Filsafat

Etika Levinas: Relasionalitas adalah Jalan Transendensi

Oleh Benedictus Hasan (Mahasiswa Filsafat di STFT Widya Sasana Malang)

 

Pengantar

Relasi adalah itu yang menjadi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Hal ini memasukkan manusia ke dalam ruang keseharian dalam eksistensinya bersama dia yang lain. Relasi bahkan tidak bisa hanya menjadi sekadar kebutuhan dasar, melainkan natura dari manusia. Dengan kata lain, manusia tidak pernah bisa lepas dari relasinya dengan sesamanya. Apabila ada manusia yang demikian, maka ia mengingkari kodratnya sendiri.

Dalam relasi ini, manusia menjalaninya dengan manusia lain. Namun apa yang terjadi selanjutnya adalah manusia kerap kali menjadikan manusia lain sebagai objek dari aktivitasnya. Hal ini terjadi akibat perkembangan filsafat yang merujuk pada diri manusia sebagai subjek berpikir adalah yang utama. Hal ini pula membuat manusia tidak memandang manusia lain sebagai subjek yang semartabat dengan dirinya dan mempunyai hak yang sama pula dengan dirinya.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana manusia dapat memandang aspek transcendental dalam diri dia yang lain dalam relasinya dengan dia yang lain itu. Hal inilah yang akan dibahas dalam kelanjutan tulisan ini, bagaimana manusia dalam relasinya mesti dapat menemukan aspek transenden dalam relasinya itu.

 

Konteks Zaman Post-Pencerahan

Dalam sejarahnya, filsafat ke-Akuan sudah timbul sejak zaman Cartesius dengan cetusannya, Cogito Ergo Sum. Dampak dari filsafat Cartesius ini amatlah luar biasa bagi perkembangan pola relasi manusia. Dampak yang paling besar dapat dikatakan adalah keutamaan aku dalam relasi dengan dia yang lain. Dia yang lain kurang menjadi perhatianku dalam relasiku, bahkan mereka justru kurang penting bagiku. Cogito ergo sum ini juga mengakibatkan manusia yang berpikir menjadi subjek dalam memperlakukan realitas lain.[1] Halnya jelas berpengaruh pada relasi, yaitu menegasikan realitas lain di luar kesadaran dirinya. Hal ini memiliki dampak pada eksploitasi manusia dan alam serta aneka ciptaan lain. Mereka yang berada di luar diriku menjadi seperti objek bagiku. Dia yang lain itu menjadi lebih kecil dariku.

Dampak dari filsafat Cartesius ini mengarah kepada dehumanisasi manusia dalam ranah relasi intersubjektif manusia. Mereka yang tereksploitasi jelas kurang mendapat haknya sebagai manusia. Demikian juga alam, dan ciptaan lain yang juga turut dijadikan bahan eksploitasi. Padahal dalam kenyataannya kesemuanya itu terintegrasi dalam eksistensi masing-masing dalam dunia. Masing-masing memiliki eksistensinya sendiri-sendiri. Eksistensi dari masing-masing inilah yang harus dijaga.

Hal ini menggugat salah seorang filsuf abad ke dua puluh, yaitu Emmanuel Levinas yang menggali tentang filsafat alteritas. Demikian dalam tulisan ini ingin melihat Liyan dalam perspektif Levinas. Halnya akan digali berdasarkan kenyataan bahwa “Aku” dalam eksistensiku hadir bersama dalam dunia dengan eksistensi dari Liyan. Relasiku dengan Liyanmenyimpan sebuah nilai tersendiri yang harus “Aku” jaga. “Aku” dan Liyanyang hadir bersama, masing-masing memiliki tanggung jawab atas eksistensi yang lain.

Untuk dapat menjelaskan hal di atas dengan baik, maka selanjutnya akan dibahas mengenai kesadaran “Aku” dalam filsafat. Kesadaran akan “Aku” ini secara langsung membawa pengertian akan “Aku” yang relasional. Dari pengertian akan “Aku” yang relasional ini, akan dilanjutkan dengan membahas liyan. Pembahasan akan liyan ini akan saya bawa untuk menemukan aspek transcendental dalam relasiku dengan liyan, yang dalam halini memiliki aspek  pulchrum yang dalam kelanjutan tulisan ini akan ditulis sebagai ‘indah’ seturut terjemahan bahasa Indonesianya.

 

“Aku” dan Kesadaran

Dalam membahas bagian ini, saya mengambil banyak dari buku Armada Riyanto, Relasionalitas sebagai sumber utama. Dalam buku ini dikatakan bahwa manusia itu kaya dalam kesadarnnya, halnya karena manusia menyadari dirinya sebagai “Aku”.[2] Kesadaran “Aku” adalah kesadaran yang amat mendalam. Kesadaran ini memuat di dalamnya pengetahuan dan merupakan asal usul dari pengetahuan manusia.

Pengetahuan ini pertama-tama adalah pengetahuan akan diriku sendiri. Pengetahuan akan diri sendiri adalah sebuah pengenalan. Pengenalan akan siapa “Aku” dan identitasku adalah pengetahuan yang utama bagi subjek. Pengenalan ini tentu dari sendirinya melibatkan akal budi manusia sebagai alat utama pengenalan dan sumber pengetahuan. Akal budi dikatakan sebagai sumber pengetahuan adalah karena lewat akal budilah manusia memiliki kesadaran akan “Aku” dan pengetahuan serta pengenalan akan “Aku”. Pengenalan akan “Aku” ini tidak bisa tidak melibatkan akal budi sebagai yang utama dan pertama.

Akan tetapi apakah setiap kesadaran akan diriku dapat disebut sebagai kesadaran akan “Aku”?  Menurut Armada tidak. Kesadaran tentang “Aku” bukanlah sebuah kesadaran yang dangkal dan sebatas formal.[3] Kesadaran tentang “Aku” bukanlah kesadaran bila aku menyadari namaku, siapa keluargaku, sahabatku, orang yang dekat denganku, orang yang memperhatikan aku atau tidak. Halnya tidak demikian. Hal-hal ini merupakan pengetahuan informatif tentangku belaka, dan sama sekali belum menyentuh kesadaran terdalam tentang “Aku”.  Untuk menyatakan mengenai kesadaran akan “Aku”, Armada menulis demikian:

Kesadaran akan “Aku” adalah kesadaran akan “Esse”-ku (Being-ku), realitas “mengada”-ku. Kesadaran “Aku” adalah kesadaran tentang keseluruhan eksistensi dan keberadaanku. Hidup-ku itulah “Aku”. Perbuatan-ku itulah “Aku”.  Relasi-relasi-ku itulah “Aku”. Cinta-ku dan segala konsekuensi pengorbanan yang menyertainya, itulah “Aku”. Cita-cita, pengharapan dan kecemasan-ku itulah “Aku”. Pengalaman keseharian-ku itulah “Aku”. Jatuh-bangun perjuangan-ku itulah “Aku”. Keprihatinanku itulah “Aku”.[4]

Ungkapan di atas menyatakan bahwa kesadaran tentang “Aku” memiliki pengertian yang amat dalam dan kompleks. Kesadaran akan “Aku” memuat di dalamnya kesadaran akan eksistensiku. Kesadaran akan eksistensiku berarti kesadaran akan keberadaanku. Kesadaran akan keberadaan ini menyatakan kesadaran akan identitas diriku. Kesadaran akan identitas ini membuat seseorang akan bertindak seturut dengan identitasnya dalam segala keadaan dirinya.[5]

Rupanya kesadaran akan identitasku ini memiliki kelanjutan dalam kreativitas tindakan. Dengan menyadari kesadaran akan identitas diriku ini dengan sendirinya aku akan menyelaraskan tindakanku dengan identitas itu. Dengan demikian apabila aku melakukan tindakan yang sejatinya berlawanan dengan identitasku, di situ aku tidak menjadi diriku sendiri.

Kemudian, ungkapan bahwa hidupku adalah “Aku” mau menunjukan bahwa bagaimanapun hidup itu dari sendirinya adalah milikku bukan milik orang lain. Aku  menghidupi hidupku sendiri dan hidupku itulah yang membentuk “Aku”. Tanpa hidup itu aku tidak bisa hidup seperti aku sekarang ini, sebab hidup itulah yang membentuk aku.

 

“Aku” Relasional

Pada dasarnya eksistensiku dalam dunia ini menyatakan bahwa aku adalah makhluk relasional. Halnya dapat dijelaskan demikian. Kehadiranku di dunia ini dari sendirinya sudah merupakan hasil relasi dari kedua orang tuaku. Relasi kasih dari kedua orang tuaku membawa kelahiranku di dunia ini. Apabila tidak ada relasi dari antara mereka, maka aku tidak akan berada di dunia ini.

Hal ini mau menunjukan bahwa manusia selalu bergantung pada relasi. Manusia membutuhkan relasi untuk mengada. Ketergantungan manusia dengan relasi adalah ketergantungan yang mutlak. Sudah sejak mulanya manusia ada dalam relasi, bahkan manusia pun lahir oleh sebab relasi. Relasi adalah itu yang mengadakan manusia. Tentu hal ini dipandang dalam konsep di atas, bahwa manusia lahir dari relasi.

Manusia adalah “ada-belum-penuh”.[6] Hal ini mau menunjukan bahwa manusia secara konkret menginginkan sesuatu, merindukan seseorang. Dengan kata lain halnya mau mengatakan bahwa sebenarnya manusia itu seolah-olah kekurangan sesuatu atau seseorang. Ada yang memandang bahwa hal ini sebenarnya adalah hal yang biasa, normal. Akan tetapi secara lebih mendalam halnya menunjukan bahwa manusia itu sebenarnya adalah ada-belum-penuh. Hal yang demikian menunjukan sebenarnya ada kekosongan dalam diri manusia. Kekosongan ini dengan sendirinya harus diisi oleh manusia itu sendiri. Dan hal ini memungkinkan orang lain untuk mengisinya. Dari sini hal ini menunjukan bahwa manusia yang ada-belum-penuh ini menampilkan dan menjelaskan kodrat manusia yang relasional.

Dengan berelasi berarti manusia memberikan ruang bagi manusia lain untuk dapat mengisi ruang di dalam dirinya. Selalu ada ruang dalam diri manusia untuk dapat diisi oleh manusia lain dalam hidupnya. Ruang ini berada dan tinggal tetap dalam diri manusia. Ruang ini tidak boleh dimengerti seperti bangun ruang seperti pengertian pada umumnya. Di sini, ruang dimengerti sebagai itu yang kepenuhannya harus dipenuhi oleh manusia lain. Hal yang harus diisi itu bisa berupa kebutuhan material manusia dalam hal makan, minum, sandang dan papan. Hal ini jelas bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia membutuhkan manusia lain untuk melakukannya. Misalnya saja seorang dokter, sebagai manusia ia tentu perlu makan. Seandainya dalam konteks Indonesia yang makanan pokoknya adalah nasi, maka di dokter ini tetap perlu nasi. Nasi itu didapat dari petani yang menanam padi. Padi kemudian digiling dan dijadikan beras, lalu dijual di pasar dan dokter membelinya.

Dari gambaran singkat di atas menunjukan bahwa ada ruang kosong dalam diri dokter itu, yaitu kebutuhan manusiawinya untuk makan. Ia dapat memenuhi kebutuhannya itu hanya apabila ia berelasi dengan manusia lain. Dalam hal ini, paling tidak si dokter berelasi dengan para penjual di pasar untuk mendapatkan beras yang dapat diolah menjadi nasi.

Hal lain yang juga menjadi suatu kebutuhan manusia dan yang hanya bisa dipenuhi oleh manusia lain adalah afeksi. Dalam hidupnya orang kadang merindukan sosok teman, sahabat, pasangan untuk memenuhi kebutuhan afeksi yang tidak dapat ia penuhi sendiri dengan dirinya, harus ada orang lain untuk mengisinya. Relasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi manusia.

Dengan melihat pentingnya relasi di atas, dalam bagian berikutnya saya akan membahas Liyan. Hal ini saya angkat dari kenyataan bahwa “Aku” dari kodratnya yang relasional adalah “Being” yang inklusif.[7] Inklusif ini dimaksudkan “Aku”  tak pernah bisa tidak bersama-sama dengan liyan. Berada bersama-sama di sini bukan semata-mata dalam arti fisik saja tetapi dalam arti yang lebih dalam yaitu dalam arti eksistensial. Halnya menyatakan bahwa hidupku yang aku jalani adalah hidup bersama-dengan-Liyan.[8]

 

Menyimak Liyan

Liyan dalam gramatika bahasa dimengerti sebagai dia yang lain, yang berari orang ketiga. Dalam sejarah dunia yang dimulai sejak zaman Yunani kuno hingga saat ini, Liyan tidak mendapat tempat yang baik. Liyan selalu identik dengan dia atau mereka yang tersisih, tersingkir, menderita, terlantar, anak-anak dan wanita.

Misalnya saja dalam pemikiran ideologi, pemahaman tentang Liyan menunjukkan bahwa halnya dipandang secara tidak manusiawi. Contohnya saja dalam revolusi industri, di sini Liyan disimak sebagai kelompok masyarakat yang tersisih, tertindih oleh beban kehidupan di satu pihak terpojok oleh kemiskinan telak.[9] Liyan dikenakan tindakan ketidakadilan. Demikian pula yang terjadi dalam ideologi kapitalis, Liyan adalah mereka yang terkena kemiskinan, kaum buruh, masyarakat proletar yang sama sekali berbeda dengan mereka sang pemilik modal. Liyan menjadi tertindas oleh karena perilaku para pemilik modal.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Liyan sesungguhnya tidak diperlakukan sebagai seorang subjek yang sama dengan Aku, dia lain sama sekali dalam keberlainannya. Keberlainan dari Liyan inilah yang membuat pada contoh-contoh di atas Liyan tidak dipandang dengan semestinya. Aspek transendental dari Liyan kurang mendapat perhatian, yang menjadi perhatian utama adalah kesadaranku sebagai subjek bukan dia.

 

Gagasan Levinas: Perjumpaan dengan Liyan

Dalam eksistensiku dalam dunia, Aku pasti akan berelasi secara konkret dengan Liyan. Berelasi secara konkret menunjukkan bahwa Aku bertemu secara langsung dengan Liyan, berkontak dengannya dan bergaul dengannya. Perjumpaan ini pasti memaksaku untuk berbuat sesuatu sebagai tanggapan atas perjumpaanku dengan Liyan. Contoh saja apabila Aku sedang makan di sebuah warung makan, pada saat makan serang pengamen datang dan bernyanyi di hadapanku dengan maksud menghiburku dan pada akhirnya meminta imbalan sebagai balas atas hiburan yang ia berikan. Pada saat itu Aku pasti melakukan respons atas perjumpaan itu. Aku akan meraba sakuku dan mencari receh di sana, atau Aku akan mengangkat tangan tanda tidak menerima pengamen, atau aku mengeluarkan reaksi apresiatif atas hiburan yang diberikannya padaku. Singkat kata perjumpaanku dengan Liyan pasti akan ‘mengusikku’ untuk berbuat sesuatu.

Pada dasarnya keterusikkan ini bukan karena Aku merasa status ekonominya lebih rendah dari padaku, melainkan karena ia adalah manusia juga sama sepertiku.[10] Kehadiran siapa pun yang berada di depanku sesungguhnya mengusik dan mendesakku untuk memberi tanggapan. Di manapun pertemuan itu, pastilah Aku harus memberi tanggapan kepada dia yang berjumpa denganku, apapun bentuk tanggapan itu.

Apa yang harus Aku perhatikan adalah keberlainan dari Liyan yang ada di depanku. Dalam keberlainannya itu, Liyan hadir di hadapanku dengan membawa konteksnya sendiri. Konteks dari diri Liyan inilah yang harus Aku hargai sebagai pembentuk dari kemanusiaannya. Dengan demikian apabila Aku menghargai keberlainan ini, yaitu konteks dari diri Liyan, Aku menghargai pula kemanusiaannya yang hadir pula di depanku dalam tubuh liyan, sebab tubuh Liyan mewakili kemanusiaannya.[11] Kemanusiaan inilah yang harus Aku hargai sebagai sesama manusia.

Dari uraian singkat di atas, gagasan Levinas mengarah kepada etika, atau yang-etis[12]. Secara positif, etika berarti keterbukaan dan rasa hormat terhadap keberlainan Liyan. Di sini Aku tidak boleh terperangkap dalam diriku dan dalam pemikiranku sendiri tentang Liyan. Aku harus mengarahkan pandanganku ke luar diriku, yakni ke arah Liyan dengan segala keberlainannya. Bagi Levinas, inilah makna asali dari transendensi, yakni gerakan keluar dari diri sendiri dalam keterbukaan dan rasa hormat terhadap apa saja yang ditemukannya.[13]

Dengan demikian, perjumpaan ini membawa dampak pada adanya tanggung jawab langsung dariku terhadap Liyan. Tanggung jawab itu mewujud dalam sikap hormatku kepadanya. Gagasan ini sekali lagi merujuk kepada etika Levinas. Patut disadari bahwa sebenarnya etika Levinas ini mau menunjukkan bahwa manusia dalam segala penghayatan dan sikapnya didorong oleh sebuah impuls etis, oleh tanggung jawab terhadap sesama.[14]

Dengan adanya sikap hormat ini memaksudkan bahwa dalam relasiku dengan Liyan, Aku tidak boleh mendominasi Liyan. Aku tidak boleh memberi tema kepada Liyan dan memberikan kategori  pemikiran-pemikiranku kepadanya.[15] Tindakan yang seperti ini sejatinya merupakan bentuk usahaku untuk menguasai Liyan dan mencoba menjadikannya bagian dari milikku.

 

Relasi Asimetris dan Metafisika Levinas

Gagasan etika Levinas dapat ditemukan dalam terminologi Relasi Asimetris. Etika bagi Levinas merupakan filsafat pertama, atau dapat dikatakan sebagai metafisika. Oleh karena itu, elaborasi tentang etika Levinas ini tidak dapat tidak membawa kita pada kesadaran bahwa dalam relasionalitas itu terdapat di dalamnya aspek-aspek transendental.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang ditemukan bahwa relasi intersubjektif antara Aku dan Liyan didominasi oleh kecenderunganku untuk menguasai Liyan. Hal ini dilihat Levinas dalam kenyataan bahwa selama beberapa periode dalam sejarah filsafat dan bahkan dalam periode ideologi, Liyan dipandang inferior oleh subjek Aku. Hal yang demikian jelas tidak etis. Aku cenderung menguasai dan menyerap segala sesuatu ke dalam diriku, termasuk Liyan. Relasi semacam inilah yang oleh Levinas dipandang sebagai itu yang tidak baik. Liyan memiliki eksistensinya sendiri. Ia hadir di depanku membawa konteksnya dan kemanusiaannya yang hadir lewat kehadiran tubuhnya di hadapanku. Aku tidak boleh mereduksi Liyan.

Dengan mereduksi alteritas Liyan, Aku telah melakukan kekerasan.[16] Kekerasan adalah itu yang tidak etis. Maka apabila reduksi terhadap alteritas Liyan adalah kekerasan, dapat dikatakan apa yang aku lakukan itu tidak etis. Lalu bagaimanakah agar peristiwa relasional antara Aku dan Liyan dapat berjalan dengan etis, halnya dapat dijelaskan demikian:

… Peristiwa yang etis berlangsung ketika Yang-Lain menantang Sang Aku dengan segala kekuatannya, sekaligus mempertanyakan eksistensi Sang Aku sebagai pengada yang hidup untuk dirinya sendiri saja. Hal ini terjadi dalam pertemuan langsung antara Sang Aku dan wajah orang lain. Pertemuan ini akan membuat sang Aku terhenyak dan terbangun dari kenyamanannya. Tantangan dan pertanyaan dari Yang-Lain akan membuka kemungkinan bagi Sang Aku untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk menghentikan kecenderungan siklisnya untuk selalu kembali kepada dirinya sendiri.[17]

Demikian dinyatakan bahwa gagasan peristiwa perjumpaan yang etis adalah ketika dalam perjumpaan antara Aku dan Liyan, aku menghindari kecenderungan siklisku untuk kembali kepada diriku sendiri. Dalam peristiwa perjumpaan ini, Aku tidak boleh kembali kepada diriku. Aku tidak boleh hanya memikirkan diriku sendiri saja, Aku harus memikirkan Liyan. Demikian seharusnya relasi yang Aku jalani dengan Liyan, yaitu mengutamakan Liyan. Hal ini disebut oleh Levinas dengan sebutan Relasi Asimetris[18]. Relasi asimetris memaksudkan dalam relasiku dengan Liyan, hak Liyanlah yang pertama-tama harus Aku junjung dan perjuangkan, bukan hakku.

Dengan cara yang demikian Aku dapat mencapai transendensiku, dan Liyan adalah jalan bagiku menuju transendensi. Halnya dikatakan demikian karena dalam proses transendensitidak dipandang sekadar gerakan melampaui atau menyeberangi, tetapi halnya juga bermakna menaiki. Dapat dikatakan bahwa transendensi adalah gerakan keluar dan naik ke arah ketinggian menuju ke sesuatu yang superior. Demikian apabila Liyan dipandang sebagai jalan bagiku menuju transendensi, posisi Liyan sebenarnya lebih tinggi dari diriku.

Dengan menyadari superioritas dalam konteks relasi antara Aku dan Liyan, Aku tentulah menjadi pribadi yang menghargai konteks Liyan dan kemanusiaannya. Di sini konteks dimengerti sebagai itu yang menjadi latar belakang dari Liyan dan segala pengalamannya yang membentuk ia seperti sekarang ini. Dengan menghargai konteks dari Liyan ini, Aku sebenarnya menyadari bahwa Liyan itu berbeda dalam keberlainannya, dan keberlainanitu sama sekali berada di luar jangkauanku, sama sekali tak terselami oleh kesadaranku. Dengan superioritas pula menunjukkan bahwa Aku sama sekali tidak dapat menguasai Liyan, apalagi menjadikannya menjadi bagian dari milikku, apalagi mengeksploitasinya,Liyan itu tak berhingga dalam keberlainannya. Aku pertama-tama tidak memiliki hak untuk hal itu. Selain itu, hal yang demikian adalah sama sekali tidak etis dari sendirinya. Dalam logika inilah relasi asimetris Levinas dapat dijelaskan.

Gagasan ini memang adalah gagasan yang baru dalam dunia etika, bagaimana Levinas menawarkan cara baru dengan memfokuskan diri pada pembahasan mengenai relasi manusia, Aku dan Liyan. Hal ini menggugat pandangan-pandangan yang sudah lama mapan dalam sejarah perkembangan manusia, yang fokus pada Aku saja. Penggalian ini dapat ditarik akarnya dari kenyataan bahwa Liyan pun memiliki kesadaran Aku-nya sendiri. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, bahwa kesadaran Aku adalah kesadaran yang amat kompleks. Kesadaran ini tidak hanya dimiliki oleh Aku saja, tetapi juga Liyan, karena Liyan juga memiliki kesadaran Aku-nya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa Liyan merupakan Aku yang lain, atau yang dikenal dengan alter ego. Halnya sama sekali tidak demikian. Liyan dengan kesadaran Aku-nya tetaplah tidak berhingga dan tidak dapat dijangkau oleh kesadaranku, sehingga tidak tepat mengatakan bahwa Liyan adalah alter ego. Dengan mengatakan demikian Aku telah mereduksir Liyan ke dalam diriku.Dari penjabaran ini dapat dimengerti bagaimana gagasan metafisika yang diberikan Levinas, bahwa metafisika adalah pemikiran yang membuka diri bagi dimensi yang tak berhingga dengan hadirnya Liyan.

 

Menyimak Keindahan dalam Relasi Aku dan Liyan

Manusia pada dasarnya selalu senang dengan keindahan. Halnya dibuktikan dengan keinginan mata melihat pemandangan yang indah, keinginan telinga untuk mendengar lagu dan alunan musik yang merdu dan indah. Singkat kata, pancaindera manusia terikat untuk menikmati sesuatu yang indah. Keindahan adalah itu yang dirindukan oleh manusia.

Indah adalah itu yang masuk dalam kategori empat aspek transendental, satu, baik, benar dan indah. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin melihat salah satu, yaitu keindahan dalam relasi manusia antara Aku dan Liyan. Relasi antara Aku dan Liyan itu pada dasarnya menyibakkan keindahan. Keindahan ini ternyata dalam kehadiranku dan kehadiran Liyan dalam perjumpaan konkret kami. Sebab keseluruhan hidup kami sesungguhnya menjadi penjabaran dari keindahan itu sendiri meskipun tidak lengkap.[19]

Hal ini ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kehadiran manusia itu adalah indah. Hal ini jelas dalam pandangan Katolik, bahwa manusia itu adalah citra dari Allah. Manusia adalah imago Dei. Dengan Allah disebutkan sebagai akar dari segala keindahan, Ia adalah indah dari sendirinya, maka kehadiran Aku dan Liyan sebagai gambarannya pun adalah indah. Kami mewarisi gambaran akan Allah yang menciptakan manusia dengan seturut gambarannya sendiri, maka gambaran itu pun melekat dalam diriku dan Liyan. Kami membawa gambaran itu dalam setiap kehadiran kami di manapun. Maka dengan demikian setiap perjumpaan Aku dan Liyan dalam relasi, kami menghadirkan keindahan itu sendiri.

Hal keindahan relasi antara Aku dan Liyan ini pun dilihat sebagai indah karena dalam relasi itu Aku dan Liyan menghargai keindahan masing-masing. Apabila dilihat dalam konteks filsafat alteritas Levinas, maka keindahan itu diperlihatkan apabila Aku dengan segala kerendahan hatiku menghargai Liyan yang pada dasarnya dengan segala keberlainannya yang tak berhingga adalah indah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keindahan dari Liyan pun adalah tak berhingga. Hal ini menunjukkan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menghormati Liyan, apalagi mengeksploitasinya dan mereduksinya dalam diriku. Kami memiliki keindahan masing-masing.

 

Penutup

Relasi antara Aku dan Liyan memiliki lika-liku dalam sejarah peradaban manusia, bahkan hingga sekarang. Liyan sering kali tidak dipandang secara semestinya. Hal ini yang menyebabkan terjadi ketidakadilan dalam relasi, bahwa manusia dengan kesadarannya tega mengeksploitasi Liyan demi kepentingan pribadi. Jelas hal ini tidak seharusnya demikian. Liyan adalah subjek yang bernilai bagiku, nilai dari Liyan sangatlah tidak berhingga. Ia bahkan menjadi jalan bagiku menggapai transendensiku. Oleh sebab ia adalah jalan bagiku menggapai transendensiku, maka tak ada alasan bagiku untuk tidak berlaku etis terhadap Liyan. Liyan pun memiliki kesadaran Aku-nya sendiri, sama sepertiku, untuk itu Aku adalah orang yang pertama-tama harus menjaga dan menghormati hak dari Liyan.

 

 

Daftar Pustaka

 

Jauhari, Ahmad “Konsep Metafisika Emmanuel Levinas”. Jurnal Yaqzhan 2, no. 1 (2016), 15-25.

Magnis-Suseno, Franz. Etika Abad Kedua Puluh. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Riyanto, Armada. Diktat Metafisika. Unpublished.

_____________. Menjadi-Mencintai Berfilsafat Teologi Sehari-hari.Yogyakarta: Kanisius, 2013.

_____________. Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Yogyakarta: Kanisius, 2018.

 

Tjaya, Thomas Hidya.  Emmanuel Levinas Enigma Wajah Orang Lain.  Jakarta: KPG, 2018.

[1] Ahmad Jauhari “Konsep Metafisika Emmanuel Levinas”. Jurnal Yaqzhan  2, no. 1 (2016), 18

[2]Armada Riyanto, Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen (Yogyakarta: Kanisius, 2018), 190

[3]Ibid., 191

[4]Ibid.

[5]Bdk. Ibid. Di sana ditulis dengan baik mengenai Suzane yang tetap berperan sebagai ibu yang baik dalam keadaan yang amat sulit sekali.

[6]Ibid., 212

[7]Ibid., 231

[8]Ibid.

[9]Ibid., 265

[10]Thomas HidyaTjaya, Emmanuel Levinas Enigma Wajah Orang Lain (Jakarta: KPG, 2018), 47

[11]Armada Riyanto, Menjadi Mencintai (Yogyakarta: Kanisius, 2013), 9

[12]Thomas HidyaTjaya, Op. Cit., 63

[13]Ibid.,64

[14]FranzMagnis-Suseno, Etika Abad Kedua Puluh (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 86

[15]Thomas Hidya Tjaya, Op. Cit., 64

[16]Bdk. Ibid., 90

[17]Ibid.

[18]Ibid.

[19]Armada Riyanto, Diktat Metafisika (Unpublished), 55

 

Sumber Gambar Featured: http://lsfcogito.org/membaca-levinas-di-dalam-situasi-post-levinasian/

TRI_2020Mei14_Artikel Hasan 026

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *