Filsafat

[BAGIAN 2 DARI 2] HOMO EXPERIENS

Oleh Gregorius Nyaming (Mahasiswa Tingkat Doktoral di The John Paul II Catholic University of Lublin, Poland)

 

Paul Ricoeur: Memahami sebagai Merenungkan

Sebagai seorang mahasiswa yang setiap hari bergelut dengan tema-tema teologis, saya selalu menyempatkan diri membaca karya-karya filosofis. Bukan hanya sekadar ingin menambah pengetahuan, tapi karena filsafat dan teologi mempunyai keterkaitan yang erat dalam usaha memahami kebenaran. “Iman dan akal budi bagaikan dua sayap manusia untuk terbang membumbung tinggi pada kontemplasi tentang kebenaran;  karena Tuhan telah menempatkan dalam hati manusia kehendak untuk mengetahui kebenaran – ringkasnya, untuk mengetahui dirinya – sehingga, dengan mengetahui dan mengasihi Allah, manusia juga akan sampai pada kepenuhan kebenaran tentang diri mereka sendiri”, begitu kata St. Paus Yohanes Paulus dalam membuka Ensiklikny, Fides et Ratio.

Atau kalau kita ingin mundur lebih jauh lagi, tepatnya pada periode Abad Pertengahan (Mediovale), filsafat dikatakan sebagai preambulum fidei (pengantar iman) dan ancilla theologiae (pembantu wanita bagi teologi). Sebagai preambulum fidei filsafat dimaksudkan sebagai pembuka dan pendahulu bagi iman. Sosok Sokrates bisa menjadi contoh dalam hal ini. Cintanya akan kebijaksanaan serta ketekunannya mengejar kebijaksanaan itu sampai akhir hidupnya dipandang sebagai sikap yang selaras dengan segala yang diperlukan untuk beriman Kristiani. Sementara sebagai ancilla theologiae hendak memaksudkan peran filsafat dalam menolong akal budi manusia melahirkan pengertian-pengertian yang benar tentang misteri iman.[1]

Lantas, mengapa filsafat hermeneutika? Apa yang istimewa darinya? Hermeneutika dipahami sebagai seni memahami sebuah teks. Adalah teks-teks kitab suci yang semula menjadi objek utama penafsiran. Namun, di kemudian hari realitas hidup manusia itu sendiri yang banyak digumuli. Sebagai sebuah seni tentu saja hermeneutika menyajikan keindahan dan kekhasannya tersendiri dalam menginterpretasi teks dan perkara-perkara kemanusiaan. Dalam hermenetuika, “Aku” (pembaca) dan teks mempunyai hubungan yang tak terpisahkan. Dalam membaca sebuah teks, pembaca mempunyai pengalaman subjektif yang kerap menjadi kepentingan aktivitas pembacaan. Tidak heran terhadap sebuah teks/perikop kitab suci atau teks sastra kita mempunyai penafsiran dan pemaknaan yang berbeda sesuai dengan pengalaman subjektif kita masing-masing. Inilah yang dinamakan dengan relasionalitas Aku dan teks.[2]

Kembali kepada permenungan soal bagaimana memahami teks atau realitas hidup itu sendiri. Pertama-tama yang perlu diingat ialah bahwa manusia adalah homo experiens (makhluk yang mengalami). Keberadaan kita sebagai homo experiens membuat masing-masing kita unik dan berharga. Unik dan berharga karena setiap kita memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Dalam realitas keberbedaan ini, kita dituntut untuk menghormati dan menghargai sesama. Karena itu, sudah sangat tepat ketika ada sharing pengalaman kita diminta untuk tidak mengkritik pengalaman orang lain maupun menggurui ketika mensharingkan pengalaman. Karena itulah kita menggunakan kata “saya”, bukan “kita”. Dengan “saya” hendak menunjukkan bahwa pengalaman itu sungguh merupakan “milikku” dan pergumulan diriku dalam memaknai kehidupan ini. Meskipun begitu, kenyataan ini tidaklah kemudian menjadikan kita sebagai pribadi yang tertutup terhadap pengalaman orang lain. Kita harus menjadi pribadi yang rendah hati untuk belajar dari pengalaman orang lain. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik?

Gereja Katolik, dalam Teologi Wahyu dan Iman, juga memberikan penekanan akan pentingnya pengalaman manusia. Wahyu dilihat sebagai komunikasi pribadi antara Allah yang transenden dengan manusia yang di bumi ini. Allah yang tak kelihatan itu dari kepenuhan cinta kasih-Nya menganugerahkan diri kepada manusia, menyapa mereka, bergaul dengan mereka, bersekutu dengan mereka. Inilah hakikat dari wahyu. Dan aspek personal, yaitu pertemuan pribadi antara Allah dan manusia menjadi aspek yang paling digarisbawahi.[3] Pertemuan pribadi ini dialami oleh manusia dalam berbagai pengalaman hidupnya. Pengalaman dengan demikian merupakan medium yang melaluinya manusia menjumpai pewahyuan diri Allah.[4]

Setiap pengalaman memiliki maknanya tersendiri. Hanya saja untuk menemukan maknanya kadang memerlukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Bahkan mungkin tidak sedikit yang memutuskan berhenti di tengah jalan. Terlebih ketika berusaha mencari makna dari pengalaman yang pedih, menyakitkan, mengecewakan, dst. Armada Riyanto menyebutnya seperti memasuki “lorong-lorong gelap.”[5]

Perjalanan pengalaman Pangeran Li dapat menjadi inspirasi bagi kita. Kisah hidup Pangeran Li tentu saja hanya satu dari sekian banyak kisah yang bisa kita jadikan inspirasi. Mungkin pengisahan kembali film ini terasa cukup panjang. Saya sendiri sudah berusaha mengisahkannya seringkas mungkin. Namun, dalam konteks memahami dan memaknai sebuah peristiwa atau realitas hidup, mungkin baik dibiarkan seperti itu adanya. Hanya hendak menunjukkan bahwa setiap pengalaman, pahit maupun manis, semuanya disambut, dijalani dan dimaknai oleh Pangeran Li secara sadar, dewasa dan bijaksana.

Bagaimana memaknai sikap Pangeran Li ini dalam terang hermenutika Paul Ricoeur? Secara ringkas, memahami teks bagi Ricoeur bukan hanya memahami makna yang terkandung di dalam teks itu, melainkan juga lewat teks itu merefleksikan makna hidup kita, karena teks mengacu kepada kehidupan, kepada dunia di luar teks itu.[6] Persoalannya apakah yang menjadi teks bagi Pangeran Li yang harus ia baca dan maknai? Di sini kita mengenal apa yang disebut dengan konteks, yang memiliki arti yang penting untuk memahami relasi pembaca dan teks. Konteks menunjuk kepada ruang keseharian hidup manusia, pengalaman hidup sehari-hari.[7]

Bagi Pangeran Li, teks yang sedang ia geluti bukanlah ayat-ayat suci, melainkan realitas hidup itu sendiri. Dalam bahasa Armada Riyanto, konteks yang sedang ia gumuli ialah konteks sebagai “ruang subjektif”. Ruang subjektivitas memaksudkan manusia adalah subjek bagi bagi hidupnya. Artinya, dia adalah tuan sekaligus pemilik atas tindakannya. Realitas subjektif manusia kerap amat mempengaruhi bagaimana ia bertindak.[8]

Bahwa Pangeran Li sungguh menjadi tuan sekaligus pemilik atas tindakannya tercermin dari tindakan bebasnya mencintai Putri Alise. Rasa cinta itu muncul murni dari dalam dirinya. Tak ada satu pihak pun yang memaksa atau mendesaknya untuk jatuh cinta. Demikian juga ketika dengan sadar dan tulus merelakan Putri Alise yang ia sayangi jatuh ke pelukan Lucas. Pengorbanannya itu justru mendatangkan harapan dan hidup baru bagi orang lain, yakni terbebasnya Chen dari kutukan.

Apakah Pangeran Li dilihat sebagai pihak yang kalah dalam pertarungan memenangkan hati Putri Alise? Atau ia menjadi pribadi yang rapuh dan kehilangan semangat hidup karena kehilangan cinta sejatinya itu? Persoalan ini kembali kita baca dalam terang hermeneutik Ricoeur. Dengan berpandangan bahwa refleksi bertautan erat dengan interpretasi, Ricoeur hendak menegaskan bahwa aktivitas menafsir tak lain merupakan peziarahan manusia di dalam teks untuk menemukan makna teks itu bagi hidupnya.

Bila hendak dipahami menurut skema hubungan teks dengan pembaca, Pangeran Li sudah berada pada tahap terakhir yang dinamakan dengan apropiasi diri (self-appropiation). Berada pada tahap ini, pembaca tidak lagi hanya sekadar menjelaskan (explanation) atau menemukan sebuah pemahaman (understanding) dari teks, namun memasuki teks secara lebih intens. Setelah memasuki teks secara intens, pembaca akan keluar sebagai “Aku yang lebih baru, lebih baik, berbeda dari sebelum memasuki teks”. Pembaca akan makin memahami dirinya. Self-appropiation tidak dipandang sebagai proses psikologis melainkan hermeneutis (fenomenologi eksistensial). Artinya, pembaca memasuki teks bukan sebagai orang yang sedang mengalami gangguan mental sehingga memerlukan penyembuhan. Self- appropiation adalah perkara pergumulan pembaca dalam memaknai sebuah teks.[9]

Pangeran Li jelaslah tidak sedang menderita gangguan mental dan sejenisnya. Dia bukanlah sosok yang kekurangan rasa kasih sayang. Sebagai seorang pangeran, dia sungguh mengalami kasih sayang yang sungguh besar dari ayahnya. Dia bertumbuh dan berkembang dalam cinta. Pergumulannya dalam memaknai realitas hidup yang ia hadapi tentulah  membuat Pangeran Li makin memahami dirinya. Dia paham apa itu cinta. Namun, setelah mengorbankan cinta sejatinya dia semakin memahami bahwa aktivitas cinta itu tidak hanya personal, tapi juga transendental. Bahwa cinta itu transendental memaksudkan bahwa cinta itu mengatasi rupa-rupa perasaan enak atau kurang enak, menyenangkan atau tak menyenangkan. Hal ini hendak menegaskan bahwa aktivitas cinta kerap bertentangan dengan rasa enak yang kita rindukan. Transendensi cinta lantas memaksudkan nilai unggul dari sebuah tindakan manusia.[10]

 

Penutup

“Mengatakan bahwa manusia adalah homo experiens sesungguhnya hendak mengajak kita menemukan makna hidup dari setiap pengalaman yang kita jumpai. Namun, makna tersebut baru akan kita temukan kalau kita berani memasuki sebuah teks atau realitas yang kerap kali mengganggu rasa nyaman kita. Sebagai makhluk yang acap kali lebih memilih yang enak-enak saja, Ricoeur sepertinya hendak membawa kita untuk berani bergumul dalam realitas kekhawatiran, kecemasan, kegagalan, kesendirian, kemalangan, kelaparan, sakit, keputusasaan, dst agar bisa semakin memahami diri dengan lebih baik. Hidup yang tak pernah direfleksikan tak layak untuk dihidupi”, begitu kata Sokrates.

Akhirnya, pengalamanku selalu berada bersama dengan pengalaman orang lain. Karena setiap pengalaman mempunyai maknanya masing-masing, maka berada bersama yang lain memanggil kita untuk rela saling berbagi pengalaman. Dengan berbagi, barangkali pengalaman kita bisa menghadirkan pemahaman yang baik dan benar atas hidup atau mungkin bisa mendatangkan gairah dan semangat baru bagi orang lain. Lucas, yang merasa cemburu dengan Pangeran Li, memberikan setangkai bunga yang telah rusak kepadanya saat ia berjalan-jalan bersama Putri Alise di taman. Dengan lembut dan bijaksana Pangeran Li berkata, “Tidak, tidak. Ini bagus. Di negaraku, ketika kau memberi seseorang bunga yang rusak, itu mengingatkan mereka bahwa kita hidup di antara orang-orang yang hancur dan harus membantu mereka’.

 

KEPUSTAKAAN

Bevans, Stephen B. Models Of Contextual Theology. Revised and Expanded Edition. New York:

Orbis Book, 1992.

 

Dister, Nico Syukur. Teologi Sistematika 1. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

 

Hardiman, F. Budi.  Seni Memahami. Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta:

Kanisius, 2015.

 

O’Collins, Gerard. Rethinking Fundamental Theology. Oxford: University Press, 2011.

 

Riyanto, Armada. Relasionalitas. Filsafat Pondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen,

Yogyakarta: Kanisius, 2018.

[1]Lih. Armada Riyanto, Relasionalitas. Filsafat Pondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen, (Yogyakarta: Kanisius, 2018), hal. 152-153.

[2] Ibid., hal. 2.

[3] Bdk. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal.66-67.

[4] Lih. Gerard O’Collins, Rethinking Fundamental Theology, (Oxford: University Press, 2011), hal. 42.

[5] Lih. Op. Cit., hal 3.

[6]F. Budi Hardiman, Seni Memahami. Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, (Yogyakarta: Kanisius, 2015), hal. 244.

[7] Armada Riyanto, Op.Cit., hal. 7.

[8] Ibid., hal. 8.

[9] Bdk. Ibid., hal. 108-112.

[10] Ibid., hal. 376-377.

Sumber Gambar Featured: https://thietkehoanggia.com/journal/tsbo8.php?84078a=the-swan-princess-kingdom-of-music-wiki

TRI_2020Mei7_Artikel Rm Nyaming 025

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *