Artikel

Cinta dan Kebahagiaan: Sebuah Tinjauan Filosofis

Teofilus Emanuel Christian

 (Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, Semester I)

 

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki perasaan dan hati. Manusia mudah untuk merasakan cinta bila diberikan kasih sayang oleh sesamanya manusia. Itulah manusia, insan yang harus dicintai dan dikasihi oleh orang lain. Setiap orang pasti tahu bahwa cinta adalah apa yang dirasakan oleh hati. Lebih dalam lagi bahwa cinta adalah pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan oleh manusia mampu menumbuhkan cinta yang besar kepada sesamanya.

Cinta itu seperti kopi yang dipadukan dengan gula. Bila tidak dipadukan dengan gula, maka rasa pahitlah yang mendominasi. Sebaliknya pula apabila kopi tersebut diberikan sentuhan gula, maka rasa nikmatlah yang tercipta. Analogi gula dan kopi ini hendak memberikan permenungan bahwa hidup tanpa cinta bagaikan hidup tanpa nyawa dan warna, bagaikan bunga yang enggan untuk menyapa. Demikian pula baju yang merasa celana bukanlah pasangan serasinya dan manusia pun tidak merasakan sejatinya hidup dan cinta.

Tentu dengan memiliki cinta manusia akan menemukan kebahagiaannya. Bahagia adalah tujuan utama manusia dari suatu peziarahan hidup. Melakukan banyak aktivitas dalam peziarahan akan menghasilkan kebahagiaan. Tujuan utama itulah yang menjadikan manusia luar biasa dalam menghadapi pertarungan dengan tantangan dan rintangan di dunia, maka tidak heran bahwa manusia rela menderita demi mengambil kebahagiaannya yang telah direncanakan oleh Sang Penguasa.

 

Definisi Cinta

Cinta merupakan bagian kehidupan yang diidam-idamkan oleh manusia. Tanpa kehadiran cinta dalam diri manusia, hidup akan menjadi tidak bermakna. Siapapun akan merasa tidak bergairah menjalani hidup tanpa kekuatan dari cinta. Demikian pula jiwa manusia akan lemah tanpa adanya kekuatan cinta. Oleh sebab itu, cinta sangat diharapkan oleh manusia demi menemukan jiwa yang sesungguhnya agar jiwa mampu menggairahkan raga untuk bergerak dan beraktivitas.

Cinta adalah itu yang dirindukan semua orang. Segala manusia merindukannya, mengharapkannya, jatuh bangun mewujudkan dan menghidupinya. “Segala manusia” mengatakan tidak ada yang dikecualikan, dari zaman kapan pun cinta adalah kerinduan manusia. Cinta identik dengan kehidupan itu sendiri. Semua yang memandangnya bangkit dari keterpurukan. Semua yang memeluknya seolah seperti menyeberangi kematian kepada kehidupan.[1]

Sangat jelas bahwa cinta itu adalah keutamaan bagi manusia karena cinta sangat diinginkan dan dirindukan oleh manusia. Cinta itu sangat diharapkan perannya dalam hidup manusia karena cinta merupakan jiwa manusia. Maka dari itu, cinta menjadi sumber kekuatan manusia itu sendiri dalam menghadapi peziarahan hidup di dunia.

Relasi itu berciri “Aku dan Kamu” (I and You).[2] Relasi itu mengacu kepada relasi yang timbal-balik dan bersamaan yang dilengkapi dengan sikap empati. Dalam relasi cinta, seseorang membawa dirinya kepada orang lain dalam “cara berontak”. Dalam cinta, ada pengalaman bersentuhan yang bersifat disengaja dan dimaui. Namun sentuhan itu adalah pengalaman batin dalam diri seseorang. Dalam sentuhan batin itu, orang mengalami apa yang namanya pengalaman diterima.[3]

Cinta itu mampu menghipnotis seseorang melakukan hal yang mungkin berbahaya untuk dilakukan, tetapi senang-bahagia bila dirasakan. Banyak orang nekat melakukan aktivitas menantang kematian karena kecintaannya pada aktivitas tersebut. Karena hasil lebih penting daripada resiko yang menanti. Lauren Slater mengatakan:

Sehubungan dengan jatuh cinta berasal dari proses khusus kimiawi. Jatuh cinta berhubungan dengan inti otak manusia karena jatuh cinta menempati pada bagian-bagian yang padat (dalam otak) sebagai penerima untuk saraf-saraf pengirim yang disebut sebagai dopamine; (hal ini) dipikirkan sebagai bagian dari rasa cinta yang berlangsung. Dalam proporsi yang tepat, dopamine menciptakan energi yang hebat, kegembiraan, perhatian khusus, dan dorongan untuk memenangkan hadiah. Itulah mengapa, ketika kamu sedang jatuh cinta, kamu dapat menghabiskan waktu sepanjang malam, memandang keindahan matahari terbit, berlari tanpa lelah, bermain ski dengan tantangan maut. Jatuh cinta membuat kamu penuh kesan, membuat kamu penuh keceriaan, membuat kamu berani menghadapi tantangan.[4]

Betapa dahsyat kekuatan cinta, sehingga siapapun mau mengorbankan nyawa demi sesuatu yang disukai. Siapapun luluh karena cinta. Sebab itulah cinta dikatakan sebagai kekuatan yang menghipnotis.

 

Apa dan Mengapa Cinta?

Cinta sederhananya bisa dilihat dari ekspresi cinta sepasang kekasih. Tentu pada umumnya orang-orang mengetahui bahwa sepasang kekasih itu adalah hubungan pria dan wanita yang saling mencintai. Cinta itu tumbuh ketika seorang pria menyukai wanitanya atau sebaliknya seorang wanita menyukai prianya. Sering kali rasa suka itu tumbuh dari kecantikan atau ketampanan yang dimiliki oleh masing-masing pasangan. Setelah mengenal lebih dalam pribadi pasangannya tersebut, barulah rasa cinta itu perlahan tumbuh di lubuk hati yang paling dalam dan kemudian jiwanya akan menjadi satu.

Lukisan platonian adalah demikian, bila orang jatuh cinta, keinginannya yang terdalam adalah penyatuan jiwa. Di atas segala kecantikan atau kemolekan fisik, Cinta adalah perkara jiwa. Cinta sejati memiliki karakter transcendental. Maksudnya, kesatuan yang dirindukan bukan kesatuan fisik melainkan menyeberangi realitas fisik ke keabadian.[5]

Harus manusia akui kalau cinta itu bersifat abadi yang tidak dapat dihilangkan dari kehidupan manusia, sebab cinta itu diharapkan manusia. Cinta akan menjadikan hubungan yang harmonis antara pria dan wanita. Maka dari itu cinta adalah pemersatu dari dua jiwa yang berbeda.

Siapapun manusia pasti tidak ingin dibeda-bedakan dan dibanding-bandingkan. Sikap mau menerima satu sama lain adalah toleransi dari cinta itu sendiri. Bila mau diterima berarti harus mau menerima. Seperti itulah sikap cinta yang sejati. Gagasan ini agaknya serasi dengan pendapat yang disampai oleh Leo Agung Srie Gunawan bahwa,

“Istilah ‘cinta’ mau menyatakan relasi yang tidak diwarnai permusuhan; relasi yang tidak diwarnai kebencian; relasi yang tidak diwarnai penghancuran relasi antarsesama manusia. Sebaliknya, relasi dalam cinta adalah relasi yang berciri harmonis. Keharmonisan dalam relasi itu diwarnai oleh rasa kasih sayang antarsesama manusia. Keharmonisan dalam cinta itu berciri universal. Artinya, keharmonisan antarmanusia dapat dilakukan untuk siapa saja. Karena itu, relasi ini berciri tanpa pandang bulu. Relasi manusia yang tidak dibatasi dengan jenis kelamin, umur, suku, bahasa, keturunan, status sosial. Cinta mengungkapkan relasi yang harmonis antarmanusia yang memungkinkan potensi kemanusiaan berkembang secara wajar.”[6]

Cinta adalah ungkapan perasaan manusia dengan tidak memandang perbedaan. Cinta tidak memandang derajat ataupun pangkat. Cinta tidak memandang kaya atau miskin. Cinta juga tidak memandang kulit dan rambut. Cinta menjadi alasan yang mempersatukan semua perbedaan itu di dalam alunan keharmonisan.

 

The Power Of Love

Filosof Sophocles menulis bahwa cinta itu seperti seorang pembesar atau bos yang kemauannya tidak bisa ditunda. Kehadirannya memaksa. Tidak ada manusia yang mengelak dari paksaan sang cinta itu. Personifikasi cinta ini memberikan gambaran efek besar dari sebuah cinta.[7] Maksudnya cinta tidak dapat disangkal, dihindari, dan ditepis dari kehidupan, karena cinta itu sendiri akan memaksa untuk terus hadir dan datang ke dalam ruang hati manusia. Alhasil, cinta itu akan terus bernaung di dalam ranah peziarahan hidup manusia sampai manusia itu kembali kepada Sang Penguasa. Hal ini berbanding terbalik dengan filosof Nietzsche yang direfleksikan oleh Armada Riyanto,

“Nietzsche justru lebih tertarik untuk memerdalam apa itu nothingness ketimbang Cinta itu sendiri. Paulus, menurut Nietzsche, telah jatuh dalam dogmatisasi Cinta yang ujungnya adalah simplifikasi kehidupan manusia. Hidup manusia sangat kaya hingga tidak mungkin direduksi pada Cinta. “Nothingness” tidak sama dengan tanpa makna. Itu (“nothingness”) dapat menjadi sebuah pengalaman yang menampilkan sisi manusiawi yang tiada tara.”[8]

Pendapat Nietzsche ini menjadi suatu hal yang kontra dengan pendapat para filosof lain. Berbeda sekali dengan pendapat Erich Fromm yang mengatakan bahwa “cinta adalah energi seksual yang dilekatkan kepada suatu objek; cinta tak lain daripada naluri yang berakar secara fisiologis yang diarahkan kepada suatu objek.”[9] Dapat disimpulkan bahwa cinta itu seperti daya tarik magnet kepada benda-benda yang serasi dengan dirinya, sehingga menjadi satu kesatuan.

Orang yang saling mencintai adalah orang yang mampu menerima kelemahan dan kekurangannya masing-masing. Dengan menerima kelemahan dan kekurangan ini, hubungan akan selalu baik dan menghantarkan diri pada kebahagiaan sejati sekalipun banyak tantangan yang dihadapi. Cinta itu bersifat mempersatukan dan orang yang mau mencintai adalah orang yang mau menyatukan diri dengan orang lain. Hal ini juga disampaikan oleh Plato bahwa “orang yang mencintai adalah orang yang menyatukan diri.”[10]

Spinoza melihat cinta itu sebagai kegembiraan. Tanpa cinta orang masuk ke jurang kesedihan. Penuh cinta menjadi emblem kemakmuran, dirinya tak kekurangan apa pun. Yang ada adalah kegembiraan.[11] Dari pendapat Spinoza dapat direfleksikan cinta itu sebagai sesuatu yang diagung-agungkan. Cinta menjadi pencipta kegembiraan itu sendiri. Cinta juga dapat membuat orang merasa bahagia. Kenapa bahagia? Bahagia karena dicintai oleh orang lain dengan sepenuh hati. Tidak diragukan lagi kekuatan cinta bagi manusia. Cinta seolah-olah penyejuk bagi orang yang sedang berada dalam keterpurukan.

 

Cinta: Sebuah Pemberian

Cinta dapat diartikan sebagai sebuah pemberian berupa kasih sayang seseorang kepada sesamanya. Pemberian yang menjadi pemicu munculnya kebahagiaan. Pemberian tersebut dapat dilihat dari tindakan yang dilakukan oleh seorang ayah menafkahi isteri dan anak-anaknya dengan makan dan minum secukupnya (bukti kasih sayang seorang ayah kepada keluarga tercinta). Pengertian ini juga serupa dengan pendapatnya Sigmund Freud yang mengatakan bahwa, “Cinta pada laki-laki, kebanyakan dari tipe “pelekatan”, yakni pelekatan kepada orang-orang yang telah menjadi berharga karena memuaskan kebutuhan-kebutuhan vital lainnya (makan dan minum); cinta orang dewasa tidak berbeda dari cinta anak-anak, keduanya mencintai orang yang memberi mereka makan. Hal ini tak diragukan lagi kebenarannya bagi banyak orang; cinta ini adalah sejenis ucapan terima kasih yang penuh kasih sayang karena telah diberi makan.”[12]

Dapat disimpulkan bahwa cinta adalah pemberian. Pemberian yang penuh dengan ketulusan hati. Bukti kasih sayang dan pengorbanan yang mempereratkan segala bentuk hubungan. Pemberian ayah yang tulus itu mampu memberikan kebahagiaan bagi isteri dan anak-anaknya, sebab cinta telah membuat dirinya rela berkorban demi kesejahteraan keluarganya. Ini merupakan fakta bahwa cinta sungguh besar kekuatannya bagi manusia. Cinta tidak bisa dielak, dihindari, dan ditolak. Karena cinta akan selalu memaksa untuk masuk ke dalam hidup manusia untuk melakukan sesuatu yang baik.

 

Definisi Bahagia

Orang-orang merasa bahagia ketika dirinya dapat menghabiskan waktu berdua bersama orang yang dicintainya. Melakukan banyak obrolan dan aktivitas bersama orang yang terkasih menjadi inti daripada rasa bahagia itu sendiri. Siapapun tidak dapat mengingkari hal tersebut. Bahagia diartikan sebagai rasa senang, bangga, syukur, dan suka. Bahagia itu sendiri berupa luapan emosi yang positif yang tidak menginginkan kehadiran emosi negatif. “Aristoteles mengajar dengan baik bahwa bahagia itu bukan pertama-tama keadaan fisik atau status jiwa. Bahagia merupakan aktivitas manuisawi.[13]

Menurut Aquinas, kebahagiaan tidak terletak pada barang-barang ataupun makanan, pakaian dan lain sebagainya, itu termasuk ke dalam kebahagiaan yang tidak sempurna, seperti yang dapat dimiliki dalam kehidupan ini, barang-barang eksterior diperlukan, bukan sebagai esensi dari kebahagiaan, tetapi sebagai alat untuk kebahagiaan.[14] Bahagia di sini diartikan sebagai suatu aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Aktivitas yang dapat memicu emosi positif pada manusia kepada kebahagiaan. Tentu aktivitas ini juga berarti kegiatan bermain yang dilakukan oleh seorang anak yang sedang melakukan hobinya, yaitu bermain bola bersama teman-teman sebayanya ataupun bersama ayahnya. Akibatnya muncullah emosi positif dari anak tersebut.

Bahagia bukanlah perkara materi seperti memiliki banyak uang. Pada umumnya orang-orang beranggapan bahwa kebahagiaan itu hanya dimiliki oleh para pengusaha. Mengapa demikian? Karena mereka memiliki banyak uang. Apa pun inginkan dapat mereka beli dengan uang. Namun anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Tidak semua pengusaha hidupnya sejahtera atau pun bahagia. Mungkin semuanya bisa dibeli dengan uang, tetapi kebahagiaan tidak dapat dibeli dengan uang. Gagasan ini serupa dengan gagasan Armada Riyanto yang mengatakan, “Sebagian orang menyebut bahagia berarti punya banyak uang. Kebahagiaan lalu disamakan dengan kekayaan. Meskipun aku melihat kemiskinan adalah situasi yang tidak ideal dan tidak manusiawi, banyak teman yang kaya merasa tidak bahagia. Sebab, mereka begitu cemas dengan kekayaan itu dan karena uang bukan segalanya.”[15]

Tidak salah bila seseorang beranggapan dengan memiliki banyak uang dapat memperoleh hidup yang bahagia. Nyatanya banyak orang yang tidak bahagia walaupun memiliki segalanya. Orang miskin pun dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup karena mereka mau mensyukuri apa yang mereka miliki walaupun sedikit. Oleh sebab itu, bahagia dapat dirasakan bila seseorang mau bersyukur atas apa yang dia miliki walaupun tidak banyak. Aristoteles pun menolak bahwa harta merupakan unsur kebahagiaan. Menurut Aristoteles harta merupakan unsur di luar manusia (terpisah dari badan manusia), sedangkan bahagia merupakan sesuatu yang melekat pada diri manusia, di mana bahagia yang bersifat immateri (berupa intuisi, yang dirasa) selalu berada di dalam materi (jasmani manusia), sehingga bahagia tidak mungkin berada di luar tubuh manusia.[16]

Selain uang, kuasa juga tidak menjamin kebahagiaan. Kebanyakan orang yang memiliki kuasa atas orang lain belum pasti hidupnya bahagia. Orang tersebut akan merasa tertekan dan gelisah karena dirinya tidak disenangi oleh orang lain, seperti presiden misalnya. Ini adalah contoh nyata terjadi pada orang-orang yang memiliki kuasa atas orang lain. Banyak sekali tantangan, fitnahan, umpatan, dan komentar negatif. Itulah sebabnya kuasa tidak menjamin kebahagiaan. Pengalaman ini pun serupa dengan hal yang dikatakan oleh Armada Riyanto bahwa, “Sebagian orang berimaginasi, Bahagia identik dengan berkuasa. Mereka yang berkuasa adalah orang yang berbahagia karena bisa berbuat apa saja menurut kehendaknya. Mungkin ini ada benarnya sepintas. Tetapi banyak orang berkuasa, bahkan apabila kekuasaan mereka itu begitu besar (sebutlah para presiden atau kepala negara), mereka pun dilanda banyak masalah yang menggerogoti kehidupan sehari-harinya.[17] Pengalaman ini mau mengatakan para penguasa tidak selalu bahagia dalam hidup di dunia. Sebagian dari mereka justru menderita menjadi seorang penguasa. Berbagai umpatan, komentar pedas, sindiran, dan bahkan teror menyelimuti kehidupan mereka setiap harinya. Barang kali kebahagiaan tidak berpihak pada mereka, sebab banyak masalah datang untuk membuat hidup mereka menderita.

Banyak para filsuf mengutarakan pendapatnya terhadap kebahagiaan, salah satunya adalah Thomas Aquinas. Menurut Aquinas jika kebahagiaan identik dengan produk aktivitas virtus (keutamaan) dan bukan kejahatan, haruslah diandaikan bahwa aktivitas membela dan mengejar virtus adalah aktivitas yang membahagiakan.”[18]

 

Kesimpulan

Cinta didefinisikan sebagai jiwa yang hidup. Cinta itu sendiri identik dengan perasaan manusia. Bila manusia punya cinta di hidupnya berarti manusia punya perasaan. Cinta memberikan kedamaian sejati. Perbuatan cinta adalah pemberian manusia terhadap sesamanya manusia. Kemampuan memberi itu berakar dari cinta. Cinta mampu menggerakkan manusia untuk berkorban diri demi sesamanya yang dicintai. Begitu besar kekuatan cinta kepada manusia, sehingga ia rela menderita sakit demi mendapatkan suatu hal yang baik. Seseorang yang berjuang dalam hidupnya akan mendapatkan cinta yang besar dari orang lain yang juga sangat mencintainya. Cinta itu sendiri akan menuntunnya kepada kebahagiaan yang tak terperikan.

Bahagia pada umumnya adalah ekspresi syukur manusia terhadap apa yang ia telah terima dari pencapaiannya. Siapapun pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidup. Kebahagiaan menjadi tujuan utama manusia. Kebahagiaan menjadi pengalaman manusia demi memenuhi kepenuhan hidupnya. Kebahagiaan tidak semata-mata punya harta, kuasa, dan nama, melainkan wujud syukur seseorang terhadap suatu pemberian. Rasa nikmat itu hanya sementara. Oleh karena itu, rasa nikmat tidak menjamin abadinya kebahagiaan, justru tahu bersyukurlah yang mengabadikan kebahagiaan itu sendiri, sebab bersyukur adalah sikap dari kebijaksanaan manusia. Manusia mau bersyukur berarti ia mau menerima apapun yang diberikan. Bila mau diterima dan dianggap oleh orang lain, dia juga harus mau menerima orang lain dalam segala kekurangan dan kelemahan. Kebahagiaan sejati adalah ketika seseorang diterima orang lain dengan penuh ketulusan. Itulah kebahagiaan sejati manusia.

 

Daftar Pustaka

Fromm, Erich. Kebesaran & Batas-Batas Pemikiran Freud. Yogyakarta: IRCiSoD, 2020.

Hadreas, Peter. A Phenomenology Of Love and Hatred. Roudledge: 23 Mar, 2006.

Leo Agung Srie Gunawan, Rrie, Agung, Leo. Problematika Jatuh Cinta: Sebuah Tinjauan Filosofis. Jurnal Filsafat-Teologi, Vol 15, No. 2, Juni, 2018.

Riyanto, Armada CM. Menjadi Mencintai. Yogyakarta: Kanisius, 2013.

Rahmadon. Kebahagiaan Dalam Pandangan Thomas Aquinas Dan Hamka. Jakarta: Jurnal, 2016.

Slater, Lauren. Love Chemical Reaction. National Geographic, 2008.

Suseno, Magnis, Franz. Bahagia menurut Aristoteles. 2009.

T.Z. Lavine. From Socrates To Sartre: the Philosophy Quest. New York, 1984.

 

[1] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, (Yogyakarta, Kanisius, 2013), 157.

[2] I and You adalah istilah dari Martin Buber (1878-1965). Istilah ini mau mengungkapkan bahwa relasi antara Aku dan Kamu berada dalam wilayah suci bahwa Aku berada dalam keunikanku dan Kamu berada dalam keunikanmu yang masing-masing mempunyai kekayaannya yang tak tergantikan. Lebih jauh, wilayah suci relasi Aku dan Kamu menegaskan bahwa Kamu adalah misteri bagiku dan Aku misteri bagimu.

[3] Peter Hadreas, A Phenomenology Of Love and Hatred, 17.

[4] Lauren Slater, Love Chemical Reaction (National Geographic, 2008), 25.

[5] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 157-158.

[6] Leo Agung Srie Gunawan, Problematika Jatuh Cinta: Sebuah Tinjauan Filosofis, (Jurnal Filsafat-Teologi, 2018), 2-3.

[7] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 157.

[8] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 159.

[9] Erich Fromm, Kebesaran dan Batas-batas Pemikiran Freud, 24.

[10] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 157.

[11] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 158.

[12] Fromm, Kebesaran dan Batas-batas Pemikiran Freud, 25.

[13] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 56.

[14] Rahmadon, Kebahagiaan Dalam Pandangan Thomas Aquinas Dan Hamka, 3.

[15] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 55.

[16] Franz Magnis Suseno, Bahagia menurut Aristoteles, 2009.

[17] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 55.

[18] Armada Riyanto, Menjadi Mencintai, 57.

GSW_2020Des6_Artikel Teofilus Emanuel Christian_039

Sumber gambar: https://www.croydonadventist.org/wp2/wp-content/uploads/2020/07/1-4.png

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *