Artikel

BERAGAMA YANG RASIONAL-RELASIONAL: Diskursus Filosofis tentang Umat Beragama di Indonesia

Penulis: Gerwin Bernardus Putra (STFT Widya Sasana Malang)

 

Pengantar

Indonesia dikenal sebagai negara yang plural dalam berbagai aspek, termasuk aspek beragama. Pluralitas umat beragama memberi panorama tersendiri dalam membentuk pola relasi antar manusia Indonesia. Hal ini merupakan sebuah kekhasan dari Indonesia sendiri, namun juga dapat menjadi sesuatu yang mengancam keutuhan negara.

Kasus dilaporkannya  Ustaz Abdul Somad oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dengan dugaan penistaan agama terkait video ceramahnya tentang salib yang dikaitkan dengan jin kafir[1] menarik untuk dikaji secara kritis-filosofis terkait cara beragama di Indonesia. Kasus ini mengindikasikan bahwa cara beragama masyarakat Indonesia masih dangkal dan sarat akan tendensi sentimental antara agama yang satu dengan agama yang lain. Dalam beberapa kesempatan malahan bukan hanya pemisahan, melainkan Umat lain disimak seperti seolah-olah sebagai musuh yang sedang berhadap-hadapan dengannya, dan tentu saja pemahaman yang demikian amatlah naif.[2]

Konteks beragama di Indonesia agaknya mengesampingkan rasional manusia itu sendiri. Orang beragama dimaksudkan agar dapat hidup baik, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, dan mengarahkan hidup kepada Yang Mahakuasa. Namun sayangnya, banyak kasus kekerasan, pembunuhan, penganiayaan, dan lain-lain dilatarbelakangi oleh perbedaan agama. Yang lebih miris, orang rela membunuh sesamanya demi membela ajaran agama tertentu yang sudah pasti melanggar kemanusiaan itu sendiri. Hal yang demikian telah membawa agama menjadi semacam sistem ideologi, di mana agama yang satu berusaha memusnahkan agama yang lain.

 

Konsep Agama Mayoritas dan Minoritas

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki populasi umat beragama Islam terbanyak di dunia. Meskipun begitu, Indonesia juga dihuni oleh umat beragama Buddha, Hindu, Kristen, Katolik, Konghucu, dan aliran kepercayaan lainnya. Agama dengan penganut terbanyak disebut agama mayoritas, dan yang penganutnya sedikit disebut agama minoritas.

Umat beragama kerap dibedakan dalam perspektif mayoritas dan minoritas. Pembedaan ini tidak jarang memicu diskriminasi dan ketegangan. Dalam konteks Indonesia pemahaman mayoritas minoritas mudah sekali menyulut kebijakan-kebijakan tertentu yang cenderung kurang adil. Misalnya, mayoritas harus mendapatkan porsi yang lebih daripada minoritas. Atau, yang minoritas tidak boleh mengatasi yang mayoritas.[3]

Konsep mayoritas dan minoritas di sini terkait dengan kuantitas penganut agama tertentu. Halnya tentu tidak dapat dijadikan tolok ukur dalam membuat kebijakan-kebijakan publik, terlebih  kebijakan dalam lingkup negara. Namun realitas yang terjadi di Indonesia justru demikian. Barangkali, konsep tentang mayoritas dan minoritas umat beragama dapat dimengerti secara lebih rasional melalui kutipan tulisan Armada Riyanto:

Dalam hidup sehari-hari, jumlah besar atau jumlah kecil kelompok manusia tidak menghilangkan karakter kemanusiaan. Artinya, baik itu yang berjumlah besar ataupun kecil tidak mengurangi intensitas mutu, hak, martabat, dan nilai dari makhluk yang disebut manusia. Maksudnya lagi, jumlah kecil dari manusia tidak mengatakan mereka itu kurang memiliki hak yang sama untuk hidup layak dari jumlah besar kelompok manusia yang lain. Diskriminasi atas minoritas dengan demikian mengatakan “luka” juga pada keseluruhan.[4]

Konsep mayoritas dan minoritas dalam hal beragama yang kerap kali digunakan di Indonesia seharusnya tidak melanggar prinsip kemanusiaan itu sendiri. Secara filosofis, manusia adalah manusia sejauh dia memanusiawi. Memandang manusia lain yang minoritas lebih rendah dari dirinya yang mayoritas adalah perbuatan yang menciderai kemanusiaan itu sendiri. Manusia tidak bisa dibelah-belah dalam elemen-elemen yang secara terpisah seolah-olah bersaing, bertentangan, bersitegang.[5]

Umat beragama mayoritas cenderung ingin menguasai dan mendiskriminasi umat beragama minoritas oleh karena kuantitas mereka lebih banyak, sehingga beranggapan bahwa mereka berhak menentukan kebijakan-kebijakan publik.

Ajektif komuniter merupakan framework “Aku”, sebab komunitas identik dengan Aku; dan Aku yang menjadi bagian dari komunitas merepresentasikan nilai-nilai komuniter yang menjadi akar kehidupanku. Ini sebabnya, manusia memiliki keengganan (atau bahkan ketakutan dan kecemasan) bila dirinya menjadi “minoritas”. Sebaliknya, manusia akan terasa nyaman tatkala menjadi bagian dari mayoritas. Dan, pada gilirannya dia akan mendapatkan kepenuhan makna hidupnya apabila menampilkan komitmen-komitmen kesetiaan pada kelompoknya.[6]

Peristiwa-peristiwa seperti pembakaran rumah ibadat, kekerasan terhadap tetangga yang tidak seiman, dan sebagainya merupakan bukti konkret bahwa istilah “mayoritas-minoritas” telah meracuni kehidupan beragama di Indonesia. Hal ini sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali dengan kuantitas penganut agama-agama, baik mayoritas maupun minoritas.

Jika kita menyimak sejarah, tentu kita menyadari bahwa tidak serta-merta agama apa pun di negeri ini mayoritas dari sendirinya.[7] Agaknya semua agama pernah menjadi minoritas pada masanya, dan kemudian berkembang menjadi mayoritas seiring dengan usaha penyebaran ajaran agama-agama tersebut. Menurut Armada, keberadaan dan kehadiran agama-agama di negeri ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Realitas adanya begitu banyak agama di negeri ini mengatakan betapa nenek moyang kita dulu memiliki hati seluas lautan dan tangan-tangan murah hati yang menyambut. Agama apa pun disambutnya, diterima, dipersilakan berkembang. Para pemeluknya yang dulu masih kecil jumlahnya pun dipersilakan untuk melakukan syiar agama. Mereka malahan seolah dibiarkan untuk mendidik anak-anak dan cucu-cucu mereka sedemikian rupa sehingga memiliki cita rasa religiusitas yang makin kaya dan beragam.[8]

Jelaslah bahwa ternyata nenek moyang bangsa Indonesia begitu menghargai keberagaman terutama dalam hal beragama. Sikap toleransi dan ramah telah menjadi bagian dari keberadaan manusia Indonesia pada zaman dulu. Hal ini jelas menjadikan toleransi dan keramahan sebagai karakter utama dari masyarakat Indonesia yang menyejarah. Keberagaman religiusitas ini menjadi panorama tersendiri bagi Indonesia sehingga layak bila disebut indah.

Jika ditelaah lebih jauh tentang makna “mayoritas-minoritas” agama di Indonesia dewasa ini, ditemukan adanya tendensi yang banyak menaklukkan yang sedikit. Hal ini dapat menjadi pemicu terjadinya pertikaian, bahkan peperangan antar umat beragama. Ini menjadi ironi bagi bangsa Indonesia sebab karakter utama bangsa telah direduksi menjadi sebuah panorama baru, yakni intoleransi.

Intoleransi memiliki ciri khas mengusung kekerasan. Intoleransi mempropagandakan eksklusivisme dan penyudutan kelompok Umat yang satu dan terus menjadi luka tetap dari masyarakat secara keseluruhan. Intoleransi membawa ketegangan relasional. Pada level ini dari sendirinya betapa mendesak upaya-upaya untuk merajut dialog interreligius.[9]

 

Dialog Interreligius: Eksistensi Relasionalitas Beragama

Menurut Armada Riyanto, dialog interreligius adalah sebuah aktivitas yang indah, yang tak boleh mandeg pada tataran selebrasi atau perayaan atau seminar atau lokakarya atau untuk sebuah propaganda lip service politik.[10] Dialog interreligius erat kaitannya dengan tatanan hidup bersama dalam keberagaman agama pada satu negara. Sebuah negara yang baik kiranya perlu memiliki semacam aturan atau hukum yang membentuk keteraturan relasi antar umat beragamanya.

 

“Aku” Religius sebagai Subjek Dialog Interreligius

Sebagai eksistensi dari relasionalitas antar umat beragama, tentulah konsep dialog interreligius memiliki subjek atau pelaku. Subjek atau pelaku ini tidak lain adalah manusia itu sendiri, Aku-religius.

“Aku” religius adalah “Aku” relasional dengan Dia yang mengatasi kehidupan ini atau yang menciptakan alam semesta beserta segala apa yang ada ini. Religiusitas identik dengan relasionalitas-dengan. Karena menjadi religius berarti berelasi-dengan, cetusannya tidaklah formal, yuridis, atau apalagi menjadi “tontonan” indah. Cetusan menjadi religius memaksudkan kedalaman dalam berelasi dengan Allah dan ciptaan-Nya serta sesamanya.[11]

Dari kutipan di atas, jelaslah bahwa dialog interreligius identik dengan milik manusia itu sendiri. “Aku” religius memaksudkan satu pengalaman terdalam yang dimiliki subjek dalam mengelola relasionalitasnya dengan Tuhan, sesama, dan tata ciptaan-Nya.[12] Kodrat manusia juga adalah sebagai makhluk sosial, makhluk yang menjalin relasi interpersonal maupun intrapersonal dengan sesamanya. Akan menjadi kekeliruan bila manusia menanggalkan kodratnya dalam menjalin relasi dengan sesamanya – terlebih yang berbeda agama – dengan saling mengintimidasi dan mempersalahkan satu dengan yang lain.

 

Religiusitas

Religiusitas tidak mensyaratkan sebuah eksklusivitas agama tertentu, terlebih apabila ajaran agama itu menutup diri terhadap relasi dengan agama lain. Agama tidak akan memiliki nilai religiusitas apabila tidak ada relasi dengan yang lain. Dengan kata lain, agama bukan sekedar perkumpulan masyarakat yang eksklusif, melainkan sebuah paguyuban yang inklusif dan mewujudkan kehidupan yang aman, damai, dan tenteram.

Religiusitas tidak identik dengan tindakan gampangan seperti propaganda keagamaan. Religiusitas memiliki karakter penziarahan. Artinya, religiusitas berasal dari ketekunan setiap hari dalam mengelola relasinya dengan Tuhan dalam teks-teks suci yang dihidupinya dan relasinya dengan sesama.[13]

Religiusitas erat kaitannya dengan relasi “Aku” religius dengan Sang Pencipta, alam ciptaan, dan sesamaku. Religiusitas mensyaratkan adanya relasi antara subjek religius dengan Tuhannya, alamnya, dan sesamanya. Relasionalitas menjadi hakikat dari religiusitas umat beragama.

Dari sendirinya, religiusitas tidak pernah di dua kutub, yaitu kutub yang pertama merasa dekat dengan Allah ada merasa membela Allah di satu pihak, tetapi di lain pihak dalam dua kutub yang lain dia menghantam sesamanya atau merusak tata alam semesta. Justru, religiusitas itu tidak memiliki kutub apa pun selain relasionalitas dengan Allah, sesamanya, dan tata ciptaan-Nya.[14]

Dialog Interreligius tidak memiliki makna pada dimensi “religius”-nya, melainkan pada relasi dialogal manusiawinya.[15] Dengan kata lain, diperlukan upaya dari setiap individu untuk berani keluar dari doktrin-doktrin keagamaan yang bersifat destruktif dan eksklusif. Keberanian berkaitan dengan kritik diri, dan selanjutnya keberanian untuk menyeberangi keterbatasan sendiri. Setiap umat yang mengaku diri beragama, haruslah mewujudkan eksistensi dari keagamaan itu dalam bentuk relasi dialogal pada tataran hidup bersama sebagai Bonum Communae.

Pada dasarnya, semua agama mengajarkan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan. Apabila ada agama tertentu yang dalam prakteknya menciderai kemanusiaan, barang tentu hal ini mencoreng perspektif agama yang mengajarkan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan. Tuhan itu Misteri. Karenanya, tidak ada satu agama pun yang berhak memonopoli kebenaran ajarannya tentang Tuhan. Ini semua mensyaratkan adanya kesadaran dalam diri setiap penganut agama untuk memahami Tuhan sebagai Misteri.

Kesadaran akan kehadiran Misteri yang tak dapat didefinisikan selalu pula menimbulkan dalam hati saya kekaguman yang luar biasa akan segala variasi makhluk hidup yang kedalamannya tak dapat diukur dan keindahannya tak dapat dilukiskan. Saya kira kekaguman itu hanya mungkin timbul kalau Misteri itu dihormati selaku Misteri. Saya percaya, seperti sudah saya tekankan pada bagian-bagian sebelumnya, bahwa dengan salah satu cara semua orang menginginkan dan mengusahakan kebahagiaan dirinya serta, sampai kadar tertentu, kebahagiaan sesamanya. Agaknya, kebanyakan orang kurang menyadari bahwa kebahagiaan menyurut kedamaian dan kedamaian menuntut adanya masyarakat di mana keadilan serta cinta kasih merajai kehidupan.[16]

Dialog Interreligius memiliki kepentingan mutlak pada tata damai hidup bersama antar umat beragama. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi masing-masing agama untuk menjadi eksklusif dan tidak berdialog satu dengan yang lain.

Persis, relasi ini disebut “religiusitas” sebab tak mungkin dimengerti dalam wilayah badan. Relasi ini bukan relasi yang bisa dirasakan, diukur, dikategorikan sebagai relasi badaniah. Kebalikannya, relasi ini seakan berada dalam wilayah “rohani”, yang menjadi urusan jiwa atau kesadaran “Aku”.[17]

Karena pada hakikatnya, religiusitas itu mensyaratkan dialog, bukan ekslusivitas, apalagi diskriminasi dan kekerasan.

 

Usaha Transformasi Agama menjadi Ideologi

Ideologi secara harfiah berarti ilmu pengetahuan tentang ide-ide (the science of ideas), atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar.[18] Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya ide disebut juga cita-cita. Indonesia adalah negara dengan Ideologi Pancasila. Sangat jelas bahwa tidak ada lagi ideologi lain selain Pancasila, yang mengatur kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama di Indonesia.

Namun agaknya kini agama perlahan-lahan mulai menjadi ideologi bagi sebagian sekte umat beragama. Hal ini nampak jelas dalam organisasi-organisasi berbau agama yang sudah tidak lagi menghayati ideologi bangsa yang sesungguhnya, yakni Pancasila. Peristiwa pengeboman rumah-rumah ibadat dan kasus-kasus penistaan agama adalah bukti konkret berkurangnya kesadaran dan penghayatan akan nilai-nilai luhur Pancasila.

Agama bukanlah ideologi atau sejenisnya. Dikatakan demikian karena agama sejatinya tidak terkait dengan kepentingan politik atau pun berpretensi mengubah dunia. Agama adalah pedoman bagi manusia untuk mencapai kepenuhannya dalam Sang Pencipta. Orientasi agama yang sesungguhnya adalah Sang Pencipta itu sendiri, yang secara langsung berkaitan dengan aspek rasionalitas dan relasionalitas manusia. Agama adalah bukti dari kekaguman manusia terhadap alam ciptaan dan menjadikannya jalan menuju kepada Sang Pencipta. Saat manusia memiliki kesadaran dan kekaguman terhadap alam ciptaan ini, sejak itulah manusia mempertanyakan tentang siapa yang menciptakan semua yang ada di dunia ini. Ilmu pengetahuan berkembang untuk menjawab rasa kagum manusia terhadap alam ciptaan ini, namun tidak menjawab kerinduan terdalam manusia.  Di sinilah fungsinya agama. Agama hadir sebagai “jawaban” atas pencarian makna hidup dan rasa kagum terhadap ciptaan serta jalan menuju kepada Sang pencipta.

Dalam hidup berbangsa dan bernegara yang berideologi Pancasila, tendensi agama untuk menggantikan ideologi negara agaknya merupakan kekeliruan terhadap cara beragama. Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi pluralitas sehingga mengusahakan penggantian ideologi adalah sebuah absurditas.  Tujuan agama yang sebenarnya ialah bertemu dengan Misteri Segala Misteri dalam apa saja yang kita alami, yang menantang, yang menimbulkan perhatian, yang membangkitkan perasaan kita.[19]

 

Beragama Secara Rasional

Agama hadir sebagai bentuk ketidakpuasan manusia atas jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang kekaguman yang diberikan oleh ilmu pengetahuan. Selama belum ditemukannya jawaban, manusia mencarinya dengan berkhayal dan sekaligus juga berusaha mengisi apa yang masih kosong.[20] Hal inilah yang melandasi manusia untuk “menciptakan” agama sebagai jawaban atas rasa kagum sekaligus tata cara hidup yang mengarahkan dirinya kepada Sang Pencipta.

Konsep agama menarik ditelaah dari sudut pandang Platon mengenai pengetahuan. Agama dapat dianalogikan sebagai Pengetahuan Opini atau Doxa.

Opini memiliki kedudukan yang lebih rendah daripada pengetahuan atau episteme. Sedangkan bidang kaji doxa adalah dunia indrawi. Bagi Platon, opini dapat saja benar dan jelas, namun tidak akan pernah memiliki satu jaminan tentang kepastian dan selalu bersifat labil seperti hal-hal inderawi. Doxa dibedakan dalam dua tingkatan: a) imaginasi (eikasia) dan b) kepercayaan (pistis). Eikasia dan pistis merujuk pada dua tingkatan indrawi: eikasia bertalian dengan bayangan dan gambar realitas, sedangkan pistis berhubungan dengan realitas indrawi sendiri.[21]

Agama bila dilihat dari pendapat Platon merupakan doxa pada tingkatan pistis (kepercayaan). Hal ini menjadikan agama dapat saja benar dan jelas, namun tidak akan pernah memiliki satu jaminan tentang kepastian dan selalu bersifat labil.

Dapat dikatakan bahwa agama tidak dapat menjawab secara riil dan konkret pertanyaan tentang eksistensi Tuhan dan kepastian sejati. Namun agama mengajarkan secara manusiawi cara-cara atau pun tata hidup yang mengarahkan manusia kepada kebaikan dan kesempurnaan Sang Pencipta. Ilmu pengetahuan memang tidak dapat membuktikan secara empiris dan kuantitatif tentang Tuhan, namun agama dengan pendekatan humanistis agaknya memberi kepercayaan tentang adanya Tuhan.

Beragama secara rasional memaksudkan bahwa beragama tidaklah cukup hanya dengan kepercayaan saja. Beragama di zaman sekarang ini juga berkaitan dengan relasi antara manusia dengan Tuhannya, sesamanya, dan alam ciptaan-Nya. Oleh karena itu, diperlukan juga rasionalitas dalam hidup beragama agar kepenuhan diri sebagai makhluk rasio terwujud. Niscaya bahwa kepercayaan pada ajaran agama tanpa menggunakan rasio atau intelek justru akan mengaburkan kebenaran yang hakiki.

Sebagai makhluk rasional, manusia tidak bisa mengingkari kerasionalannya juga dalam hal beragama. Dengan rasio, manusia dapat berpikir dengan jernih tentang apa yang dipercayainya dalam ajaran agama tertentu. Kejernihan dalam berpikir ini membuat manusia dapat beragama dengan lebih humanistis, karena tidak mengingkari kemanusiaannya itu sendiri.

Sungguh aneh bila ada agama yang sampai hari ini mengizinkan manusia membunuh manusia lainnya demi nama Tuhan. Bila rasio dipakai dalam beragama, hal ini tidaklah bisa diterima baik secara rasio (intelek) maupun secara moral (berkaitan dengan hati nurani) karena jelas, hal ini menciderai kemanusiaan itu sendiri. Beragama secara rasional mensyaratkan bahwa iman kepercayaan dan rasio (intelek) harus berkembang beriringan, sejalan dengan kehidupan manusia di dunia ini.

 

Kesimpulan

Sebagai warga negara Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, sendi-sendi kehidupan termasuk juga kehidupan beragama haruslah dipandang sebagai suatu karakter dan kearifan budaya bangsa. Beragama yang ideal di era milenial ini mensyaratkan rasionalitas dan relasionalitas. Beragama tidak hanya berhenti pada aktivitas eksklusif melainkan juga harus menyentuh aspek-aspek kemanusiaan sesamanya.

Dalam hidup beragama yang rasional-relasional, diperlukan cara pandang yang dinamis-radikal, dengan menerima perubahan sebagai suatu realitas. Perubahan tidak dengan sendirinya berarti pemeluknya kehilangan semangat religiusnya, melainkan justru menunjukkan adanya semangat karena perubahan itu sendiri menyatakan kerelaan serta usahanya untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan baru.[22] Karenanya usaha mewujudkan konsep beragama yang rasional-relasional ditempuh dengan cara dialog interreligus dan beragama dengan rasional.

Daftar Pustaka

Buku

Riyanto, Armada. Menjadi-Mencintai Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius, 2013.

——————–. Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Yogyakarta: Kanisius, 2018.

Schie, G. van. Hubungan Manusia Dengan Misteri Segala Misteri. Rahasia di Balik Kehidupan. Jakarta: Fidei Press, 2008.

Kaelan, H. Filsafat Pancasila. Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. Yogyakarta: Paradigma, 2009.

Saeng, Valentinus. Diktat Filsafat Yunani. Malang: STFT Widya Sasana, 2017.

 

Internet

Devina Halim, “Video Ceramah Ustaz Abdul Somad yang Berujung ke Laporan Polisi,” KOMPAS.com, Rabu,21 Agustus 2019, pkl. 08:44 WIB, diakses 1 Desember 2019. https://nasional.kompas.com/read/2019/08/21/08440101/video-ceramah-ustaz-abdul-somad-yang-berujung-ke-laporan-polisi?page=all.

[1] Devina Halim, “Video Ceramah Ustaz Abdul Somad yang Berujung ke Laporan Polisi,” KOMPAS.com, Rabu,        21 Agustus 2019, pkl. 08:44 WIB, diakses 1 Desember 2019. https://nasional.kompas.com/read/2019/08/21/08440101/video-ceramah-ustaz-abdul-somad-yang-berujung-ke-laporan-polisi?page=all.

[2] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari, Yogyakarta: Kanisius, 2013, 196.

[3] Ibid., 197.

[4] Ibid.

[5] Ibid., 20.

[6] Armada Riyanto, Relasionalitas. Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen, Yogyakarta: Kanisius, 2018, 234-235.

[7] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai, 199.

[8] Ibid.

[9] Ibid., 200.

[10] Ibid.

[11] Armada Riyanto, Relasionalitas, 238.

[12] Ibid., 239.

[13] Ibid., 239.

[14] Ibid., 240.

[15] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai, 200.

[16] G. van Schie, Hubungan Manusia Dengan Misteri Segala Misteri. Rahasia di Balik Kehidupan, Jakarta: Fidei Press, 2008, 332.

[17] Armada Riyanto, Relasionalitas, 196.

[18] H. Kaelan, Filsafat Pancasila. Pandangan Hidup Bangsa Indonesia, Yogyakarta: Paradigma, 2009, 50-51.

[19] G. van Schie, Op. Cit., 12.

[20] Ibid., 4.

[21] Valentinus Saeng, Diktat Filsafat Yunani, Malang: STFT Widya Sasana, 2017, 103-104.

[22] G. van Schie, Op. Cit., 12.

 

TRI_2020Jan10_Artikel Gerwin_003

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *