Artikel

AKU ADALAH SUBJEK CINTA

Meriyadi Tanggok

 (Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, Semester I)

 

Pengantar     

Cinta mempunyai daya tariknya tersendiri dan dikenal secara luas. Cinta kerap kali dikaitkan dengan rasa gembira yang berkobar-kobar, terlebih ketika seseorang mengalami jatuh cinta. Cinta identik dengan perasaan yang dialami oleh manusia. Cinta akan selalu menjadi topik yang digandrungi oleh setiap kalangan, baik yang muda maupun yang tua, terbukti dari lirik lagu, drama, teater, puisi, sajak, komik, novel, bahkan gosip tentang cinta.[1] Hal ini menjadi eksistensi tentang cinta yang sebagaimana dimengerti oleh semua pihak.

Cinta pun tidak bisa lepas dari subjek atau pelaku yang menghadirkan cinta, yaitu manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Puncak kelebihannya bisa lebih mulia dari malaikat dan titik terendah kekurangannya bisa lebih hina dari binatang. Namun di balik kelebihan dan kekurangannya itu, manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Tidaklah mengherankan jika kemudian muncul begitu banyak kajian, penelitian, ataupun pemikiran tentang manusia dalam segala aspeknya. Salah satunya adalah manusia dari aspek jiwa.

Jiwa memiliki keistimewaan yang berharga. Pertumbuhan spiritual yang sejati adalah pertumbuhan seimbang dari keseluruhan individu, termasuk tubuh, pikiran, dan spirit (jiwa). Tubuh manusia adalah kreativitas jiwa. Tubuh dan jiwa akan selalu berdampingan di manapun itu. Penziarahan jiwa mengatasi keterbatasan tubuh manusia.[2] Hal ini yang akan membuat jiwa akan terus mengembara hingga tubuh tidak dapat bersatu lagi bersama jiwa, sebab jiwa adalah roh manusia yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup.

 

Aku” di Dalam Tubuh dan Jiwa

Definisi “aku” secara garis besar adalah orang pertama tunggal yang memiliki peran penting dalam kehidupan di dunia. Aku adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang memiliki hati nurani, akal budi, dan perasaan yang menimbulkan rasa gembira dan sedih. Dalam hal ini, aku tidak bisa dilepaskan dari tubuh dan jiwa yang melekat dalam diriku.

Dalam pemikiran eksistensialisme, tubuh dan ke-tubuh-an manusia merupakan sentral. Manusia ada karena aku bertubuh. Namun ini tidak bisa disimpulkan bahwa manusia adalah tubuhnya. Tubuh manusia memang menentukan keberadaannya sekaligus merupakan caranya berada, tetapi ada hal lain yang melampaui ke-tubuh-an manusia, sehingga dia ada sebagai manusia. Cinta sendiri merupakan hakikat terdalam dalam diri manusia yang dengannya aku bisa mengungkapkan diriku secara lebih kreatif.

Tubuh manusia adalah keseluruhan dari kehadiran manusia itu sendiri. Artinya, keadilan adalah perkara memerlukan tanggapan manusia dalam keseluruhan dirinya. Ketika tubuh manusia terluka, ia harus segara diobati dan perlu ada tanggapan yang langsung segera merealisasikan pengobatan itu. Jika terjadi kebalikannya, sulit mencari obat atau tidak dimungkinkan akses ke rumah sakit, maka ketidakadilan terhadap tubuhlah yang terjadi. Kemiskinan dan kemelaratan tidak boleh dipandang sebagai perkara tubuh (yang kekurangan makan atau sedang menderita). Hal-hal ini langsung berkaitan dengan perkara keadilan manusia.[3]

Tubuh adalah hal paling penting yang dijaga oleh setiap insan. Seperti yang dijelaskan di atas, ketika tubuh terluka maka segera diobati. Dalam hal ini, aku yang di dalam tubuh akan merasakan kesakitan ketika tubuh tidak segera diobati. Dengan demikian, aku merupakan “zat mental” dan “benda berpikir”. Kemudian apa hubungan aku yang berada dalam tubuh sebagai zat yang berkembang, dengan diriku sebagai benda berpikir? Salah satu seorang filsuf yang bernama Descartes menjelaskan,

“Karena di satu sisi aku memiliki gagasan yang jelas dan kejernihan pikir mengenai diriku, selama aku hanyalah benda berpikir dan bukan benda yang berkembang, dan karena pada lain pihak aku memiliki kejelasan dan kejernihan pikir mengenai tubuh sebagai zat berkembang yang tidak berpikir, maka jelas aku di sini (artinya, jiwaku, dengan kebenaran yakni aku adalah aku) benar-benar berbeda dari tubuhku dan bahwa aku di sini bisa ada tanpa tubuhku.[4]

Dari pandangan Descartes tersebut nampak bahwa pemaknaan tentang aku sangat berbeda dari pemaknaan tentang tubuh. Hal ini bukan hanya aku sangat berbeda dari cirinya dengan tubuhku, tetapi juga sangat terbebas dari tubuhku, seperti aku bisa ada tanpanya dan aku tahu pikiranku lebih baik daripada aku tahu segala benda jasmani, termasuk tubuhku.[5] Hal ini menimbulkan cara pembacaan yang berbeda ketika memahami pemikiran Descartes. Namun, ketika tubuh tidak bisa berjalan sendirian dan membutuhkan jiwa yang harus menggerakkan aku di dalamnya, maka jiwa sama halnya dengan tubuh yang selalu ada dalam diriku.

Jiwa adalah roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup); nyawa.[6] Jiwa adalah hal yang mempengaruhi pengembangan diri, bukan melemahkan yang lain. Jiwa manusia itu unik, memiliki gaya-gaya yang dapat membuat manusia mampu untuk melakukan peziarahan yang tidak pernah berhenti. Dalam catatan harian St. Teresia dari Avila, jiwa ternyata memiliki sejarah. Lebih dari sejarah yang memberi indikasi pengetahuan masa lalu, jiwa melakukan peziarahan, perjalanan. Karena jiwa berziarah, ia memiliki awal berangkat dan tujuan akhir dari peziarahan.[7]

Adapun yang menjadi keselarasan antara aku di dalam tubuh dan jiwa ialah keserasian yang terjalin dalam menjalani setiap tindakan. Aku yang menjalani kehidupanpun tidak bisa terlepas dengan adanya tubuh dan jiwa yang terus berdampingan dengan diriku. Jiwa yang berziarah mengatakan bahwa jiwa bukan hanya sebuah entitas penyusunan kehadiran manusia. Jiwa adalah diriku yang tidak tetap tinggal sama.[8] Hal ini menunjukkan kepada tubuh bahwa jiwa tidak akan selamanya mengembara di dalam tubuh manusia. Namun demikian, tubuh dan jiwa akan terus-menerus hidup berdampingan.

 

Apa Arti Cinta?

Dewasa ini cinta adalah hal yang sangat sensitif. Bila cinta tidak diungkapkan, dilaksanakan, atau tidak dihiraukan, maka rasa sakit yang mendalam akan dirasakan manusia. Cinta bisa membuat orang gila terhadap objek yang dituju. Cinta menjadi kerinduan yang teramat diinginkan oleh manusia dalam setiap perjalanan hidup yang dilaluinya.

Menurut Armada Riyanto, cinta adalah itu yang dirindukan semua orang. Semua orang merindukannya, mengharapkannya, jatuh bangun untuk menghidupinya. “Segala manusia” mengatakan tidak ada yang dikecualikan, dari zaman kapanpun cinta adalah kerinduan manusia. Cinta identik dengan kehidupan itu sendiri. Semua yang memandangnya bangkit dalam keterpurukan. Semua yang memeluknya seolah seperti menyeberangi kematian kepada kehidupan.[9] Cinta erat kaitannya dengan hubungan yang terjalin oleh dua insan yang sedang dimabuk asmara.

Cinta itu indah, karena di dalamnya manusia berada di dalam gelombang asmara. Cinta memungkinkan manusia untuk memeluk bintang dan bulan, sehingga ia tidak mau melepaskannya. Ia seperti terbang di ketinggian keindahan. Ia membiarkan dirinya terdampar di ketinggian yang begitu indah. Karena cinta manusia tampil bagai matahari, bercahaya. Ia bersinar di sekelilingnya.[10]

Eksistensi tentang cinta adalah salah satu bentuk emosi yang mengandung ketertarikan, hasrat seksual, dan perhatian pada seseorang. Cara seseorang mencintai dan mengekspresikan rasa cintanya berbeda-beda yang kemudian disebut dengan cinta. Tentulah setiap manusia akan memiliki hal yang menjadi subjek dan pelaku yang tidak lain adalah manusia itu sendiri yang menggerakkan dan menghadirkan kasih Sang Pencipta itu sendiri. Aku dan siapapun yang merasakan cinta tentunya akan merasakan apa yang dinamakan kesempurnaan.

Cinta itu menggerakkan dan memperbaharui. Saat segala yang dijadikan Tuhan itu disebutnya baik adanya, halnya tidak disimak sebagai seolah segala ciptaan telah berhenti segala baik demikian adanya. Cinta itu membuat ciptaannya bergerak, berjalan. Ke mana? ke kesempurnaan. Di sinilah makna Cinta yang sesungguhnya. Yaitu, Cinta hadir dan tampak dalam perjalanan, penziarahan menuju kesempurnaan. Yang tinggal dalam Cinta tidak tinggal tetap sama saja. Ia tampil sebagai entitas yang menjadi “semakin”.[11]

Dari kutipan di atas jelaslah bahwa cinta me-revelasi-kan diri terhadap manusia atas kehendak Tuhan untuk membebaskan insan dalam mengarungi asmara. Cinta itu membebaskan. Kerap orang berpikir bahwa cinta itu mengikat. Sebaliknya, cinta sejati itu membebaskan. Simplisitas cinta memungkinkan orang mengalami kebebasan manusiawi yang mendalam. Ia tidak dicekam oleh kekuatan. Ia tidak didominasi oleh ketidakmungkinan. Cinta sejati membawa orang terbang di ketinggian kepada kontemplasi kebenaran.[12] Terkadang cinta menuntut pengorbanan yang besar untuk menemukan sebuah tujuan dalam keadaan tertentu sehingga dapat bertahan dan memberi semangat baru.

Seperti yang diketahui, cinta sejatinya membutuhkan kerelaan untuk merasakan penderitaan yang teramat sakit, cinta tidak bisa dipaksa oleh satu pihak, cinta hanya bisa dijalankan dengan penuh kesadaran dalam merasakan cinta. Namun, di balik penderitaan ada kenangan-kenangan yang menimbulkan sukacita yang mendalam. Cinta menghadirkan lorong bagi kita untuk menuju tempat yang istimewa dengan Tuhan. Mencintai “kegelapan” adalah hal yang sangat rumit, terlebih lagi ketika manusia belum bisa menyadari akan cinta-Nya yang indah.

Dalam hati tampak tidak ada yang lain kecuali Dia, tidak ada cinta lain kecuali cinta-Nya.[13] Pada dasarnya mencintai siapapun, khususnya kepada Sang Pencipta akan terasa berbeda ketika kita bisa merasakan perasaan mencintai. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri juga bahwa cinta dapat dihidupi dengan sedemikian dangkal dan pada kenyataannya justru berkebalikan dengan hakikat cinta itu sendiri.[14] Cinta tidak lagi membebaskan, tetapi mengikat. Tidak lagi mengembangkan, tetapi memenjarakan pribadi. Tidak lagi memperhatikan, tetapi menuntut lebih. Hal inilah yang menjadikan cinta sebagai sebuah panorama “kelam” yang dirasakan oleh manusia. Maka dari itu, cinta harus dipandang dengan hati terbuka dan jujur, sebab itulah awal dari kebahagiaan sejati.

 

Pandangan Filsuf Tentang Cinta

Banyak sekali filsuf-filsuf yang berbicara tentang apa arti cinta dan makna cinta. Namun di sini akan ditampilkan beberapa pandangan filsuf yang memberikan arti tentang cinta. Pandangan mereka inilah yang menjadikan alasan mengapa cinta selalu tetap ada dan tidak pernah lekang dimakan zaman.

Menurut Plato, cinta menunjukkan makna yang mempersatukan diri manusia sendiri dalam menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian. Kerohanian yang terjalin dalam cinta adalah bentuk kesadaran manusia memusatkan energi cinta yang membara. Plato merefleksikan cinta secara lebih halus. Orang yang mencintai adalah orang yang menyatukan diri. Cinta itu energi yang menyatukan diri. Karena cinta jiwa mencari pasangannya (soul mate). Lukisan Platonia adalah demikian,

“Bila orang jatuh cinta keinginannya yang terdalam adalah penyatuan jiwa. Di atas segala kecantikan atau kemolekan fisik, cinta adalah perkataan jiwa. Cinta sejatinya memiliki karakter transendental. Maksudnya, kesatuan yang dirindukan, bukan kesatuan fisik melainkan menyeberangi realitas fisik keabadian.[15]

Pandangan Spinoza pun ikut menyuarakan gemanya dengan melihat cinta itu sebagai kegembiraan.[16] Cinta memang penuh dengan kegembiraan, terkadang orang merasakan sebagai suatu hal yang positif. Manusia tidak bisa hidup tanpa cinta. Cinta sejatinya adalah lukisan-lukisan yang mewarnai perjalanan hidup. Sementara Leibniz menambahkan, cinta itu memberi kenikmatan.[17] Dewasa ini kerap kali kenikmatan dikaitkan dengan nafsu berahi. Namun berbanding terbalik dengan pemikiran Leibniz. Kenikmatan yang dimaksud ialah rasa keingintahuan dalam menjalani cinta.

Santo Paulus berbicara sangat menarik tentang cinta. Jika tanpa cinta, aku bukan apa-apa. Tanpa cinta, aku bagaikan gong yang gemercing, tidak bermakna apa-apa. Bagi Paulus, cinta adalah Tuhan itu sendiri. Dialah Sang Cinta yang dari-Nya dan oleh-Nya Paulus mendapatkan segala makna hidup. Tanpa cinta berarti tanpa Tuhan. Tidak mencintai berarti menyangkal Tuhan. Cinta adalah segalanya dalam semuanya. Tanpa cinta hidup tidak bermakna dan kematian menjadi kegelapan. Memeluk cinta berarti bangkit dari kegelapan untuk meraih kehidupan. Dalam Paulus cinta tidak dipahami lain kecuali Tuhan sendiri.[18]

Manusia tidak bisa hidup tanpa cinta. Tanpa cinta manusia bukan apa-apa seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus. Cinta adalah kesediaan hati untuk menerima segala sesuatu yang diberi oleh Sang Pencipta dan cinta adalah tanda syukur dan terima kasih atas semua rahmat, anugerah yang diberikan kepada manusia atas kesempatan-kesempatan untuk menjalani kisah di dunia.

 

Kesimpulan

Hakikat hidup manusia sebagai ciptaan Allah adalah bentuk cinta-Nya kepada ciptaan. Manusia berproses menjadi manusia seutuhnya melalui cinta yang berujung pada pemberian diri. Tanpa cinta, manusia tidak akan pernah merasakan betapa gembiranya diri ketika bisa memandang satu sama lain, dengan memandang sesama sebagai cermin. Jika tidak demikian, maka manusia tidak akan pernah merasakan pengorbanan besar yang pernah dilakukan terhadap sesama dan tidak akan pernah merasakan bahwa cinta bisa membawa manusia kepada kesatuan dengan aku sang subjek cinta.

Aku sebagai subjek cinta menentukan bahwa aku berperan penting dalam menaburkan cinta kepada sesama. Cinta mempersatukan tubuh dan jiwa serta memampukan aku untuk melakukan serangkaian perjalanan yang panjang. Di sisi lain, tanpa cinta kepada sesama yang kelihatan, manusia tidak akan menemukan dirinya sendiri, lebih-lebih Tuhan yang tidak kelihatan. Cinta itu mencapai realitasnya dalam aksi nyata yang spontan dan universal dalam keseharian kita.

 

Daftar Pustaka

Ananda Ariyati, Risky dan Fathul Lubabin Nuqul. “Gaya Cinta (Love Style) Mahasiswa.” Jurnal Psikoislamika 13, no. 2 (2016): 29-38. Diakses 16 Okt 2020. http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/psiko.

Lavine, Z T. From Socrates to Sarte: the Philosophy Quenst. Edited by Andi iswanto dan Deddy Andrian Utama. New York: Bantam Books, Inc., 1984.

Riyanto, Armada. Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius, 2013. 

Schiller Gabriel Marcel dan Sartre, “Cinta dalam Filsafat Manusia,” www.kompasiana.com, Diakses, Jumat 16 Oktober 2020, pkl 11:04 WIB.

 

[1] Risky Ananda Ariyati dan Fathul Lubabin Nuqul, “Gaya Cinta (Love Style) Mahasiswa,” Jurnal Psikoislamika 13, no.  2 (2016) : 29, Diakses 16 Okt 2020, http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/psiko.

[2] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai: berfilsafat Teologis Sehari-hari (Yogyakarta: Kanisius: 2013), 11.

[3] Ibid., 10-11.

[4] T. Z Lavine, From Socrates to Sarte: the Philosophy Quenst, ed. Andi iswanto dan Deddy Andrian Utama, (New York: Bantam Books, Inc., 1984), 155.

[5] Ibid.

[6] KBBI.

[7]Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai: berfilsafat Teologis Sehari-hari, 11.

[8] Ibid.

[9] Ibid.,157.

[10] Ibid.,161.

[11] Ibid.,161-162.

[12] Ibid., 166.

[13] Ibid., 219.

[14] Schiller Gabriel Marcel dan Sartre, “Cinta dalam Filsafat Manusia,” dalam www.kompasiana.com, Jumat,- , pkl 11:04 WIB, Diakses 16 Okt 2020.

[15] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai: berfilsafat Teologis Sehari-hari, 157.

[16] Ibid., 158.

[17] Ibid.

[18]Ibid.

 

Sumber gambar: https://www.aspiremag.net/inspire/wp-content/uploads/2014/01/heart-love-hands.jpg

GSW_2020Des11_Artikel Meriyadi Tanggok_040

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *