Pendidikan

BELAJAR DARI MIMPI BESAR KI HADJAR DEWANTARA DAN ELON MUSK

Penulis: Marselus Suarta Kasmiran (Dosen di STKIP Pamane Talino)

 

Pada tahun 2014 Presiden Jokowi memisahkan perguruan tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu memasukkan Perguruan Tinggi ke dalam bagian dari Kementerian Riset dan Teknologi. Banyak orang yang kecewa atas keputusan Presiden Jokowi tersebut. Banyak yang menganggap pemisahan perguruan tinggi dari Kemendikbud melukai idealisme pendidikan yang telah dibangun oleh para founding father.

Menurut Ki Hadjar Dewantara manusia haruslah mengembangkan keseimbangan daya jiwa yaitu cipta, karsa, dan karya. Joesoef (2014) menegaskan bahwa para founding father kita telah mendasarkan pendidikan kita sebagai keseimbangan hidup yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan. Harapan akan adanya keseimbangan itu dimulai dari jenjang pendidikan dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi. Tidak boleh terputus. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Siswa yang hanya berfokus pada pengetahuan saja akan kehilangan keutuhannya sebagai manusia. Artinya, ketika fokus perguruan tinggi ialah pada riset (pengetahuan), keseimbangan pendidikan tidak dapat dicapai. Pengembangan pengetahuan haruslah diimbangi dengan pengembangan rasa dan karsa. Pendidikan di Indonesia diharapkan tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tapi juga sisi kesenian dan kehendak untuk peduli pada orang lain.

Hal yang menarik terjadi saat pengumuman Kabinet Kerja Periode II. Presiden Jokowi kembali memasukkan dikti ke dalam Kemedikbud. Tentu hal ini merupakan hal yang sangat mengembirakan. Keprihatinan banyak orang akan keseimbangan dalam pendidikan ditanggapi dengan baik oleh Presiden Jokowi.

Ada hal lain yang juga menarik terjadi saat pengumuman Kabinet Kerja periode kedua Presiden Jokowi. Hal tersebut ialah penunjukan Menteri pendidikan dari luar lingkungan orang pendidikan. Beliau ialah Nadiem Makarim. Nadiem Makariem ialah seorang mantan CEO Go-jek. Penujukan ini mendapat banyak kritik dan juga pujian pada saat yang sama. Dari sudut pandang presiden, beliau menekankan tantangan teknologi yang begitu pesat. Hal tersebut menjadi pertimbangan Presiden Jokowi untuk menempatkan seorang Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Nampaknya kekhwatiran pemerintah akan perkembangan teknologi ini bukan tanpa alasan. Anak didik yang guru-guru ajar di sekolah mendapatkan informasi dengan sangat mudah dan cepat. Hanya dengan mengucapkan “Ok Google” mereka sudah bisa mendapatkan informasi yang mereka cari. Namun, penunjukan seorang yang sangat mengerti tentang pengembangan teknologi tersebut memunculkan sebuah pertanyaan di benak penulis. Apakah falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengutamakan keseimbangan hidup (cipta, rasa dan karsa) masih relevan di zaman ini? Apakah pengembangan cipta, rasa dan karsa masih dapat diterapkan di zaman dimana semua orang berlomba untuk mengembangkan temuan-temuan baru di bidang pengetahuan?

 

Biografi Ki Hadjar Dewantara

Ki Hajar Dewantara memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau lahir di Pakualaman pada tanggal 2 Mei 1889. Beliau ialah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis politisi dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia Indonesia dari zaman penjajah Belanda. Ia adalah seorang pendiri Perguruan Taman Siswa. Perguruan Taman Siswa merupakan suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan. Ki Hajar Dewantara dibesarkan di lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Selain mendirikan Perguruan Taman Siswa, beliau merupakan Menteri pengajaran Indonesia pertama di Jaman Soekarno.

Hal yang menarik dari seorang anggota kerajaan ini ialah saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya Ki Hadjar Dewantara dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tapi lantaran sakit, sekolahnya tersebut tidak bisa dia selesaikan.

Tanggal kelahiran beliau sekarang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Semboyan pendidikan beliau menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Beliau meninggal di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959. Ki Hadjar Dewantara dikukuhkan sebagai pahlawan nasional kedua oleh presiden Soekarno pada 28 November 1959.

 

Mimpi Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara hidup di masa penjajahan Belanda. Saat itu sekolah-sekolah menganut sistem pendidikan barat. Empat karakter utama pendidikan jaman Kolonial Belanda (1) Dualistis-diskriminatif: sekolah dibedakan untuk anak pribumi, anak belanda dan tionghoa, juga berdasarkan bahasa pengantarnya. (2) Gradualis: Sistem sekolah dikembangkan sangat lamban, sehingga perlu seratus tahun lebih Indonesia memiliki sistem pendidikan yang lengkap dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. (3) Konkordansi: kurikulum dan sistem ujian disamakan dengan sekolah di negri Belanda, dan (4) Pengawasan yang sangat ketat: Pendidikan telah memberi peluang kepada bangsa Indonesia untuk mengisi jabatan yang dahulunya khusus dicadangkan bagi “kasta” Eropa, dan secara perlahan mejadikan memiliki etos budaya yang ingin semakin dekat dengan budayanya orang-orang Belanda.

Wiratmoko (2011:1) mengungkapkan bahwa sistem pendidikan pada masa pemerintahan kolonial yang berorientasi pada kepentingan Belanda dapat menyebabkan kesenjangan yang besar terhadap masyarakat Indonesia. Ki Hadjar Dewantara menilai sistem barat kurang tepat bagi pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu ia memunculkan sistem among, sebuah sistem yang berbanding terbalik dengan sistem barat atau sistem Belanda pada masa itu. Sistem among merupakan sistem pendidikan yang bertujuan untuk menghasilkan manusia yang dapat mengatur dirinya sendiri, manusia yang berdiri sendiri dalam merasa, berpikir, dan bertindak, manusia yang berkepribadian dan berkarakter (le Febre, 1952:12-13). Model pendidikan barat, murid tidak memiliki kesempatan untuk mengemukankan pendapat. Guru ialah tuan atas siswa di kelas. Pemikiran dan pendirian Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantara di masa kolonial tersebut merupakan langkah yang sungguh berani. Beliau sedang melakukan sebuah mimpi besar.

Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah upaya kebudayaan yang berazaskan keadaban untuk memberikan dan memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak yang selaras dengan dunianya. Oleh sebab itu segala alat, usaha, dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan yang tersimpan dalam adat istiadat setiap rakyat (Dewantara, 1962:14-15; Tauchid dkk., 1962:20, 166).

Pendidikan hanya merupakan sebuah tuntunan, dimana pertumbuhan hidup anak tidak ditentukan oleh kehendak pendidik. Ki Hadjar Dewantara menyarankan agar pendidik hanya menuntun pertumbuhan dan hidupnya agar dapat bertambah baik budi pekertinya (Tauchid dkk., 1962:21). Ki Hadjar Dewantara (1957:42-43) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Oleh sebab itu pendidik menuntun anak pada kehidupan yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Ki Hadjar Dewantara (1956a:68) mengatakan bahwa kebudayaan yang sejati pertama kali muncul dari hidup kebangsaan yang kemudian meluas sebagai sifat kemanusiaan. Ia juga menjelaskan bahwa Taman Siswa tidak asal memelihara kebudayaan bangsa, tetapi membawa kebudayaan bangsa kepada kemajuan yang sesuai dengan perkembangan zaman, sesuai dengan kemajuan dunia dan selaras dengan kepentingan hidup masyarakat (Dewantara, 156:58). Kebudayaan ini merupakan hasil dari perjuangan manusia terhadap kekuasaan alam dan zaman, serta membuktikan bahwa manusia mampu mengatasi semua rintangan dan kesulitan dalam perjuangan hidup (Tauchid, 1962:171; Soejono, 1960:158).

 

Pemaknaan Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Seperti yang penulis kemukakan di bagian pengantar, pertanyaan yang mendasari tulisan ini ialah apakah falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara yang mengutamakan keseimbangan hidup (cipta, rasa dan karsa) masih relevan di zaman ini? Di saat semua orang berlomba untuk mengembangkan temuan-temuan baru di bidang pengetahuan, apakah pengembangan cipta, rasa dan karsa masih dapat diterapkan di pendidikan kita saat ini?

Mari kita belajar dari seorang tokoh yang sangat terkenal di zaman ini. Beliau ialah Elon Musk. Elon Musk merupakan pemimpi besar. Orang yang mampu memikirkan kelangsungan kehidupan manusia. Beliau ialah contoh orang yang mengembangkan cipta, rasa dan karsa. Bagi penulis, Elon Musk ialah seorang seniman sejati di zaman ini. Karya-karyanya di bidang teknologi ialah sebuah karya seni yang mengubah kehidupan manusia.

Elon Musk dikenal dengan kepemilikan Space Exploration Technologies, or SpaceX dan Tesla. Space x didasari dari pemikiran Elon Musk akan sebuah tempat untuk menampung manusia, karena menurut Elon Musk bumi tidak lagi akan dapat menampung manusia. Sementara Tesla didasari pemikiran beliau bahwa sumber daya alam semakin menipis. Oleh sebab itu pengunaan kendaraan yang dapat mengurangi pengurasan sumber daya alam sangat diperlukan. Ia menciptakan mobil listrik. Pada tahun 2015 Elon Musk membuka OpenAI. Sebuah wadah untuk memastikan kecerdasan buatan tidak menghancurkan peradaban manusia.

Dalam debat antara Elon Musk dan Jack Ma: Jack Ma mengatakan seberapa pintarpun kecerdasan buatan (AI), ia tetaplah beroperasi bila ada manusia. Manusia menciptakan AI, AI tidak pernah menciptakan manusia. Artinya manusia lah yang harus menjadi perhatian dalam mengendalikan kecerdasan buatan tersebut. Namun Elon Musk mengatakan kita perlu mengkhwatirkan perkembangan teknologi. Bila kita terlena, teknologi akan membinasakan kita.

Terlepas dari benar salah kedua argument tersebut, penulis menyadari bahwa konsep Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan di zaman ini. Di tengah tantangan kecepatan perkembangan teknologi tersebut, pembangunan manusia yang memiliki cipta, rasa dan karsa merupakan hal yang utama. Supaya peradaban manusia mampu bertahan di tengah kecepatan perkembangan teknologi, manusia tidak cukup hanya mengisi pengetahuan atau cipta nya saja. Manusia perlu juga belajar untuk mengembangkan rasa dan karsanya. Tanpa hal tersebut manusia tidak beda dari artificial intelligence.

Dapatkah rasa dan karsa bersanding dengan cipta? Mari belajar dari budaya orang-orang Jepang. Semua orang mengakui kehebatan teknologi Jepang. Mari melihat keseharian mereka yang tetap mengedepankan rasa dan karsa. Ambil contoh saat mereka turun tangga escalator. Mereka berbaris rapi di sebelah kiri, agar orang yang perlu bergerak lebih cepat dapat mengambil jalan sebelah kanan. Di dalam kereta semua orang diam, karena menghargai orang lain yang butuh istrihat saat pulang dari kerja. Penghargaan mereka akan budaya asli mereka membuat mereka semakin kuat, bukan semakin hancur oleh teknologi.

Di Indonesia, kita perlu mempertahankan falsafah pendidikan cipta, rasa dan karsa. Bukan hanya mempertahankan, kita juga perlu meningkatkan hal tiga hal tersebut. Fenomena perkembangan teknologi yang begitu cepat bisa membuat Bangsa Indonesia hancur, bila Bangsa Indonesia tidak memahami budaya mereka. Coba lihat di media social. Orang dengan mudah menghujat satu sama lain. Apakah itu budaya kita? Kita dikenal dengan budaya sopan santun yang tinggi. Kurangnya pengembangan karsa dan rasa, membuat kita hancur segera.

 

Implementasi bagi Guru dan Calon Guru

Ajaklah murid-murid untuk mengali kebudayaan lokal, agar tumbuh menjadi manusia yang memiliki rasa. Namun memiliki rasa saja tidak cukup. Bukalah banyak kesempatan berdiskusi untuk belajar dari orang lain (cipta/pengetahuan). Jadilah pembelajar yang mandiri namun juga berkehendak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat (karsa). Ciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Terlepas dari perdebatan dan pandangannya yang berbeda dengan Jack Ma. Elon  Musk ialah seniman pada zaman ini. Elon Musk mengarahkan karya-karyanya ke sesuatu yang berguna bagi kehidupan orang banyak. Motivasinya didorong oleh keinginan untuk membantu orang lain. Visi Ki Hadjar Dewantara keseimbangan hidup merupakan suatu falsafah yang masih relevan sampai saat ini. Manusia harus lah didorong oleh cipta, rasa dan karsa. Teknologi hanyalah alat untuk memudahkan kita. Bukan tuan atas kemanusian kita.

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

Darmawan, I. P. A. (1952). PANDANGAN DAN KONSEP PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA. mental12, 13.

Dewantara, K. H. (1967). Ki Hadjar Dewantara. Jogjakarta: Majelis Leluhur Taman Siswa.

Museum Pendidikan Nasional. 2016. Diakses 24 November 2019, http://museumpendidikannasional.upi.edu/index.php/pendidikan-masa-kolonial.

Suparlan, H. (2014). Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan sumbangannya bagi pendidikan Indonesia. Jurnal Filsafat25(1), 56-74.

Wardani, K. (2010, November). Peran guru dalam pendidikan karakter menurut konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara. In Proceeding of The 4th International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI &UPSI (pp. 8-10).

 

TRI_2019Des2_Artikel Miran

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *