Filsafat

COVID 19 SEBAGAI PERGUMULAN EKSISTENSIAL MANUSIA DALAM EKSISTENSIALIME SØREN KIERKEGAARD

Oleh Stepanus Angga (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)

 

Pengantar

Hari-hari ini kita berada dalam sebuah pergumulan yang berat karena berhadapan dengan wabah yang menyeramkan dalam sejarah peradaban manusia, yakni covid 19. Kita seolah-olah berhadapan dengan dewa atau dewi kematian yang sebentar lagi menjemput kita. Sehingga membuat kita mengalami kegelisahan, kekwatiran dan sebagainya. Pergumulan ini tentu menjadi sebuah pengalaman yang eksistensial dalam hidup kita. Dalam hal ini penulis akan menyajikannya dalam pandangan eksistensialisme Søren Kierkegaard. Sebab menurut Kierkegaard seluruh eksistensi manusia mencakup banyak hal termasuk persoalan-persoalan yang sedang dia alami. Manusia sebagai individu yang konkret dan unik adalah manusia dalam situasi eksistensinya, dengan persoalan-persoalan hidupnya setiap hari dan dengan alternatif-alternatif yang dihadapinya.[1]

Søren Kierkegaard dan Eksistensi

Søren Kierkegaard lahir 5 Mei 1813, di Kopenhagen, Denmark — meninggal 11 November 1855, Kopenhagen. Dia adalah seorang filsuf Denmark, teolog, dan kritikus budaya yang merupakan pengaruh besar eksistensialisme dan teologi Protestan di abad ke-20. Ia dikenal sebagai “bapak eksistensialisme”, tetapi paling tidak sama pentingnya adalah kritiknya terhadap Hegel dan romantika Jerman, kontribusinya terhadap perkembangan modernisme, eksperimen gaya bahasa, penyajian ulang tokoh-tokoh Alkitab yang jelas untuk memunculkan relevansi modern mereka, penemuan konsep-konsep kunci yang telah dieksplorasi dan dipekerjakan kembali oleh para pemikir sejak itu, intervensi dalam politik gereja Denmark kontemporer, dan upayanya yang kuat untuk menganalisis dan merevitalisasi iman Kristen.[2] Menurut Kierkegaard agama Kristen sungguh-sungguh menjadi sekular dan duniawi, dan orang-orang menyebut dirinya Kristen tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan Allah.[3]

Kierkegaard adalah individu yang temperamental, gampang memperdebatkan banyak hal karena memiliki pribadi yang melankolis. Pengalaman hidupnya yang pahit membuatnya banyak menulis dengan rujukan pada perasaan-perasaan negatif khas seorang manusia: kecemasan, kebosanan, ketakutan dan keputusasaan.[4] Karakter Kierkegaard ini sebenarnya diturunkan dari ayahnya, Mikhael Pedersen Kierkegaard. Ayahnya adalah orang yang sangat melankolis, pribadi yang mudah merasa berdosa. Setelah kematian istri pertamanya pada bulan April 1796, dia mengahkiri dan menjual bisnisnya. Lalu pada bulan April 1797, dia menikahi pembantunya dan kurang dari lima bulan setelah pernikahan mereka, lahirlah anak perrtama.[5] Mikhael Kierkegaard merasa bahwa keluarganya mendapat kutukan dari Tuhan apalagi setetlah istri dan kelima anaknya berturut-turut meninggal. Watak ini menurun ke anaknya, yakni Søren Kierkegaard.

Pergumulan hidup Søren Kierkegaard juga diawali dari batalnya pertunangannya dengan Regina Olsen. Kierkegaard tidak perrnah memberitahu apa alasannya membatalkan pertunangan termasuk kepada Regina Olsen. Namun, setelah itu, dia semakin produktif dalam menulis. Dia selalu menggunakan nama samaran agar tidak ada yang tahu bahwa isi tulisanya merupakan pengalaman pribadinya.

Kierkegaard adalah filsuf yang menekuni eksistensialisme. Hampir seluruh tulisannya mencakup masalah eksistensi. Kierkegaard melihat eksistensi tidak hanya dari sudut pandang kemungkinan, tetapi juga mempertimbangkan bentuk-bentuk lain yang dapat diasumsikan ke dalam pertumbuhan spiritual dalam tahap-tahap berbeda.[6]

Dalam pandangan Kierkegaard kehidupan manusia dalam eksistensinya memiliki tiga macam atau jenis.[7] Pertama, estetik. Menurut Kierkegaard bentuk estetik adalah bentuk kehidupan manusia yang pikirannya hanya diarahkan ke hal-hal di luar dirinya sendiri. Dia mengarahka pandangannya ke luar dirinya tanpa melihat seluruh dirinya. Individu-individu yang berada pada tahap ini diombang-ambingkan oleh dorongan-dorongan indrawi dan emosi-emosinya, semboyan sejatinya adalah kenikmatan semata, sedangkan hari esok pikirkan besok.[8]

Bentuk kedua adalah etis. Dalam bentuk ini, manusia mengarahkan pandangannya kearah dirinya sendiri. Untuk sampai pada tahap ini orang harus melakukannya dengan pilihan bebas, sabuah “lompatan eksistensi”. Kemudian bentuk ketiga adalah religio atau keagamaan. Dalam bentuk ini manusia menyerah sama sekali kepada Kristus, mengikat diri sama sekali pada Kristus. Dengan demikian manusia menyerahkan dan mengikat diri pada Tuhan.[9] Pada tahap ini orang melakukan sebuah “lompatan iman”. Lompatan ini bersifat non-rasional atau biasa kita sebut pertobatan.[10]

Pengertian eksistensi ini pertama-tama merujuk pada cara berada manusia. Sebab kata eksistensi hanya ditunjukkan kepada manusia. Suatu sikap yang serius untuk mengenali diri dan dilakukan dengan totalitas. Kierkegaard tidak begitu saja sampai pada pengertian eksistensi melalui refleksi atas dialetika eksistensi, tetapi dia berusaha menggambarkan masalah-masalah kompleks tentang isu-isu berelasi dengan eksistensi yang dialaminya seperti kesedihan karena pertunangannya yang gagal, kematian saudara-saudaranya, dan juga konflik dengan the Corsair, ditambah pengalaman-pengalaman yang dialaminya itu ditularkan kepada orang lain.[11]

Seperti dijelaskan di bagian sebelumnya bahwa eksistensi ini hanya ditujukan atau diterapkan kepada manusia atau lebih tepat lagi kepada individu konkret. Manusia menjadi “aktor” kehidupan yang memilih dan memutuskan seluruh hidupnya sendiri. Dia tidak sekedar mengikuti arus kerumanan manusia. Individu yang bereksistensi, yang memilih untuk menempuh cara objektif, berarti memasuki seluruh proses dugaan yang ditujukan untuk bisa menghadirkan Tuhan ke dalam pemahaman yang objektif.[12] Meskipun ini akan menjadi suatu pengalaman yang sulit, karena Tuhan adalah subjek dan hanya eksis dalam subjektivitas yang hakiki.

Eksistensi manusia ini juga berada dalam situasi kegalauan atau sedang dalam pergumulan hidup. Bahkan eksistensi semacam ini akan menyebabkan keputusasaan. Di sini Kierkegaard menyebutnya bahwa orang tidak mau lagi menjadi dirinya.[13] Sebab orang yang putus asa adalah mereka yang menyerah untuk berusaha karena tujuannya tidak memungkinkan. Ketika kebosanan atau rasa galau melanda karena merasa hidup yang selaman ini dijalani penuh kepalsuan atau tidak autentik, orang perlu intropeksi diri terhadap gejala ini untuk mengubah diri menjadi autentik.[14]

Covid 19 Sebagai Armada Bayangan

Salah satu musuh besar manusia adalah wabah dan penyakit menular. Sebab dapat merusak seluruh tatanan masyarakat dengan cepat. Bila kita kembali ke masa lalu. Wabah paling terkenal yang dinamai Maut Hitam meletup pada dekade 1330, di suatu tempat di Asia timur dan tengah, ketika bakteri penumpang kutu Yersinia pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu.[15] Dari sana wabah tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh Asia, Eropa dan Afrika Utara. Sehingga menyebabkan kira-kira 75 juta samapai 200 juta orang meninggal.[16] Par pejabat mengalami kesulitan untuk menanggulangi masalah ini. Banyak orang kebingungan dan  merasa gelisah, galau dan sebagainya.

Lalu pada tahun 1918 terkenal dengan “flu spanyol” yang menyebabkan banyak orang yang mati. Wabah ini membunuh manusia antara 50 juta sampai 100 juta orang dalam waktu kurang dari satu tahun, sementara perang dunia pertama membunuh 40 juta orang dari tahun 1914 sampai 1918.[17] Artinya wabah dan penyakit menular merupakan musuh besar manusia yang paling kuat. Sehingga pada situasi macam ini, manusia pasti mengalami suatu kegoncangan. Seolah-olah sedang berada dalam hukuman dari Tuhan. Orang mulai gelisah dan ragu dengan eksistensinya.

Lalu pada 2020 ini, kita juga berada dalam situasi yang sama, dimana semua orang mengalami kegelisahan dan ketakutan yang disebabkan oleh covid 19 (coronavirus disease 2019) ini. Bahkan tidak sedikit jumlah manusia yang meninggal akibat wabah tersebut. Roda kehidupan manusia pun berubah dengan cepat. Orang tidak bisa beraktivitas dengan baik karena mengalami ketakutan. Seluruh aktivitas diharapkan semuanya dilakukan dari rumah, baik belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah dari rumah. Dengan harapan untuk mengurangi penyebaran virus tersebut.

Di sisi lain, covid 19 ini juga dapat mengguncangkan semangat manusia dalam bereksistensi. Beberapa orang akan bertanya: apakah ini cara alam memulihkan dirinya dari dosa-dosa manusia selama ini? Atau apakah ini hukuman dari Tuhan? Dan pertanyaan lainnya yang sejenis. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak boleh dianggap remeh karena ini juga soal relasi manusia dengan alam ini. Orang mempertanyakannya karena mereka mengalami kegelisahan dan ketakutan. Seolah-olah covid 19 ini seperti tentara atau armada yang datang untuk menyerang manusia. Maka berikut kita akan melihat kegilasan dan pergumulan kita dengan covid 19 ini dalam kacamata eksistensialime Kierkegaard.

Penderitaan dan Eksistensi Manusia

Pengalaman dengan covid 19 ini tentu menimbulkan penderitaan dalam hidup manusia karena ada banyak orang yang meninggal bahkan yang lebih menyakitkan lagi, ada yang tidak bisa melayat keluarga mereka yang meninggal akibat virus tersebut. Kematian seolah-olah sebentar lagi menjemput manusia. Sehingga kematian itu dimengerti sebagai misteri kefatalan diri.[18] Orang berada dalam keputusasaan, kegalauan dan kegelisahan hidup.

Dalam Fear and Trembling, Kierkegaard menggambarkan iman Abraham sebagai sesuatu yang mengatasi nilai “kebaikan” yang universal, yang berlaku umum bagi siapa saja, di mana saja, kapan saja.[19] Abraham melakukan suatu tindakan paradoks. Bila dilihat dari aspek hukum, tindakan Abraham tersebut pasti tidak dapat dibenarkan, namun dia menaruh pada kepercayaan yang absurd. Meskipun dia merasa berat hati karena apa yang dia harapkan dalam hidupnya tiba-tiba ingin diambil oleh Tuhan. Bahkan dalam kisahnya, Abraham tidak berbicara satu kata pun selama dalam perjalanan ke gunung Moriah. Artinya dia mengalami suatu kepedihan yang besar dalam hatinya. Namun karena kepercayaannya kepada Tuhan membuat tegar untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Pertanyaanya apakah pengalaman Abraham ini dapat kita kaitkan dalam pengalaman kita saat ini?

Bagi Kierkegaard hubungan individu dengan Tuhan memiliki ciri subjektivitas. Subjek di sini adalah subjek yang aktif dalam menyempurnakan hubungan, menyempurnakan dirinya sehingga selalu dalam proses menjadi.[20] Seperti penjelasan di bagian sebelumnya bahwa Kierkegaard menggunakan kisah Abraham dalam menjelaskan eksistensi ini. Di mana seseorang yang sedang bergulat dengan imannya. Iman Abraham adalah sebuah paradoks di mana tindakan iman individu lebih tinggi daripada prinsip universal.[21]

Bagaimana dengan kita dalam situasi saat ini? Situasi yang membuat iman kita terguncang seolah-olah Tuhan sedang murka terhadap hidup kita. Pada ranah ini, Kierkegaard menekankan pentingnya hidup beriman. “Tindakan iman” membuka pintu masuk ke dalam ranah religius yang merupakan bentuk tertinggi dari konsep individu (eksistensi individu).[22]  Seperti yang digambarlkan oleh Kierkegaard dalam ranah yang susah ini adalah Abraham. Seorang kesatria iman yang tetap mempertahankan imannya kepada Allah meskipun situasinya sedang galau.

Penderitaan itu harus dialami oleh manusia. Sebab di sinilah kedewasaan eksistensi kita diuji. Karena sering kali situasi susah membuat manusia lupa dengan kebaikan Tuhan. Seolah-olah Tuhan adalah sumber malapetaka, sumber bencana yang membawa penyakit bagi manusia. Orang menjadi krisis dalam hidupnya sehingga menyebabkan keputusasaan. Cara manusia berada atau eksistensi ini perlu diuji. Kierkegaard berpendapat bahwa dalam bereksistensi, manusia secara terus-menerus berjuang untuk memilih dan membuat keputusan personal terkait dengan cara ia hidup, bertindak, dan memilih jalan kehidupan.[23] Pada situasi ini juga manusia dituntut untuk mengambil keputusan, yakni menyalahkan Tuhan atau melihatnya sebagai pembaharuan diri. Pembaharuan diri untuk melakukan rekonsiliasi dengan alam ini.

Penutup

Covid 19 merupakan wabah yang sangat mengerikan dalam sejarah peradaban manusia. Banyak orang mengalami ketakutan, kegelisahan bahkan menganggapnya sebagai tentara Allah yang siap menyerang manusia. Anggapan ini tentu tidak benar, sebab Tuhan tidak mungkin membiarkan ciptaan-Nya jatuh pada penderitaan yang mengerikan. Eksistensi manusia tidak bisa dibatasi oleh satu aspek saja. Pengalaman penderitaan menjadikan manusia semakin tahu tentang dirinya, artinya orang semakin mengenal dirinya dengan baik untuk mencapai kesempurnaan. Dalam hal ini, Kierkegaard mengajak kita untuk semakin menyadari eksistensi kita dalam situasi susah ini. Seperti  Abraham yang membiarkan atau menyerahkan anaknya kepada Allah. Meskipun tindakan Abraham ini sangat salah dimata hukum. Tetapi imanya kepada Tuhan membuat dia sebagai kesatria iman. Ada sebuah lompatan iman yang luar biasa dalam diri Abraham.

 

Daftar Pustaka

Garot, Eugenita,  Pergumulan Individu dan Kebatinan Menurut Soren Kierkegaard, Yogyakarta: Kanisius, 2017.

Hardiman, Budi,  Dari Machiavelli Sampai Nietzsche, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Dru, Alexander, The Journals Of Kierkegaard, Fontana books, 1958.

Drijarkara, Percikan Filsafat, Jakarta: PT Pembangunan, 1978.

  1. Aiken, Hendry, Abad Ideologi, Yogyakarta: RELIEF, 2009.

Noah Harari, Yuval,  Homo Deus Masa Depan Umat Manusia, (perj: Yanto MUshofa), Jakarta: PT Pustaka Alvabet, 2019.

Riyanto, Armada, Menjadi-Mencintai, Yogyakarta: Kanisius, 2014.

https://plato.stanford.edu/entries/kierkegaard/ diakses 17 April 2020.

[1] Eugenita Garot, Pergumulan Individu dan Kebatinan Menurut Soren Kierkegaard, Yogyakarta: Kanisius, 2017, hlm 39.

[2] https://plato.stanford.edu/entries/kierkegaard/ diakses 17 April 2020.

[3] Budi Hardiman, Dari Machiavelli Sampai Nietzsche, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004, hlm 247.

[4] Eugenita Garot,. Ibid, hlm 23.

[5] Alexander Dru, The Journals Of Kierkegaard, Fontana books, 1958, hlm 13.

[6] Eugenita Garot,. Loc. cit, hlm 37.

[7] Drijarkara, Percikan Filsafat, Jakarta: PT Pembangunan, 1978, hlm 67-68.

[8] Budi Hardiman, Ibid, hlm 253.

[9] Drijarkara Ibid. hlm 68.

[10] Budi Hardiman, Loc. cit, hlm 253.

[11] Eugenita Garot,. Ibid, hlm 38.

[12] Hendry D. Aiken, Abad Ideologi, Yogyakarta: RELIEF, 2009, hlm 279.

[13] Eugenita Garot,. Ibid, hlm 57.

[14] Ibid.

[15] Yuval Noah Harari, Homo Deus Masa Depan Umat Manusia, (perj: Yanto MUshofa), Jakarta: PT Pustaka Alvabet, 2019, hlm 7.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai, Yogyakarta: Kanisius, 2014, hlm 241.

[19] Eugenita Garot,. Ibid, hlm 13.

[20] Ibid. hlm 81.

[21] Ibid.

[22] Ibid, hlm 90.

[23] Ibid, hlm 21.

 

Sumber Gambar Featured: https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/19/120200123/tentang-virus-corona-covid-19-apa-itu-istilah-odp-pdp-dan-suspek

TRI_2020Apr30_Artikel Angga 022

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *