Catatan

“DIMANAKAH ENGKAU, TUHAN, KETIKA AKU MENGALAMI COBAAN YANG BEGITU MENGERIKAN?”: REFLEKSI DI PESTA ST. KATARINA DARI SIENA

Oleh Bernadus Agus, S. Fil., Bac. Th. (Staf Yayasan Landak Bersatu)

 

Pertanyaan yang sama kemungkinan juga sedang kita ajukan kepada Tuhan dengan adanya Pandemi Covid-19 yang sudah menjadi momok bagi sebagian besar negara di seluruh dunia. Yang menjadi inti pertanyaan di atas bukanlah kalimat “ketika aku mengalami cobaan yang begitu mengerikan”, melainkan keberadaan Tuhan (“di manakah Engkau Tuhan”).

Keberadaan yang di maksud disini bukanlah hanya sekedar “ADA” atau “TIADA”, dan juga bukan hanya sekedar “BERADA” yang bisa dimengerti dengan ada di sebelah kiri atau kanan, di Timur atau Barat, di atas atau di bawah; melainkan sesuatu yang jauh lebih mendalam mengenai “KEBERADAAN” atau Eksistensi Tuhan.

Manusia sebagai mahluk sosial/zoon politicon (Aristoteles) dalam berhubungan dengan sesama manusia sering kali melupakan “keberadaan” Tuhan karena terlalu disibukkan oleh berbagai hal dalam menjalin relasi sosial dengan sesama manusia. Relasi antar sesama manusia itu penting namun jangan sampai melupakan relasi manusia dengan Allah.

Dalam novel “Maka berbicaralah Zarathustra”/ “Sabda Zarathustra”, sang penulis novel, Friedrich Nietzche menyatakan bahwa “Tuhan sudah mati.” Kematian Tuhan ini bukanlah kematian dalam arti yang harafiah melainkan hilang atau matinya konsep atau nilai yang dimunculkan oleh manusia atas nama agama atau Tuhan dalam membenarkan diri atau tindakan yang dilakukan dalam relasi antar manusia. Contoh yang cukup relevan adalah ikut beribadah bersama baik itu di gereja maupun di masjid selama masa Pandemi Covid-19 dengan alasan kita beribadah untuk memuji Tuhan, segala virus dan penyakit pasti di jauhkan karena kuasa Tuhan.

Mereka yang beranggapan demikian sepertinya adalah orang-orang yang sangat beriman, tapi, di satu sisi mereka mengesampingkan akal budi. Beriman itu baik bahkan sangat baik, namun beriman yang disertai akal budi sangat jauh lebih baik. Beriman secara buta, apalagi membabi buta itulah yang membuat Tuhan menjadi mati. Begitu juga sebaliknya jika manusia hanya mengandalkan akal budi belaka tanpa didasari dengan iman akan membuat manusia tersebut men-Tuhan-kan sesuatu dan menciptakan tuhan-tuhan yang lain untuk mendukung keberadaan dirinya. Tuhan seperti inilah yang membuat Nietzsche berkata bahwa Tuhan sudah mati.

Dalam situasi kita sekarang ini dimana kita diminta untuk membatasi diri untuk bertemu dengan orang lain atau melalukan social distancing, work from home untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19, kita ditarik dari rutinitas kita, dari perjumpaan dengan banyak orang untuk menyepi dan menjaga jarak dengan orang lain sambil terus mendengar informasi tentang bahaya dan korban yang telah berjatuhan akibat Covid-19 ini. Ketakutan, kebingungan melawan sesuatu yang tak kasat mata ditambah lagi dengan adanya orang-orang yang sudah menjadi pembawa virus atau dengan kata lain terpapar virus Corona membuat banyak orang bertanya: “Dimanakah Engkau, Tuhan, ketika kami mengalami cobaan yang begitu mengerikan?” Dan jawaban seperti apa yang kamu inginkan?

Tuhan sudah menjawab dan jawaban itu sama seperti yang Dia katakana kepada Santa Katarina dari Siena: “Anak-Ku, Aku ada dalam hatimu. Aku membuatmu menang dengan rahmat-Ku.” Didasari iman yang kuat dan disertai kecerdikan akal budi kita pasti bisa melewati dan mengatasi segala kekacauan yang muncul karena virus Corona.

 

Sumber Gambar Featured: https://www.mirifica.net/2020/04/29/santa-katarina-dari-siena-29-april/

TRI_2020Apr30_Artikel Bang Agus 023

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *