Artikel

BALALA: KEARIFAN LOKAL DI TENGAH CARA MODERN MENCEGAH PENYEBARAN VIRUS CORONA

Oleh Trio Kurniawan, M. Fil. (Dosen Filsafat di STKIP Pamane Talino, Pendiri Betang Filsafat)

*Artikel ini sudah diterbitkan di Kolom Opini Pontianak Post tanggal 27 Maret 2020*

 

Pada tanggal 19 Maret 2020 yang lalu, Dewan Adat Dayak (DAD) Kab. Landak mengeluarkan imbauan resmi tentang pelaksanaan Adat Binua Basapat Binua Balala Batamakng, atau biasa disingkat dengan Balala. Secara sederhana, Balala merupakan suatau adat berpantang, misalnya untuk tidak boleh keluar dari rumah dalam jangka waktu tertentu yang disepakati. Balala yang sudah disepakati ini pada prinsipnya berlaku untuk semua komponen masyarakat yang tinggal di Binua Landak tanpa membedakan suku, agama, ras, instansi pemerintah atau lembaga lainnya. Balala dilaksanakan untuk menjawab fenomena tertentu di dalam masyarakat, biasanya untuk mencegah wabah penyakit pada manusia ataupun pada tanaman ladang.

Pandemi Covid-19

Imbauan untuk melaksanakan Balala oleh DAD Kab. Landak ini tampaknya sangat erat berkaitan dengan penyebaran Virus Corona (Covid-19) yang melanda banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.  Pandemi Virus Corona ini sudah menyentuh tanah Kalimantan Barat sejak beberapa waktu yang lalu. Hal ini ditandai dengan munculnya kasus positif Virus Corona di Pontianak. Berhadapan dengan pandemi ini, tepat kiranya ketika DAD Kab. Landak mengeluarkan imbauan pelaksanaan Balala. Mengapa demikian?

Virus Corona merupakan pandemi yang saat ini ramai disoroti dari pelbagai sisi oleh media dan banyak pihak di seluruh dunia. Virus yang sudah memakan korban jiwa ribuan ini ditandai dengan gejala flu, demam tinggi, gangguan pernafasan dan sakit tenggorokan. Bukan hanya rakyat jelata, virus ini juga sudah menginfeksi kepala negara, menteri, artis hingga banyak orang “kelas atas” yang tidak diragukan lagi standar kesehatannya. Artinya, virus ini bisa menginfeksi siapapun.

Selain melalui cuci tangan, makan makanan bergizi dan istirahat yang cukup, pencegahan Virus Corona bisa dilakukan lewat social distancing ataupun sampai ke level lockdown. Social distancing berarti mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain. Jika harus berada di tempat umum, jarak maksimal yang dianjurkan antar manusia adalah 1,5 meter. Lockdown artinya situasi dimana masyarakat dilarang untuk masuk/keluar suatu tempat karena adanya situasi darurat. Dengan berdiam diri di rumah dan mengambil jarak dengan orang lain, Virus Corona diyakini dapat berkurang penyebarannya.

Balala: Cegah Virus Corona

Ketika dunia hari ini lantang berbicara tentang social distancing ataupun lockdown (disertai dengan segala macam perdebatannya), masyarakat Dayak di Kalimantan Barat sudah sejak dahulu melakukan upaya semacam ini dalam tradisi kesehariannya. Imbauan DAD Kab. Landak tentang Balala untuk mencegah penyebaran Virus Corona ini menjadi semacam tawaran dari kearifan lokal kepada masyarakat modern untuk mencegah pandemi Virus Corona. Hentikan sejenak segala macam perdebatan politis tentang Virus Corona. Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat menawarkan (dan sekaligus melakukan) social distancing ataupun lockdown yang disarankan pemerintah.

Balala adalah adat yang wajib dan mengikat siapa saja yang berada di lokasi adat ini dilaksanakan. Jika melanggar, sanksi adat akan menanti. Balala juga adalah hari-hari doa masyarakat Dayak supaya wabah ini segera berlalu. Ke-berdiamdiri-an manusia saat Balala adalah ruang bagi pengisolasian diri dan kembali pada diri sendiri: berefleksi.

Balala saat pandemi Virus Corona menjadi semacam momen lokalitas dan modernitas bertemu. Ketika modernitas hadir dengan segala macam istilah asingnya untuk menjelaskan strategi pencegahan Virus Corona, Balala hadir dengan kesederhanaan dan keunikannya.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Pandemi Virus Corona ini sudah bukan lagi isu. Pandemi ini sudah ada di depan mata dan keseharian manusia hari ini. Memang benar bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Namun demikian, kewaspadaan juga perlu diperhatikan.

Karakter masyarakat Indonesia yang sangat senang berkumpul dan bersalaman sebagai wujud sikap hormat tentu menyulitkan pemerintah untuk menerapkan imbauan social distancing yang beberapa minggu ini digemakan. Bagaimana mungkin social distancing ingin dilakukan jika, misalnya, pemerintah sendiri selalu tampil di media dalam gerombolan ketika mengadakan konferensi pers?

Belajar dari cara DAD Kab. Landak yang mengeluarkan imbauan tentang Balala, baik kiranya jika pemerintah menggandeng kearifan-kearifan lokal di setiap daerah untuk menjelaskan soal social distancing agar pencegahan Virus Corona bisa terlaksana. Ini terbukti dari ramainya postingan di media sosial masyarakat Landak beberapa hari ini tentang Balala. Masyarakat sudah bersiap diri untuk berdiam di rumah selama Balala. Lebih efektif, lebih mengena.

 

TRI_2020Mar27_Artikel Trio_012

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *