Artikel

BERPIKIR KRITIS

Oleh Trio Kurniawan (Founder Betang Filsafat)

 

Bagaimana rasanya ketika diri Anda disebut sebagai “pribadi yang kritis”? Apa yang Anda rasakan? Di satu sisi, kritis sering diasosiasikan pada sikap rajin bertanya, tahu melihat kesalahan. Di sisi lain, kritis sering dilekatkan pada tindakan atau pemikiran yang subversif, selalu mencari kesalahan. Argumen yang terakhir ini seringkali lebih mengarah pada sisi negatif.

Kritis, secara etimologis, berasal dari Bahasa Yunani krínnō, kritein yang berarti membedakan, menilai ataupun memisahkan. Dari etimologi tersebut, kritis bisa dimengerti sebagai sebuah tindakan atau kemampuan untuk membedakan atau memilah-milah. Semakin kritis seseorang, semakin tepat pembedaan yang ia lakukan. Konsekuensinya, kesimpulan atau sikap yang ia ambil terhadap fenomen yang ia kritisi diharapkan tepat dan tajam.

Kritis merupakan sebuah tindakan akal budi. Ia lahir dari manusia yang berpikir. Pertanyaannya, seberapa sering kita berpikir dalam sehari? Ini mungkin pertanyaan yang terdengar sederhana namun jarang diperhatikan oleh kita. Kita tampaknya dengan begitu saja menganggap berpikir bukan sebagai hal yang istimewa bagi manusia. Berpikir adalah kekayaan manusia yang tidak bisa dirampas. Berpikir adalah sebuah keseharian sekaligus kemewahan. Tanpa kita sadari, berpikir dimulai dari hal sederhana, yaitu bertanya. Titik awal dari proses berpikir adalah bertanya. Pertanyaanlah yang membuat manusia mampu memilah atau membedah persoalan. Bertanya adalah titik awal dari berpikir kritis.

Ketika Thales (624 SM) mengawali perjalanan Filsafat Barat, ia memulainya dengan hal sederhana: bertanya. Thales heran dan penasaran: darimana alam semesta ini berasal? Ia pun kemudian membuat pemisahan antara apa yang empiris dan bukan empiris dalam menilai semesta. Thales, lewat pembedahannya tersebut, kemudian menemukan bahwa alam semesta berasal dari air. Mungkin ini terlihat sederhana. Namun jika dilihat secara kontekstual saat itu, argumen Thales ini sangat revolusioner.

Beberapa abad kemudian, Socrates (470 SM) hadir dan membuat gelisah masyarakat Athena saat itu. Socrates gelisah dengan realitas yang ia alami di Athena. Ia berhadapan dengan kepalsuan, ketidakadilan dan kepongahan orang-orang yang merasa paling bijak. Socrates kemudian memperkenalkan Maieutika Tekhne (Teknik Membidani).

Maieutika Tekhne merupakan seni menggali kebenaran dari lawan bicara dengan cara bertanya. Lewat bertanya, Socrates membuat lawan bicaranya yang sombong kemudian menyadari bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Socrates meletakkan nalar (berpikir) kritis pada tempat yang benar. Ia dikagumi banyak orang muda Athena saat itu. Oleh pemerintah Athena, ia dianggap provokator dan dihukum mati karena mengajarkan nalar kritis. Ia minum racun dan mati demi kebenaran.

Dalam tradisi Filsafat, berpikir kritis merupakan nadi. Dalam keseharian masyarakat, berpikir kritis bisa jadi adalah duri. Dengan pendekatan yang tepat, berpikir kritis akan membawa manusia pada kebenaran. Uniknya, tidak semua orang bisa menerima kebenaran. Mungkin karena harganya mahal: kematian.

Terima kasih.

 

*Gambaran singkat materi “Berpikir Kritis” yang akan dibawakan oleh Trio Kurniawan, M. Fil. dalam Training of Sospol BEM FT Undip (30 Oktober 2020)

 

Sumber gambar featured: https://www.stella-maris.sch.id/blog/mengapa-keterampilan-berpikir-kritis-penting/

TRI_2020Okt20_Artikel Trio_035

Download PDF

3 thoughts on “BERPIKIR KRITIS

    • Author gravatar

      Sallam Admin..
      setelah membaca tulisan ini, ada yang membuat saya ingin bertanya.
      Percis dengan pertanyaan ini, apakah dengan bertanya dari hal yang belum diketahui itu merupakan berpikir kritis? atau berpikir kritis itu hanya bertanya dari hal yang sudah kita ketahui kemudian mencari kebenarannya atau dari pebanding dari yang kita ketahui tersebut?

    • Author gravatar

      dengan kita belajar filsafat kita diajar untuk berfikir lebih kritis untuk lebih mengetahui kebenaran” yg ada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *