Artikel

ADIL KA’ TALINO, BACURAMIN KA’ SARUGA, BASENGAT KA’JUBATA: Telaah Filosofis tentang Prinsip Hidup Manusia Kanayatn

Penulis: Gerwin Bernardus Putra (STF Widya Sasana Malang)

 

Pengantar

Orang Kanayatn mempunyai sebuah prinsip hidup yang dikenal secara luas yakni, “Adil ka’ Talino, Bacuramin ka’ Saruga, Basengat ka’ Jubata”. Prinsip ini biasanya diserukan oleh tokoh masyarakat atau pemuka adat saat mengawali sambutan dalam acara-acara adat  maupun acara-acara lainnya. Prinsip hidup ini bukan hanya sebuah “semboyan magis” atau sejenisnya, melainkan juga memiliki makna filosofis yang mengatur pola relasi orang Kanayatn dengan Jubata (sebutan Tuhan bagi orang Kanayatn), alam dan sesamanya.

Dalam agama aslinya, orang Dayak Kanayatn percaya akan adanya aturan tetap yang mengatasi segala yang terjadi dalam alam semesta ini. Aturan alam raya ini diyakini bersifat stabil, selaras, dan kekal, serta menentukan kemuliaan dan kebahagiaan manusia. Di dalamnya tercantum pola dasar yang tetap dan tertentu yang memberikan makna kepada segala apa yang tidak tetap dan tidak tentu. Maka perbuatan manusia perlu disesuaikan dengan aturan alam raya itu.[1]

Kutipan di atas hendak menunjukkan bagaimana orang Kanayatn begitu menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Kehidupan yang harmonis dapat terbentuk dari perilaku masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kebudayaannya. Semboyan “Adil ka’ Talino, Bacuramin ka’ Saruga, Basengat ka’ Jubata” merupakan prinsip hidup yang dihayati oleh Orang Kanayatn yang secara tidak langsung mempengaruhi cara pandang dan pemaknaan terhadap kehidupan orang Kanayatn itu sendiri.

 

Adil Ka’ Talino

Adil ka’ Talino artinya “Adil terhadap sesama (manusia)”. Konsep ini memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan bersama orang Kanayatn sebagai suatu komunitas. Orang Kanayatn menjunjung tinggi nilai Keadilan. Sejak awal orang Kanayatn menyadari bahwa kehidupan yang harmonis tidak akan terwujud tanpa keadilan. Namun yang menjadi pertanyaan di sini, keadilan semacam apa yang dimaksud oleh Orang Kanayatn?

Saya berpikir Adil itu milik hidup manusia, menjadi perkara tata hidup bersama yang memiliki fondasi nyata dalam hidup manusia sebagai manusia. Adil adalah natura dari kehadiran manusia dalam berelasi dengan sesamanya. Tetapi Adil sekaligus mencetuskan realitas yang kerap menjadi pertaruhan dalam hidup bersama.[2]

Kutipan di atas sekiranya mewakili konsep keadilan yang dimaksudkan oleh orang Kanayatn, yakni bahwa keadilan itu adalah milik manusia, pengatur relasi dengan sesamanya. Adil di sini bukan lagi dimengerti sebagai sebuah perilaku, melainkan sebuah realitas dari hidup bersama dalam suatu komunitas. Adil terhadap sesama kemudian menjadi prinsip hidup bersama orang Kanayatn secara universal.

Konsep manusia sebagai subjek sekaligus objek Keadilan bagi orang Kanayatn kiranya penting untuk ditelusuri lebih mendalam. Orang Kanayatn ternyata juga mencoba mencari hakikat dari Manusia itu sendiri. Bagi mereka, Manusia itu terdiri dari Tubuh (fisik), Jiwa (Sumangat), dan Roh.

Orang Dayak Kanayatn membedakan antara jiwa dengan roh. Sumangat (Jiwa) itu merupakan kekuatan inti badannya dan berkat jiwa itu manusia dapat berpikir, merasa, dan bertindak. Jiwa itu tambah kuat dalam pertumbuhan hidup dan menjadi lemah waktu manusia sakit atau lanjut usia. Sedangkan Roh manusia sesudah mati akan pergi ke alam baka, ke Saruga (Surga). Roh dapat juga meninggalkan badan apabila manusia sedang tidur.[3]

Orang Kanayatn melihat manusia sebagai keutuhan AKU. Dalam mempertanyakan keberadaannya di dunia ini, mereka melihat bahwa antara AKU dan SESAMA itu adalah sama, yakni sama-sama Manusia, sama-sama berasal dari Jubata (Tuhan). Sehingga dalam relasinya dengan sesama, mengenal SESAMA berarti mengenal juga AKU yang lain. Perkembangan kesadaran tentang AKU dan SESAMA ini berjalan serentak dan beriring-iringan.[4]

Orang Kanayatn dulunya tinggal bersama sebagai komunitas besar dalam satu bangunan yang disebut Radakng. Radakng (rumah panjang) berperan sebagai lembaga pemersatu untuk menjaga dan memelihara kekeluargaan, serta adat dan nilai-nilai budaya luhur yang bersumber dari kepercayaan mereka, yang diturunkan oleh Jubata.[5]  Latar belakang demikian yang kemudian membuat orang Kanayatn menyadari perlunya bersikap dan bertindak adil terhadap sesamanya.

Kehidupan bersama di Radakng telah membentuk orang Kanayatn menjadi pribadi- pribadi yang adil terhadap sesamanya. Konsep adil ini terlihat jelas dari cara orang Kanayatn memelihara dan menjaga keserasian, keharmonisan, dan keseimbangan hidup dalam Radakng yaitu dengan memberikan kedudukan dan tanggung jawab yang sama pada setiap keluarga.[6] Konsep keadilan ini kiranya sejalan dengan penafsiran Armada terhadap pemikiran Socrates tentang keadilan, yakni:

Menurut Socrates, Keadilan adalah kebalikan dari segala prinsip tiran sebuah Negara. Keadilan itu haruslah bertolak dari manusia. Keadilan itu milik kodrat manusia. Saat setiap manusia menggapai keutamaan Keadilan, saat itulah Keadilan dalam Negara terjadi. Ketika pemimpin melaksanakantugasnya dengan baik; ketika tentara menjalankan kewajibannya dengan benar; ketika para pengusaha mengupayakan ekonomi berjalan lancar; ketika para petani mendapatkan dukungan usahanya untuk mengolah tanah… saat itulah Keadilan sebuah negara tercipta.[7]

Dalam upaya mewujudkan keadilan kepada sesama, orang Kanayatn mempunyai semacam norma atau aturan-aturan dalam menjalani hidup yang disebut dengan “Hukum Adat”. Hukum adat ini bukan hasil pemikiran manusia semata, melainkan hasil permenungan filosofis tentang kesatuan manusia dengan alam semesta. Bagi orang Kanayatn, hidup yang Adil terhadap sesamanya akan membawa seseorang kepada kesempurnaan sebagai manusia.

Manusia yang hidup sesuai atau selaras dengan aturan mutlak itu akan bahagia. Sedangkan yang menyimpang, tidak cocok atau menentangnya, adalah salah, sesat, dan merupakan dosa atau tulah. Keselarasan tingkah laku manusia dengan aturan yang bersifat universal itu akan mengangkat hidup manusia menjadi otentik dan bernilai luhur.[8]

Dengan mewujudkan Keadilan terhadap sesamanya, orang Kanayatn senantiasa berpegang pada adat istiadat demi keteraturan dan ketenteraman hidup bersama sebagai manusia. Dapat dikatakan bahwa jika seseorang melakukan ketidakadilan terhadap sesamanya, maka orang tersebut tidak menghargai kemanusiaannya. Kemanusiaan berarti itu yang merupakan hakikat Manusia.[9] Selaras dengan pemikiran Socrates yang mengatakan bahwa keadilan itu milik kodrat manusia, maka konsep “Adil ka’ Talino” secara filosofis mengandung makna itu yang menjadi milik manusia dan relasinya dengan sesamanya.

 

Bacuramin Ka’ Saruga

Secara harafiah, “Bacuramin ka’ Saruga” artinya memiliki pandangan hidup pada surga. Saruga atau surga bagi orang Kanayatn merupakan asal dan tujuan dari hidup manusia. Orang Kanayatn percaya bahwa Jubata-lah yang empunya surga itu.

Surga merupakan simbol keadilan, kebaikan, kesucian, kebersamaan, tata laku, dan tata pemerintahan yang sempurna. Surga adalah pedoman, rujukan, ukuran dan sekaligus finalitas dari segala sesuatu yang manusia pikirkan dan lakukan selama hidup di dunia. Jadi surga berfungsi sebagai cermin dan harapan akan tata laku dan tata penilaian yang adil baik, benar, dan sempurna.[10]

Konsep Surga sebagai cerminan kehidupan yang adil, baik, benar, dan sempurna ini agaknya memiliki kesamaan dengan konsep dunia ide yang dicetuskan oleh Plato. Bagi Plato, kesempurnaan itu berasal dari dunia ide. Apa yang tampak dan diperbuat manusia di dunia yang nyata ini tak lebih adalah karena dunia inderawi berpartisipasi terhadap dunia ide. Surga bagi orang Kanayatn adalah itu yang didambakan oleh setiap manusia dan selalu dikejar dan diwujudkan dalam tatanan hidup bersama sebagai makhluk sosial.

Surga sebagai Representasi Suasana Bahagia, Indah, dan Damai

Orang Kanayatn jelas memandang surga adalah suatu keadaan dimana manusia memasuki suasana hidup yang bahagia, indah, dan damai. Namun ketiga hal ini tampaknya abstrak bila didefinisikan secara etimologis oleh orang Kanayatn. Pendekatan-pendekatan filosofis mengenai definisi ketiga hal ini setidaknya akan memberi gambaran yang jelas mengenai surga sebagai representasi suasana bahagia, indah, dan damai itu.

Bahagia, demikian kata ini menjadi tujuan setiap peziarahan manusia. Sebab tidak ada satu pun manusia yang tidak merindukan Kebahagiaan. Aristoteles pun menuliskan buku Nicomachean Ethics, sebuah buku monumental tentang etika, dan meletakkan tema Bahagia dalam bab terakhir. Artinya, Bahagia adalah tujuan dari etika itu sendiri, tujuan dari perbuatan manusia.[11]

Orang Kanayatn nampaknya mengenal konsep bahagia itu selaras dengan konsep bahagia menurut Aristoteles. Bagi Orang Kanayatn pada umumnya, segala perbuatan yang mereka lakukan, haruslah menciptakan suatu kehidupan yang harmonis dan selaras dengan nilai-nilai yang dihayati dalam hidup. Hukum adat dan segala macam aturan dan norma-norma yang ada dalam masyarakat Kanayatn dibuat semata-mata untuk mengarahkan pola perbuatan manusia mengejar kebahagiaan itu, yang disimbolkan dengan Surga. Di Surga terdapat Kebahagiaan, oleh sebab itu perbuatan di dunia ini harus bercermin atau mengarah kepada Surga itu, Kebahagiaan itu.

Mengenai aspek Indah, sepertinya orang Kanayatn mempunyai konsep tersendiri terhadap Indah. Indah bagi orang Kanayatn adalah itu yang memunculkan ketakjuban pada Jubata. Indah itu sendiri mencakup Manusia dalam kebersatuannya dengan alam semesta dan Penciptanya. Keindahan Surga yang digambarkan oleh orang Kanayatn tidak lain adalah itu yang menyebabkan kehidupan masyarakat harmonis dan selaras dengan kehidupan alam semesta ini.

Perwujudan Keindahan orang Kanayatn dapat dilihat dari produk budaya dan karya seni yang mereka hasilkan. Orang Kanayatn mengakui kalau produk seni yang mereka hasilkan seperti musik, patung, dan lain sebagainya adalah cerminan dari Keindahan Surga yang mereka dambakan, yang mengarahkan mereka kepada Penciptanya. Orang Kanayatn menerapkan pula keteraturan dalam mewujudkan Keindahan yang bernilai estetis dan magis sekaligus, contohnya musik tradisional. Musik tradisional digunakan oleh orang Kanayatn untuk ritual- ritual adat dan untuk acara syukuran seperti Naik Dango.

Keindahan identik dengan rasa, kapasitas inderawi (penglihatan, pendengaran, penciuman). Tetapi Imannuel Kant, yang tidak secara khusus bicara mengenai estetika, yakin benar bahwa Keindahan adalah juga produk kapasitas akal budi manusia. Keindahan identik dengna segala kejeniusan yang mengalir dari rasio manusia. Contoh paling jelas ialah musik. Kant tentu bicara mengenai musik klasik. Apa yang kita bayangkan mengenai alunan musik klasik tidak lain adalah produk yang kerap matematis harmonis dalam cara yang memesona. Sebuah musik bukanlah bunyi yang muncul bersamaan atau bergantian. Musik adalah struktur, sistem yang berada pada wilayah akal budi yang jernih dan Indah.[12]

Damai bagi orang Kanayatn merupakan dambaan atau cita-cita dalam hidup bersama sebagai ikatan persaudaraan. Kehidupan yang Damai itu terwujud dalam Adat. Tujuan Adat tidak lain adalah untuk meluruskan perjalanan manusia menuju Surga dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat.[13] Dapat dikatakan pula bahwa Damai adalah tujuan dari tata kehidupan dalam membangun relasi manusiawi yang wajar dan bermartabat.

Sungguhpun Damai itu berkaitan dengan hidupku pribadi, perkaranya tidak bisa dipisahkan dari tata hidup bersama sesamaku. Artinya, Damai dalam diriku hanya menjadi mungkin ketika Damai itu juga menyentuh relasiku dengan yang lain. Dan kebalikannya, Damaiku bersama yang lain memiliki fondasi langsung dalam pengalaman Damai dalam diriku. Mana yang pertama-tama harus dijalankan? Dalam konteks ini tidak mungkin diandaikan ada semacam tahapan konkret. Keduanya adalah fondasi satu sama lain dan saling meneguhkan serta memberi nutrisi.[14]

Damai tidak bisa dipisahkan dari relasi Aku dengan Sesama. Damai adalah itu yang dengannya Liyan mendapatkan penghormatan martabatnya.[15]  Orang Kanayatn pun meyakini hal yang demikian. Karena itu Adat memegang peran sentral dalam mengatur kehidupan bersama. Mustahil ada Damai tanpa ada aturan yang mewujudkannya.

Adat adalah satu istilah yang selalu erat kaitannya dengan setiap tradisi lisan. Dalam jenis tradisi lisan di atas, diterapkan adat. Bahwa adat meliputi seluruh aspek perikehidupan manusia dengan lingkungannya (tempat tinggal, pekerjaan, milik, hubungan sesama, makanan, pakaian, dan alam sekitar). Interaksi ini berlangsung dengan seimbang di lingkungannya dan secara turun temurun hingga sekarang.[16]

Hal ini tentu tidak mengesampingkan kebebasan individu dalam mewujudkan eksistensinya di dunia ini. Di dalam nilai kebebasan yang ada dalam setiap individu juga terkandung nilai Damai. Damai hanya menjadi mungkin, bila mulai dengan Damai dari dalam diri sendiri.[17]

Damai lahir dari dan ada dari tata relasi.[18] Hal yang demikian terlihat jelas dari tata relasi orang Kanayatn yang hidup bersama di Radakng. Sistem sosial dalam Radakng dapat dipertahankan sejauh setiap individu menghayati dan memenuhi peranan yang diharapkan dari padanya.[19] Damai tidak dapat dipisahkan dari eksistensi manusia dan relasinya dengan sesama.

Alam sebagai Perwujudan Surga di Dunia

Orang Kanayatn begitu menghargai dan menghormati alam sebagai “perwujudan” surga yang dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari. Dalam salah satu tradisi lisan tentang kisah penciptaan masyarakat Kanayatn, dipercayai bahwa kehidupan ini bersumber dari Jubata yang menciptakan alam semesta yang kemudian menjadikan manusia.

Kulikng langit dua putar tanah, Sino Nyandong mang Sino Nyoba (Kubah langit bulan dan bumi, Sino Nyandong dan Sino Nyoba), memperanakkan:

Si Nyati anak Balo Bulatn, Tapancar anak Matahari (Si Nyati puteri Bulan dan terpancar putera Matahari), memperanakkan:

Iro-iro dua Angin-angin (Kacau-Balau dan Badai), memperanakkan:

Uang-uang Dua Gantong Tali (Uang-uang dua Gantong Tali), memperanakkan: Tukang Nange dua Malaekat (Pandai Besi dan Sang Dewi), memperanakkan: Sumarakng Ai’, Sumarakng Tanah (Segala Air, Segala Tanah), memperanakkan: Tunggur Batukng dua Mara Puhutn (Bambu dan Pepohonan), memperanakkan: Antuyut dua Barayut (Tumbuhan merambat dan Umbi-umbian), memperanakkan: Popo’ dua Rusuk (Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga).

Kemudian dari hasil perkawinan antara Popo’ (Sang Istri) dan Dua Rusuk (Sang Suami) selanjutnya melahirkan sepasang manusia: yang pria bernama Ne’ Galeber dan istrinya bernama Ne’ Anteber.[20]

Dari tradisi lisan kisah penciptaan di atas dapat dicermati bahwa orang Kanayatn menjadikan alam sebagai pusat kehidupan yang bersumber dari Jubata. Tidak heran bila orang Kanayatn sangat menjaga kelestarian alam yang terwujud dalam kepercayaan akan adanya Roh yang mendiami segala yang di alam tersebut. Bukti konkret lainnya adalah pelaksanaan berbagai macam ritual adat sebelum melakukan aktivitas yang melibatkan alam, seperti upacara Nyangahatn (doa kepada Jubata) sebelum berladang maupun dalam acara syukuran seperti Naik Dango.

Praktek pertanian asli kaya dengan upacara yang berkaitan dengan keberadaan alam dan isinya. Kegiatan tersebut jelas menunjang hubungan kelestarian pekerjaan dengan kehidupan: adanya aturan yang mengikat dan sikap menghormati kebesaran Sang Pencipta dengan tidak sembarangan melakukan kegiatan sebelum dan sesudah pekerjaan dilakukan.[21]

Pandangan orang Kanayatn tentang Surga telah membawa mereka merefleksikan bahwa Alam adalah perwujudan dari Surga itu sendiri. Dari Alam, orang Kanayatn belajar tentang keteraturan, keseimbangan, dan kehidupan. Dari Alam pula mereka melihat bahwa kesempurnaan kehidupan dicapai ketika seseorang dapat menyatu dengan Alam dan Penciptanya. Orang Kanayatn meyakini bahwa Alam memiliki kuasa yang “lebih” daripada manusia sehingga manusia harus tunduk pada keharmonisan Alam dan menjaga Alam sebagai pusat kehidupan di dunia.

Alam – pendek kata – adalah dinamika kesempurnaan hidup manusia itu sendiri. Alam seakan menjadi rujukan bagi ritme hidup sehari-hari. Alam juga seolah menata bagaimana manusia mesti menjalani aktivitasnya. Alam lantas menjadi “hukum” kehidupan. Konsep terakhir ini oleh aliran filsafat Stoa dikembangkan sedemikian rupa sehingga “hukum Alam” mendapat sebutan hukum dari para dewa. Mengapa? Karena para dewalah yang merajai Alam. Dewalah yang membuat Alam seakan memiliki keteraturannya sedemikian sempurna.[22]

Demikian dapat dimengerti bahwa Alam sebagai perwujudan Surga di dunia telah membawa orang Kanayatn pada pemahaman tentang tata aturan hidup bersama menuju kesempurnaan Surgawi. Dalam terang kesejahteraan dan ketenteraman bagi semua anggota, maka pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan, dan eksekusi atau pelaksanaannya dalam tata pemerintahan adat harus selalu melihat dan mengacu pada realitas ideal atau realitas surgawi.[23] Relasi orang Kanayatn dengan Alam telah membangun pula relasi antar manusia yang harmonis dan teratur.

 

Basengat Ka’ Jubata

Basengat Ka’ Jubata artinya Bernapaskan Tuhan yang Maha Esa. Prinsip ini secara jelas memperlihatkan dimensi transendental hidup manusia dan pengakuan tentang Tuhan sebagai sumber kehidupan.[24] Bagi orang Kanayatn, hidup ini berasal dari Jubata dan akan kembali kepada-Nya. Hal ini dapat dipahami dari konsep kehidupan dan kematian bagi Orang Kanayatn.

Suku ini percaya bahwa jiwa dan roh orang mati meninggalkan jasadnya sesudah upacara penguburan dilakukan sebagaimana mestinya. Sebelumnya masih bergentayangan di dunia. Dan apabila tidak ada pemakaman yang wajar, maka diyakini bahwa jiwa orang mati tersebut bisa menjadi pidara (hantu). Kehidupan arwah di alam atas sana sama seperti kehidupan manusia di bumi, tetapi lebih sempurna. Yang menjadi inti kepercayaan mereka adalah: bahwa jiwa dan roh manusia berasal dari kekekalan dan akan tetap hidup untuk selama-lamanya, kembali kepada Jubata.[25]

Orang Kanayatn percaya bahwa apa yang ada di dunia ini semuanya merupakan ciptaan Jubata. Karena itu prinsip hidup mereka pada akhirnya selalu mengarah kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Sumber Hidup itu sendiri. Jubata atau Tuhan itu hadir sepanjang sejarah hidup manusia Kanayatn. Ini terbukti dari Adat Istiadat yang masih mereka junjung tinggi hingga kini, yang mana semua itu mengarahkan hidup mereka kepada Jubata. Jubata adalah awal dan akhir kehidupan orang Kanayatn, karena itu tata aturan hidup haruslah mencerminkan keluhuran Manusia sebagai ciptaaan yang “menyerupai” Jubata itu. Konsep ini secara filosofis senada dengan konsep Tuhan pun Menyejarah menurut Armada:

Jika awal dan akhir sejarah adalah Allah, pandangan ini mengukir kebenaran bahwa Allah adalah Dia yang menyejarah. Allah tak mungkin dipikirkan sebagai seolah garis “start” dan kemudian berpindah menjadi garis “finish”. Allah pastilah bukan “garis”. Melainkan, Ia hadir dan menyejarah dalam sejarah manusia. Bersama-sama manusia, Allah adalah penyusun sejarah dan mengarahkan geraknya menuju kepada diri-Nya.[26]

Upacara-upacara Adat yang dilakukan Orang Kanayatn seperti Naik Dango, Nabo’ Pantak, Baliatn Balenggang, dan sebagainya sebenarnya memiliki hakikat dasar yakni ingin “mengikutsertakan” Jubata dalam kegiatan mereka. Allah adalah asal dan tujuan segala apa yang ada.[27] Orang Kanayatn memandang bahwa Jubata adalah Dia yang berkuasa atas langit dan bumi, tanah dan air, Manusia dan ciptaan lain, yang tidak diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, yang hadir “menyertai” peziarahan hidup manusia Kanayatn kembali kepada- Nya. Singkat kata, Jubata atau Tuhan itu adalah kepenuhan dari Alam Semesta.

 

Kesimpulan

Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata merupakan prinsip hidup orang Kanayatn yang ternyata memiliki nilai-nilai filosofis yang kuat. Prinsip hidup ini mengatur secara “sempurna” pola relasi antara Manusia, Alam, dan Tuhan. Relasi ini dapat disebut “Relasi Tiga Dimensi”, yakni relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Tuhan.

Pemaknaan terhadap “Hidup” bagi orang Kanayatn menjadi sempurna apabila mereka menghayati Prinsip Hidup ini dengan sebaik-baiknya. Melihat kondisi zaman ini yang semakin hari semakin “tidak memanusiawi”, mendesak orang Kanayatn untuk memberi perhatian lebih terhadap Prinsip Hidup ini. Sebagai bagian dari manusia semesta, mau tidak mau orang Kanayatn menyeleraskan hidup mereka dengan kehidupan dunia semesta. Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata kiranya juga dapat diimplementasikan dalam hidup bersama sebagai masyarakat dunia, tidak eksklusif untuk kalangan orang Kanayatn saja, karena memiliki nilai-nilai filosofis yang dapat membangun kesadaran hidup manusia semesta dewasa ini.

 

Kepustakaan:

Riyanto, Armada. Menjadi-Mencintai Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius, 2013.

Aten, Herkulanus. “Hukum Adat dan Adat Istiadat Kematian Dayak Kanayatn” dalam Nico Andasaputra dan Vincentius Julipin, ed., Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997.

Andasputra, Nico dan V. Julipin. “Orang Kanayatnkah atau Orang Bukit?” dalam Nico Andasputra dan Vincentius Julipin, ed., Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997.

Dilen, Dihi dan V. Julipin. “Alam Kehidupan dan Kematian Menurut Dayak Kanayatn,” dalam Nico Andasaputra dan Vincentius Julipin, ed., Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997.

Dilen, Dihi. “Radakng Dalam Kehidupan Orang Kanayatn,” dalam Nico Andasputra dan Vincentius Julipin, ed., Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997.

Djuweng, Stepanus. “Dayak Kanayatn, Kelompok Besar Yang Hampir Terlupakan,” dalam Nico Andasputra dan Vincentius Julipin, ed., Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997.

Rufinus, Albert. “Tradisi Lisan Dalam Tata Upacara Adat Pada Teknologi Pertanian Asli Masyarakat Dayak Kanayatn” dalam Nico Andasputra dan Vincentius Julipin, ed., Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997.

Saeng, Valentinus. “Trisila Hidup Orang Dayak: Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata,” dalam Armada Riyanto, Johanis Ohoitimur, C.B. Mulyanto, dan Otto Gusti Madung, eds., Kearifan Lokal ~ Pancasila Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Yogyakarta: Kanisius, 2015.

[1] Dihi Dilen dan V. Julipin, “Alam kehidupan dan Kematian Menurut Dayak Kanayatn,” Nico Andasaputra dan Vincentius Julipin (Ed.), Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997, 53.

[2] Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari, Yogyakarta: Kanisius, 2013, 74.

[3] Dihi Dilen dan V. Julipin, Op. Cit., 54

[4] Valentinus Saeng, “Trisila Hidup Orang Dayak: Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata,” Armada Riyanto dkk. (Eds.), Kearifan Lokal ~ Pancasila Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan, Yogyakarta: Kanisius, 2015, 508.

[5] Dihi Dilen, “Radakng Dalam Kehidupan Orang Kanayatn,” Nico Andasputra dan Vincentius Julipin (Ed.), Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997, 47.

[6] Ibid.,48.

[7] Armada Riyanto, Op. Cit., 80.

[8] Dihi Dilen dan V. Julipin, Op. Cit., 53.

[9] Armada Riyanto, Op. Cit., 10.

[10] Valentinus Saeng, Op. Cit., 510.

[11] Armada Riyanto, Op. Cit., 55.

[12] Ibid., 61.

[13] Herkulanus Aten, “Hukum Adat dan Adat Istiadat Kematian Dayak Kanayatn” Nico Andasaputra dan Vincentius Julipin (Ed.), Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997, 77.

[14] Armada Riyanto, Op. Cit., 90.

[15] Ibid., 91.

[16] Nico Andasputra dan V. Julipin, “Orang Kanayatnkah atau Orang Bukit?”, Nico Andasputra dan Vincentius Julipin (Ed.), Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997, 15.

[17] Armada Riyanto, Op. Cit., 92.

[18] Ibid.

[19] Dihi Dilen, Op. Cit., 50.

[20] Stepanus Djuweng, “Dayak Kanayatn, Kelompok Besar Yang Hampir Terlupakan,” Nico Andasputra dan Vincentius Julipin (Ed.), Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997, 4.

[21] Albert Rufinus, “Tradisi Lisan Dalam Tata Upacara Adat Pada Teknologi Pertanian Asli Masyarakat Dayak Kanayatn,” Nico Andasputra dan Vincentius Julipin (Ed.), Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institute of Dayakologi Research and Development, 1997, 66.

[22] Armada Riyanto, Op. Cit., 29-30.

[23] Valentinus Saeng, Op. Cit., 512.

[24] Ibid.

[25] Dihi Dilen dan V. Julipin, Op. Cit., 54.

[26] Armada Riyanto, Op. Cit., 23.

[27] Ibid., 22.

 

TRI_2019Des14_Artikel Gerwin

Download PDF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *