Artikel

FILSAFAT PENDIDIKAN KATOLIK: Memahami Gagasan Filosofis Di Balik Dokumen Gravissimus Educationis (GE) Pasal 1

Penulis: Trio Kurniawan, M. Fil (Dosen di STKIP Pamane Talino, Pendiri Betang Filsafat)

 

Gravissimus Educationis (GE) merupakan salah satu dokumen Konsili Vatikan II yang secara khusus berbicara tentang pendidikan Katolik. Dokumen ini diresmikan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 28 Oktober 1965. Sangat menarik bahwa kalimat pertama dari dokumen ini menekankan pentingnya peran pendidikan dalam kehidupan manusia, serta dampaknya pada masa sekarang.

Dokumen GE merupakan gambaran utuh tentang gagasan pendidikan Katolik. Ada banyak perspektif yang bisa digunakan untuk meneropong dokumen GE: teologis, antropologis, sosial, budaya, lingkungan hidup dan lain sebagainya. Saya kali ini akan mengajak kita untuk melihat dokumen GE dari perspektif filosofis. Tentu menarik sekali membedah gagasan-gagasan filosofis yang melatarbelakangi “dokumen teologis-religius” ini.

 

Pendidikan Sebagai Bagian dari Hak Asasi Manusia

Semua orang dari suku, kondisi atau usia manapun juga, berdasarkan martabat mereka selaku pribadi mempunyai hak yang tak dapat diganggu gugat atas pendidikan, … (GE 1)

Dokumen GE pertama-tama melihat pendidikan sebagai HAK yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hak ini tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Hak ini melekat dan menyatu di dalam diri manusia sebagai pribadi yang utuh. Dengan demikian, usaha untuk merampas hak belajar dan mendidik diri merupakan pelanggaran serius terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).

Deklarasi Universal HAM tahun 1948 pasal 26 secara jelas mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh pendidikan. Bahkan, pernyataan ini dilegitimasi dalam kewajiban negara untuk memberikan pendidikan secara cuma-cuma setidaknya untuk pendidikan dasar. Jika menyimak pernyataan ini, negara yang tidak mampu memberikan pendidikan dasar gratis bagi warga negaranya bisa dikatakan melanggar HAM.

John Locke (1632-1704), seorang filsuf Inggris, mengatakan bahwa hak asasi adalah hak yang dibawa sejak lahir dan secara kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat. Persoalan hak merupakan tema yang cukup dalam dibahas oleh John Locke dalam kajian filosofisnya. Ketika mengupas keadaan asali (state of nature) manusia, John Locke menemukan bahwa setiap orang pada dasarnya sudah memahami adanya hak dan kewajiban dalam keadaan asali tersebut. Sebagai catatan, keadaan asali (state of nature) adalah situasi dimana manusia pada asaat itu belum memiliki aturan atau negara, sebuah keadaan tanpa hukum.

Selanjutnya, persoalan hak dan kewajiban tersebut, menurut Locke, menjadi sedikit kacau ketika muncul kecenderungan dari dalam diri manusia untuk iri dan berlaku tidak adil. Untuk menghindari kekacauan yang berkelanjutan (sehingga membuat manusia tidak bisa bekerja dan menikmati haknya), kelompok manusia sepakat untuk mendirikan negara yang bisa mengatur hak dan kewajiban masyarakat secara lebih adil. Pada titik ini, John Locke juga melihat pendidikan sebagai bagian utuh dari hak asasi manusia yang harus difasilitasi oleh negara sehingga hak ini bisa dinikmati oleh setiap orang tanpa terkecuali.

Gereja Katolik, melalui dokumen Gravissimus Educationis ini menyadari arti penting pendidikan dalam kehidupan umat manusia dan posisinya sebagai bagian utuh dari keberadaan manusia. Dengan mengatakan pendidikan sebagai hak manusia, Gereja Katolik secara jernih menyerukan keterbukaan akan akses pendidikan bagi siapa saja di seluruh dunia. Setiap orang harus bisa menikmati anugerah pendidikan.

 

Pendidikan Sebagai Anugerah Lewat Keragaman Manusia

Yang cocok dengan tujuan maupun sifat-perangai mereka, mengindahkan perbedaan jenis, serasi dengan tradisi-tradisi kebudayaan serta para leluhur, sekaligus juga terbuka bagi persekutuan persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain, untuk menumbuhkan kesatuan dan damai yang sejati di dunia. (GE1)

Salah satu masalah terbesar dalam dunia pendidikan belakangan ini adalah uniformitas (penyeragaman). Pendidikan hari ini kurang melihat keunikan dan kemerdekaan masing-masing pribadi manusia sehingga pola pengajaran/pendidikannya dijadikan seragam. Gereja Katolik, lewat dokumen GE, secara lantang menyerukan pentingnya pendidikan yang menghormati keragaman karakter, kebudayaan, nasionalitas dan tradisi umat manusia.

Maria Montessori, dalam buku The Absorbent Mind (1949), mengatakan bahwa tugas dunia pendidikan bukanlah “mendikte” ilmu kepada anak-anak, melainkan membantu anak untuk “membebaskan” daya agung di dalam diri mereka. Maria Montessori sangat tepat dalam hal ini. Setiap manusia, sejak dilahirkan, memiliki jutaan potensi di dalam dirinya. Tugas pendidikan pertama-tama adalah membantu setiap manusia agar potensi-potensi ini bisa diaktualisasikan. Pendidikan jenis ini mengandaikan kemampuan dunia pendidikan (dan pendidik) untuk mengakui keragaman kreativitas dan potensi setiap pribadi manusia.

Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brazil, mengatakan bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang memerdekakan manusia. Kemerdekaan dalam dunia pendidikan di sini berarti terbukanya ruang bagi manusia untuk mengekspresikan dirinya dan kemudian menjadi pribadi yang utuh lewat proses mendidik diri tersebut. Paulo Freire meyakini bahwa “perbudakan” dalam dunia pendidikan akan melahirkan manusia-manusia “mandul” ke depannya. Penyeragaman dalam kebijakan pendidikan juga tentunya akan memenjarakan kreativitas manusia.

Ajakan Gereja Katolik untuk membuka ruang pendidikan yang menghargai perbedaan sejalan dengan konsep pendidikan para filsuf di atas. Setiap manusia adalah unik. Tak pernah ada satupun manusia yang memiliki kesamaan total dengan manusia lainnya. Keunikan ini lahir dari gagasan “manusia sebagai citra Allah”. Karena begitu kayanya Allah sehingga tidak ada satupun manusia yang kemudian menjadi benar-benar serupa dalam segala hal. Karena keunikan tersebut, tentu sangatlah “melecehkan” jika karakter pendidikan kemudian dijadikan seragam dan keunikan manusia diberangus.

 

Penutup

Dokumen Gravissimus Educationis (GE) merupakan dokumen yang kaya akan gagasan-gagasan filosofis tentang dunia pendidikan. Uraian saya di atas hanyalah sedikit dari luasnya lautan gagasan pendidikan Katolik. Dokumen ini masih sangat terbuka untuk diurai lagi gagasan-gagasan filosofisnya. Namun demikian, dua poin yang saya soroti di atas kiranya mampu menampilkan secara sederhana konsep filsafat pendidikan Katolik.

Lebih dari itu, hal yang terpenting dari uraian di atas adalah usaha kita setiap hari untuk menghidupi hal-hal baik yang ditawarkan Gereja Katolik. Dengan menjalankan amanat pendidikan Katolik ini, kita secara perlahan membuka ruang bagi terciptanya tatanan manusia dan dunia yang lebih baik dimana setiap manusia saling menghargai dan mengembangkan diri. Terima kasih.

 

TRI_2020Jan29_Artikel Trio_006

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *