Filsafat

[BAGIAN 1 DARI 2] HOMO EXPERIENS

Oleh Gregorius Nyaming (Mahasiswa Tingkat Doktoral di The John Paul II Catholic University of Lublin, Poland)

 

Sebuah Film

The Swan Princess: Kingdom of Music (2019). Sebuah film bergenre animasi yang sempat saya nikmati di tengah segala kesibukan mengerjakan tugas akhir kuliah, dan tentu saja untuk menikmati kejenuhan di masa-masa lockdown ini. Saya lebih suka menyebutnya menikmati kejenuhan ketimbang mengusir kejenuhan, karena seperti kata Nabi Ayub kepada istrinya: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb 2:10).

Film ini mengisahkan sebuah kompetisi musik yang diadakan oleh Putri Odette dalam rangka merayakan ulang tahun putri angkatnya, Putri Alise. Ada lima peserta terbaik yang mewakili benuanya masing-masing. Sang pemenang nantinya akan bernyanyi di pesta dansa pada malam perayaan ulang tahun Putri Alise. Daftar nama yang akan berdansa dengan sang Putri pun sudah di susun. Pangeran Derek, sang ayah, berada di urutan pertama dan Lucas, sahabatnya, di urutan kedua.

Selain mengisahkan kompetisi musik, yang membuat film ini menarik ialah perjuangan sepasang kekasih dalam membebaskan si jantung hati dari kutukan. Sepasang kekasih itu adalah Chen dan Mei Li. Mei Li adalah seorang putri kaisar, yang tak lain adalah saudari kandung Pangeran Li yang turut serta dalam kompetisi tersebut. Chen sendiri adalah seorang seniman biasa. Dia dikutuk menjadi seekor naga karena telah berani jatuh cinta pada Mei Li. Dia hanya berubah wujud menjadi manusia sesaat saja menjelang matahari terbenam.

Perjuangan Chen dan Mei Li sepertinya akan segera berakhir ketika Mei Li mendengar sendiri percakapan sang ayah dengan saudaranya soal keikutsertaannya dalam kompetisi musik itu. Mei Li tentu sangat gembira mengetahui hal tersebut karena Putri Odette adalah salah satu orang yang bisa menunjukkan bagaimana cara memecahkan mantera tukang sihir yang telah mengutuk kekasihnya. Dia dipercaya begitu karena sebelumnya dia adalah sesekor angsa (swan), namun berkat cinta sejati dari pangeran Derek ia berubah menjadi seorang putri yang cantik jelita. Maka, suatu sore menjelang matahari terbenam ia menanti Chen muncul dengan maksud mengajaknya pergi menemui Putri Swan. Ajakan Mei Li ditolak oleh Chen karena baginya itu adalah mimpi dan harapan liar. Ia meyakini kalau mereka berdua tidak akan mampu memecahkan mantra tersebut. Namun, berkat keyakinan dan keteguhan cinta dari Mei Li, Chen pun menyanggupinya. Niatnya untuk menjumpai Putri Odette tidak boleh diketahui oleh siapa pun, terlebih oleh Pangeran Li. Karena itu, dengan diam-diam ia menyelinap masuk ke kapal yang digunakan oleh Pangeran Li untuk berlayar.

Kapal Pangeran Li pun tiba di tempat tujuan. Kedatangannya disambut dengan ramah oleh rombongan Putri Swan. Tidak demikian dengan Putri Alise. Pangeran Li tentu merasa sakit hati. Ketika ditemani Putri Alise berkeliling di sekitaran istana, lalu juga disuguhi hidangan-hidangan khas kerajaan, Pangeran Li sepertinya ingin membalas sikap tidak hormat Putri Alise dengan mengatakan kalau kue yang dibuat oleh pelayan istana tidak enak rasanya. Sejak saat itu, Putri Alise semakin tidak simpatik dengan Pangeran Li dan berharap agar dia kalah dalam kompetisi. Sikapnya ini berlanjut saat setelah menyaksikan penampilan dari peserta pertama, ia mengatakan semua peserta boleh mendapatkan juara, kecuali Pangeran Li.

Atas nasihat Ratu Uberta, Putri Alise diminta untuk meminta maaf kepada Pangeran Li. Berat baginya untuk melakukan itu, namun akhirnya dia menyanggupinya. Maka bertemulah mereka berdua di tempat yang telah disepakati. Proses permintaan maaf tidak terjadi di mana Putri Alise mengakui kesalahannya dan kemudian Pangeran Li memaafkannya. Harpa menjadi pencair suasana. Ya, di tempat mereka bertemu ada sebuah harpa. Ternyata Pangeran Li juga sangat suka memainkannya. Permintaan maaf pun sepertinya tak perlu lagi diutarakan karena mereka berdua sudah larut dalam permainan harpa. Sejak saat itu mulai tumbuh rasa cinta di hati. Dan sejak saat itu pula mereka berdua sering bertemu dan menghabiskan waktu berduaan. Rasa cinta pun makin mendalam.

Putri Alise sendiri memiliki seorang sahabat laki-laki, Lucas namanya. Lucas hanyalah seorang pria biasa yang hari-harinya ia habiskan untuk mengurus taman bunga. Mereka berdua tampak sangat akrab. Di tempat lain, Mei Li dan Chen sudah berjumpa dengan Putri Swan dan sudah menceritakan semua tentang kutukan yang menimpa Chen. Untuk memecahkan mantra itu, Chen dan Mei Li diminta untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh Pangeran Derek terhadap Putri Odette. Caranya Chen berbaring sementara Mei Li duduk di sampingnya sambil menyangga kepala Chen dengan tangannya. Mei Li harus mengucapkan sumpah cinta abadinya, kemudian mengecup kening Chen. Apa yang terjadi? Rupanya usaha ini pun tidak mendatangkan hasil.

Sementara Pangeran Li dan Putri Alise semakin berbunga-bunga karena cinta, tidak demikian dengan Lucas. Rupanya Lucas tidak hanya menganggap Putri Alise sebagai sahabat, tapi diam-diam menaruh hati kepadanya. Karena itu, dia selalu mengintip dan berusaha mengganggu setiap kali mereka berdua bersamaan. Namun, dia sendiri menyadari bahwa tak mungkin untuk mencintai Putri Alise sebab dia hanya seorang pengurus taman bunga. Adalah Tuan Roger yang menentang ketidakmungkinan ini. Dia memang tahu Lucas hanyalah pria biasa. Tapi dia juga tahu bagaimana cara memenangkan hati Putri Alise, yaitu lewat dansa. Itulah satu-satunya kesempatan Lucas karena ia berada di urutan kedua untuk berdansa dengan Putri Alise. Karena itulah, tuan Roger melatih Lucas dengan sekaut tenaga. Latihan pun membuahkan hasil. Menyadari diri sudah semakin mahir, Lucas pun berkata kepada tuan Roger kalau dia tidak akan menyerah dalam memenangkan hati Putri Alise. Percakapan mereka ini rupanya didengar oleh Pangeran Li yang bersembunyi di pojok ruangan. Dan sejak saat itu pulalah dia tahu kalau Lucas menaruh hati terhadap Putri Alise.

Lupakan kompetisi menyanyi yang sangat kompetitif itu. Pangeran Li akhirnya keluar sebagai jaura. Perhatian kita arahkan pada usaha Mei Li yang gagal memecahkan mantera kutukan padahal sudah menyatakan sumpah cinta sejatinya. Setelah usaha ini tidak berhasil, Pangeran Derek pun mengajak mereka untuk menemui Scully, yang ahli dalam membuat ramuan. Scully pun membolak-balik buku resepnya untuk menemukan cara yang ampuh membebaskan Chen dari kutukannya. Dia pun menemukan sebuah ramuan khusus yang mengharuskan Chen meminum darahnya sendiri yang dicampur dengan ramuan telah ia racik. Usaha ini pun tidak berhasil mengubah Chen menjadi manusia. Scully pun memutuskan untuk pergi ke kerajaan Cathay untuk menyusup ke ruang praktek penyihir yang telah mengutuk Chen. Dari sana, dia mendapat sebuah mantra yang dia sendiri tidak tahu apa artinya karena tertulis dalam bahasa Mandarin. Ia pun kembali sambil berusaha mengingat mantra tersebut. Setiba di istana, ia meminta Pangeran Derek untuk menuliskan kembali mantra tersebut di atas tanah. Setelah selesai, betapa sedih hati Mei Li karena mantra tersebut berbunyi: “Anakmu harus menyerahkan cinta sejati.”  Sambil berlinang air mata, Mei Li pun dengan suara lantang berkata: “Aku menyerahkan cinta sejatiku.” Tapi, Chen pun tak kunjung berubah rupa menjadi manusia karena Mei Li sendiri sesungguhnya tidak sanggup mengorbankan cinta sejatinya. Matahari pun hampir terbenam. Chen yang berupah wujud menjadi manusia hanyalah sementara dan hanya untuk menyampaikan kata-kata perpisahan.

Malam perayaan ulang tahun Putri Alise pun tiba. Ratu Uberta yang nampaknya sangat terkesan dengan penampilan dan kepribadian Pangeran Li meminta pegawai istana yang bertanggung jawab mengurus pesta dansa untuk menempatkan sang pangeran di urutan kedua menggantikan posisi Lucas. Hal ini diketahui oleh Lucas, yang tentu saja membuatnya menjadi sedih dan putus asa. Pesta pun di mulai. Mei Li yang masih dirundung kesedihan turut hadir dan hanya berdiri di lantai atas dekat jendela supaya kehadirannya tidak diketahui oleh Pangeran Li. Sesuai dengan daftar yang telah ditentukan, Putri Alise pertama akan berdansa dengan Pangeran Derek, ayahnya, dan Pangeran Li sebagai pemenang kompetisi akan membawakan sebuah lagu untuk mengiringi dansa tersebut. Lucas, menyadari harapannya untuk berdansa dengan Putri Alise sudah pupus, hanya bisa berdiri di pojok ruangan dan berniat meninggalkan ruangan pesta. Pangeran Li yang melihat Lucas hendak beranjak pergi langsung meminta kepada Ratu Uberta agar mengijinkan Lucas berdansa dengan Putri Alise. Hal itu pun disanggupi oleh sang Ratu meski harus melanggar tradisi kerajaan. Lucas terlihat kaget dan bingung mendengar permintaan Pangeran Li. Dia pun berjalan mendekati Putri Alise. Sementara Chen, yang setelah mengucapkan kata-kata perpisahan rupanya masih berada di sekitaran istana kerajaan, dan berniat untuk pergi, merasakan ada sebuah getaran aneh pada tubuhnya saat Lucas berjalan ke arah Putri Alise. Pangeran Li pun mulai bernyanyi untuk mengiringi dansa Putri Alise dan Lucas. Kenyataan yang tidak mudah untuk dihadapi. Namun, Pangeran Li berusaha untuk tegar karena itu adalah permintaannya sendiri. Lirik demi lirik ia nyanyikan dengan penuh penghayatan. Begitu juga Lucas dan Putri Alise yang sedang berdansa.  Gerakan demi gerakan menjadikan keduanya semakin larut dalam sebuah rasa, yakni cinta. Lagu pun selesai dinyayikan oleh Pangeran Li. Apa yang terjadi? Chen, yang masih dalam wujud seekor naga, tiba-tiba muncul di tempat Mei Li berdiri. Dia langsung berubah wujud menjadi manusia. Dan dia pun terlepas dari kutukannya. Semua berkat Pangeran Li yang mengorbankan cinta sejatinya. Rupanya mantra “Anakmu akan menyerahkan cinta sejati” bukan berlaku untuk Mei Li, tapi untuk saudaranya, Pangeran Li. Pangeran Li sungguh membawa kehormatan bagi rakyat di kerajaannya, pertama, dengan memenangkan kompetisi, dan kedua, dengan mengorbankan cinta sejatinya.

Rasanya tidak begitu sukar untuk menangkap pesan dari film ini. Tidak sukar karena cinta dan pengorbanan adalah sesuatu yang tidak hanya kita alami, tapi juga kita bagikan kepada orang lain. Kita mengalami cinta dan pengorbanan dari kedua orangtua, dari sahabat, dari dosen, dari pacar dan seterusnya. Pengalaman akan cinta dan pengorbanan dari orang lain ini mendorong kita juga untuk melakukan hal yang sama. Di atas segalanya, kita menerima dan mengalami cinta yang tiada taranya dari Tuhan sendiri, yang telah memperkenankan kita hidup di dunia ini.

Atau bila hendak direnungkan dari perspektif iman Kristiani, tidak sulit untuk menemukan pribadi yang telah melakukan hal yang sama, bahkan lebih besar dari itu, seperti Pangeran Li. Dia adalah Yesus Kristus, Putra Allah dan Juru selamat dunia. Dia adalah teladan yang sempurna dalam hal cinta dan pengorbanan.

Namun, dalam kesempatan ini saya tidak hendak mengajak kita untuk mengadakan sebuah refleksi teologis. Berangkat dari ketegaran hati, keberanian, ketabahan Pangeran Li menyaksikan Putri Alise dan Lucas yang sedang berdansa, saya hendak merenungkannya dalam konteks bagaimana memahami sebuah teks atau pun realitas hidup itu sendiri. Artinya, realitas yang saya maksudkan di sini dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya sebatas soal cinta-cintaan. Pemikiran filsuf yang akan saya jadikan sebagai bahan rujukan ialah Paul Ricoeur.

Dalam berteologi, kompleksitas hermeneutika Paul Ricoeur bagi saya pribadi memberikan kontribusinya tersendiri, secara khusus dalam upaya berteologi kontekstual. Dengan teologi kontekstual dimaksudkan bahwa sebuah refleksi teologis berangkat dari konteks. Konteks kulturalitas-religiositas manusia menjadi sumber (locus theologicus). Teologi kontekstual hendak memusatkan diri pada nilai dan kebaikan dari anthropos (pribadi manusia). Dalam model ini kodrat manusia, dan konteks manusia itu sendiri, dipandang baik, kudus dan bernilai. Dalam pemahaman ini, model antropologi akan menekankan bahwa di dalam budaya manusia-lah kita dapat menemukan pewahyuan Allah. Mereka yang menenggelamkan diri dalam model ini berusaha mencari pewahyuan dan penyataan diri Allah yang tersembunyi dalam nilai-nilai, pola-pola relasional dan keprihatinan-keprihatinan dari sebuah konteks.[1] Dalam pemahaman inilah, hermeneutik Paul Ricoeur yang melibatkan filsafat eksistensialisme, fenomenologi, psikologi dan hermeneutik itu sendiri (kompleksitas) sangat membantu dalam upaya kontekstualisi pesan Injil. Namun, tema ini bukan yang menjadi pokok pembahasan dalam tulisan ini.

[1]Bdk. Stephen B. Bevans, Models Of Contextual Theology. Revised and Expanded Edition, (New York: Orbis Book, 1992), hal. 54-56.

 

Sumber Gambar Featured: https://thietkehoanggia.com/journal/tsbo8.php?84078a=the-swan-princess-kingdom-of-music-wiki

TRI_2020Mei7_Artikel Rm Nyaming 025

Download PDF

1 thought on “[BAGIAN 1 DARI 2] HOMO EXPERIENS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *