Catatan

[CATATAN] SABAT

Oleh Dr. J. Robini Marianto, MA., OP (Biarawan Dominikan, Ketua Yayasan Landak Bersatu)

 

Waktu seolah-olah berhenti tanpa diketahui manusia. Mungkin istilah kita sekarang “lockdown.” Sang Sabda beristirahat di kubur. Seolah semuanya hening, senyap. Tuhan beristirahat. Istirahat dari apa?

Sebagaimana yang kita baca di Kitab Kejadian, setelah penciptaan langit dan bumi beserta isinya (dan manusia), Tuhan melihat semua yang diciptakan-Nya baik dan sungguh amat baik. Kini Tuhan beristirahat lagi karena semua karya-Nya lebih sungguh amat baik yaitu karya penebusan. “Selesailah sudah!”

Penciptaan baru telah selesai. Maka saatnya Ia istirahat.

Hiruk pikuk Jumat Agung telah usai. Yang menyalibkan Yesus merasa sudah menang; teriakan kemenangan atas kekerasan yang mereka lakukan. Mereka merasa berhasil! Iri hati, dengki, kesombongan dan kehausan darah serta kekerasan merasa menang. Sang Protagonis (baca: Tuhan Yesus) berbaring di kubur. Hening.

Namun satu hal yang mereka tidak tahu adalah: terjadi perubahan besar atas nasib dunia. Menurut tulisan kuno (bisa dibaca di Ofisi Ibadat Bacaan khusus Bacaan Kedua), Yesus turun ke dunia orang mati yaitu Hades. Ia malah bekerja “diam-diam” membebaskan mereka yang telah terbelenggu oleh dosa sejak Adam. Ia membebaskan Adam dengan menunjukkan luka-luka-Nya. Iman kita mengatakan “Ia turun ke tempat penantian,” untuk membebaskan mereka yang pergi di dalam iman sebelum penebusan salib. Maut terkalahkan karena Sang Hidup datang.

Apa yang bisa kita pelajari dari tradisi iman dan iman kita?

Kesunyian, keheningan dan “lockdown” kadang dibutuhkan. Manusia perlu sabat. Sabat untuk menikmati berkat bahwa semua yang telah dikerjakan adalah baik. Istilahnya kontemplasi atas kebaikkan karya tangan kita; seperti Allah. Manusia perlu hening dalam bekerja. Kerja tidak harus hiruk-pikuk. Hening untuk kontemplasi dan mengerjakan karya yang tidak kasat mata yaitu penebusan. Penebusan bagaimana? Kontemplasi akan Allah yang menyelamatkan serta luka-Nya! Hening bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Hening itu sabat. Sabat itu kontemplasi bahkan penciptaan baru demi keselamatan kita. Dalam lockdown kita harus belajar menerima bahwa ada saatnya masuk ke kontemplasi yang menyelamatkan. Kita perlu merayakan sabat.

Sabat yang paling besar (Sabat Raya) adalah ketika kita dipanggil Tuhan untuk beristirahat dari semua pekerjaan tangan kita. Saatnya kontemplasi menikmati wajah Allah di keabadian.

Lockdown sementara ini membuat kita sadar bahwa apapun yang kita lakukan, sehebat apapun karya kita dan apa yang kita dapat dan miliki (harta dan kekayaan) pada akhirnya harus kita tinggalkan. Kita akan memasuki Sabat Raya. Lockdown ini membuat kita sadar bahwa hidup bukan hanya soal kerja dan menghasilkan serta mengumpulkan harta di dunia. Ada saatnya berhenti atas itu semua.

Kontemplasi.

Kontemplasi.

Kontemplasi adalah hening bermakna dan bukan hanya tidak buat apa-apa.

Mari kita kontemplasikan wajah Tuhan dan luka-Nya di salib sumber keselamatan kita.

 

Sumber Gambar Featured: https://www.1health.id/id/article/category/sehat-a-z/4-manfaat-suasana-hening-bagi-kesehatan.html

TRI_2020Apr12_Artikel Romo Robini 017

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *