Artikel

Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata: Trisula Falsafah Orang Dayak dan Dialogalitas Hidup Sehari-hari

Oleh Stephanus Angga (Alumnus STFT Widya Sasana Malang)

 

Setiap kebudayaan pasti memiliki falsafahnya masing-masing. Melalui kebudayaan itu, manusia menyadari bahwa ada nilai atau keutamaan dalam lokalitasnya. Keutaman-keutamaan itulah yang menjadi kebijaksaan atau kearifan lokal (Local Wisdom). Kebijaksaan atau kearifan lokal ini juga kemudian menjadi tonggak sejarah dalam peradaban manusia, contohnya Pancasila. Pancasila adalah sebuah cetusan dari realitas hidup sehari-hari manusia Indonesia itu sendiri. Pancasila lahir dari sebuah budaya yang menunjukkan ciri khas dari Indonesia.

Pancasila merupakan budaya yang harusnya melekat dalam diri manusia Indonesia karena Pancasila itu disokong oleh nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia. Pancasila secara formal memiliki akar yang dalam pada sejarah, peradaban, agama, hidup ketatanegaraan, kegotongroyongan dan struktur sosial dari masyatakat Indonesia yang diciptakan oleh kebudayaan dan aliran pemikiran atau semangat kebatinan bangsa Indonesia.[1]

Dalam konteks ini, orang Dayak juga punya kearifan lokal yang membuat mereka mampu membangun relasi dengan sesama, alam dan Tuhan. Mereka memiliki konsep tentang Trisula sebagai falsafah dalam hidup keseharian mereka, yakni Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.[2]

Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata ini merupakan pola yang mendasari hidup orang Dayak dalam membangun relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Relasi tiga dimensi tersebut menjiwai seluruh aktivitas hidup manusia Dayak dan berfungsi sebagai alat ukur bagi kebaikan, kebajikan moral, kehidupan bersama, keadilan sosial, kesejahteraan umum, dan kepercayaan terhadap Jubata (Sang Pemberi Hidup).[3] Jelas bahwa budaya ini memiliki nilai yang berlaku bagi masyarakat umum.

Mari kita lihat satu per satu pola relasi hidup orang Dayak tersebut untuk membantu kita memahami bahwa hidup manusia itu merupakan produk budaya yang menuntun hidup kita pada arah yang mendalam. Pada saat yang sama juga, kita mengerti bahwa budaya merupakan identitas diri yang di dalamnya memiliki makna bagi hidup manusia itu sendiri.

Pertama, Adil Ka’Talino (relasi manusia dengan manusia) adalah suatu jaminan hidup bahwa manusia bukanlah makhluk yang tertutup dalam kesadaran diri yang egois dan individual.[4] Manusia Dayak menyadari dirinya adalah pribadi yang relasional dan sosial. Memang secara oposisisonal orang dayak tidak memiliki konsep tentang “Aku” dan “Aku yang lain,” seperti yang dikonsepkan oleh Prof. Armada Riyanto (Guru Besar Filsafat di STFT Widya Sasana) dalam Relasionalitas. Namun perkembangan kesadaran “Aku” atau “Diri” dan “Sesama” berjalan serentak beriring-iringan[5] karena sejatinya manusia perlu membangun relasi kepada yang kelihatan yakni sesama kemudian kepada yang Transenden.

Kedua, Bacuramin Ka’ Saruga (relasi manusia dengan alam raya). Titik tolak dari prinsip kedua ini adalah kesadaran masyarakat Dayak bahwa hidup bersama merupakan sebuah realitas yang kompleks dan konfliktual.[6] Manusia tidak hanya perlu membangun relasi dengan sesamanya saja tetapi juga dengan alam semesta ini. Bacuramin Ka’ Saruga ini juga merupakan prinsip yang mengantar orang pada pandangan tentang surga. Karena surga adalah simbol perdamaian, ketenangan, sukacita dan kesempurnaan. Dengan demikian, orang Dayak berusaha mengaktualisasikan hidup yang teratur dengan semangat “memandang” surga.

Ketiga, Basengat Ka’ Jubata, prinsip hidup yang mengarahkan diri pada yang transensdental, yakni Allah Sang Pemberi Hidup. Orang Dayak menyadari diri bahwa hidupnya merupakan suatu pemberian dari yang transendental tersebut. Maka tidak heran bila orang Dayak sering kali melakukan ritual dalam berbagai kegiatan dengan intensi mohon restu dan berkat dari Jubata (Sang Pemberi Hidup). Kesadaran inilah yang menjadikan orang Dayak bergantung pada Yang Pemberi Hidup tersebut. Dengan memiliki kesadaran ini, orang Dayak berusaha membangun relasi yang mendalam dengan–Nya. Kesadaran yang mendalam ini membawa orang pada nilai yang hidup teratur karena mengarah pada “Kebaikan Tertinggi”.

Dari kerangka Trisula hidup orang Dayak ini, kita menemukan bahwa manusia pada dasarnya memiliki pola relasi yang sifatnya bergantung dengan yang lain. Di dalamnya kita belajar bahwa relasi manusia merupakan bagian vital yang perlu ditumbuhkembangkan dalam hidup bersama. Relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam raya dan manusia dengan Tuhan hanya dapat terbentuk bila ada dialog yang mendalam.

Setelah memahami konsep falsafah orang Dayak ini, mari kita kaitkan dengan peristiwa Kinipan yang memilukan hati kita. Peristiwa tindakan kriminalisasi terhadap masyarakat adat oleh pihak kapitalis. Peristiwa Kinipan adalah peristiwa penangkapan Effendi Buhing, seorang tokoh adat Dayak di Kinipan yang ditangkap oleh aparat kepolisian karena diduga mencuri dan merampas mesin pemotong kayu milik Perusahaan Sawit Mandiri Lestari (PT SML), Rabu (26/8/2020). Padahal sejatinya, Effendi dan kelompoknya hanya ingin menjaga hutan adatnya dan meminta kepada pihak perusahaan untuk tidak beroperasi lagi. Tetapi pihak perusahaan menghiraukan apa yang dilakukan oleh Effendi dan kelompoknya. Lalu pada momen tertentu perusahaan menggunakan cara licik agar menjatuhkan Effendi dan kelompoknya. Ada istilah, “seorang pencuri masuk ke rumah orang, kemudian orang tersebut melawan, tetapi yang ditangkap adalah orang yang punya rumah”, demikianlah yang terjadi pada Effendi. Effendi hanya ingin menjaga hutannya tetapi menjadi serangan kaum kapitalis.

Effendi jelas memiliki kesadaran bahwa alam merupakan bagian integral dari dirinya maka perlu dijaga, berbeda dengan pihak perusahaan atau kaum kapitalis, mereka hanya berpikir soal keuntungan, meskipun dengan cara “mencuri”. Effendi tentu memahami kesadaran Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata dengan baik. Kesadaran ini tentu mengalir di dalam dirinya sebagai orang Dayak sebab di dalamnya ada nilai atau kebijaksaan sebagai identitas dirinya. Kesadaran inilah apa yang disebut sebagai pola atau dimensi dalam membangun relasi baik manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Kesadaran diri yang dimaksudkan adalah kesadaran yang mendalam, relasional atau “aku dialogal”.[7] Kesadaran “aku dialogal” juga membawa orang pada nilai-nilai hidup yang pada hakekatnya adalah komunikatif.

 

 

Daftar Pustaka

Riyanto, Armada, Kearifan Lokal-Pancasila Butir-Butir Filsafat “Keindonesiaan” (Ed: Armada Riyanto et al), Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Saeng, Valentinus, Trisula Hidup Orang Dayak: Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata, dalam Kearifan Lokal-Pancasila Butir-Butir Filsafat “Keindonesiaan” (Ed: Armada Riyanto et al), Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Suwarno, P.J, Pancasila Budaya Bangsa Indonesia: Penelitian Pancasila dengan Pendekatan Historis, Filosofis dan Sosio-Yuridis Kenegaraan, Yogyakarta: Kanisius, 1993.

[1] P.J. Suwarno, Pancasila Budaya Bangsa Indonesia: Penelitian Pancasila dengan Pendekatan Historis, Filosofis dan Sosio-Yuridis Kenegaraan, Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm 17.

[2] Valentinus Saeng, Trisula Hidup Orang Dayak: Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata, dalam Kearifan Lokal-Pancasila Butir-Butir Filsafat “Keindonesiaan” (Ed: Armada Riyanto et al), Yogyakarta: Kanisius, 2015, hlm 505.

[3] Ibid.

[4] Ibid, hlm 507.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Armada Riyanto, Kearifan Lokal-Pancasila Butir-Butir Filsafat “Keindonesiaan” (Ed: Armada Riyanto et al), Yogyakarta: Kanisius, 2015, hlm 191.

 

TRI_2020Sept23_Artikel Angga 033

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *