Artikel

CINTA, PERSAHABATAN DAN PERNIKAHAN: PERSPEKTIF THOMAS AQUINAS

Penulis: Trio Kurniawan (Dosen di STKIP Pamane Talino, Pendiri Betang Filsafat)

 

Dalam tulisannya, Thomas Aquinas secara jelas menunjukkan bahwa cinta adalah sumber dan puncak dari hidup setiap manusia. Pernyataan ini mungkin bukanlah sebuah pernyataan baru. Bisa jadi pernyataan ini merupakan pembahasaan ulang dari gagasan-gagasan serupa yang dilontarkan oleh para pendahulunya. Namun demikian, pernyataan Thomas Aquinas ini pada prinsipnya menegaskan betapa cinta merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia.

Pembahasan tentang cinta sendiri akhir-akhir ini menjadi semakin menarik mengingat semakin biasnya tafsir tentang cinta sehingga seringkali kebusukan mengambil wajah cinta sebagai wujud presentasi dirinya di hadapan keseharian manusia. Ada begitu banyak perilaku jahat yang dibuat seolah-olah didasarkan oleh cinta (dan kebaikan) sehingga mempengaruhi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Namun demikian, setelah dipoles bagaimanapun juga, bau kebusukan tidak akan pernah hilang walau disembunyikan di balik kedok cinta yang artifisial. Tulisan ini merupakan pemaknaan ulang atas beberapa bagian buku karya Anthony T. Flood yang berjudul The Metaphysical Foundations of Love: Aquinas on Participation, Unity and Union.

 

Tentang Cinta dan Persahabatan

Thomas Aquinas membuka elaborasi tentang cinta dari persoalan persahabatan antara dua manusia. Ia meyakini bahwa cinta yang hadir dalam persahabatan akan membawa dua manusia tersebut pada penyatuan (union). Aquinas, lebih lanjut, mengatakan bahwa penyatuan tertinggi antara manusia dan Tuhan mengambil bentuk dari persahabatan. Bagaimana ini dijelaskan? Cinta seperti apa yang dimaksudkan oleh Thomas Aquinas ketika berbicara tentang cinta dan persahabatan?

Ketika Thomas Aquinas berbicara tentang cinta dalam persahabatan sebagai salah satu gambaran penyatuan antara manusia dan Tuhan, ia tidak sedang berbicara tentang cinta dalam arti nafsu duniawi. Ia berbicara tentang cinta dalam arti yang lebih agung, lebih mendalam. Cinta yang seperti itu, menurut Aquinas, tampak dalam sebuah persahabatan sejati. Persahabatan merupakan gambaran sederhana dimana ada minimal dua manusia yang memutuskan untuk saling memberi dan melengkapi.

Ketika seseorang dengan kehendak bebasnya memilih kebaikan, maka ia akan dengan sendirinya bersatu dengan kebaikan tersebut. Tidak mungkin seseorang yang memilih kebaikan namun tidak berjalan di dalam kebaikan. Ini tentu sangat tidak logis. Kebersatuan antara seseorang yang memilih kebaikan dengan kebaikan itu sendiri pertama-tama digerakkan oleh cinta. Menurut Thomas Aquinas, cinta adalah pada dirinya dorongan untuk menyatukan atau saling mengikat. Cinta tidak mungkin membuat sesuatu tercerai-berai.

Thomas Aquinas membagi cinta ke dalam dua jenis, yaitu cinta hawa nafsu (love of concupiscence) dan cinta persahabatan (love of friendship). Pembagian oleh Thomas Aquinas ini tidak serta-merta dimengerti bahwa karakter cinta seseorang adalah atau cinta hawa nafsu atau cinta persahabatan. Pembagian sederhana oleh Thomas Aquinas ini bisa jadi disimplifikasi sebagai berikut: cinta hawa nafsu dipahami sebagai cinta demi diri sendiri dan cinta persahabatan dipahami sebagai cinta demi orang lain. Apakah pengertian seperti ini bisa dibenarkan?

Menurut Aquinas, tidak masalah sebenarnya jika orang mencintai demi dirinya sendiri. Cinta demi kepentingan diri sendiri bisa dilihat dari cara pandang cinta persahabatan. Dalam konteks cinta persahabatan, cinta itu diberikan demi orang lain. Dalam cinta demi diri sendiri, “orang lain” yang dimaksud di sini adalah dirinya sendiri. Itulah yang Aquinas kemudian sebut sebagai cinta diri (self love). Cinta yang seperti ini tidak keliru. Setiap manusia justru harus mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu baru ia bisa mencintai orang lain dengan utuh.

Kekeliruan cinta yang pertama adalah ketika seseorang memutuskan untuk “mencintai” pribadi di luar dirinya hanya demi kepentingannya semata. Cinta yang seperti ini disebut dengan cinta egois (selfish love). Arah mencintai yang seperti ini berbeda dengan yang dimaksudkan di atas. Jika self love mengandaikan adanya satu manusia semata dan demi kepentingan manusia itu sendiri, selfish love mengandaikan adanya dua manusia yang bergerak hanya demi kepentingan salah satu pihak. Dalam selfish love, pihak lainnya adalah objektifikasi atau “sapi perah” dari salah satu pihak.

Lantas apa itu cinta sejati (unselfish love)? Cinta sejati adalah dorongan untuk menyatukan diri dengan orang lain demi kepentingan orang lain tersebut. Ketika ada dua orang yang memiliki dasar cinta yang sama seperti di atas, pada titik itulah cinta persahabatan terjadi. Persahabatan sejati dibangun dari manusia-manusia yang saling berkorban demi sahabatnya. Bukankah sahabat yang baik adalah sahabat yang mau mengorbankan nyawanya bagi sahabatnya?

Thomas Aquinas mengikuti Aristoteles dalam membedah jenis-jenis persahabatan manusia. Jenis pertama adalah persahabatan atas dasar kebutuhan. Persahabatan jenis ini berlangsung antara manusia-manusia yang berinteraksi karena satu sama lain dapat memenuhi kebutuhannya. Jika tidak ada lagi yang bisa dibagikan untuk memenuhi kebutuhan, maka persahabatan ini tidak berlangsung. Contoh: orang yang bertetangga mungkin bisa menjadi sahabat karena pernah meminjamkan barang saat ada acara.

Jenis kedua adalah persahabatan yang berlangsung karena adanya kesamaan hobby atau kesenangan. Persahabatan jenis ini berlangsung ketika antar manusia memiliki hobby yang sama lalu kemudian disatukan oleh hobby tersebut. Contoh: persahabatan antar pemain sepakbola. Jenis ketiga adalah persahabatan sejati dimana masing-masing pihak menghadirkan cinta yang utuh sebagaimana yang disampaikan di atas.

Kedua jenis persahabatan yang pertama dibangun atas dasar cinta hawa nafsu, sementara jenis ketiga dibangun atas dasar cinta sejati persahabatan. Namun demikian, kedua jenis persahabatan yang pertama, jika terus dibangun dengan nilai-nilai atau kualitas baik, akan bisa membawa manusia-manusia yang berelasi itu kepada cinta sejati, persahabatan sejati. Persahabatan yang sejati mengandaikan cinta persahabatan karena mencintai nilai-nilai (keutamaan) yang dicintai oleh sahabatnya sama artinya dengan mencintai sahabatnya itu sendiri.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah membangun persahabatan sejati berarti mengubah kepribadian setiap orang yang berada di dalam relasi tersebut? Menurut Thomas Aquinas, objek pertama dari sebuah cinta sejati dalam persahabatan adalah kepribadian dari sahabatnya itu. Aquinas menegaskan bahwa kepribadian (personhood) adalah hal yang membuat seseorang “tidak bisa dikomunikasikan” (incommunicable) dan berjarak dengan manusia lainnya.

Hal ini bisa dimengerti. Kepribadian adalah sesuatu yang menjadikan manusia sebagai pribadi yang unik. Kepribadian membuat manusia A berbeda dari manusia B. Menurut Aquinas, cinta sejati bukanlah dorongan yang menjadikan kepribadian seseorang berubah supaya dua sahabat memiliki kepribadian yang sama. cinta sejati adalah dorongan untuk menerima keunikan pribadi masing-masing manusia dan menyatukannya dalam relasi yang saling membangun dan menghidupkan.

 

Tentang Cinta dan Pernikahan

Thomas Aquinas melihat pernikahan sebagai bentuk yang paling agung dari sebuah persahabatan sejati manusia. Pernikahan tidak semata-mata dilihat sebagai dua manusia yang berkata untuk sehidup-semati, namun tidak menghidupi janji tersebut. Pernikahan juga bukan dilihat sebagai keputusan dua manusia untuk hidup bersama setelah terlalu lama pacaran. Pernikahan adalah sebuah loncatan tinggi dari sebuah persahabatan. Ini mengagumkan.

Sebelum pembahasan mengenai cinta dan pernikahan ini dilanjutkan, definisi pernikahan sebagai bentuk paling agung dari persahabatan sejati manusia perlu dielaborasi dengan cermat terlebih dahulu untuk menghindari kesalahpahaman. Penggunaan kata “manusia” dalam “persahabatan sejati manusia” pertama-tama digunakan untuk membedakannya dari “persahabatan dengan Tuhan”. Keduanya berbeda walaupun dalam arah yang sama dimana persahabatan/penyatuan dengan Tuhan sebagai tujuan utamanya.

Pernikahan adalah bentuk penyatuan yang paling tinggi yang manusia bisa bagikan. Karena itu, keberanian untuk menikah hanya dimiliki oleh dua manusia yang dalam kesehariannya sudah saling mencintai secara utuh. Dalam Bahasa yang lebih popular: “Pernikahan adalah hak bagi mereka yang punya nyali besar”. Pernikahan tidak diberikan bagi mereka yang pengecut. Mengapa? Karena cinta dalam pernikahan tidak hanya berhenti di dalam diri pasangan. Kesatuan dalam pernikahan dengan sendirinya akan dibagikan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Thomas Aquinas melihat pernikahan sebagai persahabatan sejati yang lahir secara alamiah  dan juga sebagai sebuah pilihan. Pernikahan sebagai persahabatan sejati yang lahir secara alamiah dimengerti sebagai berikut: cinta sejati yang hadir di dalam diri dua pribadi yang memutuskan untuk menikah tidak hadir begitu saja. Cinta ini bertumbuh bersama kedua pribadi tersebut dan kemudian menjadikan relasi keduanya sebagai sejati.

Pernikahan juga merupakan persahabatan sejati yang lahir karena pilihan. Kehendak bebas manusia menjadikan ia mampu untuk memilih dengan siapa ia akan menghabiskan hidupnya dan menyatukan dirinya. Kepada siapa diri ini dibagikan adalah sebuah pilihan. Pernikahan dengan demikian adalah sebuah pilihan sadar atas kehendak bebas, bukan paksaan ataupun karena waktu yang mepet.

Pernikahan merupakan gabungan antara kekekalan dan kekuatan. Kekekalan dan kekuatan pernikahan lahir dari kesatuan tertinggi yang disebabkan oleh cinta sejati. Itulah sebabnya, menurut Aquinas, pernikahan kemudian merupakan sesuatu yang tak terpisahkan. bagaimana mungkin kesejatian cinta bisa dipisahkan? Terlebih yang menjadikan pernikahan sebagai sesuatu yang sakral adalah Tuhan sendiri. Ia yang menyatukan. Tuhan adalah sumber dan puncak dari peziarahan cinta manusia. Tuhan adalah jalan dan perhentian dari pernikahan.

Dengan mengucapkan janji kekal pernikahan dan keputusan untuk percaya satu sama lain (fidelity), dua manusia yang mengikrarkan diri di dalam pernikahan menciptakan situasi dimana mereka membuka ruang untuk menyatukan diri mereka satu sama lain secara substansial. Inilah keindahan pernikahan: adanya dua manusia yang bersatu. Di dalamnya kedua manusia tersebut mengharapkan sesuatu yang baik bagi yang lainnya. Bukankah cinta juga berarti berharap dan mengupayakan yang baik bagi orang lain?

 

Penutup

Cinta, persahabatan dan pernikahan adalah satu kesatuan. Cinta menyatukan, tidak memisahkan. Persahabatan sejati hadir di dalam pribadi-pribadi yang mengupayakan kebaikan satu sama lain. Pernikahan dengan demikian menjadi gambaran paling agung dari persahabatan manusia. Di dalam pernikahan ada cinta sejati. Cinta ini bukanlah kebusukan. Cinta sejati menjadikan orang lain baik. Cinta sejati tidak palsu, tidak juga merusak. Cinta sejati berarti saling menghidupkan, bukan mematikan. Sudahkah kita saling membagikan hidup?

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Flood, Anthony T. The Metaphysical Foundations of Love: Aquinas on Participation, Unity and Union. Washington DC: The Catholic University of America Press. 2018.

 

TRI_2020Feb22_Artikel Trio_008

Download PDF

1 thought on “CINTA, PERSAHABATAN DAN PERNIKAHAN: PERSPEKTIF THOMAS AQUINAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *