lukisan Platonian adalah demikian, bila orang jatuh cinta, keinginannya yang terdalam adalah penyatuan jiwa.[14]

Membangun cinta berarti membangun relasi. Dalam relasi secara otomatis terdapat cinta universal di dalamnya. Cinta tidak dapat dibangun dalam ruang diri sendiri. Cinta adalah pengenalan terus-menerus kesadaran Aku dan kesadaran akan eksistensi Liyan.[15] Liyan berada di luar diri dan yang menjadi sesamaku. Mencinta Liyan berarti membangun relasi dengan Liyan dan lebih dari itu, menjadikan Liyan sebagai bagian di dalam hidup. Dengan menerima Liyan diterima sebagai bagian dalam pengalaman hidup sehari-hari, mereka memberi makna, nilai, dan unsur-unsur dalam kemanusiaan kita.

Komponen Cinta

Terdapat lima komponen cinta yang menggambarkan transendensi cinta: tidak ada cinta yang lebih besar (satu) daripada dia (dua) yang memberikan (tiga) nyawanya (empat) bagi para sahabatnya (lima).[16] Lima komponen ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

Komponen pertama, yaitu cinta itu mengenal gradasi kedalaman. Ada cinta yang mendalam, lebih mendalam, lebih besar, paling besar. Cinta dengan demikian tidak tunggal, tidak konstan, tidak pernah statis.[17] Gradasi kedalaman cinta menunjukkan ke-dinamis-an karakter cinta yang sangat indah. Kedalaman cinta menjadikan manusia berusaha untuk berjuang dalam menerjemahkan cinta.

Komponen kedua, yaitu cinta mengenal rujukan. Rujukan kita bukan manusia, tetapi Dia, Sang Sumber Cinta, atau Sang Cinta itu sendiri.[18] Sang Cinta, Tuhan menjadi inti dan pokok manusia dalam mengenal cinta. Pengenalan secara utuh dan mendalam ini diketemukan dalam Tuhan sendiri. Dengan kata lain melalui Tuhan, manusia mengenal realitas terdalam dari cinta.

Komponen ketiga, yaitu cinta terdiri dari perbuatan “memberi”. Cinta bukan suatu aktivitas menikmati, mengurangi, dan mengambil. Cinta merupakan aktivitas untuk memberi. Dan, logika cinta itu luar biasa, semakin memberi semakin berkelimpahan. Inilah kebenaran tentang cinta itu, yaitu bahwa cinta berupa aktivitas berbagi.[19] Memberi membentuk kepenuhan kemanusiaan. Mengada (Being) sama dengan Memberi (Giving). Saya meyakini demikian. Dengan Mengada saya maksudkan menghidupi hidupnya, melakukan perziarahan dirinya, mengada bersama sesamanya.[20] Memberi tidak hanya terbatas pada suatu benda, lebih dari itu memberi apa yang sungguh menunjukkan cinta akan sesamanya yang terdapat pada keberanian memberi diri seutuhnya kepada sesama.

Komponen keempat cinta, yaitu tidak ada cinta yang melebihi tindakan memberi nyawanya.[21] Nyawa merujuk pada pemberian seutuhnya. Nyawa menjadi itu yang sangat bernilai di dalam diri. Nyawa menjadi pemberian yang utuh atas rasa cinta yang dimiliki. Kecintaan yang utuh ini menunjukkan sikap kemanusiaan yang utuh. Keutuhan mencinta menjadikan kemanusiaan manusia menjadi lebih bernilai.

Komponen kelima cinta, yaitu tindakan memberi untuk sahabat. Artinya cinta itu identik dengan persahabatan.[22] Sahabat ialah mereka yang dicintai dan menjadi bagian dalam keseharian. Persahabatan juga mengundang Liyan dalam relasi.

Keyakinanku, Persahabatan hanya punya makna dalam konteks relasi dengan Liyan. Dengan Liyan maksudnya dengan siapa Aku ambil bagian dalam kegembiraan dan harapan duka dan kecemasan meski beda dalam agama, latar belakang budaya, kepercayaan dan sejenisnya. Persahabatan yang sesungguhnya mengatasi segala kenyamanan karena aneka kemudahan kesamaan tersebut.[23]

Persahabatan ini menandakan bahwa seorang pribadi mampu mengatasi permusuhan dalam relasinya dengan sesama. Mengatasi permusuhan dan menjadikannya sahabat adalah bentuk dari cinta yang sesungguhnya. Mencinta mampu menghilangkan rasa benci dan amarah. Mencinta berusaha membangun relasi yang tidak terbatas dengan Liyan.

 

Kekerasan: Pengingkaran Terhadap Cinta dan Kemanusiaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan merupakan perbuatan seseorang atau kelompok orang yang memaksa, menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain[24]. Kekerasan merupakan sebuah tindakan melanggar serta merampas hak dan milik orang lain. Tindakan ini semata-mata berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Merasa bahwa dirinya adalah yang terpenting, orang lain tidak. Definisi mengenai kekerasan sangat luas. Armada Riyanto mengatakan:

Menurut saya, Kekerasan bertentangan dengan kodrat manusia. Being manusiawi tidak identik dengan kekerasan. Manusia tidak diciptakan Tuhan untuk menghidupi Kekerasan melainkan cinta. Kekerasan merendahkan martabat manusia. Kekerasan juga menghadirkan kesemrawutan dan kengerian. Tidak ada yang perlu diambil sebagai pelajaran indah dari Kekerasan. Kekerasan tidak membuktikan apa-apa kecuali kegilaan.[25]

Dalam perkataan ini dapat dimengerti bahwa manusia diciptakan untuk sebuah keindahan. Kekerasan apa pun bentuknya hanya melahirkan kekacauan dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa sebagai manusia. Dengan jelas kekerasan menjanjikan sebuah kehancuran kultur hidup bersama sebagai makhluk cinta. Manusia sebagai pribadi dari ada yang mengada dan menyejarah, tidak dihargai lagi oleh sebuah tindak kekerasan. Tindakan keji kekerasan seperti halnya kasus pemerkosaan jelas menghina martabat manusia.

Perilaku kekerasan mengobrak-abrik sisi kemanusiaan manusia sebagai manusia. Mengobrak-abrik kemanusiaan manusia sebagai makhluk yang bermartabat, yang patut di hargai dan di junjung tinggi oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Ada berbagai hal yang melatarbelakangi tindak kekerasan dalam hidup manusia. Ini menjadi keprihatinan bersama, terlebih tindak kekerasan pada dewasa ini tidak cukup mendapat perhatian yang intensif dari pihak yang berwajib. Di sisi lain, menjadi tindakan yang keliru jika kita hanya menitikberatkan tugas penanganannya pada pihak tertentu saja. Akan menjadi sebuah keindahan jika itu menjadi tanggung jawab bersama sebagai proses kita semakin me-manusia-kan manusia.

Manusia yang adalah makhluk sosial membutuhkan keterlibatan manusia-manusia lain dalam perziarahan hidupnya. Juga dalam melewati konflik-konflik hidup dan batinnya, jiwanya. Akan tetapi, bagaimana jika kenyataannya tidak terjadi seperti yang diharapkan dalam hukum alamiah kemanusiaan? Kerap kali manusia-manusia yang menjadi korban kekerasan, kekerasan seksual khususnya persoalan ini dipandang sebelah mata oleh khalayak umum. Alih-alih mendapat perhatian, kaum perempuan yang mengalami itu bahkan hanya akan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Jelas bahwa sikap demikian merupakan hal yang mematikan semangat harapannya untuk bangkit kembali dari keterpurukan.

Kerap kali masyarakat tidak melihat dan menilai secara teliti siapa yang menjadi korban dan siapa yang berperan sebagai pelaku. Keduanya sama-sama dicap buruk, tanpa sebuah pertimbangan yang berarti. Hal semacam itu tak ubahnya mengucilkan diri korban. Artinya sebuah kekerasan sosial sedang terjadi di sana. Sejauh ini sangat jarang korban kekerasan mendapat perhatian dan dukungan dari masyarakat. Bahkan tak jarang mereka malah dinista dan dihukum mati. Armada Riyanto mengatakan:

Kekerasan adalah Kekerasan. Seharusnya demikian pemahaman kita. Dan, karenanya apa pun yang melatarbelakanginya, agama apa pun yang ditungganginya, kelompok masyarakat atau organisasi masyarakat apa pun yang menjadi channel-nya, kita harus berani berkata tidak atas kekerasan. Kekerasan membuat hidup kita ini tidak manusiawi.[26]

Dari perkataan ini dapat disimak bahwa kekerasan bukanlah sebuah keindahan. Bukan pula sebagai hal yang melahirkan cinta. Kekerasan tidak lain adalah sebuah cela yang menjadi perusak. Kekerasan tidak membangun kemanusiaan manusia, melainkan hanya menjadi budaya baru perusak kemanusiaan dan pada saat yang sama membelenggu. Diri para korban kekerasan kerap kali tidak hanya berhadapan dengan pribadi yang menindasnya, juga ternyata banyak mata siap menghakimi. Ironisnya, di Indonesia kerap kali terjadi hal-hal semacam ini. Sangat disayangkan bahwa para elit politik juga ternyata terlibat di dalamnya.

Kultur Kekerasan menjadi sebuah emblem betapa memilukan tata hidup bersama. Hidup keseharian seolah sebuah kepiluan dan kengenasan.[27] Kehidupan menjadi sebuah keengganan untuk dijalani oleh karena kekerasan. Tindak kekerasan menjadi predator sosial, sebab tidak sedikit korban yang bersangkutan mengalami trauma dengan sangat berat. Di sini tampak bahwa kekerasan menjadi itu yang wajar terjadi dalam keseharian hidup bersama. Tidak menutup kemungkinan semua orang pernah mengalaminya, terlebih kaum perempuan dan anak-anak.

 

Penutup

Manusia merupakan representasi dari cinta. Manusia tak lain adalah makhluk cinta. Kekerasan di lain pihak lahir dari keegoisan manusia dan merupakan fakta dari sebuah cinta manusia yang keliru. Ada berbagai faktor menyebabkan sebuah kekerasan terjadi, salah satunya adalah budaya. Hal ini memberikan sumbangsih yang cukup besar. Tindak kekerasan dan penindasan terdapat dalam berbagai pengalaman hidup manusia, terlebih tindak kekerasan terhadap kaum perempuan. Hal ini bisa berasal dari budaya yang memandang perempuan sebagai “warga kelas dua” di masyarakat, yang mana menjadikannya sebagai manusia yang kurang dihargai di mata umum.

Kekerasan menyebabkan cinta dan keindahan menjadi kabur. Cinta, keindahan, kemanusiaan, hukum, budaya, dan kemanusiaan juga menjadi tumpang tindih. Dengan demikian, lahirlah berbagai keegoisan pada diri “manusia” yang membingkai tindak kekerasan itu sendiri. Atas nama kekerasan, kemanusiaan manusia kehilangan nilainya sebagai ukuran dalam berperilaku dan bertindak. Hukum tidak lagi menjadi jalan dalam mencapai sebuah keadilan, terutama bagi kaum miskin, lemah, dan tersingkir. Hukum tak ubahnya “binatang pengisap darah” yang dengan keji menggerogoti korbannya. Mengapa demikian? Bagi oknum-oknum tertentu dan bahkan hingga saat ini hukum bisa dibeli dengan uang. Betapa rendahnya hukum berhadapan dengan uang, sehingga tak keliru jika dikatakan bahwa hukum hanya “milik” mereka yang ber-uang. Kasus-kasus seperti yang dialami oleh para perempuan menjadi yang dinomor-dua-kan dalam status sosial dan bahkan diabaikan adalah bukti bahwa hukum belum dapat dijadikan sebagai jalan keadilan. Keberpihakan hukum dan keadilan hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki uang.

Cinta adalah kodrat kemanusiaan. Karena itu, apa pun yang berkaitan dengan keseharian eksistensi manusia, semuanya haruslah berlandaskan cinta, terlebih hukum dan peraturan. Baik pria maupun wanita, Aku juga Liyan memiliki kodrat dan martabat yang sama, tidak ada yang lebih tinggi di antara mereka. Dengan demikian, berhadapan dengan hukum dan peraturan semuanya harus mendapatkan tempat yang sama tanpa pengecualian atas dasar apapun itu, terlebih demi kebiasaan mengutamakan satu pihak saja dan mengeliminasi pihak lainnya dengan tindakan ketidakadilan. Tindakan kekerasan pada gilirannya dapat direduksi berkat kesadaran semua manusia akan cinta yang melandasi kemanusiaannya. Di mana ada cinta, di situ ada kemanusiaan yang dijunjung tinggi. Di mana ada cinta, di situ pula kekerasan akan sirna olehnya. Hal yang penting bagi semua manusia dalam mengembangkan kemanusiaan dirinya tidak lain adalah menyadari eksistensi dirinya berlandaskan cinta, yakni cinta dari Sang Cinta, cinta dari semesta, dan cinta dari sesama manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1988.

Magnis-Suseno, Franz. Etika Abad Kedua Puluh, Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Riyanto, Armada. Menjadi-Mencintai Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius, 2013.

———————. Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Yogyakarta: Kanisius, 2018.

 

[1] Armada Riyanto, Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen, Yogyakarta: Kanisius, 2018, hlm. 103-104.

[2] Ibid., hlm. 170.

[3] Ibid., hlm. 182.

[4] Ibid.

[5] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai. Berfilsafat Sehari-hari, Yogyakarta: Kanisius, 2013, hlm. 15-16.

[6] Ibid., hlm. 66.

[7] Riyanto, Op. Cit., hlm. 193.

[8] Ibid., hlm. 191.

[9] Ibid., hlm. 314.

[10] Ibid., hlm. 315.

[11] Ibid.

[12] Franz Magnis-Suseno, Etika Abad Kedua Puluh, Yogyakarta: Kanisius, 2006, hlm. 22.

[13] Riyanto, Op. Cit., hlm. 157.

[14] Ibid.

[15] Riyanto, Op. Cit., hlm. 373.

[16] Ibid., hlm. 377.

[17] Ibid., hlm. 378

[18] Ibid.

[19] Ibid., hlm. 378.

[20] Riyanto, Op. Cit., hlm. 106.

[21] Riyanto, Op. Cit., hlm.378.

[22] Ibid.

[23] Riyanto, Op. Cit., hlm. 112.

[24] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1988, hlm. 425.

[25] Riyanto, Op. Cit., hlm. 93.

[26] Ibid., hlm. 97.

[27] Ibid., hlm. 95.

 

 

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/b4/f2/7e/b4f27e1bcb68bdb2f526d5e038cb2bf6.jpg

GSW_2020Des10_Artikel Gerwin Bernardus Putra, et. all_042

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *