Artikel

HANDOP: CARA SUKU DAYAK UUD DANUM MERAYAKAN SEMANGAT GOTONG ROYONG

Oleh Stephanus Angga (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)

 

Setiap orang pasti memiliki budayanya masing-masing untuk menunjukkan eksistensinya di dunia ini. Budaya merupakan sebuah survival manusia untuk bertahan hidup secara lebih mendalam. Manusia pasti tidak bisa lepas dari budaya karena budaya merupakan bagian integral dari hidup sehari-hari manusia itu sendiri. Budaya juga merupakan cara manusia merepresentasikan dirinya untuk membangun relasi dengan yang lain. Dalam konteks ini, orang Dayak Uud Danum memiliki budaya yang sama untuk membentuk kerja sama dengan yang lain, yakni Handop.

Handop adalah sebuah terminologi yang digunakan oleh orang Dayak Uud Danum untuk menyatakan atau menyampaikan tentang kerja sama dengan yang lain atau lebih tepatnya lagi gotong royong. Terminologi ini lebih sering digunakan untuk membantu orang dalam menggarap ladang atau bertani. Handop juga memiliki makna tentang nilai kebersamaan atau suatu sikap saling menolong.

Handop atau gotong royong ini bukan hanya soal bekerja atau sekedar partisipasi manusia dengan yang lain, tetapi lebih pada kelanjutan suatu budaya setempat. Budaya yang selalu ingin dipertahankan, karena dengan budaya gotong royong, orang akan mudah membangun dan membentuk relasi yang baik di dalam hidup bermasyarakat. Kerja atau Handop tidak hanya dianggap sebagai suatu aktivitas atau kegiatan yang sekedar menghasilkan atau memproduksi uang, barang dan apapun juga. Kerja lebih menjadi suatu hakekat manusia untuk menjaga martabat kemanusiaannya. Indahnya kerja ada dalam keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.[1] Maka, gotong royong atau Handop ini menjadi suatu yang penting bagi orang Dayak Uud Danum.

Handop ini juga sebenarnya untuk menjaga suatu keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Manusia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga mengutamakan manusia lain. Manusia sadar akan subjektivitas dirinya dengan sesama. Ada relasi subjektivitas antar satu dengan yang lain yang disebut dengan relasi aku dan sesamaku. Relasi “aku dan sesamaku” memiliki kebenaran bahwa keduanya berada dalam zona komunikasi sehari-hari hidup manusia.[2]

Terminologi Handop ini juga sebenarnya mau mengatakan bahwa nilai kebersamaan itu bisa didapatkan ketika orang bekerja. Karena manusia hidup di dunia ini adalah untuk berelasi dengan yang lain. Orang Dayak Uud Danum menganggap bahwa Handop ini harus selalu dikerjakan atau dilaksanakan dengan gembira tanpa ada paksaan. Karena bagi mereka, Handop juga menyangkut hidup orang lain dan pada hakekatnya juga orang harus saling menolong sesamanya. Mereka dibentuk oleh suatu nilai yang dapat membawa mereka untuk punya perhatian pada orang lain. Mereka sudah sudah tidak lagi melihat orang lain sebagai orang lain tetapi melihat orang lain sebagai bagian dari hidup mereka sendiri.

Nilai yang terdapat dalam terminologi handop atau gotong royong ini mau menunjukkan bahwa kerja itu tidak hanya proses berlelah-lelah dan juga bukan suatu kegiatan yang sekedar memproduksi atau menghasilkan uang, tetapi merupakan bagian dari esensi manusia itu sendiri. Manusia tidak menjadi orang yang mengisolasi diri, tetapi lebih bersifat sosialis. Sosialis berarti mau mengatakan persoalan mengenai menjadi sesama bagi orang lain dan memandang atau melihat orang lain menjadi sesama bagi diriku. Karena pada hakekatnya manusia juga adalah makhluk sosial. Tetapi makhluk sosial itu harus dibuktinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Dia diminta untuk menolong dan menghargai sesama dalam melanjutkan keberlangsungan hidup sesamanya. Di atas segalanya, peraturan kerja adalah peraturan tentang relasi-relasi yang lebih manusiawi di antara mereka yang berkepentingan.[3]

Kegiatan handop atau gotong royong ini juga menjadi suatu sumber untuk mencapai  nilai kebersamaan dan saling menghargai. Di sana orang tidak memandang sesamanya sebagai yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Contohnya ketika istirahat kerja, orang saling bercerita dan membagikan pengalaman hidupnya. Orang tidak menjadi sungkan dengan sesamanya. Mereka mau terbuka antar satu dengan yang lain. Selain itu, handop merupakan sebuah cara orang Dayak Uud Danum untuk melanjutkan keberlangsungan hidup yang lebih baik. Di saat acara Handop atau gotong royong, orang Dayak Uud Danum akan melakukan acara bersama seperti makan dan minum bersama serta disajikan juga minuman tuak (minuman alkohol khas orang Dayak) sebagai tanda rasa syukur sudah melakukan handop. Terlebih rasa syukur kepada Tuhan atau Tahalak yang sudah melindungi mereka selama handop dengan berbagai sajian persembahan kepada Tuhan.

Daftar Pustaka

Riyanto, Armada.  Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen, Yogyakarta: Kanisius, 2018.

_______. Menjadi-Mencintai, Yogyakarta: Kanisius, 2014.

[1] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai, (Yogyakarta: Kanisius, 2014), 121.

[2] Armada Riyanto, Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen, (Yogyakarta: Kanisius, 2018), 313.

[3] Menjadi-Mencintai.., 122.

 

Sumber Gambar Featured: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/pengerih-istilah-yang-digunakan-oleh-masyarakat-suku-dayak/

TRI_2020Aug24_Artikel Angga 032

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *