Catatan

[CATATAN] MARI BELAJAR KEADILAN

Oleh Dr. J. Robini Marianto, OP (Biarawan Dominikan, Ketua Yayasan Landak Bersatu)

 

Biasanya kita mengerti keadilan sebagai 1+1=2. Ini betul. Ini namanya keadilan komutatif. Namun keadilan di dalam moral dan etika tidak semata-mata keadilan komutatif. Keadilan yang paling dalam adalah: (a) memberikan kepada mereka apa yang menjadi haknya, dan (b) memberikan sesuatu SESUAI DENGAN PORSINYA. Yang pertama itu hampir sama dengan keadilan komutatif karena menyangkut hak. Berikan apa yang menjadi hak orang tidak kurang tidak lebih. 1+1 adalah 2.

Namun keadilan juga berarti memberikan sesuai dengan porsi. Ini yang sering orang tidak paham atau lupa atau tidak terima (karena hanya memikirkan satu wajah keadilan yaitu komutatif). Bayangkan kamu punya harta warisan untuk diberikan kepada anakmu senilai 1M. Kamu mempunyai 3 anak. Kalau berdasarkan konsep keadilan komutatif, kamu harus membagi uang itu sama rata sehingga semua dapat 300 jutaan. Sekilas tampak bagus dan adil. Namun justru di sinilah kadangkala terjadi ketidakadilan. Mengapa? Ini penyamarataan, semua sama rata. Padahal kenyataan tidak sama rata.

Mungkin dari tiga anak ada dua anak yang sudah berhasil dan sukses. Tinggal satu yang belum sukses. Yang belum sukses bahkan punya tiga anak tanggungan. Maka bagi secara rata itu tidak adil pada akhirnya. Yang kaya akan semakin kaya dan bahkan warisan itu tidak menambah banyak atau tidak memiliki pertambahan nilai. Bagi yang miskin sekecil apapn pemberian itu bernilai (apalagi 300 jutaan). Maka dari itu keadilan harus diberikan juga sesuai dengan proporsi.

Harusnya yang miskin mendapatkan 60% dari 1M dan yang dua lagi hanya masing-masing 20%. Atau bahkan bisa seluruhnya diberikan kepada yang miskin. Kenapa? Karena dua yang lain sudah tidak perlu didukung. Itu baru keadilan yang sebenarnya. Keadilan bisa 0.25+0.25+1.5=2. Keadilan tidak hanya komutatif. Maka rubahlah diri Anda tentang arti keadilan dan ajarilah anak-anak Anda arti keadilan yang terdalam; yaitu secara proporsional.

 

Sumber Gambar Featured: https://mediaindonesia.com/read/detail/166818-kembali-ke-fitrah-keadilan-dalam-perspektif-islam-dan-kebangsaan

 

TRI_202020Apr8_Artikel Romo Robini 014

Download PDF

1 thought on “[CATATAN] MARI BELAJAR KEADILAN

    • Author gravatar

      Saya punya pengalaman, tapi berbeda dengan kedua contoh yang ada pada artikel diatas.
      Waktu saya SMA saya pernah beberapa kali terlambat upacara,dan masuk kelas hingga saya menunggu dipintu gerbang yang ditunggui oleh Satpam sekolahnya agar saya tidak boleh masuk untuk mengikuti kegiatan belajar. Saya tetap mencoba menunggu dari pada saya harus pulang seperti kawan saya yang lainnya (meskipun saya akhirnya dibolehkan masuk, namun perlu waktu lama untuk dapat izin dan harus mematuhi sanksi) saya terima semua ini. Namun, ada sedikit kejanggalan (ketidakadilan) yang saya temui pada saat itu juga, saya melihat seorang Guru yang juga mengajar disekolah itu namun dia datangnya jauh lebih telat dari pada aku dan kawananku, tetapi dia begitu mulus seperti tanpa salah masuk disekolah dengan waktu yang telat. Yang paling membuat saya resah adalah kenapa guru itu tidak mendapat perlakuan sama seperti aku ataupun kawanan ku (melakukan sanksi), padahal dia juga telat datangnya bahkan seharusnya dia sadar bahwa dia seorang pendidik yang seharusnya memberikan contoh selayaknya profesinya itu! Saya seperti tidak ada merasakan Pancasila ke lima (keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia) yang di awali kata “keadilan”. Sampai-sampai saya pernah menanyai satpam itu dan juga guru prakarya ku, jawaban dari pak satpam “saya tidak tahu” jawaban dari guru ku “ya, karna kamikan guru bukan siswa, jadi kami tidak bisa sama-samakan dengan kalian, coba bayangkan kalau kami guru terlamabat lalu disuruh pulang oleh sebuah aturan lalu siapa yang mengajar kalian?”. Kemudian saya sedikit berpikir lebih dalam lagi “bukankah guru dan muridnya saling membutuhkan? jika tidak ada murid juga , guru tidak bisa mengajar, apakah dia mungkin mengajar dengan materinya kepada papan tulis,kursi,dan meja didalam kelas?”. Jadi menurut saya keadilan seharusnya tidak memandang dia itu siapa dan apa yang dimilikinya, tapi keadilan itu adalah sesuatu yang harus sama-sama kita rasakan bersama sebagaimana contoh yang saya alami. Dan bagi saya tidak berhak seorang pendidik (tutor,guru dan dosen) menyuruh siswanya pulang karena terlambat jikalau para tutor,guru, dan dosen juga terlambat pada saat mau mendidik muridnya. Sebagaimana yang pernah saya pelajari bahwa diri kita melakukan sesuatu karena terobsesi oleh orang lain meskipun jahat ataupun baik, sebab diri manusia sangat mudah dipengaruhi. Dan sebagaimana juga khasus Ahok yang salah bertindak terhadap ayat meskipun dia saat itu memiliki jabatan tertinggi disebuah Provinsi (Gubernur) dan memiliki kinerja pembangunan yang baik di Jakarta. Jikalaupun dia memang salah dipatut terima sebuah hukuman. Jadi sekali lagi keadilan tidak memandang dia siapa dan apa yang dimiliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *