Artikel

ALAM, KEBUDAYAAN DAN KITA

Penulis: Deodatus Kolek, S.S., Pr (Penulis Buku, Alumnus STFT Widya Sasana Malang, Mahasiswa STT Pastor Bonus Pontianak)

 

Pengantar

Manusia adalah makhluk yang tidak lepas dari alam semesta. Dia adalah makhluk spatial dan temporal  yang terbatas secara bio-fisik, tetapi juga kreatif untuk mengatasi segala keterbatasannya[1]. Alam semesta adalah tempat manusia untuk merealisasikan diri dalam persatuannya dengan seluruh dimensi kehidupan. Persentuhan dengan alam membuat manusia terasa lebih rileks dan bebas untuk merealisasikan diri. Bentuk realisasi diri manusia yang bermacam-macam melahirkan kebudayaan.

Kebudayaan adalah gambaran identitas, proses berpikir, dan mental manusia. Ekspresi dari kebudayaan melahirkan pengenalan akan subjek yang bersangkutan. Berdasarkan pemaknaan dasarnya, kebudayaan adalah budidaya manusia yang selalu berkembang dinamis sesuai perubahan zaman. Dia menghajatkan ruang dan waktu untuk berkembang demi memuliakan kehidupan manusia. Estetika merupakan salah satu bentuk dari ekspresi kebudayaan yang senantiasa berkembang dari zaman ke zaman.

Budaya konsumeristik telah membuat manusia lelap dalam kerakusan untuk mengguras alam sampai sehabis-habisnya. Manusia jatuh dalam antroposentrisme. Hutan belantara yang begitu kaya dalam waktu yang tidak lama ringkas menjadi seperti belantara padang gurun. Tidak peduli siapa yang akan hidup di tengah pandang gurun belantara itu nanti. Hal yang terpenting adalah saat ini aku (baca: manusia serakah) dapat berdiri tegak untuk kekuasaan dan kenyamanan.

 

Mengekspresikan Kebebasan

Hakikat manusia bukan hanya gandrung tetapi juga cenderung untuk mengekspresikan kebebasannya. Manusia yang demikian ada dalam masyarakat, komunitas dan individu yang dinamis. Tak seorangpun atau tak satu apapun yang lain yang ingin membatasi kebebasan mereka. Ia ingin tampil di hadapan manusia lain. Ia ingin berekspresi secara bebas sesuai dengan zamannya. Ia berusaha untuk terus mengaktualisasikan diri dengan zaman.

Jose Rizal Manua yang memiliki teater anak-anak Indonesia yang diperhitungkan di kancah dunia mengatakan, “Harus ada aktualisasi dari tradisi. Tak mengusung kasur tua tradisi, tetapi tradisi yang segar. Seniman harus terus mengaktualisasikan diri. Supaya tetap bisa mengaktualisasikan keberadaannya di zaman modern. Tradisi adalah kekuatan kita. Tradisi menjadi kekayaan milik kita.”[2]

Ungkapan Jose Rizal menunjukkan bahwa sebagai seniman dia ingin selalu menyesuaikan diri dengan zaman. Dia adalah aktor kebudayaan yang bebas untuk mengaktualisasikan diri tanpa harus lepas dari tradisi yang ada. Tradisi menjadi pintu masuk untuk berekspresi sehingga terciptakan sebuah tampilan baru yang dapat dinikmati oleh orang-orang zaman ini. Mengaktualisasikan diri merupakan upaya manusia untuk mewarnai dunia. Senyum dan tawa adalah bagian dari hidup manusia di mana di dalamnya terungkap begitu kaya akan ekspresi.

 

Pesona Alam

Manusia merupakan bagian dari alam. Aktor kebudayaan tidak dapat lepas dari alam. Karena itu penting untuk menyadari bahwa tanpa manusia, alam dapat hidup. Tetapi sebaliknya, manusia tanpa alam, ia tidak dapat hidup. Karena manusia memerlukan alam untuk mempertahankan hidupnya.

Dalam menampilkan teater, Jose menggunakan karakter seperti beruang kutub, rajawali, dan kanguru untuk memberi inovasi segar. Inovasi yang lahir dari alam ini membuat manusia itu terpesona dan akhirnya membentuk manusia menjadi ramah dengan alam.

Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si mengatakan bahwa alam adalah milik semua manusia. Alam memiliki misteri yang dalam. Fransiskus menunjukkan bahwa  Alam semesta tidak timbul sebagai hasil kemahakuasaan yang sewenang-wenang, unjuk kekuasaan atau keinginan untuk menegaskan diri. Penciptaan adalah ungkapan cinta. Kasih Allah adalah motif dasar semua ciptaan: “Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak jijik dengan apa pun yang telah Kauciptakan, sebab Engkau tidak akan membentuk apa pun yang Engkau benci” (Kebijaksanaan 11:24). Oleh karena itu, setiap makhluk adalah objek kelembutan hati Bapa yang memberinya tempat di dunia. Bahkan kehidupan sekilas dari makhluk yang paling hina adalah objek cinta-Nya, dan dalam beberapa detik hidupnya ia dirangkul dalam kasih sayang-Nya. Santo Basilius Agung mengatakan bahwa Sang Pencipta jugalah “kebaikan tanpa batas”, dan Dante Alighieri berbicara tentang “cinta yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang”. Karena itu, kita dapat menanjak dari karya-karya ciptaan “kepada kebesaran Allah dan rahmat kasih-Nya” (LS 77).

Fransiskus mengajak manusia untuk menyadari bahwa alam bukanlah hasil dari kekacauan, melainkan dari cinta. Manusia menerima alam berdasarkan cinta Allah yang besar. Kerap manusia lupa  cinta dari Pencipta alam semesta. Karena itu, alam hanya dijadikan objek dan bukan sesama. Keterpesonaan dan kedalaman manusia untuk melihat alam dalam kacamata positif menjadi sangat kurang.

Thomas Berry (1914 – 2009) menyatakan bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta, yang bersama-sama menjadi suatu komunitas tunggal. Tiada bentuk kerohanian atau keimanan yang efektif bagi makhluk ciptaan untuk manusia terpisah dari komunitas ini. Dunia yang tampak mengenai kita adalah kisah utama kita, ujud utama yang kudus, dan ini menyangkut seluruh komunitas manusiawi di seluruh planet.[3] Pernyataan ini menegaskan bahwa letak manusia dalam alam ciptaan adalah sebagai sesama, tidak ada yang dapat dijadikan objek dari seluruh ciptaan. Bahkan Thomas Berry merindukan zaman yang dia sebut sebagai zaman Ecozoic. Menurutnya, zaman Ecozoic adalah sebuah zaman di mana hanya dapat terjadi melalui perayaan kehidupan yang luhur, indah, dan meriah di planet bumi.[4]

 

Penggurunan dan Antroposentrisme[5]

Gagasan dalam kitab Kejadian bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah menempatkan manusia dalam suatu relasi yang unik dengan Allah. Relasi yang unik tentunya menuntut suatu tanggung jawab yang lebih dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Allah memerintahkan manusia menguasai ciptaan dan mengelola bumi. Mandat ini jelas untuk memelihara bumi, bukan mandat untuk mengeksploitasi bumi.[6]

Bumi yang semakin panas, cuaca yang tidak menentu, kesulitan air di musim kemarau, hutan yang semakin gundul, tsunami, gempa bumi, badai, El Nino dan bencana serta fenomena alam lain merupakan fakta yang mencemaskan bagi seluruh ekosistem. Hal itu bukan hanya terjadi di negara dan bangsa kita, melainkan dihadapi oleh penduduk di seluruh dunia dengan ciri-ciri khususnya, baik keadaan geografis dan geologisnya. Kondisi yang demikian merupakan bentuk penggurunan yang nyata yang telah terjadi dalam hidup manusia.

Manusia kerapkali beranggapan bahwa alam menyediakan berbagai sumber daya yang tidak terbatas dan mampu tercipta kembali secara cepat. Alam dianggap memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi dampak-dampak negatif dari eksploitasi dan perusakan alam. Pemahaman ini mendorong manusia untuk semakin berperilaku rakus dan serakah. Perilaku manusia yang memusatkan semata-mata pada keinginan dan kebutuhan itu menjadi titik tolak dari krisis ekologis. Supremasi antroposentrisme ini akan terus mempengaruhi nasib alam ciptaan ini.  Manusia hanya memikirkan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri, tanpa memikirkan nasib kelestarian alam ciptaan. Perasaan terpesona manusia menjadi mati dan beku karena terbelenggu akan kebutuhan dan keinginan. Mereka belum mampu melihat bumi ini sebagai “ibu” seperti yang diungkapkan oleh St. Hildegarde dari Bingen:

 

Bumi sekaligus sebagai ibu,

dia adalah ibu dari segala yang alamiah,

ibu dari segala kemanuisaan.

 

Dia ibu segala sesuatu,

segala benih terkandung di dalam dia.

 

Bumi manusia mengandung embun,

segenap yang hijau,

segenap daya bertumbuh.

 

Bumi memberikan banyak cara berbuah.

Semua ciptaan datang dari bumi.

Bumi tidak hanya membentuk semua bahan dasar untuk manusia.

tetapi juga bahan dari penjelmaan Anak Allah.[7]

 

Kita semua setuju bahwa akhir dari kosmos ini bukanlah suatu gurun pasir yang tak terbatas (an infinite desert), bukan juga suatu kompresi dahsyat (the big crunch) atau bukan juga suatu pembisikan lirih (a whimper) tetapi merupakan suatu pembulatan atau rangkuman final (the all-encompassing embrace)[8] yang memberi kehidupan bagi seluruh ekosistem.

 

Alam dan kebudayaan

Kebudayaan adalah bentuk dari eksistensi diri manusia dalam korelasinya dengan alam. Kebudayaan tidak pernah bisa dilepaskan dari manusia karena hanya manusialah yang bisa berbudaya[9]. Makhluk hidup lainnya tidak dapat berbudaya seperti manusia kendati mereka berkorelasi dengan alam.

Karena kebudayaan berasal dari manusia dan tidak dapat dilepaskan dari manusia, banyak orang yang mencoba mencari pengertian tentang kebudayaan itu. Banyak orang yang telah mendefinisikannya sehingga pengertian dan pemahaman tentang kebudayaan menjadi semakin jelas. Harsojo mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang rumit-kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat yang didapat oleh manusia  sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan adalah sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu yang berkembang dan hidup dalam masyarakat itu, yang unsur-unsurnya diwariskan ke generasi berikutnya dalam diri tiap individu, yang dapat menjadi miliknya, bila orang itu belajar baik secara formal atau tidak.[10]

Budaya adalah hasil dari korelasi manusia dengan alam. Manusia yang berbudaya pastilah manusia yang menghargai alamnya. Karena manusia adalah bagian dari alam dan manusia belajar dari alam, tidaklah mengherankan jika ekspresi kebudayaan manusia biasanya bercorak alam dan seringkali sejalan dengan alam.

Sudah seharusnyalah manusia yang berbudaya adalah manusia yang menjaga dan merawat alam. Karena sebenarnya manusialah yang menjadi bagian dari alam dan bukan alam bagian dari manusia. Tanpa manusia, alam masih dapat ada. Sedangkan manusia, tidak pernah dapat ada tanpa adanya alam. Alam yang rusak dan hancur tidak pernah bisa menjadi tempat tinggal manusia. Kewajiban untuk menjaga adalah sebuah keharusan. Alam adalah rumah bagi setiap manusia. Ia adalah rumah kita bersama seperti yang diserukan oleh Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si. Ia mengajak manusia untuk bersama-sama memperhatikan rumah kita bersama.

Selain menjadi ekspresi diri dan korelasinya dengan alam, kebudayaan juga merupakan hasil dari korelasi antara satu individu dengan individu lainnya. Setiap individu bersatu dalam sebuah kelompok dan akhirnya terbentuklah sebuah pola kebiasaan bersama yang akhirnya menjadi sebuah kebudayaan. Tidaklah mengherankan kemudian muncul klan dan kelompok suku dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Semua itu terjadi karena kelompok-kelompok itu melakukan sebuah kebiasaan bersama dalam kurun waktu tertentu dan akhirnya melekat dan mendarah daging dalam diri mereka dan akhirnya diwariskan turun-temurun.

Karlina Supelli, seorang cendikiawan dan juga pemerhati kebudayaan dalam pidatonya yang diberi judul Kebudayaan dan Kegagapan Kita mengatakan bahwa ada masa di mana kebudayaan dipandang sebagai pencapaian tertinggi peradaban dalam menata dan merasa, olah pikir dan laku bertindak agar sejalan dengan nilai-nilai agung yang memantulkan kemanusiaan manusia yakni nilai-nilai keindahan, keluhuran, dan kebaikan.[11]

Menurut Karlina manusia bukan satu-satunya makhluk yang mengolah alam. Tetapi dialah satu-satunya makhluk yang sekaligus juga mengolah budi (mind; nalar hanyalah salah satu aspek budi). Manusia dapat menggunakan akal budinya untuk mengolah tanah agar dapat bertahan hidup. Budi selalu menuntut manusia untuk tekun mengolahnya. “Seperti lahan subur yang tidak membuahkan panen kecuali kita olah, demikianlah budi manusia tidak menghasilkan apa-apa kecuali kita olah dengan tekun. Demikian keyakinan Marcus Tullius Cicero, filsuf dan orator Romawi abad pertama sebelum Masehi” kata Karlina.

Alam begitu mempersona di mata Karlina. Ia sendiri mengatakan,

 

Kosmologi membawa saya jauh ke tepian semesta, ke sebuah masa ketika kosmos masih berupa dawai-dawai energi yang orkestrasinya menghadirkan ruang waktu beserta seluruh isinya, termasuk aneka gejala sehari-hari yang kini menggelisahkan kita. Kosmologi, sebuah bidang perbatasan yang membuat saya tidak dapat mengabaikan mitologi sekaligus tidak dapat mengabaikan fisika dan matematika. Juga sebagai bagian dari ilmu-ilmu kealaman kontemporer, kosmologi meneruskan kerinduan purba manusia untuk memahami asal usulnya. Di situ saya terbentur pada corak antropologis pengetahuan. Atau dengan ungkapan lebih sederhana, batas pengetahuan manusia ketika berhadapan dengan kehendak yang selalu ingin mengetahui lebih[12].

 

Karlina melihat bahwa hidup dalam kebudayaan berarti bahwa manusia berlaku dan bertindak menurut bingkai pengetahuan dan perangkat nilai dalam kebudayaan itu. Namun, kecenderungan yang cukup luas untuk menaruh perhatian terlalu berat kepada kebudayaan sebagai sistem nilai membuat kita cenderung tergesa-gesa mengambil sikap normatif. Dia mengatakan bahwa, bahaya dari pendekatan ini adalah kita mendepolitisasikan masalah-masalah sosial-ekonomi dan politik dengan mengajukan solusi moral. Seolah-olah “kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan peradaban” dapat selesai apabila kita melekatkan aneka kecakapan yang sedang kita pelajari ke kesalehan. “Seolah-olah kekerasan remaja hanya perkara moral yang lemah. Korupsi yang ganas di negeri ini adalah salah satu bukti nyata bahwa tidak selalu ada kaitan langsung antara moralitas dan kesalehan. Lagak moralis dan saleh tidak akan menjadikan kita bangsa bermoral.”[13]

 

Penutup

            Korelasi manusia-alam dan kebudayaan merupakan dinamika kesempurnaan manusiawi. Manusia hidup di tengah alam yang muncul secara mengagumkan. Kebudayaan adalah langkan untuk menunjukkan bahwa manusia dapat berekspresi di tengah alam yang ada. Tapi sayang, kerap manusia menguras alam bahkan memadanggurunkan alam yang ada hanya demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Nampaknya saat ini kita perlu untuk menyiksa diri, tetapi tetap lembut. Kita perlu mendidik diri untuk disiplin dan dengan tegas menyuarakan sambil melaksanakan bahwa kita mencintai alam yang telah ada dalam kebudayaan kita.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Bacaan

Bakker, Anton. Kosmologi dan Ekologi: Filsafat Tentang Kosmos Sebagai Rumah Tangga Manusia. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Blolong, Raymundus Rede SVD. Dasar-Dasar Antropologi. Ende: Nusa Indah, 2012.

Deane-Drummond, Celia. Teologi dan Ekologi: Buku Pegangan, terj. Robert P. Borrong. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1999.

Fransiskus, Ensiklik Laudato Si: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, terj. P. Martin Harun OFM, Jakarta: Obor, 2015.

Khoiri, Ilham. Banyak Sesat Pikir, Sejak dari Pilihan Nama, dalam Kompas, Senin 19 Oktober 2015.

Kusuma, Mawar. Jose Rizal, Magma Teater Anak, dalam Kompas, Minggu, 18 Oktober 2015.

Majalah Gita Sang Surya, Edisi: Februari-Maret 2015.

Moedjanto MA (Eds.). Tantangan Kemanusiaan Universal: Antologi Filsafat, Budaya, Sejarah-Politik dan Sastra, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Raymundus Sudhiarsa. Filsafat Kebudayaan (Diktat kuliah). Malang: STFT Widya Sasana, 2015.

Sunarko, A. OFM, dan A. Eddy Kristiyanto, OFM. Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi: Tinjauan Teologis Atas Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Internet

Karlina Supelli, Kebudayaan dan Kegagapan Kita (Pidato Kebudayaan) dalam www.academia.edu/5728338/Kebudayaan_dan_Kegagapan_Kita_by_Karlina_Supelli diakses pada tanggal 22 Oktober 2015, pkl. 11.50.

Thomas Berry, Jaman Ecozoic dalam http://communityoflife.wordpress.com/spiritualitas-ekologi/spiritualitas-ekologi-bersama-thomas-berry/ diakses tanggal 13 Agustus 2014, pkl 11.48.

Video terkait terdapat dalam Jose Rizal Manua – Monolog Mas Joko,  https://www.youtube.com/watch?v=HTqAiAZTz48

Nota Pastoral KWI Tahun 2013 “Keterlibatan Gereja Dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan” dalam http://dokumengerejakatolik.blogspot.com/2013/04/nota-pastoral-kwi-tahun2013.html, diakses tanggal 13 Agustus 2014, pkl. 11.43.

[1] Raymundus Sudhiarsa, Filsafat Kebudayaan (Diktat kuliah), Malang: STFT Widya Sasana, 2015, hlm. 2.

[2] Mawar Kusuma, Jose Rizal, Magma Teater Anak, dalam Kompas, Minggu, 18 Oktober 2015, hlm. 12.

[3]Thomas Berry, Jaman Ecozoic dalam http://communityoflife.wordpress.com/spiritualitas-ekologi/spiritualitas-ekologi-bersama-thomas-berry/ diakses tanggal 13 Agustus 2014, pkl 11.48.

[4] Lih. Deodatus Kolek, Tempat Manusia Dalam Ciptaan yang Mempesona, dalam Majalah Gita Sang Surya, Edisi: Maret-April 2015, hlm. 9-17.

[5] Ibid.

[6] Mgr. FX Hadisumarta O.Carm,  “Cahaya Kitab Suci Atas Ekologi” dalam A. Sunarko OFM, dan A. Addy Kristiyanto, OFM, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi: Tinjauan Teologis Atas Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2008,  hlm. 53.

[7] Celia Deane-Drummond, Teologi dan Ekologi: Buku Pegangan, terj. Robert P. Borrong, Jakata: PT. BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 176. Bdk. Monolog Mas Joko yang juga menghargai Ibu (kaum perempuan) sebagai hal yang sangat diperhatikan oleh orang Timur.

[8] Anton Bakker, Kosmologi dan Ekologi: Filsafat Tentang Kosmos Sebagai Rumah Tangga Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 1995, hlm. 449.

[9] Raymundus Rede Blolong, SVD, Dasar-Dasar Antropologi, Ende: Nusa Indah, 2012, hlm. 55.

[10] Ibid. hlm. 56.

[11] Karlina Supelli, Kebudayaan dan Kegagapan Kita (Pidato Kebudayaan) dalam www.academia.edu/5728338/Kebudayaan_dan_Kegagapan_Kita_by_Karlina_Supelli diakses pada tanggal 19 Januari 2020, pkl. 11.00.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

 

Sumber Gambar Featured: http://visimuslim.xyz/2019/09/20/alam-dalam-pandangan-metafisika-islam-dan-timur/

TRI_2020Jan20_Artikel Kolek_004

 

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *